The Life Of Bitter

The Life Of Bitter
7. Seragam Taksi


__ADS_3

Pagi ini aku dibangunkqn dengan suara panggilan masuk dari telfonku


"agh... siapa sih?" geramku.


"Yuki, bangun kau!" teriaknya


"sial! siapa ini?" sembari kulihat siapa yang menelfon dari layar handphone. Mau apa Naka telfon pagi buta gini, gumamku.


"Yuki, aku jemput ya pagi ini" katanya


"tumben. Mau apalagi kau?" tanyaku bingung.


"cuma mau ngajak sarapan bareng" jelasnya.


Dag.. Dig.. Dug.. Serr.. kembali jantung ku terkena guncangan dahsyat pagi itu. Aku tak bisa menolaknya. Malah aku sangat berambisi untuk mandi dan bersiap.


"cepatnya bangun?" tanya Papa


"iya nih, mau sarapan bareng temen diluar" jawab ku sambil jalan menenteng handuk.


Sejak pertengkaran itu terjadi, Papa dan Mama tidak seperti biasanya. Mereka jadi jarang sekali bicara. Aku memperhatikannya. Tapi kadang aku tak terlalu memikirkannya.


Semenjak itu juga, apa-apa sekarang dilakukan sendiri. Tidak bersama-sama lagi. Meski begitu, aku mencoba tetap tenang. Kurasa, semua akan membaik.


🖤🖤🖤


Hari ini aku pulang sekolah bersama Naka. Sebelumnya Mama sudah memberi kabar, bahwa nanti pulang sekolah sendiri saja, karena tak ada yang menjemputku.


Ngengg.... Ngeng... Ngeng....

__ADS_1


Jarak dari sekolah kerumahku tak terlalu jauh. Kurang lebih 10 menit lah. Tapi lain cerita kalau Naka yang pegang kendali.


Ciittttt....


"sampaiii!" ucap Naka


"makasih ya" ucapku sambil membersihkan mata ku yang berair akibat Naka yang mengebut di jalanan.


Dia mengangguk dan memundurkan sepeda motornya. Aku berbalik badan dan..


"Yuki!" teriaknya.


"apa?"


"besok aku jemput, ya?" kata Naka


"gak usah. Aku di antar aja" jawabku


"suka kau lah Naka" kesal ku.


Lalu ia pulang. Kadang memang dia sedikit menyebalkan. Dia cowok yang egois nya sudah akut.


Aku masuk kerumah. Lalu aku teringat, bahwa pakaian sekolah ku untuk besok belum di setrika. Aku bergegas mencari seragamnya.


Sambil mencari-cari aku menemukan sepotong baju seragam taksi. "kok ada baju supir taksi ini ya dirumah?" tanya ku bingung.


Aku tak terlalu memperdulikannya. Aku terus mencari seragamku.


Selesai mensetrika, aku tidur siang. Tidur siang memang kebiasaan ku sejak dulu. Rasanya kalau gak tidur RUGI.

__ADS_1


"Yuki bangun udah sore, main yuk" teriak Diwa, adik ku.


"mmh.. bentar lagi ya" jawabku. Tak lama aku terbangun. Aku keluar menuju dapur untuk minum. Tapi aku mendengar sesuatu


"Ma, kalau lagi cuci baju seragam pas jemur jangan sampai Yuki lihat seragamnya ya. Papa gak mau nanti Yuki malu kalau tahu Papanya sekarang jadi supir taksi" jelas Papa.


"mana mungkin dia malu" jawab Mama singkat.


Aku yang mendengar itu dari balik pintu dapur langsung pergi ke kamar.


"jadi itu punya Papa, Papa jadi supir ya sekarang" gumamku.


Jujur saja aku tak merasa malu jika Papa bekerja sebagai supir taksi. Yang penting dia mau berusaha menafkahi anak-anaknya. Aku sempat berfikir, kenapa Papa bicara seperti itu. Kenapa dalam benaknya aku akan merasa malu jika tau Papaku adalah seorang supir taksi? Aku gak malu, Pa.


Malamnya aku menonton tv sambil makan. Mama datang menghampiri ku sembari makan juga.


"Yuki, mama mau jualan sarapan lah di depan" jelas Mama tiba-tiba.


"hah.. sarapan?" tanya ku heran.


"iya, didepan situ. Kan disini gak ada yang jual sarapan" jelasnya lagi.


"hm, yaudah. Terserah aja" jawabku


"Yuki malu gak nanti?" tanya Mama lagi


"kenapa malu sih? ya jualan aja" kesal ku


Aku langsung pergi dan masuk ke kamar. Mengingat keuangan mereka yang semakin hari kian menipis, ditambah aku sekolah dan masih ada adik ku untuk di biayai, aku merasa tak ada masalah jika memang Mama harus berjualan dan Papa harus bekerja jadi supir.

__ADS_1


🖤🖤🖤


__ADS_2