
Jane hanya bisa mendengar suara ombak, dia bisa mendengarnya dengan jelas. Sementara yang ingin dia dengar bukanlah itu. Pria yang dia tuntut untuk menjawab masih terdiam. Max tampak sedang berpikir.
“Ketulusannya.” Akhirnya Max menjawab, nada bicaranya terdengar rendah dan penuh keraguan. Namun Jane masih bisa mendengarnya. Dia terkejut dengan jawaban yang dia dengar. Dia tak pernah menyangka akan mendengar jawaban seperti itu. Uang dan ketulusan?
“Maksudmu kau membayar ketulusannya? Dengan apa? Jangan bilang padaku jika kau membayarnya dengan uang mu.” Jane meraih bahu Max, dia menempelkan tangannya disana untuk menuntut jawaban lagi. Berharap dia salah menyimpulkan.
"Aku memberikan apa pun yang dia mau, apa pun yang sekiranya dia inginkan dariku. Tapi ternyata semua yang aku berikan padanya belum cukup, aku tidak membayarnya dengan benar. Dan dia pergi dariku.”
Jane terdiam, dia berpikir keras tentang apa yang di dengarnya. Dia berharap jika yang dia dengar adalah salah. Tubuhnya seakan melemah, tangannya terlepas dari bahu Max. Dia duduk terpaku sambil memikirkan dan memahami maksud dari ucapan Max, namun dia tak menemukannya. Dia tak bisa memahami pria itu.
Tanpa sadar air matanya menitik membasahi pipinya, Jane mengepalkan tangannya di paha. Dia sungguh tidak mengerti.
Apa kau juga akan membalas ketulusan ku seperti itu... pikirnya. Jane mengusap pipinya yang basah dan berusaha menahan air mata itu supaya berhenti mengalir. Sementara Max, dia melamun tak sadar dengan keadaan di sekitarnya. Tak sadar jika Jane menangis di sampingnya.
“Kau bukan manusia, Max,” Jane keluar dari mobil. Dia melangkah menjauh dari mobil Bugatti yang super mahal itu, dengan pikirannya yang masih kacau dia mengambil ponselnya di dalam tas dan menghubungi seseorang. Dia menghubungi Dev.
Namun tepat saat panggilan itu tersambung, Max tiba-tiba datang dan meraih tangannya. Membuat Jane belum sempat berbicara dengan orang yang ada di seberang telepon. Dia juga tidak bisa mendengar apa yang di ucapkan oleh Devan saat menerima panggilan itu karena Max berbicara dengannya.
__ADS_1
“Jane, ada apa denganmu?” Max terkejut begitu melihat wanita itu menangis saat Jane berbalik ke arahnya. “Kenapa? Kenapa kau menangis? Kau marah padaku?”
Jane melepaskan tangannya dari genggaman Max dengan spontan, “Kalian sama. Kau sama saja dengan saudara mu. Aku sempat berpikir kalian berbeda dengan cara kau memperlakukanku, tapi sekarang aku melihatnya sendiri jika kau dan dia tak ada bedanya. Kalian sama-sama brengsek.”
“Kau—kau tahu?”
“Ya. Aku tahu semuanya, dan aku juga tahu detik ini jika pria yang berdiri di depanku tidak lebih buruk darinya.”
“Apa maksudmu? Kau menyamakan aku dengan dia?”
“Kenapa? Apa aku salah? Kalian sama-sama tidak bisa menghargai perasaan orang lain. Menilai semuanya dengan uang, membayar segalanya dengan uang, dan aku tidak menyangka jika kau akan membayar ketulusan hati seseorang juga dengan uang. Tidak. Mungkin tidak. Kau bahkan lebih buruk darinya. Melihatmu seperti ini, aku jadi tahu alasan dia meninggalkanmu.”
“Kau sebut itu alasan? Apa kau pernah menanyakan apa yang dia mau? Apa yang dia inginkan?” Jane menatap Max, dan pria itu tiba-tiba terdiam. Jika diingat lagi, Max memang tidak pernah bertanya akan hal itu padanya. Dia hanya selalu menghabiskan uang nya untuk membeli ini dan itu untuknya. Tanpa tahu keinginannya. Sepertinya Jane benar untuk itu, tapi alasannya? Max masih meragukannya jika dia pergi setelah menerima semua yang dia berikan padanya. Dengan alasan yang ada di pikiran Jane, karena dia membalas ketulusan dengan uangnya?
“Huh, benar saja. Lalu bagaimana denganku? Berapa harga yang akan kau berikan atas ketulusanku? Berapa harga yang akan kau bayar untuk ketulusan yang ku berikan padamu?!” tanya Jane. Air matanya kembali mengalir di pipinya setelah dia menahannya beberapa saat. Tak terbendung lagi.
“Aku—.”
__ADS_1
“Tidak bisa menetapkan harga mu?! Biar ku perjelas, Max. Kau tidak bisa membayar ketulusan dengan uangmu.” Jane menatap Max dengan mata yang berkaca-kaca. Dia mengangkat tangannya setinggi bahunya, menunjuk dada Max dengan jarinya. “Dan apa gunanya ini? Apa hatimu sudah mati, atau kau memang tidak memilikinya.”
Waktu seakan terhenti. Max terdiam tak bergerak dan hanyut dalam lamunan. Sementara Jane masih lekat-lekat menatap Max. Matanya menjadi merah, dan linangan air mata yang masih berusaha di tahannya. Membuat matanya masih berkaca-kaca.
Tit. Tit.
Sebuah klakson mobil membuat waktu berputar kembali, Jane melirik ke satu-satunya mobil selain mobil Max yang melintas. Jendela depannya perlahan terbuka, seorang wanita.
“Butuh tumpangan?” tanya Ziya sambil menurunkan kacamata hitamnya dengan percaya diri pada Jane yang melihat ke arahnya. Tanpa berpikir panjang, Jane masuk ke mobil itu. Ziya kembali menggeser kacamata ke posisi semula dan langsung tancap gas begitu Jane duduk dan menutup pintu, dia tak menghiraukan Max yang memanggil dan memintanya untuk berhenti.
Pria itu tak sempat menahan Jane untuk tidak masuk ke mobil karena larut dalam pikirannya. Sementara mobil silver yang baru saja membawa Jane sudah menghilang di tikungan jalan. Menyisakan Max sendirian.
Satu jam berlalu, Max sampai di apartemennya setelah kembali dari apartemen Jane. Dia membanting pintu begitu masuk, dia kesal karena tidak bisa bertemu dengan Jane, wanita itu tak ada di apartemennya. Dan kegiatan yang dia lakukan selama perjalanan masih berlanjut hingga sekarang, dia menelepon Ziya berkali-kali tapi tak ada jawaban. "Sial, kemana dia membawanya."
Max duduk di sofa, dia melempar ponselnya entah kemana. Dibuangnya begitu saja. Max menengadahkan kepalanya ke langit-langit, dia berusaha menenangkan pikirannya. Tapi tidak bisa, bayangan Jane yang menangis di hadapannya masih teringat jelas dalam ingatannya. Wanita itu menangis tersedu-sedu di depannya.
Tiba-tiba Max tersadar dari pemikirannya, dia beranjak dari sofa depan televisi dan masuk ke dalam kamar. Dengan tergesa-gesa dia menghampiri meja kerjanya dan memeriksa laci meja. Ada tiga laci di sana, untuk dua laci yang dia buka pertama dia tidak menemukan yang dia cari. Dan pada laci ketiga membuatnya melamun sejenak sebelum dia mengambil beberapa foto di dalam sana. Foto-foto yang dia terima dari Dye sebagai bukti perselingkuhan tunangannya, Rose dan pria lain.
__ADS_1
'Aku harus menemukannya.'
...----------------...