
Santa Guilia, Prancis.
Tepatnya di Page De Santa-Guilia Folacca Beach. Sebuah pantai dekat Sotta. Jane dan Shara tampak lelah, mereka menyewa taksi dari bandara ke sebuah tempat penginapan yang ada di dekat pantai. Mobil itu melintasi pemandangan malam pantai yang indah karena pantulan cahaya lampu jalan. Ditambah dengan pantulan rembulan yang membias di laut malam.
Jane langsung menghempaskan tubuhnya begitu sampai di salah satu apartemen yang terletak di Santa Guilia Palace, perumahan pantai Porto-Vecchio. Pemandangan pantai yang bisa langsung di lihat dari balkon tiap bangunannya. Tampak indah dan menakjubkan karena berhadapan dengan perbukitan. Begitu menenangkan.
“Hah, kau membawaku sangat jauh, ya. Sampai-sampai menyewa apartemen disini, seperti akan lama saja.” Ucap Jane pada Shara yang ikut berbaring di sebelahnya.
“Tentu saja, kita akan menghabiskan waktu untuk liburan disini. Kau tau kan jika jadwal mu tidak pernah kosong jadi karena kau libur sekarang, kau harus menikmatinya. Kau akan sangat berterimakasih padaku karena membawamu kesini. Pemandangan disini bagus dan dekat dengan pantai, ahh sangat pas untuk menghilangkan kegalauan mu.” Shara tersenyum nakal melirik ke arah Jane.
“Apa, aku? Galau? Mana mungkin. Lagi pula aku dan dia tidak ada hubungan seperti itu.” Jane menatap langit-langit kamar, cahaya remang dari lampu tidur membuat pikirannya tenang. Dia hanya membayangkan tidak ada pria dalam hidupnya, bagaimana jika tidak ada. Apa dia tidak akan merasakan luka—.
Shara mengubah posisi baringnya, dia menghadap ke arah Jane sambil bertumpu dengan tangannya. Dia menatap Jane curiga. “Benarkah? Apa kalian belum berciuman? Kiss..”
“Tidak—tidak ada. Tentu, belum. Ah sepertinya aku harus mandi, aku akan mencoba kamar mandinya dulu.” Jane bangkit dari ranjang tanpa melihat ke arah Shara. Berjalan ke pintu yang dia masuki beberapa saat lalu.
“Kau menyukainya kan?”
Pertanyaan yang dilontarkan oleh Shara menghentikan langkah Jane, tepat saat dia akan melangkah keluar dari kamar itu.
“Aku mandi dulu.” Jane tak menjawab, dia tak ingin menjawab pertanyaan Shara yang terdengar sedikit membingungkan baginya. Dia mengalihkan jawabannya dan keluar sambil menutup pintu. Untuk sesaat dia bisa menjawab ya, hatinya berkata demikian namun dalam pikirannya dia merasa tidak.
“Hah, sepertinya kau memang menyukainya.” Shara menghela nafas dan bangun dari tempat tidur. Dia mengambil ponselnya, “Baiklah. Aku akan memastikannya sendiri dia pantas untuk kau sukai atau tidak.” Shara menghubungi seseorang, dia menghubungi suaminya.
Sementara itu, Jane menuruni anak tangga pendek. Mungkin sekitar sepuluh anak tangga dia turunin. Tampak ada buah-buahan di atas meja yang berdampingan dengan dua kursi.
“Sepertinya Shara membayar mahal untuk apartemen ini.” Jane mengamati sekelilingnya sebelum menemukan salah satu pintu yang ada di bawah tangga. Itu dia, kamar mandinya.
__ADS_1
Jane menatap dirinya di cermin kamar mandi. Benar saja, dirinya tampak sedikit berantakan dengan rambutnya yang kusut. Namun tidak menutupi kecantikan dirinya yang mempesona. Dia tinggi, manis dan parasnya masih tampak muda. Dua puluh lima tahun bukankah masih termasuk muda.
“Apa yang dia lakukan sekarang, ya. Dia bahkan tidak menghubungiku. Apa aku terlalu keras padanya, aku bahkan baru mengenalnya dan menyimpulkan dia orang yang seperti itu. Bagaimana jika alasannya benar? Tapi ketulusan bukanlah sesuatu yang dapat di bayar dengan uangnya. Apa mungkin dia hanya salah menyimpulkan? Ahh.. aku bisa gila memikirkan dia terus.”
Hampir satu jam berlalu. Sepertinya kamar mandi itu tidak kedap suara, Shara bisa mendengar bunyi siraman shower dari meja yang ada di dekat lemari pendingin. Dia sedang menikmati buah apel yang baru dikupasnya, baru saja di ambilnya dari keranjang yang ada di atas meja.
Drrtt. Drttt.
Ponsel Shara bergetar, sebuah panggilan masuk. Itu adalah telepon dari Devan.
“Dev? Untuk apa dia menelvon malam-malam begini.” Shara menggeser layarnya ke kanan untuk menjawab panggilan itu. Dia penasaran.
“Ya?”
“Apa kau bersama Jane? Aku sudah menelepon nya tapi dia tidak menjawab. Apa dia baik-baik saja?” Nada bicara Dev jelas menunjukkan kecemasannya akan keadaan Jane.
“Kau tenang saja, dia baik-baik saja. Dia sedang mandi, sepertinya ponselnya ada di kamarnya.” Jawab Shara santai.
“Tidak. Kami sedang berlibur.”
“Apa?” ucap Dev nyaring hingga membuat telinga Shara berdengung.
“Hei. Ayolah, apa kau marah? Kami hanya pergi berlibur. Lagi pula—.”
“Kirim lokasi kalian sekarang!?”
Tut. Tut. Panggilan terputus.
__ADS_1
“Apa-apaan dia itu. Tidak jelas sekali. Apa dia orang tua Jane, aku harus selalu melapor padanya. Ah sudahlah.” Shara meletakkan ponselnya di atas meja. Tak menghiraukan pinta Dev padanya.
“Kenapa dia begitu lama, ya.”
Shara bangkit dari kursinya dengan potongan apel terakhir di tangannya. Dia menyuapnya habis begitu sampai di depan pintu kamar mandi.
Tok. Tok. Shara mengetuk pintu beberapa kali.
“Jane? Apa yang kau lakukan di dalam sana, kenapa lama sekali.” Shara kembali mengetuk karena tidak mendapat jawaban. “Jane... Aku juga ingin mandi ini, Jane...”
Hanya bunyi air, dia tidak mendengar apapun selain bunyi air yang mengalir dari shower. Waktu terus berjalan, Shara menjadi cemas. Dia ingin membuka pintu namun ternyata terkunci. Dia sangat frustasi sekarang.
“Jane. Apa kau baik-baik saja!! Jane, jawab aku.” Shara memukul pintu kamar mandi dengan keras. Beberapa kali dia juga mendorongnya, berusaha membuka pintu itu tapi tidak berhasil. Dia butuh bantuan.
Shara panik. Dia keluar dari apartemen, mengamati sekitarnya berharap bisa menemukan seseorang yang dapat menolongnya. Ketemu, Shara melihat seorang pria bersama dengan wanita yang sedang menggendong bayi. Mereka tampak bahagia bermain dengan bayinya. Dia mendekati mereka.
“Permisi, maaf. Temanku terkunci di kamar mandi, bisakah kau membantuku? Aku sungguh tidak tahu ingin meminta bantuan pada siapa disini.” Pinta Shara pada pria yang berada di samping wanita itu. Pria dan wanita itu tampak saling berkomunikasi tanpa suara lewat mata sebelum kemudian setuju untuk membantu Shara.
Dan sepertinya mereka sebuah keluarga, Shara membawa ketiganya masuk dan langsung menuju ke kamar mandi. Shara masih memasang wajah panik nya, dia masih gelisah. Dia masih merasa tertekan sekarang dia sungguh takut terjadi sesuatu pada Jane. Dan yang paling dia takuti adalah sakitnya kumat lagi.
Pria berbadan tinggi besar yang dibawanya masuk tampak mendobrak pintu kamar mandi, sekali, dua kali. Dan yang ketiga kalinya pintu itu akhirnya terbuka lebar, namun engselnya tampak rusak. Pria itu langsung mengalihkan pandangannya begitu melihat seorang wanita yang tergeletak di lantai tanpa busana apapun. Dia telanjang, itu Jane. Dia berada di lantai kamar mandi tak sadarkan diri, sementara air shower terus mengalir membasahinya.
Shara yang langsung masuk begitu pintu terbuka langsung menghampiri Jane tanpa melirik ke pria yang masih berdiri di pintu. Dia langsung mematikan shower dan meraih kepala Jane untuk berada dalam dekapannya, dia berusaha membangunkan wanita itu.
“Jane. Bangun, astaga. Jane....” suara nyaring Shara membuat wanita yang sedang menggendong bayinya di luar melihat ke dalam kamar mandi, dia terkejut. Dengan cepat wanita itu memberikan bayinya pada suaminya.
“Pulanglah duluan, aku akan membantunya,” ucapnya.
__ADS_1
Pria itu pergi dengan bayinya sementara dia masuk mengambil handuk yang menggantung tak jauh dari wastafel dan berjalan mendekat pada Shara dan Jane. Dia memakaikan handuk pada Jane sebelum mengangkatnya bersama Shara ke kamar.
*---