The Rainy Song

The Rainy Song
Chapter 3 : Tuan Muda


__ADS_3

Malam ini Reina pulang agak terlambat, karena menjelang toko akan tutup tadi malah banyak pembeli sehingga mereka harus tutup sedikit lebih malam. Jam sudah menunjukkan pukul 23.00 malam Reina masih mengayuh sepedanya menuju kosan. 


Sudah hampir tengah malam Reina baru sampai di depan gerbang kosan, tapi tidak biasanya lampu kamar kos masih banyak yang menyala. Terdengar suara obrolan cukup ramai dari lantai 3. Saat Reina berjalan perlahan hendak menuju kamar, seseorang dengan alis menjulang bagai celurit kembar memanggilnya dari tangga  yang menuju lantai 3 . 


Reina!


Ternyata pemilik kos yang memanggil. Jarang sekali melihat Ibu kos ada di sana, karena memang rumah tinggal Ibu Kos berada cukup jauh. Ibu Kos hanya sesekali datang, biasanya saat awal bulan untuk menagih biaya sewa atau iuran lainnya. Seketika Reina ingat Ia juga belum membayar sewa untuk bulan ini. “ Ah gawat, aku belum membayar sewa. Ia pasti marah kali ini, karena aku sudah telat untuk kedua kalinya” Gumam Reina dalam hati.


Wanita bertubuh gempal itu menatap lurus padanya, sambil tersipu malu Reina menghampiri Ibu Kos.


“ Kemarilah” Panggil Ibu Kos yang akrab dipanggil Madam.  


Reina mengangguk dan mendekat. Tangan Reina ditarik, Ia ikut menaiki anak tangga bersama Madam  menuju ke lantai 3, pelataran kosong yang biasanya dipakai untuk menjemur pakaian atau menyimpan barang tak terpakai oleh penghuni kos.


Ternyata semua penghuni sedang berkumpul. Termasuk si Introvert Barong dan si imut Tara bersama Ibunya.


“ Kak Leina, sini makan sama aku. Ada ayam goreng kesukaan Tala” ajak Tara dengan suara imut dan cadelnya. Tara tampak manis sekali malam ini, Ia mengenakan piyama biru bergambar beruang putih, rambut keriting sebahunya tergerai membuat wajah bulatnya tampak semakin imut.


Reina melambai sambil tersenyum ke arah Tara.


Reina lalu berjalan menghampirinya.


" Tara belum ngantuk?" Tanya Reina.


Tara hanya menggeleng gelengkan kepalanya, meskipun begitu wajah mengantuk Tara tidak bisa disembunyikan, sambil melahap ayam goreng kesukaannya Ia tampak sesekali mengucek matanya. Sebenarnya Ia sudah sangat mengantuk, untuk anak seusianya memang tengah malam bukan saatnya untuk terjaga tapi Tara tidak ingin melewatkan makanan favoritnya itu.


Reina mendengar penjelasan dari Ibunya Tara bahwa hari ini adalah hari spesial untuk Madam, anaknya yang paling tua baru saja lolos  diterima bekerja di perusahaan ternama. Maka dari itu Ia membuat acara makan bersama untuk penghuni Kosan sebagai tanda rasa syukurnya. Kebetulan sekali karena hari ini toko cukup ramai, Reina sampai tidak sempat makan malam. Reina ikut bergabung dengan yang lainnya, menikmati hidangan dan suasana tengah malam yang akrab dan hangat.


Malam semakin larut, seluruh penghuni kos larut dalam kemeriahan acara sederhana yang dibuat oleh Madam, makanan menu rumahan, minum jus dan soda sangat menyenangkan jika dinikmati bersama-sama. Momen seperti inilah yang membuat Reina merasa Ia tidak pernah kesepian meskipun hanya hidup sendiri tanpa orang tua atau saudara, kemanapun dan dimanapun Ia yakin pasti akan selalu ada orang baik yang akan menemaninya.


                                      ……..


Keesokan harinya bangun kesiangan, Reina lari tergopoh-gopoh setelah memarkirkan sepedanya di samping toko. Raya sudah rapi dengan seragam dan sapu di tangannya. Reina lari ke ruang ganti dan mengganti baju dengan seragam Toko. Pagi ini Reina terlambat hampir satu jam, karena itu Ia harus membuat laporan keterlambatan untuk disetorkan ke pemilik toko pada akhir bulan.


“Maaf Raya, aku jadi membuatmu mengerjakan semuanya sendiri”


“Tidak apa Reina, tapi tidak biasanya kau terlambat” 


“Semalam aku tidur terlambat, ada acara dengan penghuni kos lain” jelas Reina sembari merapikan seragamnya.


“Aku jadi ingin kos, andai saja Ibu mengizinkan ku. Harus satu kamar dengan kelima adikku itu menyesakkan. Bahkan aku tidak bisa membalikkan tubuhku saat tidur”


Reina tersenyum, meskipun kamarnya tidak besar setidaknya selama ini Ia tidak pernah merasakan kesempitan saat tidur.


“ Bagaimana jika sesekali kau menginap di kosan ku? Memang pemilik kos tidak mengizinkan selain penghuni tinggal disana, tapi jika hanya satu malam mungkin tidak akan ada masalah”


Mendengar ajakan Reina Raya mengangguk angguk sumringah. Dan mereka memutuskan akhir minggu ini mereka akan menghabiskan malam untuk makan dan nonton bersama di tempat kos di mana Reina tinggal.


Telepon toko berdering , Reina mengangkat telepon.


 “ Toko Kue Tradisional, dengan Reina” 


“ Dengan Dito” suara Dito terdengar dari ujung telepon.


" Ya Kak Dito”


“ Aku mencoba menelpon ke ponselmu tapi tidak tersambung”


Reina teringat semalam Ia tidak sempat men charge karena langsung ke lantai 3 diajak Madam dan tertidur pulas seketika setelah acara selesai.


 “ Sepertinya ponsel saya mati” jelas Reina. 


Dito lalu menjelaskan apa yang ingin Ia sampaikan tadi malam.


Reina membawa satu kotak pesanan Dito, pesanan seperti biasa. Sambil memegang satu kantong plastik, Reina berdiri di depan sebuah gerbang rumah yang sangat tinggi. Mata Reina menyapu gerbang yang tampak seperti pintu masuk Istana kepresidenan sambil mengingat perkataan Dito di telepon tadi.


“ Reina, saat ini aku sedang berada di bengkel. Tadi tidak sengaja aku menabrak  tiang telepon , karena menghindari orang yang menyebrang dengan tiba-tiba. Jadi hari ini aku tidak sempat untuk mampir ke toko dan mengambil kue pesanan Tuan Muda. Ia akan marah sekali jika aku terlambat, bisakah aku minta tolong padamu untuk mengantarkan kue nya langsung ke rumah Tuan Muda? Oh ya satu hal, Tuan Muda saat ini ada di ruangannya. Ruangannya ada di lantai dua pintu sebelah kiri samping ruang meeting keluarga. Saat kau masuk ke ruangannya kau tidak perlu berkata apapun, Tuan Muda tidak suka ada suara apapun yang mengganggu saat berada di ruangannya. Kau cukup masuk dan simpan kue itu di meja.”


Mengingat pesan dari Dito, Reina menjadi sedikit grogi. Orang seperti apa Tuan Muda itu, dari pesan Dito Ia mengambil kesimpulan kalau majikannya adalah seseorang yang memiliki temperamen buruk dan sangat menyeramkan. Reina membalikkan  badannya membelakangi pintu gerbang, sempat terfikir olehnya untuk kembali ke toko saja,  tapi Ia ingat Tuan Muda itu adalah pelanggan setia Toko Kue, walau bagaimanapun Reina harus profesional dan berdedikasi penuh pada pekerjaannya selain itu Dito mungkin akan mendapat masalah jika kuenya tidak diterima oleh tuannya.


Setelah beberapa saat Ia memotivasi dirinya dan mengumpulkan segenap keberaniannya, akhirnya Reina bersiap untuk masuk. Tapi melihat gerbang yang tinggi itu Reina malah bingung dan hanya bisa terdiam.


“ Bagaimana cara membuka gerbang sebesar ini? Apakah ada tombol khusus agar pintu ini bisa dibuka?” 


Reina berjalan dari sisi ke sisi mencari tombol untuk membuka pintu gerbang yang tinggi ber-cat hitam pekat. Ia berniat untuk bertanya pada Dito, tapi Ia ingat ponsel nya masih dicharge di toko. Seolah kehabisan cara, terfikir untuk menyerah.


Tiba-tiba gerbang terbuka. Reina dengan sigap masuk karena  khawatir jika tiba-tiba tertutup lagi.


Baru beberapa langkah masuk, Reina berhenti. Tak percaya dengan apa yang Ia lihat di hadapannya. Rumah yang seperti taman Nasional menurutnya, dari depan gerbang ada jalan panjang dan berkelok menuju sebuah rumah besar yang berada di ujung jalan itu, sepanjang jalan di sisi kanan kiri jalan ada danau dan padang golf yang sangat luas. Jarak dari gerbang menuju rumah sangat jauh, Reina memilih untuk berlari karena Ia juga harus segera kembali ke Toko, jika terlalu lama Raya akan sangat kerepotan menjaga toko sendirian.


Reina yang masih terengah-engah akhirnya sampai di pintu utama rumah, pintu kayu yang sangat tinggi seperti pintu kastil yang tergambar di buku-buku dongeng anak tentang kerajaan. Pintunya pun terbuka sendiri. Dengan langkah yang sedikit bergetar Reina melangkah masuk perlahan, dan menaiki tangga dengan jalur bercabang menuju lantai 2. Dia mencari pintu yang berada di samping ruang meeting keluarga, tapi semua pintu bentuknya sama, serta terdapat beberapa jalur berbeda. Akhirnya Reina mengecek setiap ruang yang berada di ujung lorong, tapi semuanya kosong tidak ada satu orangpun, semua ruangan yang dilewatinya hanya dipenuhi furniture mewah saja. Reina sampai di pintu terakhir, berharap kali ini Ia masuk ke ruangan yang benar.


Pintu terbuka, Reina melangkah perlahan.


“ Terlambat!” Suara dari balik kursi mengagetkan Reina.


“Ma.. ma .. ma.. Maafkan saya” Reina membungkukkan badan dan menundukkan kepalanya, sambil berjalan perlahan ke meja untuk menyimpan kotak kue dalam plastik yang Ia bawa.


Tanpa disadari Reina seseorang sudah berdiri di hadapannya. Ia mencoba menguatkan dirinya agar tidak gemetaran. Reina memberanikan diri mengangkat wajahnya.


Di hadapannya seseorang sudah berdiri dengan tatapan tajam mengarah padanya. Seseorang dengan tubuh tinggi tegap, rambut agak gondrong yang diikat, tidak tertata rapi tapi juga tidak berantakan. Sebut saja rock mix gangster style, perpaduan yang tidak biasa untuk seorang konglomerat yang biasanya digambarkan selalu rapi dengan setelan jas dan sepatu mengkilap. Meskipun penampilannya tidak serapi konglomerat yang Ia bayangkan tapi entah bagaimana tetap terlihat cocok dan terkoordinasi dengan baik.


Reina menepuk kepala, apa yang sedang dipikirkannya disaat seperti ini. Sempat-sempatnya dalam kondisi begitu malah menilai penampilan customernya.


Reina mengingat pesan Dito bahwa Ia tidak perlu berkata apapun, sayangnya Ia terlanjur berkata maaf sebelumnya, hal itu membuat atmosfer dalam ruangan semakin tidak menyenangkan. 


Sambil kembali membungkuk, Reina meminta maaf. Namun hening. Reina mengintip dengan sedikit mengangkat wajahnya. Ternyata orang tadi sudah pergi. 


“ Apa itu tadi?” Gumamnya dalam hati.


Reina beranjak keluar pintu, Ia menatap lorong yang begitu panjang. Lorong yang bahkan lebih panjang dari seluruh kawasan kosan tempat tinggalnya. Ia berjalan menyusuri lorong tapi rasanya tidak menemukan tangga tempat tadi pertama masuk. Reina mulai panik menyadari kalau dirinya tersasar.


“ Ada apa dengan rumah ini? Bahkan lebih luas dari lapangan bola!” Reina menggerutu sambil mengecek setiap pintu yang Ia lewati.


Setelah berputar putar selama satu jam barulah Ia menemukan pintu keluar.


Tanpa disadari ternyata Reina 3 jam meninggalkan Toko. Reina kembali, berbaring di atas sofa panjang samping etalase.

__ADS_1


" Hari ini aku membakar 3000 kilo kalori” Keluhnya.


“ Apa kau berhasil menemukan rumahnya?” Raya memberikan Reina segelas air putih.


“ Bahkan aku menemukan Taman Nasional di tengah kota” Jawab Reina terengah, lalu meminum air yang diberikan Raya.


“ Benarkah? Aku harus kesana. Pasti menyenangkan mengunjungi Taman Nasional”


Raya yang polos begitu bersemangat membayangkan ada taman Nasional di kawasan itu, padahal Reina hanya mengibaratkannya saja. Tidak ingin memperpanjang, Reina pun hanya menghela nafas tanpa melanjutkan pembicaraannya lagi. Dia bahkan terlalu lelah untuk sekedar bercerita.


                                       ………


Keesokan harinya toko berjalan normal seperti biasa, buka toko sesuai jadwal, customer lansia memenuhi bangku makan di tempat, kue - kue pun habis tak bersisa dari etalase. Begitupun esok harinya berjalan sebagaimana mestinya. 


Rutinitas yang mendamaikan bagi Reina itu tidak berlangsung lama. Sampai akhirnya telepon berdering dari Dito yang kembali meminta tolong Reina untuk mengantarkan kue pesanan Tuan Mudanya. Ia berpesan kali ini Tuan Mudanya yang akan menelponnya secara langsung karena sedang tidak berada di ruangannya. Hal ini  akan berulang selama dua minggu kedepan selama Dito pulang untuk merawat Pak Tomo yang sedang dirawat di rumah sakit. Jika Reina mendapat telepon dari nomor yang tidak dikenal bisa dipastikan itu adalah telepon dari majikannya itu.


Kriiiing!!! ponsel berdering nyaring. Reina diselimuti perasaan was-was seolah Ia akan mendapat telepon dari pewawancara kerja.


 “ Ha..halo” Reina membuka suara dengan terbata.


“ Jo, ruang billiard”  Suara datar dari balik telepon.


Klik. Tuuuut. Telepon ditutup.


Begitu saja? Apa itu! Gerutunya dalam hati.


Jo? Jadi namanya Jo?Hmm nama yang cocok dengan penampilan yang kemarin itu.


Reina kembali menepuk kepalanya, kenapa lagi-lagi Ia mengomentari orang itu?


Hanya dibutuhkan 5 menit untuk sampai ke rumah Jo dengan skuter pengantaran milik toko. Kali ini Reina sengaja memakai skuter agar Ia tidak perlu berjalan jauh dari gerbang depan menuju pintu rumah.


Reina sampai di depan gerbang rumah Tuan Muda. Pintu gerbang terbuka, Reina melaju dengan skuter matic berwarna biru. Skuter butut yang sudah jarang sekali dipakai untuk pengantaran, dan baru kali ini dipakai lagi untuk pengantaran yang tidak biasa. Customer loyal yang cukup merepotkan Reina.


“ Mengingat ruang yang sebelumnya saja rasanya sulit apalagi jika aku harus mencari ruang baru, ruang billiard”. 


Reina menyusuri setiap sudut dan lorong rumah, membuka setiap pintu yang bentuk dan besarnya sama. Rumah besar dan luas dengan bentuk yang tidak biasa, ada ratusan ruangan dengan fungsi yang berbeda-beda. Seperti restaurant, kantor, hotel, fitness center dan swalayan yang pindah ke dalam satu rumah, atau rumah ini lebih tepat disebut mall. Semua fasilitas ada, rasanya jika tinggal di rumah seperti ini tidak perlu lagi keluar rumah untuk mencari hiburan. Satu hal yang membuat Reina heran, kenapa rumah sebesar ini sulit sekali untuk menemukan pekerja atau siapapun agar Ia bisa bertanya.


Reina sudah sampai di lantai 4 dan masih belum menemukan di mana ruang billiard itu, Reina kembali ke lantai dasar mencoba mencari di sisi belakang rumah. Reina Melihat ada ruangan full kaca, dan melihat meja billiard berjajar seketika Ia berlari menuju ruangan itu, dan benar saja seseorang sudah berdiri menghadap meja billiard bersiap dengan sticknya.


“Terlambat” Ucapnya dengan nada agak tinggi, suaranya yang berat menambah kesan menyeramkan. Lagi - lagi sangat cocok dengan tipikal wajah dinginnya itu.


Reina melakukan hal yang sama seperti sebelumnya, menundukan badan meminta maaf. Tuan Muda itu mendekat mengambil plastik yang dibawa Reina lalu beranjak pergi, tanpa sepatah katapun. 


Reina sudah tiba kembali di toko. Raut wajah lelah namun penuh dengan tanda tanya. 


Apakah rumah sebesar itu hanya Tuan muda tinggali sendiri? Untuk kali kedua Reina kesana tidak melihat anggota keluarga lain selain beberapa pelayan yang bekerja di tempatnya masing-masing. Lagipula rumah dengan fasilitas dapur seperti restoran lengkap dengan chef profesional begitu bukankah lebih mudah untuk dibuatkan kue yang sama dibandingkan harus memesan di toko yang letaknya jauh dari rumah dan akhirnya malah terlambat datang. Terlebih, jika Dito tidak bisa mengantarkannya selama Ia pergi kenapa tidak meminta supir lain untuk menggantikannya? Entahlah, masih banyak pertanyaan lain yang berputar di kepalanya.


Plak! Raya menepuk pundak Reina. Tepukan Raya menyadarkan Reina yang sedari tadi berdiri tanpa bicara, namun isi kepalanya kusut dan semrawut.


“ Bagaimana pengiriman hari ini, apakah kau masuk ke Taman Nasional lagi?” Raya masih berpikir kalau Reina benar-benar melalui Taman Nasional untuk masuk ke rumah itu.


“ Hari ini bahkan aku masuk ke mall”


" Benarkah? Bahkan ada mall disana?” Raya semakin tertarik. “Sepertinya pengiriman berikutnya, aku yang akan mengantar” tambahnya.


"Sebaiknya tidak, atau kau tidak akan bisa kembali pulang”


“Ha? Tidak ada yang seperti itu, tapi sebaiknya kau tidak perlu kesana. Dibandingkan dengan penjahat aku lebih khawatir saat kau bertemu dengan Tuan Muda itu”


" Jadi Tuan Muda itu lebih jahat dari penjahat?”


" Hmmmmm, sudahlah. Ada customer masuk” Sanggahnya menutup obrolan.


Reina menghela nafas panjang, Reina berpikir memang sebaiknya tidak bercerita apapun hari ini.


Keesokan harinya.


Reina dan Raya sampai bersamaan di depan Toko. 


" Selamat pagi” Sapa Reina.


“ Paaaagiiiiii, apa kau tidur nyenyak tadi malam?”


" Tidak juga, entah kenapa sejak semalam aku merasa hari ini akan sangat melelahkan”


Reina berjongkok untuk membuka kunci pintu kaca Toko. Kunci terbuka, Raya membantu mendorong membukakan pintu.


“ Bukankah hari ini tidak ada pesanan khusus”


“ Memang tidak ada, tapi aku merasa akan terjadi sesuatu. Aku punya perasaan buruk tentang hal itu” 


Baru dua langkah Reina memasuki Toko, ponsel nya berdering. Kriiing!!


Panggilan masuk, tertulis nama penelponnya ‘Mr Terlambat’  


Itu nomor telepon Tuan Muda Jo, Reina memberinya nama itu karena setelah pertemuan kedua kalinya hanya kata itu yang didapat darinya.


Jawaban atas perasaan buruk yang dirasakannya sejak semalam, ternyata mendapat telepon dari Jo sepagi ini. Bahkan kue dari dapur pun belum sampai tapi Reina harus sudah bersiap dengan pengantaran.


Ahhh ! Ini dia. 


" Ha …” Belum selesai Reina mengatakan halo, Jo sudah memotongnya.


" Ruangan piano” 


Klik. Tuuuut tuuuuut. Telepon diputus.


 


“Apa-apaan itu. Bagaimana bisa ada orang macam diaaaaaaaa!”


Reina sangat jengkel, Ia berteriak di depan ponselnya yang sudah tidak tersambung itu.


Raya terperanjat mendengar teriakan Reina. Pertama kalinya Raya melihat temannya sejengkel itu. Reina selama ini dikenal sangat kalem, dan murah senyum. Ketika marah Ia hanya menghela nafas lalu diam, jarang sekali menaikkan suaranya. Reina memang jarang bersuara keras, bahkan tertawa pun lebih sering terkikik tidak pernah tertawa terbahak-bahak. Pribadi Reina yang seperti itu terbentuk karena kesulitan dan kesedihan yang Ia lalui bertahun-tahun membuatnya tidak bisa mengekspresikan emosinya lebih lepas. Selalu ada beban di raut wajahnya, Reina tidak pernah menunjukan tawa atau kemarahan yang sepenuhnya. Semua ekspresinya seperti tertahan. 


“ Apa kau baik-baik saja?” Tanya Raya khawatir.

__ADS_1


" Ah, maaf. Kau pasti terkejut” Reina menyadari Ia tidak seperti biasanya. Dan hal itu pasti membuat Raya kaget.


 “ Mmmmp” Raya menggelengkan kepala.


" Hari ini aku akan melakukan pengantaran lebih awal, setelah semua rapi aku langsung berangkat”


" Dari Tuan Muda itu lagi?”


Reina mengangguk.


“ Bukankah kemarin dia baru pesan, tidak biasanya dia pesan berturut-turut seperti ini”


" Entahlah, tapi kita tidak bisa berbuat apa-apa. Kita akan dalam masalah jika menolak permintaannya”


" Aku semakin penasaran orang seperti apa Tuan Muda itu”


“Lebih baik tidak berurusan dengannya, atau kau akan direpotkan dengan permintaannya”


Reina teringat Dito. Ia lalu menelponnya.


Telepon tersambung.


" Ya” Buka Dito.


“ Pak Dito maaf mengganggumu sepagi ini”


“ Tak apa”


" Ruang piano ada dimana ya?” Tanya Reina.


“ Hmm, ruang piano? Maksudmu ruang piano di rumah Tuan Muda?”


“ Hari ini dia memintaku mengantarkan pesanannya kesana”


“ Bukankah kemarin kau sudah mengantarkan pesanannya?”


" Pesanan untuk hari ini”


“Oh, bukankah Tuan Muda hanya pesan 2 atau 3 kali saja dalam seminggu. Ayahku yang mengatakannya. Tidak biasanya. Sudahlah, mungkin nafsu makannya sedang bagus. Itu kabar baik. Baiklah Reina dengarkan instruksi ku baik-baik …..”


Dito lalu menjelaskan secara detail di mana ruangan piano itu berada. Reina mendengarkannya dengan seksama.


9.30 kue sudah berjajar tertata rapi di etalase, kaca jendela dan pintu sudah dilap, tidak lupa lantai juga selesai di pel. Papan promosi sudah berdiri di depan pintu. Toko sudah rapi dan siap melayani pelanggan. 


Reina memakai celana training karena Ia akan naik skuter untuk mengantarkan pesanan ke rumah Jo. Seragam toko itu memang memakai rok untuk bawahannya, maka dari itu Reina selalu membawa training sebagai cadangan jika harus naik sepeda atau skuter.


Reina memarkirkan skuternya, lalu berjalan menuju pintu utama.


Kali ini Reina yakin tidak akan terlambat, Reina sudah menyiapkan catatan yang berisi jalur menuju ruang piano, sesuai dengan arahan yang diberikan oleh Dito tadi melalui sambungan telepon. Reina berjalan sambil membaca secarik kertas di tangannya, Ia berjalan menuju bagian belakang rumah, tidak lagi berputar-putar di lorong yang sama seperti kemarin dan beberapa hari yang lalu.


Saat menuju ruang belakang itu Reina melewati sebuah taman air mancur. Reina takjub, bahkan ada ruang terbuka dan taman secantik itu di dalam rumah. Reina menyusuri lorong terbuka sepanjang taman. 


Reina hampir sampai ke sebuah ruangan yang berada di ujung lorong. Ruang yang lebih tepat disebut rumah kaca, ruang yang cukup besar dikelilingi dengan kaca besar dan berdiri  terpisah dari bangunan utama rumah. Dari kejauhan , Reina dapat melihat isi dari ruangan itu, banyak berjajar berbagai instrumen. Bahkan bisa untuk mengadakan orkestra sendiri dalam rumah dengan instrumen selengkap itu.  Tapi Reina tidak melihat piano, mungkin terhalang atau berada di sisi lain di ruangan itu.


Reina semakin dekat menuju rumah kaca, tapi dentingan piano menghentikan langkahnya. Seseorang baru saja memainkan piano. Alunan dentingan piano yang sangat indah, Reina berpikir mungkin alunan seindah ini dimainkan oleh seorang profesional yang disewa untuk memainkan piano.


Saat berada di bibir pintu Reina terkejut, ternyata yang memainkan piano itu adalah Jo. Jo yang dalam penilaian Reina adalah seorang gangster yang dingin, seseorang yang suka berkelahi di bar sambil mabuk. Reina terlalu banyak menonton drama sehingga mendapatkan image seperti itu tentang Jo.


Siapa sangka seseorang yang Ia bayangkan sebagai sosok urakan ternyata lihai memainkan jari jemarinya diatas tuts piano, jari-jari panjangnya tampak menari menari seirama. Pemandangan menawan yang jarang Ia llihat, sejenak Reina terhanyut dalam alunan permainan piano Jo saat itu.


Breng !!!Suara piano yang dipukul sembarang. 


“ Terlambat!” 


Suara keras Jo mengagetkan Reina, Ia tersadar dari lamunan. Jo menatap tajam ke arahnya.


Reina setengah berlari untuk menaruh pesanan di atas meja yang berada di dekat piano. Setelah menaruhnya di atas meja tanpa berkata apapun Reina langsung berbalik dan hendak keluar. Tapi Reina mengurungkan niat untuk keluar, menghentikan langkahnya dan berbalik arah kembali mendekati piano. Entah darimana datangnya, tiba-tiba Reina dipenuhi dengan keberanian untuk bicara.


“ Tu..Tuan, tidak bisakah anda sedikit pengertian? Bagaimana bisa aku tidak terlambat, sedangkan anda selalu memberikan  tempat baru setiap kali aku mengirimkan pesananmu. Dengan rumah sebesar ini, bahkan aku tidak bisa kembali menggunakan jalur yang sama seperti saat aku masuk tadi”.


Jo berdiri menghampiri Reina. Wajahnya datar tanpa ekspresi.


Reina baru menyadari apa yang dilakukannya itu adalah masalah besar. Reina menahan diri agar tidak gemetaran. 


Jo berjalan dengan tatapan lurus ke arah Reina, seolah siap menelan Reina hidup-hidup.


Reina seketika membungkukkan badan.


“ Ma .. maafkan saya. Sa..saya tidak tahu apa yang saya katakan barusan”.


Jo tidak menjawab, Ia masih berjalan dan semakin dekat.


Tapi Ia hanya mengambil plastik kue dari meja lalu melewati Reina begitu saja. Hening.


…………….


Reina dalam perjalanan kembali ke Toko, mengemudi skuternya dengan kecepatan rendah. Untuk pertama kalinya Ia menghadapi pelanggan dengan karakter tidak biasa seperti Jo, bahkan tanpa berkata apapun Jo sudah bisa membuat bulu kuduk Reina berdiri karena takut. Ia sedang berpikir dan mencari cara apa yang harus  dilakukan selanjutnya?


Di Toko.


“ Ada yang salah?” Melihat Reina terdiam dengan tatapan kosong membuat Raya khawatir.


“Raya, ketika kamu berkali-kali mendapat nilai buruk dan setiap pulang ke rumah karena orang tuamu selalu marah. Apa yang akan kamu lakukan jika hari ini kau mendapat nilai buruk lagi? Apakah sebaiknya kau tidak pulang ke rumah?”


“Hoi Reina darimana kau tahu kalau aku selalu mendapat nilai buruk, ah pasti adikku yang ember itu kan yang memberitahumu?”


“A…” Reina tidak bisa menjawab Raya, karena sebenarnya itu hanya perumpamaan saja. Siapa sangka ternyata itu benar dialami Raya.


“ Waktu kelas 2 SMP aku pernah 2 kali mendapat nilai 0, aku benci sekali matematika. Ibuku sangat marah, dan bilang kalau aku mendapat nilai 0 untuk ketiga kalinya aku tidak boleh pulang. Aku takut sekali waktu itu, karena aku mendapat nilai 0 lagi. Aku pikir Ibu benar-benar akan mengusirku dari rumah. Tapi sampai di rumah Ibu memang marah tapi dia bilang aku tidak belajar dari kesalahan sebelumnya, aku hanya memikirkan rasa takut dapat nilai buruk tapi tidak memikirkan bagaimana caranya agar aku tidak lagi membenci pelajaran itu. Sejak hari itu, aku mulai belajar matematika dan fokus untuk memperbaiki nilaiku. Dan kau tahu? Di tes berikutnya aku mendapat nilai 15, meskipun nilai itu sangat buruk tapi Ibu sangat senang. Ibuku bilang akhirnya aku mengerti. Jika aku menghadapi kesulitan aku harus berani menghadapinya dan memperbaiki sumber dari kesulitanku itu”


Reina mendengarkan dengan seksama setiap kata yang dilontarkan Raya. Seperti mendapat sebuah pencerahan dari cerita itu, Reina terfikirkan sesuatu.


“ Itu dia, aku harus memperbaiki sumber kesulitanku” ucapnya pelan.


Raya tidak mendengar jelas perkataan Reina, tidak sempat Raya bertanya karena ada pelanggan yang masuk untuk membeli kue.


Toko tutup lebih awal, Reina tiba di rumah sebelum pukul 10 malam. Di luar hujan, hujan yang cukup lebat membuat hening malam terasa semakin menjadi. Tidak ada suara kendaraan atau pedagang keliling yang biasa lewat malam hari. Hanya terdengar suara hujan. Hentakan tetesan Hujan kali ini seolah menguatkan hatinya yang sempat ingin menyerah, setelah beberapa hari seolah berputus asa menghadapi orang itu, sebaris cerita Raya siang tadi memberikan Reina sebuah asa untuknya, bahwa Ia pasti dan harus bisa melalui kesulitannya.

__ADS_1


Reina memandangi kelamnya langit malam dari balik jendela. Melihat setiap titik hujan yang jatuh ke bumi. Hentakan kuat hujan malam ini, mengalunkan nyanyian asa untuk Reina. 



__ADS_2