The Price Of Sincerity

The Price Of Sincerity
Kecewa


__ADS_3

Dua minggu berlalu begitu cepat bagi Shara dan Tom. Mereka kembali dari Maladewa, mereka berangkat berdua dan sepertinya mereka masih kembali berdua. Bukan bertiga, mungkin Tuhan masih punya rencana lain dalam pernikahan mereka. Mungkin belum saat nya. Dia baru tiba di Los angeles tiga jam lalu, dan sekarang dia sudah berada di apartemen Jane dengan banyak barang.


Jane kembali ke apartemennya begitu manajer Ziya datang menjemput wanita itu untuk ke agensinya, mungkin untuk menyelesaikan skandal artisnya. Devan datang untuk membawanya kembali. Dan pria itulah yang menghubungi Ziya sehingga mereka bisa berada di tempat itu sekarang. Karena Ziya sempat memposting foto terbarunya di Villa Max, untung saja Devan dapat berpikir cepat begitu mendengar suara ombak saat panggilan teleponnya dengan Jane terhubung.


Sudah beberapa hari berlalu namun dia tak mendapat kabar apa pun, Max tidak pernah menemuinya lagi bahkan tidak menghubungi nya sekalipun. Jane meminta tambahan cuti pada Dev, tentu saja di izinkan. Dia sungguh tidak fokus untuk kembali bekerja. Mungkin seminggu lagi. Dia harap waktu seminggu itu dapat menenangkannya. Dapat menenangkan jiwa dan raganya.


Shara datang ke apartemen Jane dengan berbagai oleh-oleh yang di bawanya, entah benar dia pergi honeymoon atau pergi berbelanja menghabiskan uangnya. Dia membelikan pakaian, perhiasan bahkan membawa banyak makanan untuk Jane. Sudah seperti orang tua yang membelikan anaknya sepulang kerja. Hingga Jane tak bisa berkata-kata.


Namun Shara mendapati suasana yang tidak wajar, Jane tidak seperti biasanya. Seingatnya wanita itu akan kegirangan tiap kali dia membawakan cake untuknya, tapi sekarang dia tak melihat kebahagiaan sedikitpun dari Jane. Karena dia mengenal Jane dengan baik, pasti terjadi sesuatu saat dia pergi.


“Kau baik-baik saja? Apa ada masalah?” Shara duduk di samping Jane yang sedang menonton acara di televisi, tidak biasanya dia menonton itu. Apalagi yang dia tonton adalah sebuah drama mingguan. Bahkan sebelum ini Jane hampir tidak pernah menghidupkan televisinya, menyentuhnya saja tidak. Shara sempat mengira jika televisi itu sudah rusak.


“Hemm. Banyak yang terjadi, sepertinya aku tidak berhak bahagia.” Seketika suaranya melemah dan kepalanya tertunduk, remote televisi yang di pegangnya perlahan terjatuh ke lantai. Dia menangis, Jane menangis. Dengan cepat Shara mendekat dan memeluknya.


“Aku disini, tenanglah. Coba ceritakan padaku. Apa yang terjadi? Apa karena pria yang dekat baru-baru ini denganmu?” Shara mengelus-elus punggung Jane, bukannya tenang tapi wanita itu malah tambah menangis. Air matanya keluar begitu deras tanpa henti, seperti hujan lebat yang tak kunjung usai.


Butuh beberapa menit untuk menenangkan wanita yang sedang patah hati itu, wanita yang untuk ketiga kalinya hubungan cintanya tak berjalan baik. Bahkan sepertinya itu yang terakhir. Dia tak ingin lagi, dan dia tak berniat lagi untuk menyukai seseorang. Itu lah yang ada dalam pikirannya sekarang. Shara memotong cake yang dia bawa, dan menyuapkannya pada Jane yang sudah mulai tenang dan bisa di ajak bicara.


“Jadi apa yang dia lakukan padamu? Apa dia sudah punya kekasih? Atau dia sudah menikah?” tanya Shara.


“Entahlah. Aku tidak yakin. Tapi yang pasti mereka sama saja, menyelesaikan semuanya dengan uang.”


“Mereka? Apa maksudmu? Tunggu apa kau membahas Dev? Atau.. siapa namanya, Ah Max?”

__ADS_1


“Bukan. Dev tidak mungkin seperti itu. Meskipun dia kaya tapi dia tidak akan bermain-main dengan uangnya.”


“Lalu?” Shara mengernyit.


“Alex...”


“Hei. Ada apa denganmu, kenapa kau tiba-tiba menyebutnya.” Shara langsung meraih tangan Jane. Dia takut, dia cemas karena Jane tiba-tiba menyebut nama seorang pria yang memberikan masa lalu yang kelam padanya. Nama yang sangat dilarang untuk disebut.


“Aku bertemu dengannya, aku melihatnya lagi.” Jane meremas tangan Shara. Matanya tampak berkaca-kaca dengan linangan air mata yang tak ingin turun. “Mungkin kebetulan. Atau entahlah, aku sungguh tidak tahu kenapa aku melihatnya. Atau mungkin karena mereka bersaudara,” Jane mengalihkan pandangannya dari Shara. Dia menatap ke arah meja.


“Maksudmu Dev dan Alex bersaudara?” Shara masih bingung dengan apa yang terjadi.


“Shara, ayolah. Bagaimana mungkin Dev yang seorang anak tunggal punya saudara. Max dan Alex, mereka saudara kembar.”


“Tapi bukan itu masalahnya.”


“Lalu?”


“Apa kau ingat jika Alex menyelesaikan masalahnya dengan memberiku uang, dia seakan membayar untuk keperawananku saat itu dengan uangnya.”


“Bajingan itu, bagaimana mungkin aku bisa lupa Jane. Aku pikir dia pria baik-baik karena bersekolah di tempat ternama, ah bodohnya aku tidak menyelidiki terlebih dahulu dan membiarkan kalian berpacaran. Aku sungguh minta maaf saat itu Jane.”


“Tidak, kau tidak melakukan kesalahan apapun Shara. Aku yang bodoh dengan polosnya menerima cinta seorang siswa SMA hanya karena pandangan pertama. Tapi aku bukan ingin membahasnya, ini tentang Max. Aku baru tahu dia sudah bertunangan dan tunangannya meninggalkan nya.”

__ADS_1


“Benarkah? Ternyata naluriku benar, pria tampan itu memang mencurigakan. Lalu dimana masalahnya? Bukankah berarti dia tidak punya kekasih sekarang?”


“Bukan begitu, tunangannya pergi karena dia membalas ketulusan yang dia terima dengan uangnya.”


“Apa? Uang lagi. Kenapa para orang kaya itu menilai semuanya dengan uang, ah aku tidak habis pikir dengan mereka." Shara menghembuskan nafasnya kasar ke udara. "Untung saja Tom tidak sekaya itu untuk dapat menyombongkan uangnya,” Shara menggoda Jane untuk mencairkan suasana nya.


“Ya kau memang beruntung.” Tapi ternyata dia salah, Jane tampak murung lagi.


“Hei ayolah, bukan itu maksudku.” Shara merangkul Jane. “Bukankah kau mengambil cuti seminggu lagi, bagaimana jika kita pergi berlibur?”


“Aku tidak mau.” Jane melepaskan dirinya dari rangkulan Shara, dia mengambil kembali remote televisi yang jatuh ke lantai dan mulai menonton lagi. Namun Shara mengambilnya dan mematikan televisi.


“Aku tidak suka penolakan. Apa kau sungguh tidak ingin pergi denganku?” Shara menatapnya dengan pandangan penuh harap, membuat Jane tak bisa menolak.


“Hemm.." Mereka bertatapan lama sebelum Jane mengangguk setuju.


“Oke, ini bagus. Aku akan membeli tiket pesawatnya, kau kemasi barang mu. Kita akan cari keberangkatan paling awal hari ini.”


“Apa? Berkemas? Kau mau membawaku kemana?”


“Ikut saja. Cepat-cepat biar aku bantu kemasi barangmu.” Shara menarik Jane bangkit dari sofa. Keduanya berjalan ke kamar Jane, ke lemari yang ada di sudut kamar.


Yang benar adalah Shara berkemas bukan Jane, wanita itu tampak sibuk memilih dan memasukkan pakaian model tercintanya ke dalam koper ungu yang sudah terbuka lebar di atas tempat tidur. Sementara Jane hanya duduk dengan manisnya disamping koper itu. Dia tidak tahu apa yang membuat Shara begitu bersemangat. Tapi yang jelas dia merasa apa pun yang dilakukan wanita itu adalah untuknya.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2