The Price Of Sincerity

The Price Of Sincerity
Dia Sudah Bertunangan


__ADS_3

Sangat cantik. Desain yang elegan dengan pajangan unik di sana sini. Villa yang tampak mewah. Max menatap tas dan jaket bulu yang ada di sofa begitu dia masuk, sementara Jane mengamati sekelilingnya sambil memeluk tubuhnya dengan jas yang menggantung di badannya.


“Wah, apa ini Villa mu?” tanya Jane pada Max yang tampak sedang melamun. “Max?” Jane memanggil pria itu karena dia tak menjawab.


“Ah, ya. Ini Villa ku. Naiklah, begitu sampai atas ada kamar di sebelah kiri. Masuk saja dan ganti bajumu, sepertinya ada pakaian yang bisa kau pakai disana. Aku akan menyusul.”


“Menyusul? Apa maksudmu dengan itu?” pelukan Jane sangat erat pada dirinya.


“Ayolah. Apa menurutmu aku akan pulang dengan keadaan seperti ini?” Max merentangkan kedua tangannya, memaparkan dirinya yang basah karena ikut serta dalam permainan air yang Jane mulai. Keduanya basah kuyup, ditambah dengan butiran pasir yang menempel di pakaian mereka.


Jane menyipitkan matanya sebagai bentuk protes.


“Baiklah. Aku akan ke atas begitu kau selesai, aku akan menunggumu disini. Puas?”


“Oke, aku tidak akan lama.” Jane menatap Max dan senyum puas terpampang di wajahnya. Max hanya bisa mengendus kesal dengan tingkah Jane yang seakan membuatnya menjadi seorang kakak. Sempat terlintas di pikirannya, kemungkinan alasan Devan yang menolak cinta Jane. Tapi entah itu benar atau tidak, dia hanya berimajinasi.


Jane menaiki anak tangga, sesekali dia menoleh ke belakang. Dia melirik Max yang duduk di sofa, dia merasa gelisah dan takut jika pria yang menunggunya di bawah akan pergi dan meninggalkannya disana. Atau apa pria itu tiba-tiba membencinya.


Begitu sampai di lantai atas, Jane tampak bingung. Dia tidak ingat ucapan Max padanya beberapa saat lalu, kanan atau kiri. Kiri atau kanan. Pikirannya seakan melayang memikirkan kemungkinan buruk yang akan terjadi padanya jika pria itu menilainya sama dengan yang lain. Dan Jane akhirnya memilih kanan.


Pintu itu tak tertutup, menyisakan celah. Tapi Jane tak menghiraukannya, mungkin saja seseorang lupa menutupnya kembali saat pergi dari tempat itu. Ya, mungkin itu Max. Tanpa pikir panjang Jane mendorong nya, tubuhnya langsung terpaku berdiri di ambang pintu. Matanya menangkap dua insan yang sedang bercinta di atas ranjang.


Kehadiran Jane membuat mereka langsung menghentikan ciuman dan kegiatan erotis nya. Dengan cepat Jane menutup matanya, “Maaf, aku tidak lihat apapun. Aku tidak lihat.” Ucap Jane sebelum berbalik pergi dan menutup pintu.


Jane berjalan ke arah lain dengan wajah yang memerah. Dia tidak menyangka akan menyaksikan langsung bagaimana orang bercinta. Dengan mata kepalanya sendiri. Dan begitu sampai di pintu yang satunya lagi, pintu yang sebenarnya, Jane menarik nafasnya dan menghembuskannya pelan. Dia berharap dia sudah berada di kamar yang benar. Jane membuka pintu dan masuk.

__ADS_1


Itu dia, baunya sama persis dengan pewangi di mobil Max. Jane menyalakan lampu dan langsung beranjak ke kamar mandi, dia tak ingin berlama-lama. Tak sampai sepuluh menit dia mandi, Jane keluar dengan handuk yang menutupi tubuhnya. Dia memilih beberapa baju di dalam lemari, semua pakaian itu tampak pas untuknya. Ditambah dengan pakaian dalam yang ada di laci lemari juga pas pada tubuhnya hanya saja bra yang ada disana sedikit kecil untuk ***********.


Jane bercermin, rambutnya yang basah tampak kusut. Dia mencari pengering rambut di meja dekat cermin, namun tidak ada. Dia berjalan ke arah tempat tidur, memeriksa laci meja. Dan menemukannya, dia menemukan pengering rambut dan sebuah foto berbingkai di dalam laci itu. Foto Max dengan seorang wanita.


"Apa dia sudah punya kekasih?" Jane mengamati foto itu lagi, dia mendapati cincin diantara keduanya. Dan sepertinya foto itu diambil dalam sebuah acara lamaran. "Mereka bertunangan?"


Sementara itu, Ziya dan Max duduk bersama di sofa ruang tamu. Dengan tiga gelas teh hangat di hadapan mereka.


“Kenapa kau tidak mengabari ku jika kau disini?” tanya Max pada Ziya yang sedang menikmati tehnya.


“Sudah. Aku sudah mengabari mu, berarti kau tidak membaca pesan ku.” Jawab Ziya tak senang. “Kukira kau tidak akan kesini lagi karena memberikan kunci Villa padaku. Dan wanita itu, apa kalian bersenang-senang?” Ziya meletakkan satu set kunci di atas meja.


“Itu bukan urusan mu.” Max mengambil cangkir tehnya di atas meja dan meminumnya.


“Hemm, baiklah. Jadi bagaimana? Apakah menjadikannya sebagai model iklan mu masih belum cukup sehingga dia masih bersamamu?"


“Itu bukan skandal, kami memang berpacaran dan akan segera menikah." Ziya mengangkat tangannya. Cincin yang melingkar di jari manisnya adalah bukti dari ucapannya, jika pria itu sudah melamarnya. "Tapi jika kau butuh aku bisa menemui mu, aku masih berhutang padamu.”


“Oke, itu bagus jika kalian akan menikah. Dan bukankah sudah kubilang kau tidak perlu melakukannya lagi jika kau masih merasa berhutang padaku.”


“Entahlah, mungkin karena aku tidak bisa melupakannya saat kau datang menyelamatkan ku saat itu. Aku sungguh sangat bersyukur kau datang.”


“Lupakan itu, anggap saja semuanya lunas. Jalani hidupmu seperti yang kau mau, jangan terbebani karena aku.” Max menghabiskan teh hangatnya begitu mendengar pintu tertutup dari lantai atas. Dia melihat Jane keluar dari sana. “Oke?” ucap Max sambil mengambil kunci Villa sebelum berlalu pergi.


Max berjalan menaiki anak tangga dengan pakaian yang masih basah, dia berpapasan dengan Jane yang akan turun ke bawah. Dia tertegun sejenak melihat baju kaos dan celana pendek yang sangat pas dengan wanita itu. Tidak kekecilan ataupun kebesaran. “Aku akan kembali.” Max melewati Jane begitu saja sehingga dia tak melihat anggukan Jane.

__ADS_1


Sementara itu, Jane melihat wanita sedang duduk di sofa sambil menikmati minumannya dengan tenang. Dan tiba-tiba dia memanggil Jane untuk duduk dengannya. Minum teh bersamanya.


“Minumlah, mumpung masih hangat.” Pinta Ziya tersenyum ramah.


“Terimakasih,” Jane membalas senyuman itu dan meminum tehnya seteguk. Dia menatap wanita itu dan teringat dengan apa yang dilihatnya. “Maaf, aku sungguh minta maaf. Aku tidak melihat apapun. Sungguh.”


“Haha. Apa kau akan meminta maaf jika tidak melihat apapun?”


“Itu—.”


“Sudahlah, aku tidak mempermasalahkan nya. Apa kau tidak mengenalku?”


Jane sedikit tersentak dengan pertanyaan itu, pertanyaan yang persis di ajukan padanya beberapa saat lalu. Jane menatap mata wanita itu lama, dia sempat berfikir apakah mungkin wanita itu tau. Jane terdiam.


“Maksudku di pesta pertunangan Dev, bukankah kita bertemu?”


Lirikan mata Jane yang menyipit menyiratkan bahwasanya dia sedang berfikir. Dan akhirnya dia merasa lebih baik saat mengingat itu benar, pantas saja wanita itu terasa familiar baginya.


“Oh ya, aku ingat.” Jane ingat wanita yang menghampiri nya malam itu, sekaligus wanita yang bertemu dengannya di toilet. Dia tak mengira akan bertemu dengan wanita itu lagi. Di Villa Max?


“Ziya,” ucapnya sambil menjulurkan tangan untuk bersalaman.


“Jane.”


Perkenalan yang singkat, padat dan jelas.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2