The Rainy Song

The Rainy Song
Chapter 7 : Mimpi, Harapan dan Kenyataan.


__ADS_3

Jovan mengendarai mobil merah Tiffany, Ia akan mengantarnya pulang. Tiffany tinggal di apartemen yang berada di kawasan elit yang jaraknya cukup jauh dari pusat kota butuh waktu 2-3 jam untuk sampai ke sana menggunakan mobil. Kawasan khusus yang letaknya berada di perbatasan antara pusat kota dengan kota sebelahnya.  Tiffany duduk di samping Jovan sambil memakan kue yang tadi siang Ia ambil dari kamar Jovan.


" Stop ignoring my call, it irritates me! " Tiffany mengunyah sambil menggerutu, karena Jovan tidak pernah menganggkat panggilan darinya.


" Kapan kau tiba?" Tanya Jovan.


" Aku tiba di bandara tadi pagi, karena Kak Jovan  mengabaikan panggilan dariku aku mencoba menghubungi rumah. Kepala pelayan mengatakan sudah dua hari Kak Jovan tidak pulang. Dan aku melihatmu mengantar Reina pagi tadi "


" Kau kembali untuk jadi stalker? " Jovan melirik Tiffany yang belum habis memakan potongan kuenya.


" Aku tidak bermaksud membuntuti, hanya saja aku tidak sempat dinner kemarin dan aku benci makanan di pesawat makanya aku lapar dan mencari toko yang buka sayangnya toko kue tadi belum buka aku bermaksud menunggunya sampai buka,  siapa sangka aku malah melihat Kak Jovan berhenti di depan toko itu, aku melihat Kakak pergi lalu tak lama kembali dengan Reina.  I guess you are already moved on Big brother ! " Tiffany mengucapkan kalimat terakhirnya dengan nada ledekan.


" Tidak seperti yang kau fikirkan, dan berhenti tidur di kamarku " Sanggah Jovan dingin.


"Aku lapar dan mengantuk akhirnya aku memutuskan untuk menunggu di rumah, dan ketiduran di kamar Kakak " Ujar Tiffany, meskipun Jovan tau itu semua hanya alasan yang dibuat- buat olehnya.


" Bagaimana dengan sekolahmu? "


" Home schooling itu membosankan. Aku memutuskan untuk sekolah umum saja. Tiga tahun sekolah tanpa teman sebangku aku merasa keberadaanku tak terlihat. Aku ingin bersosialisasi, menikmati kehidupan sekolah yang normal, menemukan teman, dan mungkin saja di sini aku bisa menemukan love . Lagipula bukankah lebih baik jika aku mengisi apartment itu daripada kosong begitu saja , sayang bukan jika kado ulang tahunku hanya menjadi sarang hantu? " Tiffany tertawa.


" Woah aku terkesima dengan kue coklat ini, meskipun penampilannya tidak menarik dibandingkan kue kue lainnya tapi rasanya enak sekali, belikan lagi untukku Kak " Pinta Tiffany mengambil potongan kue keduanya.


Jovan hanya diam, namun sesekali melirik adik perempuannya itu. Tiffany memakan kue itu satu per satu, tanpa Ia sadari satu kotak hampir habis.


Tiffany tinggal bersama Nyonya besar di luar negri selama tiga tahun sejak usianya menginjak 12 tahun, dan saat ini Ia kembali sebagai siswa menengah atas di salah satu privat school ternama. Seharusnya hari ini Tiffany mengikuti upacara penerimaan siswa angkatan baru, tapi Ia sengaja melewatinya dan malah ke rumah. Tidak ada yang bisa mencegahnya, ketika Ia bilang sesuatu dan akan melakukan sesuatu itulah yang akan Ia lakukan, bahkan Nyonya besar cukup kerepotan dengan tingkah laku anak perempuannya itu, hanya Jovan yang bisa mengendalikannya.


Setelah melalui perjalanan yang cukup panjang mereka sampai di tempat tujuan sebuah komplek kondominium, terdapat tiga gedung apartment. Gedung suite berdiri paling depan dan dua gedung lainnya di belakang. Jovan masuk melalui gerbang utama apartemen, memarkirkan mobil Tiffany di VIP site, parkir khusus yang berada di depan gedung hanya ada 5 mobil saja di sana.


Jovan dan Tiffany keluar dari mobil. Tiffany mengambil kunci mobil yang diserahkan Jovan.


" Kakak tidak mampir?" Ajak Tiffany.


Jovan hanya melihat ke arah atas gedung, lalu menoleh ke arah Tiffany.


" Masuklah, aku akan kembali ke rumah" Jawab Jovan seraya beranjak pergi.


" I'll visit home often, don't worry! " Ucap Tiffany setengah berteriak.


Jovan menghiraukannya dan berjalan menuju arah gerbang masuk utama gedung. Tiffany masuk ke dalam apartment melalui lobby utama. Ia sempat memperhatikan Kakaknya yang berjalan menjauh dari balik kaca lobby, hanya beberapa detik saja lalu Ia menuju lift untuk naik ke unitnya di lantai 25.


Tidak jauh dari gerbang utama apartement terdapat halte bus, Jovan duduk di sana. Awalnya Ia akan memberhentikan taxi, namun urung Ia lakukan.


Jovan duduk sambil bersandar pada kaca reklame. Matanya menyapu setiap sudut jalan, melihat dengan seksama suasana sekitar. Jalanan depan apartment masih termasuk dalam satu kawasan kondominium, oleh karena itu tidak ada kendaraan umum yang lewat, hanya kendaraan pribadi beberapa taxi dan bus khusus penghuni apartemen. 


Melihat halte di sebrang jalan tiba-tiba ingatan membawanya ke masa lalu. Jovan terdiam, dan fikirannya tenggelam dalam kenangan.


Seorang anak laki -laki berusia 11 tahun duduk di halte bus sendirian, saat itu sore hari suasana sepi ditambah gerimis membuatnya harus berteduh di halte itu lebih lama.


Anak laki-laki itu adalah Jovan kecil. Jovan yang hanya memakai celana pendek dan kaos polos mulai kedinginan, hujannya semakin lebat ditambah dengan angin, atap halte yang bocor di beberapa titik membuat rambut dan kaosnya mulai basah.


Perutnya mulai merasakan lapar, sayangnya Ia hanya membawa tas gendong yang hanya berisi beberapa pasang baju saja. Tidak ada makanan dan uang di dalamnya.


Air di trotoar mulai menggenang, sepatu putihnya menjadi basah. Ia mencoba naik ke bangku agar air tidak semakin rembes ke sepatu bagian dalam.


Jovan yang kedinginan memeluk tubuhnya sendiri dengan kedua tangannya. Kondisi itu berlangsung cukup lama, Jovan masih menunggu  hujan reda dengan berjongkok di atas bangku halte.


Jovan menatap ke langit, tatapannya kosong. Langit sore menjelang malam, perlahan awan yang awalnya tampak ke kuningan mulai berganti warna, semakin lama semakin gelap. Cahaya matahari tak lagi tampak, tenggelam di balik awan yang menghitam. Lampu jalanan mulai menyala, juga lampu dari beberapa gedung, siang berganti malam cahaya matahari  digantikan dengan cahaya lampu.


Ia belum mau beranjak dari posisi saat pertama kali duduk, menyandarkan punggung nya ke kaca dengan kaki rapat lurus kedepan. Banyak yang berputar di kepalanya saat ini, berbagai hal. Jauh dalam lubuk hatinya Ia merasa sepi bahkan saat berada di tengah keramaian sekalipun, hatinya yang kosong membuatnya selalu merasa sendirian.


Setelah hampir satu jam berada di halte Jovan memutuskan untuk kembali ke rumah, meskipun sebenarnya Ia tidak ingin pulang karena di manapun berada suasananya sama tak ada bedanya dengan sekarang, sepi dan sendiri.


Jovan pulang dengan menaiki taksi.


Sesampainya di rumah Jovan langsung ke kamarnya, menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur nya yang berukuran besar. Perjalanan yang cukup melelahkan.


Mungkin lebih baik aku tidak datang waktu itu. Gumam Jovan dalam hati.


Jovan menenggelamkan wajahnya di bantal, menyembunyikan tangisnya. Sisi rapuh yang tak pernah Ia perlihatkan pada siapapun hingga saat ini.


Di tempat lain Reina dan Raya bersiap untuk pulang setelah sebelumnya mereka merapikan toko terlebih dahulu, hari ini tidak ada sisa kue semua habis terjual. Raya merapikan bagian depan, dan Reina merapikan laporan penjualan harian, laporan yang selalu Ia serahkan pada supir pengantaran kue pada esok hari untuk dilanjutkan ke pemilik.


Pintu toko sudah terkunci. 


Malam ini Raya akan bermalam di kosan Reina. Pagi ini karena diantar Jovan Reina tidak membawa sepedanya, terpaksa mereka berdua harus pulang berjalan kaki. Letak toko yang berada dalam komplek perumahan, membuat tidak ada satupun kendaraan umum yang lewat selain taksi. Bagi Raya dan Reina naik taksi merupakan hal yang mewah, bisa menguras isi dompet mereka.


Berdua berjalan menyusuri trotoar di tengah keheningan malam, tidak ada obrolan diantara mereka.


Sesampainya di kosan Reina mandi lebih dulu, lalu Raya bergantian. Reina menggelar karpet agar mereka bisa duduk berdua, dua gelas teh hangat sudah tersedia dan setoples kacang goreng sebagai teman berbincang.


" Kamarmu cukup luas Reina, apakah tidak mahal menyewa kamar ukuran segini di kawasan ini?" Buka Raya saat keluar dari kamar mandi sambil menggosok rambutnya yang basah dengan handuk.


Reina menyodorkan teh kepada Raya, mereka berdua duduk di atas karpet yang tadi disiapkan Reina. 


" Untuk kamar sebesar ini aku mendapatkannya dengan harga yang sangat terjangkau, Madam pemilik kosan ini baik sekali " Terang Reina.


" Benarkah? Andai saja orang tuaku mengizinkan aku juga ingin kos sepertimu" Raya menyeruput teh nya yang masih panas.


Kriiing!  Ponsel Reina berbunyi. 


Ia mengambil ponsel dari dalam tasnya.


" Dari siapa? " Tanya Raya ingin tahu.


Reina mengisyaratkan agar Raya tidak berbicara.


Panggilan masuk, Jovan.


Hmm ada apa Jovan menelponku selarut ini?


" Halo " Buka Reina.


" Besok sebelum bekerja datanglah ke rumahku"


" Untuk apa sepagi itu?" 


" Aku akan menghitungnya sebagai kerja paruh waktu, jam 7 tepat "


" Tapi… "


Tuuuutt Telepon ditutup.

__ADS_1


Dengan wajah bingung Reina menatap ponselnya.


Kenapa dengannya? Selalu seenaknya sendiri!


" Reino? Hmm kurasa bukan, Tuan muda? " Ucap Raya menerka.


" Iya Jovan, Ia memintaku ke rumahnya besok pagi bahkan Ia tak memberi kesempatan berbicara, selalu seperti itu "


Reina duduk bersandar ke tempat tidur dengan wajah masam. Raya memperhatikan.


" Kau tau, tadi pagi aku sangat sangat terkesima. Baru pertama kalinya aku melihat Tuan Muda itu secara langsung, bahkan dengan jarak sedekat itu. Selama ini aku tak pernah melihat aktor atau aktris selain di TV, dan aku yakin seperti itulah mereka di dunia nyata"


" Begitukah? Mereka memang berbeda dari orang kebanyakan "


" Reina kau beruntung sekali, bisa melihat wajah tampan Tuan Muda sesering itu. Ah andai aku bisa mengulang waktu, aku ingin bertemu kembali dengan pangeran berjas putih dan melihat wajah Tuan Muda itu lagi " Raya mulai berkhayal.


" Hmm tapi aku merasa seberuntung itu " Gumam Reina.


Selama ini aku selalu direpotkan dengan permintaan Jovan, sering kali Ia membuatku jengkel dan kesal. Mungkin aku memang beruntung, tapi entahlah aku tidak merasa begitu.


Kesan yang melekat di ingatan Reina yang membuatnya seolah menghiraukan kenyataan bahwa Jovan memang sosok yang diidamkan banyak wanita di luar sana, dan Ia beruntung bisa melihatnya berkali-kali dengan jarak yang begitu dekat.


Raya dan Reina asyik mengobrol sampai lewat tengah malam. Kamar Reina berantakan, cemilan berserakan di atas karpet, teh yang masih separuh gelas belum habis diminum namun mereka berdua sudah terlelap tidur,  Raya tertidur beralaskan selimut tebal,  Ia tertidur pulas dengan boneka berbentuk pisang sebagai bantal, sedangkan Reina juga terlelap di atas tempat tidurnya. 


Malam ini sunyi senyap seperti malam-malam biasanya, hanya suara gonggongan anjing dan pedagang keliling yang kebetulan lewat di depan gang kosan saja sesekali terdengar menjajakkan dagangannya.


Malam berlalu, pagi menjelang. Reina bangun lebih awal karena Ia harus memenuhi permintaan Jovan untuk ke rumahnya pagi sebelum ke toko. Ia terpaksa harus meninggalkan Raya yang masih tertidur pulas memeluk bantal. 


Secarik kertas berisikan pesan untuk Raya Ia tinggalkan di atas meja, jam weker pun sudah disetel lebih awal agar Raya punya banyak waktu mempersiapkan diri sebelum berangkat ke tempat kerja. 


Aku akan langsung ke toko setelah urusanku dengan Jovan selesai, kau bisa menggunakan sabun dan handuk yang sudah aku siapkan di kamar mandi ada roti di atas lemari es untuk sarapan. - Reina.


Reina berangkat pukul 06.00 tepat, jarak dari kosan cukup jauh . Akhir bulan seperti sekarang ini Ia tak cukup uang untuk menaiki kendaraan umum, beruntung ada sepeda milik penjaga kos yang bisa Reina pinjam jika tidak maka Ia harus berjalan kaki dan itu akan membutuhkan waktu lebih lama.  Dengan sepeda dibutuhkan waktu sekitar satu jam untuk sampai di sana. Pagi ini Reina hanya bercelana training dan kaos pendek polos, battle costum yang memudahkan memacu kencang pedal sepedanya, melewati komplek elit di kawasan itu. Rumah Jovan terpisah dengan rumah rumah lainnya, seperti kawasan dalam sebuah kawasan.


Ponselnya berdering, panggilan masuk.


Reina mengerem sepedanya, menepi lalu mengambil ponsel dari saku celananya.


" Ha… " Belum selesai Ia mengatakan halo.


" Jam 7 tepat " Potong Jovan.


" Aku sudah sampai di gerbang depan, tapi kau… " Belum sempai Reina memberikan alasan, lagi-lagi perkataannya harus terhenti.


" Basement " Ucap Jovan singkat.


Tuuuuuuut. Sambungan terputus.


Grrrrrgghhhhhh!!!! Gigi Reina beradu, kesal.


Di dapur basement Jovan sudah menunggu, Ia berdiri bersandar di bibir pintu sambil menyilangkan kedua tangannya. Ia memperhatikan Reina sedang menuruni tangga dan berlari tergopoh - gopoh, dengan nafas ngos - ngosan Reina sampai di tempat yang dimaksud.


Reina melirik dengan tatapan lelah bercampur kesal, namun Jovan membalas tatapannya itu dengan wajah datar seperti biasa, tanpa ekspresi marah atau kesal.


" Sebelum aku melakukan apapun, aku hanya ingin memperjelas situasi ini " Ujar Reina setelah menarik nafas dalam-dalam lalu menghelanya secara perlahan.


Jovan tidak menjawab, hanya menatapnya saja masih dengan posisi yang sama.


Melihat Jovan yang tanpa reaksi sedikit membuatnya grogi, tapi Ia berusaha untuk tetap fokus pada apa yang akan disampaikannya. 


Reina menunggu jawaban dari pernyataan panjangnya itu, Ia sudah menyiapkan jawaban jika Jovan mengembalikan dengan pertanyaan.


" Mulai hari ini kau karyawanku, asisten pribadi "


" Haaaaaa " Reina tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.  Benar-benar di luar dugaan, padahal Ia sudah susah payah menyiapkan beberapa jawaban sebagai counter attack untuk setiap pertanyaan yang mungkin akan dilontarkan Jovan. Sulit sekali menghadapi Jovan, segala perkataan dan  tindakannya tidak mudah diprediksi. Butuh cara berbeda bahkan untuk sekedar menanggapi setiap pernyataan yang Ia lontarkan.


Reina mencoba berfikir cepat dan mencari jawaban yang tepat.


" Saat ini aku sudah punya pekerjaan, meskipun aku akui tidak banyak yang bisa aku simpan setidaknya itu cukup untuk memenuhi kebutuhanku setiap hari "


Hanya kalimat itu yang terfikirkan oleh Reina sebagai jawaban atas keputusan sepihak dari Jovan.


Mendengar jawaban dari Reina Jovan hanya diam. Tak menanggapi alasan yang baru saja disampaikan padanya. Jovan justru malah memalingkan wajah dan masuk ke dapur meninggalkan Reina yang berdiri terpaku di luar.


Entah apa yang harus Ia lakukan. Berdiam saja atau ikut masuk? Bertanyapun rasanya tak akan ada jawaban untuknya.


Reina melangkahkan kakinya ,dari balik pintu Reina mengintip. Dari kejauhan Ia melihat Jovan memegang selembar brosur. 


" Ini hadiah untukmu untuk pesanan sebelumnya " Jovan menyodorkan brosur yang diambil dari atas meja.


Reina yang berdiri di balik pintu lalu masuk ke dapur, mendekat ke tempat Jovan berdiri dan menerima brosur itu. Ia menerima brosur dengan wajah masam dan dahi mengkerut.


Setelah kemarin kocokan telur, dan kini brosur. Aku tidak mengerti dengan caranya memberi sesuatu yang Ia sebut hadiah.


Reina melihat isi brosur, tidak asing! Meskipun ingatannya tentang brosur itu samar, tapi Ia yakin pernah membaca brosur itu beberapa tahun silam saat masih duduk di bangku sekolah menengah. Di bagian atas tertulis dengan huruf cukup besar Heavenly cake art and chocolatier academy, Ia ingat sekali itu adalah nama sekolah yang menelurkan banyak chef terkenal yang sekarang eksis di televisi dan berbagai media sosial. Sekolah chef ternama yang pernah berkunjung di sekolah Reina, waktu itu Ia bertekad untuk melanjutkan sekolah di academy khusus cake sesuai dengan cita-citanya dulu, namun setelah tahu biaya untuk belajar di academy itu sangat mahal membuatnya urung mendaftar. Bahkan sampai saat ini  uang pendaftarannya saja pun belum terkumpul, gajinya setiap bulan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan pokoknya dan hanya bisa menyisakan sedikit untuk ditabung atau sekedar dana darurat. Mimpi besar yang harus Ia kubur dalam-dalam, semakin tenggelam dan perlahan mulai terlupakan.


" Terimakasih untuk hadiahnya, aku menghargainya tapi aku tidak perlu ini, academy ini terlalu mahal bagiku aku tidak sanggup " Ujar Reina sambil menatap brosur, lalu menyodorkan kembali kepada Jovan.


" Kau sudah terdaftar, dan itulah hadiahmu "


Reina kaget, sampai menjatuhkan brosur yang tadi dipegangnya. Ia lalu berjongkok untuk mengambil kembali brosur yang sudah jatuh ke lantai.


" A.. apa maksudmu?" Reina mencoba memastikan.


" Aku tidak perlu mengulangnya lagi " 


Kali ini Jovan menatap mata Reina. Reina gugup ditatap seperti itu, Ia pun mengalihkan pandangan ke arah lain.


" Aku masih tidak percaya, aku bahagia tapi juga bingung harus bereaksi seperti apa. Karena meskipun sudah terdaftar aku tidak akan sanggup membayar biaya selanjutnya jadi kurasa aku…. "  Reina mencoba menjelaskan, pendapatannya saat ini tidak akan cukup untuk membiayai biaya pokok setiap bulannya, belum lagi biaya praktek yang tentu saja jumlahnya tidak sedikit, selain itu Ia juga harus bekerja di toko.


Jovan memotong penjelasan Reina.


" Kurasa kau tidak punya pilihan lain selain menerima pekerjaan menjadi asisten pribadiku "


Reina terdiam, berusaha mencari solusi atas masalahnya itu di satu sisi Ia senang bisa maju satu langkah untuk mewujudkan cita-citanya, tapi di sisi lain jika harus menjadi asisten pribadinya Ia tidak punya waktu karena harus bekerja di toko dan satu hal yang paling mengganggu pikirannya adalah Ia harus menjadi asisten pribadi yang artinya Ia akan semakin direpotkan dengan permintaan Jovan yang mungkin lebih merepotkan dari sekarang.


" Aku tidak punya cukup waktu, aku tidak mungkin meninggalkan pekerjaanku saat ini " Jelasnya.


" Kau hanya perlu jadi asisten pribadiku di hari minggu, setiap jam aku hargai 200.000, kau bisa menentukan berapa jam kau akan bekerja ".


Reina mulai bimbang, tawaran yang sebetulnya sulit Ia tolak.

__ADS_1


" Beri aku waktu untuk memikirkannya "


" Hanya sampai sore ini, aku tunggu "


                                        …..


Suasana dalam toko berjalan seperti biasanya, hanya saja siang ini agak sepi. Reina dan Raya memanfaatkan waktu luang untuk merapikan toko sambil mengobrol dan makan siang, mereka berdua makan siang bergantian kali ini Raya makan duluan. 


Raya duduk di bangku kecil yang berada di samping meja kasir, sehingga tidak terlihat oleh pelanggan yang masuk. Reina berdiri tidak jauh dari Raya, mengelap ngelap kaca etalase namun dengan tatapan kosong dan tidak fokus karena memikirkan jawaban apa yang harus Ia berikan pada Jovan nanti sore. 


Raya memperhatikan Reina dengan seksama sambil mengunyah nasi ayam bakar. 


" Sepertinya bagian itu sudah terlalu bersih" Ujar Raya dengan mulut penuh dengan nasi.


" Hmm ?! " Reina baru sadar Ia hanya mengelap di bagian yang sama sedari tadi.


" Apakah terjadi sesuatu?" Tanya Raya.


Reina menaruh lap di atas etalase kaca, lalu berjongkok menghadap Raya.


" Jovan memberikanku kerja sambilan sebagai asisten pribadinya " Jelas Reina sedikit berbisik.


" Haaa, lalu kau akan berhenti bekerja di sini?" Raya terkejut sampai nasi di mulutnya muncrat kemana-mana..


" Ssssttt!! " Reina meminta Raya menurunkan suaranya sambil mengambil beberapa biji nasi yang muncrat dan menempel di wajahnya.


" Aah maaf maaf " Raya nyengir sambil membantu Reina membersihkan nasi yang juga menempel di rambut Reina.


" Dia hanya menawariku bekerja di hari minggu saja, itupun tidak seharian penuh hanya beberapa jam saja. Aku masih bimbang, karena pasti akan sangat melelahkan jika aku bekerja tujuh hari dalam satu minggu, tapi aku juga memerlukan pekerjaan itu karena aku butuh pemasukan tambahan" 


Raya sedikit bingung mendengar penjelasan Reina, tapi wajahnya terlihat begitu antusias.


" Andaikan saja tuan muda itu menawariku, aku akan dengan senang hati menerimanya. Karena aku bisa melihat wajah tampannya setiap hari minggu "


Ahh sudah kuduga dia akan berkata begitu.


" Kau tidak tahu betapa merepotkanya dia, entah apa yang akan dimintanya ketika aku benar- benar asisten pribadinya"


" Setidaknya kau akan tahu, menurutku menyesal karena mengerjakan sesuatu itu lebih menyenangkan dibandingkan dengan menyesali sesuatu yang bahkan tidak pernah bisa kau lakukan. Ibuku pernah bilang penyesalan membuatmu belajar sesuatu, berdiam saja tidak akan membuatmu menyesal tapi juga tidak membuatmu mempelajari sesuatu. Sebenarnya aku tidak begitu mengerti maksudnya, hanya saja Ibuku selalu bilang cobalah, dan lakukanlah, terhadap apapun yang ingin aku coba, jangan sampai gagal menakutimu untuk mencoba "


Raya, Ia tak pernah menyadari segala ucapan sederhana yang keluar dari mulutnya itu sebenarnya memiliki makna yang sangat dalam dan Reina selalu menemukan solusi masalahnya dari Raya. 


Reina sudah menemukan jawaban apa yang akan Ia berikan. Saat hendak mengambil ponsel dari sakunya, tiba - tiba disaat yang sama ponselnya berbunyi. 


Sebuah panggilan masuk, Reino.


Setelah hampir satu minggu tidak ada kabar berita, hari ini Ia menghubunginya lagi. 


" Halo " Buka Reina.


" Hai " Jawab Reino, suaranya terdengar berat dari balik ponsel, tipikal suaranya memang rendah. Reina jadi agak berdebar mendengar suara ngebass Reino.


" Kaka apa kabar? Aku senang bisa mendengar suara Kaka lagi " Ucap Reina malu-malu.


" Aku baik, hanya saja cukup hectic aku sampai tidak sempat menghubungimu "


" Aku mengerti " 


" Aku ada sesuatu yang ingin kuberikan, hari minggu aku akan menjemputmu "


Reina tersipu, rasanya ingin terbang saat itu juga. Tapi, Ia teringat tawaran kerja dari Jovan yang harus dijawabnya paling lambat sore ini.


" Apa kau sudah ada janji?" Tanya Reino, karena tidak mendapat jawaban dari Reina.


" Kak, bisakah aku menjawabnya sebentar lagi. Sebenarnya ada yang harus aku selesaikan. Nanti akan aku kabari segera " 


" Baiklah, hubungi aku ya " 


" Iya Kak " Tutup Reina.


Reina berfikir sejenak, tadinya Ia akan menghubungi Jovan untuk menerima tawaran kerja itu tapi Reino lebih dulu menghubunginya dan mengajaknya pergi minggu ini juga. 


Bimbang, namun Ia terpikirkan sesuatu. 


Reina mencoba menghubungi Jovan.


Tuuuuuuut Panggilan pertama tidak ada jawaban. Percobaan kedua kalinya, dan tersambung.


Namun tidak ada suara halo atau apapun.


" Hmmm " Reina jadi gugup, Ia sampai lupa untuk sekedar berkata halo.


" Aku, aku, aku menerima tawaran kerja menjadi asisten pribadimu " 


" Ok " Jawab Jovan singkat.


" Tapi, bisakah aku mulai bekerja minggu depan?" Reina berharap Jovan menerima permintaannya, sehingga Ia bisa bertemu dengan Reino.


" Hari minggu, mulai pukul 4 sore. Aku tidak mentoleransi alasan keterlambatan apapun"


Tuuuuuuttttt 


Sambungan diputus.


Reina hanya bisa melongo, tidak bisa berkata-kata.


Rasanya darahnya naik ke ubun-ubun, mendidih di atas kepalanya. Ia menahan amarahnya sampai nafasnya menjadi berat.


Reina menarik nafas panjang, berusaha menurunkan amarahnya. Ia mengambil ponselnya, lalu mengirim chat pada Reino.


" Hari minggu ini, aku ada waktu hanya saja sampai sebelum pukul 4 "


Setelah beberapa menit berlalu, Reino menjawab.


" Ok, di tempat kemarin jam 12 siang".


Raya selesai makan, lalu Ia menggantikan Reina membersihkan etalase. Meskipun gilirannya untuk makan siang, Ia tidak makan selera makannya seolah hilang karena kesal dengan Jovan. Akhirnya Ia menyeduh coklat panas, dan meminumnya perlahan sambil ngobrol.


Tidak mudah menggapai mimpi, terkadang kenyataan bersebrangan dengan apa yang diharapkan. 


\*\*\*\*\*\*\*\*\*

__ADS_1


Gaya kasual Jovan, saat memberikan reward ke duanya untuk Reina.



__ADS_2