
Diluar jendela kaca apartemen Max tampak langit gelap tak berbintang, sedangkan jam digital yang ada di atas meja kerjanya menunjukkan pukul 08.24 pm. Max tampak sibuk dengan tumpukan kertas yang ada di hadapannya. Sudah hampir satu jam sejak dia selesai makan dan duduk disana. Komputernya juga masih menyala sedari tadi.
Tiba-tiba di tengah kesibukan itu terdengar suara nyaring dari ponselnya. Sebuah panggilan masuk dari nomor yang dia hubungi dua belas jam yang lalu. Mereka tak berbicara banyak, Max langsung meninggalkan meja kerjanya setelah panggilan itu berakhir. Dia keluar dari kamarnya, berjalan ke arah pintu masuk.
Bip. Pintu terbuka.
Max tak terkejut saat membuka pintu, dia berhadapan dengan tiga orang pria. Dua orang pria menunduk padanya sebelum berlalu pergi, sedangkan satu orang lagi tampak cemas berhadapan dengan Max. Pria itu masuk dengan gugup saat Max menggerakkan kepalanya sebagai tanda untuk menyuruhnya masuk. Itu Lery.
Suasananya tampak tidak bersahabat, Lery duduk di sofa dengan gelisah sementara Max sedang berada di depan lemari pendingin sedang memilih minuman mana yang akan dia ambil dengan santai. Dia mengambil dua botol cola dingin di rak kedua, dan membawanya ke tempat Lery berada.
“Minumlah, pasti kau lelah setelah perjalanan jauh bukan?” ucap Max sambil memberikan satu botol minuman yang dia bawa pada Lery.
“Te-terimakasih,” balas pria itu ragu menerima minuman itu.
Max duduk di sampingnya, dia meminum cola nya hingga bersisa setengah botol. Sedangkan Lery hanya bisa meneguk air ludahnya tak berani untuk minum cola yang dia terima.
“Kenapa?” Max menatap Lery yang hanya menunduk, “Apa kau takut aku akan meracuni mu?”
Lery menggeleng-gelengkan kepalanya cepat, dia sungguh tidak sanggup untuk bersuara. Max mengambil kembali minuman yang sudah dia berikan dari tangan pria itu, dia membuka tutupnya dan memberikannya kembali pada Lery. “Ini bahkan masih di segel, apa yang kau takutkan.”
Dengan segenap keberanian yang dia punya, Lery minum dua teguk cola. Dia kembali menunduk tak berani menegakkan kepalanya, apalagi untuk menatap ke arah Max. Dia sungguh tak berani.
__ADS_1
Senyuman tipis terpapar di wajah Max, dia tertawa kecil melihat tingkah Lery yang tampak ketakutan di sampingnya. Dia memeluk pria itu.
“Lama tidak bertemu Lery, bagaimana kabarmu? Apa menyenangkan disana?” bisiknya.
Bip. Pintu terbuka.
Pelukan Max dan Lery terlepas begitu sosok pria tinggi masuk dan berada tak jauh dari mereka. Dye berdiri dengan nafas yang terengah-engah. Kehadiran pria itu membuat raut wajah Lery berubah drastis, dia tampak lebih lega sekarang. Meskipun hanya sedikit.
“Wah, kau datang lebih cepat dari dugaanku ya.” Max tersenyum sinis melihat Dye. “Kuharap kau di sini bukan untuk menjemputnya, Dye?”
Max tampak santai menyandarkan punggungnya ke sofa, dan menatap Dye menunggu jawaban. Dia berharap jawaban pria itu tidak mengecewakannya.
“Apa yang ingin kau ketahui? Kau bisa bertanya padaku, dia tidak tahu apapun.”
“Dan untuk hal yang ingin aku tahu bukankah itu terserah padaku ingin bertanya pada siapa? Aku ingin dia yang menjawabnya, dia juga kesini karena ingin menjawab pertanyaanku. Bukankah begitu Lery?”
Lirikan Max yang biasa itu terasa menusuk saat mata mereka bertatapan. Lery hanya bisa mengangguk pasrah. “Lihat? Aku tidak melakukan apapun padanya, bukan?”
Sepertinya Dye sudah tidak bisa mengelak lagi, dia harus menceritakan kejadian yang sebenarnya. Apapun yang akan terjadi nantinya dia sudah dengan lapang dada menerimanya. Dye menarik nafas panjang sebelum menghembuskannya singkat. “Baiklah.”
Max, Dye dan Lery duduk bersama di sofa. Ketiganya tampak dalam suasana yang tegang. Max masih menunggu, dia masih menunggu Lery untuk mengatakan padanya apa yang terjadi saat itu sehingga dia membawa Rose pergi dari acara pertunangannya.
__ADS_1
“Itu—aku sungguh tidak berniat untuk membawanya dari acara itu. Dia meminta bantuanku—untuk...” Lery melirik pada Dye yang duduk berseberangan dengannya, pria itu mengangguk sebelum Lery meneruskan ucapannya. “Rumah sakit. Maksudku—aku mengantarnya ke rumah sakit. Aku berani bersumpah, aku tidak membawanya kabur. Demi Tuhan.”
Max berpikir sejenak, seingatnya saat pertunangan itu Rose baik-baik saja. Bahkan wanita itu tampak bahagia, senyum yang terpampang di wajah Rose malam itu masih terngiang dalam benaknya. Dia mengernyit sebelum bertanya, “Untuk apa dia ke rumah sakit?”
Dye dan Lery saling bertatapan mendengar pertanyaan itu, mereka terdiam.
“Dye? Apa lagi yang kau sembunyikan dariku?” Max menatap Dye serius, dia sangat butuh informasi apapun sekarang. Dia harus menemukan mantan tunangannya itu segera. Sesegera mungkin sebelum cintanya yang baru layu.
“Dia hamil,” jawab Dye setelah menelan ludahnya sendiri.
Mata Max yang sedari tadi tak berkedip, langsung berkedip beberapa kali. Dia terkejut, bingung, heran, tidak percaya, marah atau—apapun itu dia tak bisa mengutarakannya. Dia berdiri, dia bergerak tak karuan.
“Dia hamil? Bagaimana bisa dia hamil, bahkan aku belum melakukan itu dengannya. Apa dia—.” Max terdiam, dia bergegas ke kamarnya. Dia berjalan ke meja kerjanya dengan detak jantung yang sudah berdetak cepat, Max memeriksa laci meja. Tidak ada. Dia mengacak-acak tumpukan kertas di mejanya. Dia mencari sesuatu, dia mencari foto yang dilihatnya di pagi hari. Foto Rose dan pria yang di katakan selingkuhannya.
Dia sungguh tidak bisa memastikan, karena dia memang tidak percaya dari awal jika wanita itu menyelingkuhinya. Pria selingkuh itu juga sopir Rose tentu saja selalu bersamanya kemanapun. Max memeriksa kembali foto-foto itu satu persatu, mungkin ada sekitar lima belas foto. Untuk delapan foto di awal dibiarkannya jatuh ke lantai begitu saja setelah dilihatnya.
Gerakan tangan Max terhenti di foto ke sembilan, foto yang menampakkan Rose dan pria itu sedang bergandengan tangan memasuki sebuah Cafe. Max memisahkan foto itu, dia kembali melihat lagi. Dan ada dua foto yang menunjukkan keduanya sangat dekat saat masuk dan berada di dalam sebuah bar.
Max meletakkan tiga foto itu di atas mejanya, dia bertumpu dengan kedua tangannya ke tepian meja. Kenapa baru sekarang, kenapa baru sekarang dia melihatnya. Dia begitu takut, dia takut jika hal yang di katakan oleh Dye benar. Dia tak berani untuk melihat foto-foto itu dengan seksama, hanya sekilas. Dan sekarang? Selama ini dia percaya dengan alasan yang ada di pikirannya, tak cukup membayar akan ketulusan yang dia terima. Selama ini, dia tak ingin percaya dengan kenyataan jika wanita itu meninggalkan nya karena pria lain. Max mengepalkan tangannya, dia memukul meja itu dengan keras.
Max keluar dari kamarnya, Dye dan Lery menatap ke arahnya. Ekspresi di wajah Max tampak marah namun juga ada kesedihan yang mendalam dari tatapannya.
__ADS_1
“Dye bawa Lery ke ruang komputer, temukan wanita itu bagaimana pun caranya.”
...----------------...