
Jendela terbuka lebar, tiupan angin menerpa tirai putih bergoyang. Max menutup pintu setelah menurunkan Jane dari rangkulannya ke tepi tempat tidur. Dia menatap Jane, menatap tubuh setengah telanjang Jane yang ada di hadapannya. Berusaha menahan dirinya untuk tidak mendekat lebih jauh dan menyentuh kulit putih mulus wanita itu.
Tapi ternyata dia tak bisa. Begitu Jane berdiri, dia langsung memeluknya. Max memeluk Jane begitu erat, lembut dan penuh kehangatan. Sepertinya apa yang dia rasakan berbeda dari apa yang di rasakan oleh Jane. Wanita itu memberontak, dia berusaha melepaskan dirinya dari dekapan Max.
Plak.
Satu tamparan mendarat di wajah ramping Max yang menawan. Jane menamparnya begitu berhasil melepaskan pelukan pria itu.
“Apa yang coba kau lakukan sekarang?” Jane membentak, tangannya menggigil. Untuk pertama kalinya tangan mungilnya itu menampar seseorang.
Tamparan itu tak menyakiti Max sedikit pun, dia tak merasa sakit. Namun dia merasakan perasaan yang dalam dari bekas tamparan yang masih terasa seperti sengatan kecil di kulitnya. Dia melihat tangan Jane yang gemetaran setelah menamparnya. Max tersenyum kecil, seketika tamparan itu terlupakan olehnya.
“Jangan keluar seperti ini,” ucap Max saat hendak mengalungkan kembali jaket kulitnya di pundak Jane, namun langsung ditepis. Jane menghindar.
“Bukan urusanmu.” Jane mengalihkan pandangannya dari Max. “Sepertinya tidak ada yang ingin kau bicarakan, aku tidak ada waktu untuk meladeni mu.” Jane berjalan melewati Max, namun langkahnya langsung terhenti saat Max meraih tangannya dan menariknya.
Buk.
Jane terbaring di atas bantalan empuk tempat tidur yang dia tiduri beberapa saat lalu. Tumitnya tergelincir sehingga membuat tubuhnya terjatuh ke belakang. Sementara itu, Max yang menggenggam pergelangan tangannya juga ikut tertarik dan terjatuh di atas tubuh Jane. Untung saja tangannya yang satu lagi dengan sigap menahan tubuhnya untuk tidak menimpa Jane.
Max dan Jane bertatapan lama, terasa hembusan nafas mereka bersatu di ruang hampa yang menjadi celah antara wajah keduanya. Max melihat perasaan sedih dari tatapan Jane, dia sungguh tidak tahan untuk tidak menciumnya saat itu juga. Tapi melihat mata Jane yang seakan berkaca-kaca membuat dia mengurungkan niatnya.
Cup.
Mungkin satu kecupan singkat yang mendarat di kening Jane bisa mewakili hasratnya meski sedikit. “Kita akan bicara nanti. Ada yang harus aku pastikan sebelum aku menjelaskannya padamu. Untuk sekarang aku tidak bisa menjelaskan apa-apa, melihatmu baik-baik saja sudah cukup bagiku.”
Tok. Tok.
Seseorang mengetuk pintu, salah satu pria yang datang bersama Max berdiri di balik pintu dan berkata, “Tuan, dia ada di bawah. Apa kami langsung membawanya?” Suara terdengar redam tapi Max bisa mendengarnya dengan jelas, mungkin Jane juga bisa mendengarnya.
Max bangkit dari atas tubuh Jane, dia memakaikan jaket kulitnya menutupi tubuh bagian atas wanita itu. “Jangan coba-coba keluar seperti itu, aku tidak ingin orang lain melihat tubuh wanitaku,” ucap Max sebelum tersenyum dan berlalu pergi, menghilang di ambang pintu yang terbuka.
Wanitaku?? Siapa yang dia maksud wanitanya?!
Jane terduduk, dia melepaskan jaket itu dari tubuhnya. Hangat, aroma tubuh Max masih tersisa di jaket yang sekarang ada di tangannya. Entah kenapa dia merasa menjadi lebih baik, Jane tersenyum tipis.
__ADS_1
"Tidak. Tidak, Jane. Apa yang kau pikirkan, dia bukan pria yang baik." Jane berusaha menyadarkan dirinya untuk tidak terpikat dengan pesona Max. Tapi dia penasaran dengan ‘dia’ yang dimaksud oleh pria di balik pintu tadi. Apa ada orang lain di tempat itu selain dia dan Shara?
“Jane, Jane.. Apa kau baik-baik saja?” Shara tiba-tiba muncul dengan gelisah. Dan Jane hanya bisa mengangguk tanda dia baik-baik saja. “Hah, baguslah. Kau tahu, ternyata wanita yang semalam adalah mantan tunangannya. Dan kau tahu, mereka tiba-tiba membawanya pergi. Bagaimana ini, apa aku harus memberitahu suaminya? Tapi aku tidak tahu mereka tinggal di apartemen yang mana.”
“Shara, apa maksudmu. Wanita siapa? Tunangannya dan suami? Aku sungguh tidak paham. Bicaralah perlahan.”
“Ini. Apa dia mantan tunangannya yang kau maksud waktu itu?” Shara memberikan ponselnya pada Jane. Dia memperlihatkan pesan yang dikirimkan oleh suaminya, informasi tentang Max. Jane mengamati fotonya dengan saksama, dan wanita yang ada di foto itu memang sama persis dengan wanita yang dilihatnya di bingkai foto saat berada di Villa Max.
“Ya, itu dia.” Jane mengangguk. “Tapi apa hubungannya denganku semalam? Apa maksudmu semalam itu ada orang lain disini?”
“Begini, dia dan suaminya yang menolong mu semalam. Pintu kamarnya terkunci, aku minta bantuan pada suaminya untuk mendobrak pintunya. Dan wanita itu yang membantuku membawamu ke kamar. Dan barusan dia datang membawa makanan, tapi tiba-tiba pria jangkung berotot itu menarik tangannya dan mereka membawanya pergi keluar. Saat aku ingin menyusulnya, Max tiba-tiba muncul dan menghentikan ku.”
“Hemm. Baiklah, sepertinya kau sudah menjelaskan sedetailnya padaku.”
“Jadi apa menurutmu dia akan baik-baik saja?”
“Entahlah. Tapi yang pasti dia tidak akan melakukan hal buruk padanya,” balas Jane penuh kepastian.
“Wah, kau sangat yakin ya. Mencurigakan. Apa yang kalian bicarakan tadi? Apa kau dan dia...”
“Hei. Ayolah, beri tahu aku.” Shara mengikuti Jane, bahkan saat Jane sudah keluar kamar pun dia masih mengikutinya dan menuntut jawaban. Sangat ambisius.
**
Restaurant Gracey, sebuah tempat makan yang berada tak jauh dari Domaine Santa Giulia Palace. Restauran yang hanya di isi oleh beberapa pelanggan. Dan Max salah satunya, dia duduk di pojok kanan bangunan itu. Dia duduk berhadapan dengan seorang wanita yang tampak sedang dalam kecanggungan. Wanita yang masuk bersamanya ke tempat itu.
Tiba-tiba di tengah keheningan itu seorang pelayan datang dan menawarkan menu pada keduanya. Wanita itu tampak diam saja sambil melirik pada pelayan yang masih berdiri disana. Dia enggan untuk mengambil menu makanan yang sudah diletakkan di atas meja. Sementara itu, Max memilih makanan. Sesekali dia melirik wanita itu dari balik menu berbentuk buku yang di pegangnya. Max menghembuskan nafas perlahan sebelum menyebutkan pesanannya.
“Dan nona, anda ingin memesan apa?” tanya pelayan itu pada wanita yang bersama dengan Max. Tapi dia tidak menjawab.
“Sama kan saja pesanannya.” Ucap Max.
Setelah menjalankan tugasnya, mendapatkan pesanan dari pelanggan, pelayan itu pergi meninggalkan Max dan wanita yang hanya diam tak bersuara sedari tadi. Wanita itu, Rose Alexis. Mantan tunangannya, yang sekarang adalah istri dari orang lain.
“Apa tidak ada yang ingin kau katakan padaku?” Akhirnya Max memecah keheningan diantara mereka dan mengajak wanita itu berbicara setelah terdiam lama sejak pergi dari apartemen Jane. Max melirik pada sebuah cincin yang melingkar di jari manis Rose sebelum wanita itu menutupnya dengan tangannya yang lain. Cincin yang berbeda dengan yang terakhir kali dilihatnya melingkar di jari itu.
__ADS_1
“Maafkan aku.”
Dua kata keluar dari mulut wanita itu, dia menunduk tak berani menatap Max yang ada di hadapannya. Untuk beberapa alasan dia memang meninggalkan pria itu, namun di lain hal dia merasa bersalah akan sesuatu lain. Mendengar kalimat itu, Max menyilangkan tangannya di atas meja dan berkata, “Aku kesini bukan untuk mendengar permintaan maaf darimu. Kenapa?”
Kepala Rose langsung terangkat begitu Max bertanya untuk kedua kalinya. Alasan mengapa dia pergi meninggalkannya, alasan mengapa ada cincin yang bukan darinya melingkar di jarinya dan alasan mengapa dia bisa melakukan itu dengan pria lain. Namun Max tidak mendapatkan jawabannya, Rose hanya kembali menunduk dan terdiam.
Prak.
Max tak tahan, dia sudah berusaha menahan emosinya sedari tadi dan tanpa sadar dia memukul meja yang membuat perhatian orang-orang tertuju padanya untuk beberapa waktu.
“Kenapa? Apa semua yang sudah aku berikan untukmu tidak cukup? Aku bahkan mengabulkan permintaanmu saat membebaskan pria itu begitu saja, tanpa curiga sedikit pun pada kalian. Tapi kenapa? Kita.. aku dan kau bahkan belum melakukannya, dan kau.. kalian melakukan itu dan.. Sekarang menikah? Kau menikah dengan pria itu alih-alih bukan aku. Apa itu cincin pernikahanmu dengannya?”
Anggukan singkat terasa samar dari gerakan kepala Rose. Max mengepalkan tangannya erat, sangat erat. Berusaha untuk menahan dirinya tidak melayangkan pukulan itu ke meja atau ke dinding, karena dia tidak mungkin memukul wanita. Dia menarik nafasnya dan menghembuskannya berat.
“Apa aku tidak boleh mendapatkan alasan darimu? Kau bisa mengatakannya padaku jika ingin sesuatu, aku akan langsung memberikannya padamu. Apapun itu, kau ingin kekayaan aku bisa memberikannya, atau kau ingin anak? Aku juga bisa memberikannya padamu. Atau cincin itu, aku bahkan bisa memberikan ratusan atau ribuan cincin seperti itu untukmu. Bahkan lebih baik dari itu. Atau apa kau akan membahas ketulusan? Baiklah. Berapa? Berapa harga yang harus ku bayarkan saat itu untuk ketulusanmu?”
Rose yang sedari tadi diam dan tak berbicara tiba-tiba berdiri, dia menatap Max geram. Akhirnya mata mereka bertemu cukup lama sebelum kemudian seorang pria datang dan menarik kerah baju Max. Dia memukul Max, dua kali pukulan. “Apa kau masih tidak cukup menyakitinya, ha?” ucap pria itu.
“Sayang, apa yang kau lakukan. Lepaskan dia.” Rose terkejut. Dia terkejut saat seorang pria tiba-tiba muncul di antara mereka, Rose menariknya menjauh dari Max. Pria yang tidak lain adalah suaminya, Dominic Carl.
Pelayan yang baru saja berada di meja itu adalah kenalannya, untung saja pelayan itu tidak langsung menyapanya karena Rose melirik padanya dan memberikan kode lewat tangannya saat Max sedang sibuk memilih makanan. Dia tak menyangka suaminya akan datang lebih cepat dari dugaannya.
Bukannya merintih sakit karena nyeri di wajahnya, Max malah tersenyum sinis. “Sayang? Hah” gumamnya pelan.
Tiba-tiba Max berdiri, dia berjalan mendekat ke arah pria yang baru saja memukulnya.
“Aku menyakitinya? Sejak awal sampai detik ini aku bahkan tidak menggoreskan sekecil luka pun padanya. Bahkan aku tidak membiarkan dia terluka sedikitpun, dan sekarang kau tiba-tiba datang dan mengatakan aku menyakitinya? Apa kau gila? Ah, ya. Sepertinya bukan, apa kau merasa bangga setelah merebut tunangan orang lain? Merasa hebat setelah meniduri dan menghamilinya? Kau, pecundang. Pecundang rendahan yang—. ”
Plak.
Satu tamparan mendarat di wajah Max, tamparan kedua yang dia terima di hari yang sama. Membuat dirinya kembali mengingat tamparan Jane yang di terimanya beberapa saat lalu. Dan sekarang Rose menamparnya.
“Kau keterlaluan Max, lihat dirimu sebelum menilai orang lain. Meskipun dia tidak sekaya dan sehebat dirimu, tapi dia punya hati. Dia punya kasih sayang yang tulus dan tahu bagaimana memperlakukan wanita, bukan seperti buku tabungan yang selalu kau isi dengan uangmu. Apa kau masih ingin bertanya padaku kenapa? Kau bisa menebaknya sendiri. Semuanya karena kau, Max.. Karena kau?!”
Max terdiam sejenak sebelum tersenyum tipis mendengar ucapan yang lontarkan Rose untuknya. Rose menarik suaminya dan pergi keluar dari restoran itu, mereka bertiga menjadi pusat perhatian yang mengalihkan makan siang orang-orang disana.
__ADS_1
***