The Rainy Song

The Rainy Song
Chapter 1 : Nyanyian Hujan


__ADS_3

Reina, seorang gadis berusia sekitar 11 tahun dengan rambut hitam tergerai Ia berlari menuju ke sebuah taman kecil di depan sebuah rumah bercat putih. Disana Ia bertemu dengan seorang anak laki-laki yang usianya 5 tahun lebih tua darinya yang akrab dipanggil Kakak, anak laki-laki itu sudah menunggunya sejak 15 menit lalu dan telah bersiap untuk pergi menuju ke mobil berwarna hitam yang sudah terparkir di sebrang jalan.


Melihat Reina tiba, anak itupun urung untuk pergi.


“ Jadi kau harus menepati janjimu” Ucap anak laki-laki itu tersenyum.


“ Ummp” Jawab Reina sambil mengangguk dengan nafas terengah.


“ Sampai berjumpa lagi, jaga kesehatanmu”


Anak laki-laki yang berseragam sekolah menengah itu kemudian berlari sambil melambaikan tangan dan masuk ke dalam mobil yang sudah dibukakan pintunya oleh sang supir. Reina membalas lambaian tangannya dengan senyum yang mengembang, matanya berkaca-kaca.


Reina melambaikan tangan. Dalam hatinya ia berkata “ Aku berjanji, aku akan bekerja keras”


                                      ……..


Reina kini sudah beranjak dewasa usianya sudah menginjak 18 tahun dan baru saja menyelesaikan sekolah menengah atasnya. Reina bekerja di sebuah toko kue tradisional di kota, saat sekolah Reina sudah bekerja paruh waktu di toko itu, dan setelah lulus dia melanjutkan untuk bekerja secara full time.


Reina tenggelam dalam kenangan, Ia mengingat masa kecilnya dulu, sampai akhirnya suara gesekan pintu yang digeser membuat Ia tersadar dari lamunannya itu. Seorang pelanggan masuk ke dalam toko, wajah yang tidak asing.


Reina lantas berdiri, dan sedikit merapikan apron berwarna coklat yang  dikenakannya.


“Anda sudah sampai Pak?” Sapa Reina pada seorang lelaki paruh baya yang sudah berdiri tepat di depan meja kasir tempat Reina berdiri. Pelanggan itu bernama Pak Tomo, seorang supir pribadi yang bekerja untuk seorang anak konglomerat ternama, dalam satu minggu biasanya dua atau tiga kali Pak Tomo mampir ke toko tempat Reina bekerja. Pak Tomo datang untuk mengambil pesanan majikannya itu. 


“Seperti biasa ya” Ucap Pak Tomo dengan senyum khasnya, sambil menyerahkan satu lembar uang pecahan 100.000. 


”Saya memberikan ekstra 1 kotak untuk Bapak, tapi mungkin rasanya tidak seenak yang lain “  Reina menyerahkan dua kantong plastik yang berisi satu kotak kue sesuai pesanan, dan satu lagi kantong plastik dengan kotak kue berukuran kecil yang berisi kue buatan Reina.


"Buatanmu? Wah kau gadis berbakat” Pak Tomo menerima kantong yang diserahkan Reina lalu membuka kotak kue kecil yang ternyata kue pandan kukus berukuran 15cm. Pak Tomo terlihat senang, senyum sumringahnya membuat garis garis di wajahnya tampak semakin nyata.


Setelah selesai melakukan pembayaran,Ia bergegas keluar dari toko dengan setengah berlari menuju ke mobil mewah yang terparkir di samping toko.


Tuan Muda sang majikan sudah menunggu, duduk di bangku belakang mobil mewah itu. Mobil mewah edisi terbatas yang hanya dimiliki para orang super kaya. 


Pak Tomo sudah menjadi langganan toko ini sejak 3 tahun lalu, dan selalu memesan kue yang sama, kue coklat yang memang hanya toko ini yang jual. Kue coklat dengan rasa dan bentuk tradisional yang sudah jarang toko lain jual karena semakin sedikit peminatnya. Akan tetapi pemilik toko tempat Reina bekerjalah yang masih konsisten membuat kue itu meskipun hanya beberapa orang saja yang masih setia memesan salah satunya anak dari majikan Pak Tomo itu.


Seorang gadis usia sebaya Reina keluar dari dapur toko membawa nampan berisi gelas dan cangkir yang baru selesai dicuci,yang lalu ditaruh diatas etalase kue. 


"Apakah tadi Pak Tomo? Dia datang lebih awal hari ini” Tanya Raya, sambil mengelap gelas dan cuci yang tadi Ia bawa sebelumnya.


Raya, gadis manis berambut pendek seleher itu adalah rekan kerja Reina, mereka sudah  bekerja sejak sekolah menengah sebagai karyawan paruh waktu.

__ADS_1


“ Ya” Jawab Reina singkat, sambil mengelap etalase kaca tempat menyimpan kue-kue coklat yang berjajar rapi di dalamnya.


“ Aku penasaran dengan Tua Muda itu, dia tidak pernah turun dari mobilnya”


Mendengar perkataan Raya, Reina jadi berhenti mengelap kaca etalase, dia baru terfikir tentang Tuan Muda itu. Ia baru tersadar tenyata selama ini Ia bahkan tidak sekalipun melihatnya turun dari mobil, dan Ia tak pernah tahu seperti apa wajahnya.


“ Aku pun penasaran, kalau diingat lagi jangankan masuk ke toko ini bahkan aku tak pernah sekalipun melihatnya turun dari mobilnya”. 


Reina menyelesaikan pekerjaannya, kemudian berlalu menuju ke ruang penyimpanan di belakang untuk mengambil kue dan mengisi kembali wadah yang kosong di etalase.


Reina membawa satu nampan kue dari ruang belakang, saat kembali Ia melihat Raya masih memandangi mobil berwarna hitam yang sudah siap melaju, Reina ikut melihat ke arah mobil itu. Mobil itupun melaju, perlahan dan tak terlihat lagi.


Entah mengapa Reina terfikir lagi hal yang dikatakan Raya tadi. Sebenarnya Tuan Muda itulah pelanggan kue toko, bukan Pak Tomo. Dalam seminggu biasanya 2 atau 3 kali Ia pasti memesan kue yang sama di toko tempat Reina bekerja, tapi tidak pernah sekalipun membuka kaca mobilnya apalagi keluar dan turun untuk mengambil kuenya. Sebagai gantinya, Tuan Tomo lah yang selalu mengambilkannya. 


Mungkin sebagai anak dari seorang konglomerat ternama Ia tidak bisa sembarangan menampakkan wajahnya di muka umum. Itulah alasan yang paling masuk akal yang ada di benak Reina saat itu.


Dari balik pintu kaca toko tampak titik titik hujan mulai membasahi jalanan. Hujan rintik-rintik mulai mengguyur di luar, menyadari itu Reina dan Raya bergegas mengambil papan spanduk promosi yang berdiri di depan toko agar tidak terkena hujan. Suasana sore cukup sepi, tidak banyak kendaraan maupun pejalan kaki yang berlalu lalang, ditambah lagi hujan membuat suasana semakin senyap. 


Toko kue dengan bangunan tua itu memang tidak berada di jalur utama, tapi berdiri diantara perumahan penduduk hanya beberapa saja gedung yang dibangun di kawasan yang orang sekitar menyebutnya - middle high . Setiap harinya tidak terlalu banyak orang yang lewat di sekitar toko. Kebanyakan pembeli kue di toko itu adalah pelanggan setia sejak toko pertama berdiri, rata-rata mereka sudah menjadi pelanggan setidaknya selama 20 tahun bahkan ada yang lebih, maka bukan hal yang aneh jika pelanggan yang datang kebanyakan paruh baya atau lansia. Mereka selalu datang untuk mengenang masa muda, dan masa masa indah di masa lalu yang bisa digali kembali di toko yang menghadap timur itu, tidak banyak yang berubah bahkan pemilik mempertahankan interior serta furniture yang sama. Banyak pelanggan yang menyebutnya toko sejuta kenangan, tempat dimana kita bisa menemukan dan mengembalikan masa lalu.


Suasana semakin sunyi senyap.


Reina dan Raya berdiri bersandar pada etalase kue sambil memandangi suasana hujan dari balik pintu kaca toko. Damai dengan iringan suara hujan yang memukul genting terdengar seperti alunan instrument, tetesan hujan yang memantul di atas jalanan pun tampak menari-nari seirama dengan ketukan bunyi rintik hujan. Suasana yang jarang ditemui di tengah kota. 


Waktu berlalu, hujan membuat toko menjadi tidak banyak pelanggan. Sejak hujan  turun hanya ada 5 pelanggan yang makan di tempat, dan 6 orang yang membeli kue untuk dibawa pulang.


Tanpa terasa jam sudah menunjukkan 21.00 malam, saatnya Reina dan Raya merapikan seluruh bagian toko dan mempersiapkan untuk buka kembali keesokan harinya.  Reina merapikan laporan penjualan, dan laporan keuangan harian, Raya merapikan sisa kue yang belum terjual. Dan pekerjaan lainnya mereka lakukan bersama-sama. 


Setelah selesai membersihkan seluruh bagian Toko dan mengganti seragam mereka. Raya mematikan seluruh lampu toko dan Reina membantu mengunci pintu. 


Di depan pintu toko yang sudah terkunci. Raya dan Reina bersiap untuk pulang.


" Sampai jumpa besok” Raya melambaikan tangan.


" Jangan lupa besok kita harus datang lebih pagi" Ucap Reina.


“ Ah aku hampir lupa, besok akan menjadi hari yang sangat melelahkan” keluh Raya.


“ Hehe, ok bye hati-hati di jalan. Jangan percaya siapapun yang baru kau temui di jalan “ Goda Reina.


“ Hei, kau masih ingat saja. Itu kan kejadian tiga tahun lalu” Raya tersipu.

__ADS_1


Kejadian tiga tahun lalu, saat perjalanan pulang Raya bertemu dengan seorang laki-laki dan berkata ‘Kamu cantik sekali, kulitmu bersinar seperti bidadari’ Raya memang innocent, mendengar ucapan begitu saja membuatnya begitu berbunga-bunga, laki-laki itu menangkap kepolosan Raya sehingga melanjutkan pujiannya. Dan esok harinya Raya bercerita kalau semalam Ia menghabiskan seluruh gajinya bulan itu untuk membeli satu paket kecantikan, dan ternyata laki-laki itu adalah seorang sales produk skincare. Reina tertawa mendengar Raya yang bercerita sambil sesenggukan.


" Hoi Reina, berhentilah menertawakanku” Wajah Raya mulai memerah karena malu mengingat kejadian itu.


" Ya, ya, maafkan aku Hahahaha”  Reina tak bisa menahan tawanya setiap kali mengingat kejadian yang membuat Raya menjadi parno berlebihan setiap kali ada yang memujinya, sejak kejadian malam itu Raya selalu berkata " Aku tidak memerlukan produk kecantikan apapun" pada siapapun yang memujinya.


Reina masih terkikik, Raya yang tersipu malu memukul manja pundak Reina, lalu beranjak pergi. Raya berjalan ke arah berlawanan, Reina pun  bersiap dengan sepeda mininya. Tempat tinggal Reina memang tidak terlalu jauh dari toko, sehingga Ia memilih untuk bersepeda. Reina hidup sendiri, Ia harus menghemat uang dan menekan biaya lain sebisa mungkin agar dapat membayar sewa kamar kosnya dan untuk biaya lain sehari-hari. 


Di keheningan malam Reina mengayuh sepedanya, karena toko berada di antara komplek perumahan meskipun waktu baru menunjukkan pukul 22.00 malam tapi suasana terasa sangat sepi, hanya ada beberapa penjaga keamanan yang berjaga di depan rumah, dan sesekali kendaraan bermotor terlihat lewat mendahuluinya, hanya suara gonggongan anjing yang terdengar memecah keheningan malam itu.


Setelah 15 menit mengayuh sepeda, Reina sampai di tempat kosnya, rumah dua lantai yang terdiri dari 8 pintu menghadap ke barat. Hanya ada satu kamar yang kosong yaitu pintu paling pojok,  penghuninya pindah ke daerah lain karena pindah tugas dari pekerjaannya. Jadi hanya 3 kamar yang terisi di lantai atas termasuk Reina. Kamar Reina berada di pintu kedua dari tangga. Pintu kamar pertama adalah Tara, gadis berusia 5 tahun yang hanya tinggal bersama Ibunya. Ibunya adalah single parent yang menggantungkan hidupnya sebagai buruh cuci.


Reina mengetuk pintu kamar Tara. Tak berapa lama pintu pun terbuka.


“ Kak Leina?” Seorang gadis kecil berkuncir dua muncul dari balik pintu, ia sesekali mengucek matanya, memang ini sudah jam tidur Tara.


“ Ah maafkan aku, sepertinya aku mengganggu tidurmu”.


“ Ada siapa Tara ?” Seseorang dari belakang menyaut, dan datang menghampiri ternyata Ia adalah Ibunya Tara.


“Oh Reina” Ucapnya tersenyum sambil mengelap tangannya yang basah dan terlihat sisa sisa busa sabun, sampai selarut ini dia masih mencuci.


“ Ini aku bawakan kue” Reina menyodorkan satu kotak kue dalam plastik.


Tara tersenyum sumringah, dan Ibu Tara mengangguk sambil terus saja berterima kasih.


Reina tersenyum bahagia.


Setelah pintu kamar Reina adalah kamar yang diisi oleh seorang mahasiswa semester akhir sebuah universitas yang akrab dipanggil Barong, itu bukan nama aslinya tapi penghuni di sana biasa memanggilnya begitu. Barong adalah seorang introvert, yang hanya keluar kamar jika ada jam kuliah atau sekedar membeli makan. Selain untuk keperluan itu Ia lebih banyak menghabiskan waktunya di kamar, membaca buku , nonton terkadang sesekali terdengar suara musik dari kamarnya. Reina sama sekali tidak pernah mendengarnya ngobrol dengan penghuni lainnya, bahkan Ia sendiri tidak pernah ngobrol dengannya saat bertegur sapapun hanyak menganggukkan kepala saja.


Reina mengetuk pintu kamar Barong.


Barong muncul dari balik pintu, tapi yang terlihat oleh Reina hanya bagian wajahnya saja. Tanpa bertanya dan tanpa ekspresi, tapi Reina sudah terbiasa dengan hal itu.


“ Ini” Reina menyodorkan kotak kue yang sama seperti yang diberikan pada Tara, hanya saja ukurannya lebih kecil, karena Barong hanya tinggal seorang diri.


Barong mengangguk tanda ia menerima dan berterima kasih, lalu ia kembali menutup pintunya tanpa kata dan masih dengan ekspresi datar sama seperti saat membuka pintu. Reina tersenyum tipis, lalu ia bergegas ke kamarnya. 


Sisa kue yang tidak terjual memang pemilik toko izinkan untuk dibawa pulang, kadang jika jumlahnya masih cukup banyak setelah dibagi dua dengan Raya biasanya Reina bagikan ke tetangga di kosan. Biasanya Raya mengambil bagian lebih, karena dia tinggal dengan keluarganya yang cukup banyak Ayah , Ibu, Nenek dan kelima adiknya. Karena jumlah keluarga yang banyak dan keterbatasan ekonomilah yang membuatnya tidak melanjutkan ke perguruan tinggi, Raya harus bekerja bahkan semenjak dia masih sekolah. Kehidupan Reina pun tidak lebih baik dari Raya, Reina seorang yatim piatu yang besar di panti asuhan sehingga ia harus bekerja keras untuk menghidupi hidupnya sendiri.


Jam menunjukkan pukul 23.00 malam, setelah mandi dan berganti pakaian tidur berlengan pendek dengan motif bunga Reina merebahkan badannya di atas tempat tidur. Tempat tidur lusuh yang belum Ia ganti sejak 3 tahun lalu, sejak menempati  kosan itu. Berbaring terlentang menatap langit-langit kamar, tubuhnya lelah membuatnya enggan bergerak. Hanya berbaring dan terdiam, tak butuh waktu lama Ia pun terlelap.

__ADS_1



__ADS_2