
Ziya dan Jane duduk berseberangan di sofa abu-abu yang ada di ruang tamu Villa. Sebuah bangunan bertingkat sederhana yang ada di seberang jalan depan pantai. Villa yang sebagian dindingnya adalah kaca dengan beberapa ornamen cantik di beberapa tempat.
Cukup lama diam, Ziya hanya tampak sedang menikmati tehnya setelah mereka bersalaman. Dan Jane memikirkan sesuatu, penasaran akan sesuatu yang di dapatinya beberapa saat lalu.
“Itu—Apakah Max sudah bertunangan?” tanya Jane sedikit ragu.
“Kenapa kau tiba-tiba bertanya?” bukannya langsung menjawab, Ziya malah bertanya kembali padanya.
“Aku tidak sengaja melihat foto Max bersama seorang wanita tadi.”
“Foto? Ah, ****. Ternyata dia masih menyimpannya, baiklah karena kau bertanya, ya dia sudah bertunangan.” Jawaban yang membuat detak jantung Jane melemah, seakan ingin berhenti bekerja. “Tapi tidak lagi, wanita sialan itu pergi meninggalkannya setelah mendapatkan apa yang dia mau. ****** itu, aku sangat ingin mencabik-cabik wajahnya.”
“Hemm...” Jane tidak yakin akan merespons apa, wanita yang duduk di seberangnya itu tampak sedang berada dalam emosi yang tidak baik. Tapi ada kelegaan dari jawaban itu, setidaknya yang jelas pria itu tidak punya kekasih atau semacamnya.
“Lalu apa yang kau inginkan darinya?” Ziya tiba-tiba bertanya sambil menatap Jane lekat-lekat.
“Maksudmu?” Jane mengernyit.
“Ck. Lupakan saja, tidak mungkin kau memberitahuku.” Ziya mengalihkan pandangannya dari Jane dan teringat akan sesuatu.
“Ah, ya.. Baru-baru ini aku tidak sengaja mendengar tentangmu, aku tidak mengerti mengapa kau masih tetap bersamanya setelah apa yang sudah dilakukan saudaranya padamu.”
Jane mengernyit mendengar pertanyaan Ziya, dia mencerna ucapan wanita itu. Saudara apa? Dan melakukan apa? Padanya?
Ziya melihat Jane yang tampak kebingungan “Apa kau tidak tahu? Sungguh?” Ziya tertegun sebelum tersenyum.
“Hemm. Mungkin aku harus memberi tahumu, kau harus tau. Setidaknya kau bisa membuat pilihan yang tepat setelah ini, kau bisa memilih akan tetap bersamanya atau tidak. Tapi itu jika kau tidak menginginkan apapun darinya.”
“Apa yang ingin kau katakan padaku?” Jane menatap Ziya dengan seksama.
“Alex, dia saudara kembar Max. Dia melecehkan seorang gadis 10 tahun lalu, dan aku baru tahu jika wanita itu adalah kau. Aku tidak bermaksud mencari tahu tapi aku hanya tak sengaja mendengarnya." Kalimat nya terjeda sejenak. "Maaf,.."
__ADS_1
Jane terkejut mendengarnya, dia tidak menyangka jika kejadian itu akan kembali kepada hidupnya dimana orang-orang seperti akan menyalahkannya. Tapi dia tidak melihat tatapan jijik di mata Ziya, wanita itu hanya menuntut jawaban atas pilihannya. Dia tidak sedang menghakiminya tentang kejadian itu. Jane merasa sedikit tenang dan berusaha berpikir positif tentang pandangan Ziya padanya.
Jadi karena itulah dia punya fotonya, dan waktu di bar. Mereka juga membahas soal ayah. Dan saat di pantai apa Max bertanya seperti itu karena ini? Aku... Jane bergelut dengan pikirannya.
Bunyi pintu tertutup kembali terdengar, Max keluar dari kamar itu dengan bersih dan rapi. Dia mengenakan baju kaos putih dan celana pendek, senada dengan pakaian Jane. Dia hanya asal memilih dan teringat dengan baju yang Jane kenakan saat bertemu dengannya di tangga.
“Jadi apa pilihanmu?” Ziya sangat menginginkan jawaban.
“Pilihan? Apa yang sedang kalian bahas?” tanya Max saat tiba di samping sofa yang diduduki Ziya. Sontak membuatnya berdiri karena kehadiran Max. Dan Jane juga berdiri.
“Tidak ada.” Jawabnya singkat sambil tersenyum pada Max.
Max mengambil sesuatu dari dalam saku celananya, kunci Villa. “Untukmu,” ucap Max sambil menyodorkan kunci itu pada Ziya yang masih meliriknya.
Ziya langsung berdiri menerimanya. “Sungguh? Ini untukku?” tanya Ziya seakan tak percaya.
“Hadiah pernikahanmu.”
“Ah maaf, aku tidak bermaksud—.”
“Aku akan menunggu di mobil,” ucap Jane sebelum berlalu pergi. Sementara Max menatap Ziya curiga, dan wanita itu hanya mengangkat bahunya tanda tak tahu.
“Jane,” Max memanggil Jane dan menyusulnya. Meninggalkan Ziya disana menatap mereka punggung mereka berdua.
“Kuharap kau segera memilih, aku juga penasaran apa yang kau inginkan dari Max,” ucap Ziya setelah tubuhnya kembali duduk di sofa.
Tepat waktu, Max meraih tangan Jane tepat sebelum wanita itu membuka pintu mobil.
“Itu tidak seperti yang kau pikirkan, sungguh—.”
“Aku percaya.” Secara mendadak Jane tiba-tiba memeluknya. “Dan aku tidak akan meninggalkanmu.”
__ADS_1
Sontak pelukan itu membuat Max kebingungan, dia penasaran dengan apa yang mereka bicarakan hingga membuat Jane seperti itu. Max memeluk kembali tubuh Jane, “Aku juga tidak akan meninggalkanmu.”
**
Setengah perjalanan, Jane tidak lagi tertidur. Matanya menatap fokus pada jalan yang ada di depannya. Dia ingin bertanya, dia ingin tahu. Tapi dia tidak tahu harus memulai dari mana.
“Sepertinya kau dekat dengan wanita tadi. Apa dia mantan kekasihmu?”
“Tidak, dia hanya teman lama. Kenapa? Sepertinya kau memikirkan Dye dan Ellen lagi. Tenang saja, ayah dan ibuku sudah meninggal. Aku tidak punya saudara tiri.”
“Maaf, aku tidak mengatakannya seperti itu. Hanya saja tadi dia menciummu begitu saja. Jadi ku pikir kalian—.”
“Haha, kamu tenang saja. Tidak ada hal seperti itu antara aku dan dia.” Ucap Max sambil meraih tangan Jane, dia mengemudi dengan satu tangan. Max menyelipkan jarinya agar bersatu dengan Jane. “Apa kau cemburu?”
Tatapan Max yang penuh dengan kenakalan itu membuat Jane menjadi gugup, ditambah dengan remasan lembut di tangannya. “Tidak—aku tidak cemburu, untuk apa aku cemburu.”
“Baiklah,” seketika Max melepaskan tangannya dari Jane dan fokus mengemudi dengan dua tangannya. Sentuhan pria itu meninggalkan sensasi hangat ditangannya. Jane kecewa, dia kecewa karena pria itu melepaskan genggamannya.
“Lalu apa kau punya mantan kekasih?” tanya Jane, dia menatap Max dengan fokus. Pria itu cukup lama diam sehingga membuat Jane harus menunggu jawabannya.
“Punya, bahkan kami sempat bertunangan. Tapi dia tiba-tiba pergi dan menghilang.” Jane merasakan itu, Dia merasakan kesedihan dan kekecewaan dari nada bicara Max. Dia tahu apa yang sedang dirasakan oleh pria itu. Meskipun sepertinya luka Max lebih perih dari dirinya yang ditinggal oleh Dev karena bertunangan dengan wanita lain, ditambah juga cintanya memang tak mendapat balasan sejak awal. Ditinggalkan oleh tunangan yang sudah berbagi suka duka atau di tinggalkan oleh orang yang tak punya hubungan apa-apa tapi memiliki rasa. Mana yang lebih baik?
"Hemm, apa kau tidak tahu alasan dia pergi? Apa kalian bertengkar?"
"Entahlah. Kami baik-baik saja, tapi mungkin karena aku tidak membayarnya dengan cukup."
"Membayarnya? Kenapa kau membayarnya? Bukankah dia tunangan mu?"
Max langsung menghentikan mobilnya, dia memarkirkan mobil itu di tepi jalanan yang sepi. Dan desiran pantai terdengar jelas begitu dia menepi. Max menatap Jane, wanita itu tampak menuntut jawaban darinya. Jawaban kenapa dia harus membayar seseorang yang akan menjadi tunangannya? Apa maksudnya dengan itu?
...----------------...
__ADS_1