
Hari berganti, setelah melalui malam romantis perasaan bahagia masih menyelimuti hati seolah perasaan ini tidak akan pernah berakhir. Pagi yang cerah, matahari bersinar cemerlang tak seperti yang lalu berselimut awan mendung enggan menampakkan diri.
Reina mengayuh sepeda menuju toko, berangkat setengah jam lebih awal dari biasanya karena Ia bangun lebih awal pagi ini. Jika biasanya Ia tak sempat sarapan, kali ini tidak. Bangun lebih pagi, menyiapkan sarapan, mandi lebih lama, juga menyempatkan memakai lotion dan make up di wajah. Hari ini Reina tampil berbeda.
Sesampainya di toko, Ia membuka pintu Toko dengan kunci yang diambil dari tas setelah sebelumnya memarkirkan sepedanya di parkiran kecil yang berada di samping Toko. Reina berganti pakaian dengan seragam lalu mengerjakan semua persiapan seperti biasanya, hanya saja tidak ditemani Raya karena Ia datang lebih awal.
Jam di dinding menunjukkan pukul 8.30, Raya masuk melalui pintu depan, baru beberapa langkah masuk Toko Raya seperti orang yang salah masuk ruangan, bingung dan takjub. Biasanya jam segitu mereka baru sampai, meskipun tidak selalu bersamaan setidaknya hanya berbeda 5 menit saja tapi kali ini saat Raya tiba toko sudah rapi dan semua perlengkapan toko sudah sedia di tempatnya masing-masing. Hanya etalase saja yang masih kosong karena biasanya kue memang datang 15 menit sebelum toko buka.
Dan yang paling tidak biasa adalah Reina. Reina yang biasanya hanya menggerai rambutnya hari ini mengepang samping lengkap dengan beberapa jepitan yang menghiasi, wajah Reina tampak lebih segar karena memakai make up meskipun hanya bedak, eyebrow dan lipstick saja. Dan satu hal yang sangat berbeda, Reina mengenakan parfum yang wanginya bisa Raya cium bahkan saat Ia baru selangkah masuk ke dalam Toko.
Raya melongo, meyakinkan dirinya apakah benar yang dilihatnya itu orang yang sama seperti hari -hari sebelumnya?
Raya berjalan mendekat, dengan tatapan penasaran. Melihat wajah Reina dari dekat, bahkan memperhatikannya dari ujung kepala sampai ujung kaki.
" Wah apakah kau benar Reina, atau karyawan baru ?" Tanya Raya.
" Selamat pagi Raya " Jawab Reina dengan sapaan penuh semangat serta senyuman.
" Reina, kau luar biasa hari ini! "
" Apakah ada yang aneh?, tidak cocok ya?" Reina memegang megang rambutnya.
" No, no, no, tidak tidak tidak. Sudah kuduga ini pasti karena kekuatan cintaaaaa " Goda Raya berapi- api.
Wajah Reina memerah, Ia tersipu lantas menepuk lengan Raya.
" Isshh kau ini, sudah sana ganti pakaian " Ucap Reina yang mulai salah tingkah, senyum-senyum sendiri.
" Iyyaa, nyonyaaa Hihihi " Ucap Raya melengos ke ruang belakang untuk berganti seragam.
Mobil pengantaran kue datang, sesaat setelah Raya keluar dari ruang ganti. Raya ingin menanyakan apa yang terjadi kemarin malam, tapi tidak sempat karena Reina sudah disibukkan dengan kue yang harus segera ditata ke etalase, seperti biasa Reina mengecek faktur dan mencocokkan jenis dan jumlahnya dengan yang ada di box.
Kue sudah rapi di etalase, Raya menaruh box yang kosong di belakang untuk dikembalikan sore nanti. Box kue yang kosong akan diambil lagi oleh bagian pengantaran, akan dikembalikan ke dapur dan digunakan lagi untuk kue esok harinya.
Reina dan Raya selesai merapikan etalase, toko juga sudah dibuka.
Raya membalikkan tanda closed menjadi open yang tergantung di pintu kaca depan, sedangkan Reina menaruh banner promosi di depan jendela yang berada di samping pintu kaca.
Toko sudah siap melayani pagi ini, namun suasana masih sepi belum banyak yang berlalu lalang hanya beberapa orang yang terlihat lewat untuk jogging atau membawa piharaan mereka jalan-jalan.
" Ahhh akhirnya selesai juga" Ucap Raya sambil merentangkan kedua tangannya. Begitu juga Reina, melakukan hal yang sama sedikit melakukan peregangan setelah menyelesaikan tugas pagi yang cukup menguras tenaga dan membuat pegal.
" Reina, kemarin terjadi sesuatu kaan? "
" Hmmm " Reina merespon dengan wajah tak mengerti, pikirannya belum tersambung dengan apa yang ditanyakan Raya.
" Ah jangan ada rahasia diantara kita, ayolah ceritakan padaku. Bukankah kemarin kau bertemu dengan teman lamamu itu?" Cecar Raya.
Reina mulai mengerti, dengan wajah yang mulai memerah Ia bersiap menceritakan kejadian kemarin bersama Reino. Namun tiba tiba ponselnya berbunyi.
Kriiiiinnggg! Bunyi ponsel terdengar nyaring.
Reina mengambil ponsel dari saku apronnya. Panggilan masuk, dari Jovan.
" Halo " Buka Reina.
" Aku mau kau mengantar kueku hari ini, aku kirim lokasiku ke ponselmu " Ucap Jovan dengan nada datar.
" Bukan ke rumahmu seperti biasa?" Tanya Reina.
" Tidak" Tutup Jovan.
Telepon terputus, lalu terdengar bunyi pesan masuk. Sebuah chat berisi lokasi yang dimaksud Jovan. Reina mengecek map yang masuk ke ponselnya, lokasinya cukup jauh dari Toko.
Hmmm jauh sekali, butuh waktu 30 menit untuk sampai kesana itupun jika tidak macet. Tapi mau bagaimana lagi jika aku tidak mengantarkannya aku akan dapat masalah.
Beberapa waktu lalu Reina pernah menelpon pemilik Toko, Ia menceritakan tentang customer yang selalu minta diantar karena supirnya tidak bisa mengambil pesanan. Kadang Ia harus meninggalkan toko berjam - jam hanya untuk mengantarkan pesanan itu. Saat pemilik menanyakan siapa customer itu, Reina menjawab Jovan. Pemilik toko hanya mengatakan jangan melewatkan satu pesananpun, setiap pesanan darinya harus selalu dikirim bagaimanapun caranya meskipun Reina harus meninggalkan toko seharian.
Reina sempat bertanya-tanya kenapa Jovan mendapat perlakuan istimewa seperti itu, bahkan pemilik Toko tidak segan mengganti karyawannya jika sampai Jovan tidak mendapatkan apa yang Ia inginkan, mungkin karena Ia customer loyal nomor satu tapi jika diingat lagi banyak customer lain yang lebih loyal dan sudah berlangganan lebih lama darinya. Ah sudahlah, Reina tidak lagi memikirkan itu. Ia hanya ingin tak ada masalah dengan perkerjaannya saat ini.
" Raya maaf, aku cerita lain kali ya. Ada pesanan dari Tuan Jo aku harus segera mengantarkannya "
Reina bergegas membungkus kue coklat ke dalam satu kotak ukuran kecil seperti biasa.
" Tuan muda itu lagi? " Tanya Reina membantu memasukkan kotak ke dalam plastik.
Reina mengangguk, lalu ke belakang untuk memakai celana training. Reina menuju ke motor skuter yang selalu terparkir di depan toko, Ia mengenakan helm, tak lupa membawa ponsel dan dompet di saku celananya.
Raya membantu membawakan kue yang sudah Ia masukkan ke dalam plastik tadi.
Reina menancap gas skuternya, melaju dengan kecepatan sedang.
Setelah beberapa waktu berkendara, Ia sampai di sebuah perempatan. Ada dua persimpangan yang membuatnya bingung, Ia mengecek kembali map di ponselnya.
Seharusnya di persimpangan ini ada sebuah hotel besar, jangan jangan aku salah mengambil jalan tadi.
Reina mengingat ingat rute yang tadi dilewatinya, benar saja Ia salah berbelok sehingga membuatnya salah jalan. Reina lalu memutar skuternya, kembali ke jalan yang tadi membuatnya salah arah. Seharusnya Ia berbelok ke kiri, bukan mengambil jalan yang ke kanan. Dan benar saja tidak jauh dari belokan tadi Reina melihat sebuah hotel besar.
Grand maple, Ah itu dia!
Seperti tidak asing, wah ternyata itu hotel yang kemarin saat dinner bersama Reino. Ia baru menyadarinya. Kemarin Ia hanya duduk manis di mobil, tanpa tau akan dibawa kemana dan saat masuk hotel pun Ia tidak sempat melihat nama hotel itu, mata dan hatinya hanya fokus pada Reino.
Lobby utama, Green Leaves cafe.
Reina bertanya pada petugas yang berjaga di depan gedung, namun Ia sempat ditolak masuk. Petugas itu mengatakan delivery man tidak bisa mengantarkan makanan langsung ke dalam, hanya bisa sampai pintu depan tempat petugas itu berjaga. Reina bersikukuh pesanan itu harus Ia sampaikan kepada pelanggannya secara langsung. Tapi petugas itu tetap menolak, Reina lalu menelpon Jo.
" Kalau begitu aku akan menelpon Jovan untuk mengambil pesanannya sendiri di sini " Ucap Reina pada petugas berseragam hitam itu.
" Tunggu" Ucapnya sesaat sebelum Reina membuka ponselnya.
" Maksudnya Tuan Jovan? " lanjut petugas mengkonfirmasi.
Reina mengangguk.
" Kalau begitu si.. si.. silakan masuk, beliau sudah di dalam menunggu " Petugas itu tiba tiba sangat ramah pada Reina.
Reina lalu masuk ke dalam lobby hotel, mencari cafe yang dimaksud. Ia menoleh ke kanan dan kiri, menyusuri setiap sudut lobby.
Itu dia.
Reina menemukan cafe itu berada di ujung lobby sebelah kiri, berdampingan dengan lift hotel yang kemarin Ia gunakan untuk naik ke restoran lantai 20.
Jovan sudah duduk di salah satu sofa di dalam cafe, sofa yang berada di samping jendela menghadap ke luar. Cafe sebesar itu hanya satu meja yang terisi, meja di mana Jovan duduk bersandar memandang ke arah taman yang berada di luar hotel. Taman yang cukup luas, lengkap dengan kolam dengan air yang sangat jernih sehingga bisa terlihat ikan yang berenang di dalamnya.
Sepi sekali, tidak ada pengunjung lain atau karena masih pagi.
Reina berjalan ke arah Jovan duduk, lalu berdiri di hadapannya.
" Ini pesananmu Tuan " Reina menaruh plastik kue di atas meja.
Tanpa menoleh, Jovan hanya melirik ke arah kue. Moodnya tidak baik pagi ini.
Ia memang selalu dingin begitu, tapi ini berbeda. Apakah aku saja yang merasa demikian. Jo seperti sedang bad mood.
" Bukankah sudah kubilang jangan memanggilku dengan panggilan itu " Jo menatap lurus ke arah Reina. Tatapannya begitu menusuk, membuatnya sedikit nervous.
" Maaf " Ucap Reina pelan.
Melihat reaksi Reina, Jovan lalu menyuruhnya duduk.
" Duduklah"
Reina duduk di sofa yang menghadap Jo.
" Apa aku melakukan kesalahan? Seperti nya aku tidak terlambat pagi ini. Padahal tempatnya jauh, tapi aku datang secepat mungkin" Jelas Reina, Ia merasa sedikit takut.
" Aku menelponmu dua kali kemarin" Jo masih menatapnya dengan tatapan tajam.
" Kemarin hari liburku, tentu saja aku tidak mengantar pesananmu "
" Jika bukan karena pesanan, aku tidak bisa menghubungimu. Begitu?"
Ada apa dengannya? Apakah mood buruknya ini hanya karena aku tidak mengangkat telepon darinya? Jadi sekarang itu lagi ngambek?
" Aku juga punya privasi, kau tau itu. Tidak mungkin aku setiap hari bekerja bahkan di hari libur aku juga punya rencana sendiri bukan?"
" Kau hari ini juga aneh, penampilanmu tidak cocok dengan dirimu " Jovan mengomentari penampilan Reina yang memang berbeda hari ini, sebenarnya Ia juga sedang mengomentari penampilan Reina kemarin.
Saat Reino dan Reina hendak naik lift Jovan melihat mereka berdua. Saat itu Jovan yang bosan, setelah menghabiskan beberapa waktu di cafe akhirnya memutuskan untuk checked in di hotel yang sama, Ia memilih hotel itu karena posisi berada persis di sebrang cafe. Selain itu karena itu juga hotel yang dimiliki oleh group miliknya, sehingga Ia bisa masuk kapan saja. Karena Ia bermalam di hotel itu, sehingga sepagi ini Jovan sudah berada di cafe lobby hotel yang letaknya cukup jauh dari rumahnya.
Saat checked in Ia melihat Reina berjalan bergandengan tangan dengan Reino, Reina kesulitan berjalan karena harus memakai high heels selain itu kakinya mulai terasa sakit karena gesekan dengan sepatu membuatnya sedikit lecet dibeberapa bagian kakinya.
Setelah telponnya tidak diangkat, Jovan juga melihat semua itu, membuatnya bad mood sampai saat ini.
" Ada yang salah? " Tanya Reina ketus.
" Penampilan mu tidak seperti dirimu " Ulang Jovan, menatap Reina sambil menyilangkan tangannya.
" Jadi aku mengantar kue pagi ini hanya untuk mendapat kritikan tentang penampilanku? Baik, terimakasih Tuan Muda atas krikitikannya. Karena saya sudah selesai dengan tugas saya, saya akan undur diri. Sekali lagi terima kasih "
Reina berdiri. Ia memberikan senyum terpaksa sebelum beranjak pergi.
" Sudah kukatakan kau tidak seperti dirimu sendiri " Jovan juga berdiri, mengambil kue lalu berjalan keluar dari cafe mendahului Reina.
Kenapa dengannya? Menjengkelkan sekali. Belum lama ini aku mengubah kesanku tentangnya, kupikir Ia seseorang yang menyenangkan ternyata memang menjengkelkan, menjengkelkan dari segala sisi, semuanya yang ada pada dirinya aku tidak suka!
Reina keluar dari lobby hotel dengan perasaan jengkel bukan main. Ia bahkan menghentak hentakan kakinya saat berdiri di depan pintu utama menuju lobby.
Petugas yang tadi sempat melarang Reina masuk memperhatikan lalu mendekatinya.
" Kau tidak apa-apa?" Tanyanya.
Reina menoleh dengan wajah kesal.
Petugas tadi terkejut melihat reaksi Reina yang menoleh dengan wajah ketus. Ia merasa tidak melakukan kesalahan pada Reina, tapi Reina memberikan wajah seperti itu.
Reina merubah mimik wajahnya saat megetahui orang yang berada disampingnya adalah petugas hotel.
" Maaf kan aku " Ucap Reina.
" Apa kau sudah bertemu Tuan Jovan? " Selidiknya.
Reina mengangguk.
" Anda mengenalnya?" Tanya Reina.
" Tentu saja, semua orang di sini mengenalnya. Bagaimana mungkin kami tidak mengenal pemilik hotel ini " Jelasnya.
Haaaaaaaaaaa!!!!
Reina terkejut.
Jadi Jovan pemilik hotel ini? Sepertinya Ia orang kaya yang kekayaannya di luar jangkauan akal sehatku.
" Oleh karena itu cafe tadi hanya Ia saja sendiri di sana, begitu rupanya " gumam Reina pelan.
Petugas itu tidak mendengar jelas perkataan Reina. Reina menggeleng lalu pergi untuk mengambil skuternya dan kembali ke toko.
Reina sampai di toko, dengan muka masam. Berbanding terbalik dengan dirinya di pagi tadi yang tak lepas dari senyuman. Mood nya berubah 180 derajat. Raya menyadari itu.
" Terjadi sesuatu? " Tanya Raya, sambil mengelap cangkir basah yang baru selesai Ia cuci di belakang.
" Aku kesal sekali! " Reina meninju ninju pahanya sendiri.
" Tuan Muda itu apakah benar benar jahat ya? " Tanya Raya lagi.
" Entahlah, aku tidak mengerti dan mungkin tidak akan pernah bisa mengerti. Ia menjengkelkan sekali, tapi terkadang tindakannya yang lain sulit ditebak, lalu Ia menjengkelkan lagi. Aarrrghhh membingungkan" Reina sampai ngos ngosan menahan emosinya yang semakin menjadi.
Raya melihat kantong plastik hitam yang dipegang Reina.
" Apa itu? " Tanya Raya menunjuk kantong plastik.
" Hmmm? "
Reina melihat kantong yang dipegangnya, Ia baru sadar sedari tadi memegang kantong itu tanpa tau apa isinya.
Kantong itu Ia dapatkan dari petugas yang tadi berjaga di pintu lobby hotel. Ketika Reina hendak pergi, petugas itu memberikan kantong hitam. Saat itu karena sedang kesal, Reina sedikit terburu - buru hingga tak mendengarkan dengan jelas apa yang dikatakan petugas itu.
Reina membuka kantong itu sembari mengingat-ingat apa yang dikatakan petugas tadi.
Saat dibuka Reina memperlihatkan raut wajah yang bercampur aduk, Ia bingung, kaget, bertanya-tanya juga sedikit kesal yang tersisa.
__ADS_1
Di dalam kantong itu berisi satu pack plester. Ia ingat apa yang dikatakan petugas tadi. Saat Reina hendak berlari keluar Ia berkata " Nona, ini tadi dititipkan Tuan Jovan" begitu yang diingatnya.
" Lagi - lagi Ia sangat membingungkan " gumam Reina sangat pelan memandangi plester di tangannya.
Bagaimana Ia bisa tau aku sedang membutuhkan benda ini? Lagi lagi tindakannya membuatku bingung.
" Plester?" Raya mengambil plester dari tangan Reina.
Reina terdiam. Menghela nafas panjang.
Reina melanjutkan pekerjaannya seperti biasa, toko berjalan seperti biasa tanpa kendala sampai waktunya tutup. Reina dan Raya berpisah di depan pintu toko, mereka berjalan dengan arah berlawanan.
Rina berjalan perlahan menyusuri trotoar, Ia lelah. Setelah berjalan cukup jauh dari toko Ia baru ingat dengan sepedanya.
Sepedaku!
Reina melihat sekitar, Ia sudah berjalan cukup jauh akan sangat melelahkan jika Ia harus kembali untuk mengambil sepedanya. Tapi jika harus berjalan jaraknya cukup membuat kakinya pegal.
Reina berhenti sejenak. Bersandar di pagar jembatan penyebrangan, pagar besi yang cukup besar. Ia memandangi langit malam ini yang cukup gelap, tak terlihat satupun bintang di atas sana, sepertinya akan hujan. Reina lalu mengalihkan pandangannya ke jalanan kota yang masih ramai meskipun sudah hampir menjelang tengah malam.
Reina tiba-tiba teringat perkataan Jovan tadi pagi.
Penampilan mu tidak seperti dirimu!
Suara Jovan terngiang ngiang di telinganya, perkataan yang membuatnya jengkel pagi ini.
Apa yang salah dengan memakai make up, bukankah wajar diusiaku saat ini. Tidak, bukan itu. Bukan itu masalahnya, apa haknya mengkritik penampilanku. Kritikan customer pada pelayan karena penampilannya tidak sesuai dengan keinginannya? Aneh sekali.
Reina kembali menghela nafas panjang, Ia lelah bahkan terlalu lelah hanya sekedar untuk meluapkan emosinya. Sisa tenaganya harus Ia simpan untuk berjalan sampai ke kosan. Reina berjalan dengan wajah dan pikiran lelah menyusuri trotoar menuju arah pulang.
Malam ini Reina tak sempat mandi, Ia langsung membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur setibanya di kamar. Tak ada sisa tenaga lagi, Ia pun terlelap dengan masih mengenakan seragam, lengkap dengan sepatu, tas dan wajah kusam yang tidak Ia cuci.
Trengtrengtreng…. suara alarm berbunyi. Alarm yang berbunyi untuk ketiga kalinya pagi ini.
Reina masih setengah bermimpi. Setengah jiwanya masih berada di alam lain.
Ia membuka matanya yang berat, melihat angka di jam weaker nya. Terlihat samar, angkanya tidak terlihat jelas. Reina memperhatikan jam dengan seksama.
Tepat pukul 08.30
Reina bangun seketika, Ia kaget bingung dan masih linglung kepalanya pusing karena bangun secara tiba-tiba. Ia memegangi bajunya, baru menyadari masih memakai seragam toko, Ia juga memegang rambut yang berantakan namun masih terikat karena semalam Ia sama sekali tak sempat melakukan apapun.
Reina bergegas ke kamar mandi. Mandi secepat kilat, lalu berganti pakaian. Ia tak lupa mengambil seragam yang lain dari lemari, seragam kemarin pasti bau sekali dipakai tidur semalaman.
Reina sudah siap dengan segala keperluan kerjanya, sebelum keluar kamar kos Ia mengingat plester yang Ia taruh diatas meja riasnya. Ia mengambilnya beberapa lembar dan ditempelkan ke beberapa bagian kaki yang masih lecet, luka lecet yang mulai mengering menjadi basah kembali terkena air saat mandi.
Tiba di lantai bawah Reina panik tidak menemukan sepedanya di parkiran. Sambil menggaruk garuk kepalanya Reina mencari kesana kemari.
Ia baru ingat, semalam Ia tidak pulang mengendarai sepeda, melainkan berjalan kaki dari toko sampai kosan.
Reina semakin panik, karena Ia sudah bangun kesiangan ditambah lagi tidak ada kendaraan yang biasa membawanya ke toko.
Reina melihat jam di ponselnya, 09.00.
Raya pasti sudah tiba di toko dari setengah jam yang lau.
Reina berlari keluar, menyusuri gang menuju ke jalan utama. Langkahnya terhenti, sebuah motor besar dengan seseorang duduk di atasnya mengahalangi jalan Reina.
Ia menyodorkan helm kepada Reina. Reina hanya diam saja.
Reina tidak bisa melihat wajah orang itu karena Ia memakai helm full face. Lalu orang itu membuka kaca helmnya, Reina bisa melihat matanya. Jovan.
Apa yang Ia lakukan di tempat ini?
" Ini! " Jovan menyodorkan helm lagi.
Reina mengambil helm itu namun agak ragu-ragu, banyak pertanyaan di kepalanya tapi tidak banyak waktu untuk saat ini Ia sudah sangat terlambat, bukankah ini yang sangat Ia butuhkan sekarang? Kendaraan yang bisa membawanya ke Toko dengan segera.
Reina mengenakan helm, lalu menaiki motor besar Jovan. Motor yang cukup tinggi, namun dengan postur nya yang juga tinggi Jovan sangat cocok saat mengendarainya.
Reina memegang cenderung meremas jaket motor yang dikenakan Jovan, Jovan memperhatikan tangan Reina yang memegang jaketnya begitu erat.
Dibalik helmnya Ia tersenyum tipis.
Reina sampai di toko dengan mengendarai motor Jovan. Raya yang sedang merapikan etalase memperhatikan Reina yang turun dari motor.
Raya menyadari itu motor yang tadi pagi berhenti di depan toko. Pagi tadi saat Raya tiba di Toko, Jovan sudah tiba lebih dulu. Tanpa sepatah kata, Jovan duduk di atas motornya dengan masih mengenakan helm yang hanya tebuka kacanya.
Raya yang penasaran, mendekati Jovan. Ia mengira mungkin pelanggan yang hendak membeli kue.
" Permisi, selamat pagi Tuan. Toko belum buka, kami baru akan buka jam sembilan, masih 30 menit lagi "
Jovan melirik ke arah Raya.
" Aku mencari Reina " Ucapnya singkat dan tentu saja dengan nada datar seperti biasanya.
" Reina? Sepertinya Reina datang terlambat pagi ini. Anda temannya? Mau menunggu di dalam?" Tawar Raya.
" Di mana rumahnya?" Tanya Jovan.
Raya menjelaskan alamat tempat tinggal Reina, lengkap dengan arah mana saja Jovan harus lewat.
Raya hendak bertanya sesuatu, belum sempat Raya bertanya Jovan menutup helmnya lalu menancap gas motornya pergi.
" Kasar sekali, bahkan Ia tidak mengucapkan terima kasih " Ucap Raya ketus.
Raya mengambil kunci toko lalu membuka kunci. Raya tiba-tiba berdiri, dan terdiam. Ia baru menyadari sesuatu.
Ya Tuhan, bagaimana jika tadi itu stalker? Bagaimana bisa aku memberikan alamat Rumah Reina begitu saja, bodoh bodoh bodoh! Bodoh sekali kau ini Rayaaaa!!!
Setelah membuka pintu toko, dengan terburu- buru Raya menelpon Reina. Tidak ada jawaban. Saat Raya menelpon Reina masih tenggelam dalam mimpi, ponselnya juga mati karena semalam Reina langsung tidur setibanya di kosan.
Raya lalu mengerjakan pekerjaan Toko sendirian, namun hatinya tidak tenang Ia diliputi perasaan khawatir.
Melihat Reina tiba di Toko dengan selamat Raya merasa lega, tapi Ia jadi penasaran dengan orang yang mengantarnya.
Raya memperhatikan Reina dan Jovan dengan seksama dari kejauhan.
Reina membuka helm lalu menyerahkannya kepada Jovan.
" Terima kasih" Ucap Reina tanpa senyum, rasa jengkel kemarin masih tertinggal di hatinya.
" Sepatu kets itulah dirimu!" Jovan, melihat ke arah sepatu yang dikenakan Reina. Lalu Ia pergi begitu saja.
Reina masuk ke dalam toko. Raya berdiri dengan pose dan mimik wajah yang siap menginterogasi.
" Maafkan aku, hari ini aku datang terlambat " Reina bergegas berganti seragam.
Saat Reina kembali Raya mendekati Reina. Ia sudah bersiap dengan berbagai pertanyaan.
" Itu pasti Reino, ya kan? " Raya mulai menginterogasi.
" Bukan " Sanggah Reina membetulkan tali apron nya yang belum terikat dengan benar.
" Bukan? Lalu? Wah Reina kau menduakan Reino?! Aku tidak menyangka, seseorang sepertimu bisa mendua Reina!" Raya mulai dengan segala dugaannya.
" Itu Jovan" Kata Reina singkat.
Raya terdiam.
" Haaaaaaaa!!!" Raya terkejut, Ia menunjukkan reaksi terkejut yang sedikit berlebihan.
"Jadi itu Tuan Muda?! Tuan Muda yang selama inj tidak pernah turun dari mobilnya itu ?" Raya masih syok.
" Ternyata Tuan Muda itu kereeeeeennnnnn " Raya berjingkrak kegirangan. Dari sorot matanya saja Raya bisa menilai kalau Jovan itu sangat tampan, ditunjang dengan gaya berapakaian yang menurut Raya itu manly. Raya teringat salah satu karakter komik yang pernah Ia baca, ketua gangster yang sangat kuat dan hebat, sangat dingin dan kasar tapi dibalik penampilannya karakter itu memiliki jiwa kepemimpinan dan solidaritas sangat tinggi pada kawannya , tapi ternyata sangat lembut pada wanita terutama Ibunya.
Raya membayangkan seperti itulah sosok Jovan, yang baru pertama kali Ia temui pagi ini.
Reina tersenyum melihat Raya yang mulai asyik dengan dunia halusinasinya.
Reina merapikan sisa kue yang belum dirapikan Raya. Tiba-tiba fokusnya berpindah pada mobil berwarna merah yang terparkir di sebrang jalan. Meskipun samar tapi terlihat seseorang duduk di kursi stir.
Raya melihat Reina yang sedang memperhatikan mobil yang hanya memiliki dua seat itu.
" Sudah hampir satu jam mobil itu ada di sana, sejak tadi pagi aku sampai di toko mobil itu sudah ada. Tapi aku tidak melihat pengendaranya keluar "
" Mungkin Ia pelanggan toko, yang sedari tadi menunggu toko buka " Ujar Reina.
" Jika memang begitu seharusnya Ia sudah turun dari tadi "
" Atau mungkin Ia masih menunggu seseorang "
" Selama itu?"
" Benar juga, satu jam berada di dalam mobil. Atau jangan - jangan ada yang terjadi. Sakit atau pingsan?"
Raya dan Reina bergegas menuju keluar toko untuk memastikan.
Namun baru sampai pintu toko, mobil itu tiba-tiba bergerak dan melaju pergi.
" Kurasa kita saja yang berlebihan " Ucap Reina.
Mereka jadi cekikikan berdua, lalu melanjutkan pekerjaan mereka.
Seseorang dalam mobil itu ternyata seorang gadis, gadis muda yang baru berusia 15 tahun. Seorang anak sekolah menengah atas, Ia mengandarai mobilnya dengan mengenakan seragam sekolah elit yang bukan berasal dari daerah itu.
Ia mengendarai mobilnya searah dengan Jovan tadi pergi.
Gadis muda itu berhenti di cafe seberang hotel Golden Maple , cafe yang sama yang dikunjungi Jovan kemarin sore. Ia memesan Ice americano lalu duduk di bangku dekat jendela yang berhadapan dengan gerbang utama hotel. Dari tempatnya duduk Ia bisa melihat motor Jovan yang terparkir di VIP site.
Jadi beberapa malam ini Ia menginap di sini rupanya.
Gadis berambut lurus dengan panjang sepinggang itu masih menatap ke arah hotel tempat Jovan tidur beberapa hari belakangan. Sejak sore itu Jovan pergi karena bosan rupanya Ia belum pulang ke rumah, Ia menghabiskan waktunya di hotel itu.
Gadis berpakaian seragam sekolah elit, memiliki wajah sangat cantik, kulitnya sangat putih dan mulus, hidung mancung serta bulu mata lentik.
Tubuhnya juga tinggi, 170cm. Rok sekolahnya sangat pendek, membuat kakinya yang ramping terlihat sangat panjang saat duduk.
Ia membuka ponselnya. Mengecek chatnya yang masih kosong.
Ia bahkan tak membalas pesanku.
Gadis itu menyedot minumannya, lalu menggigit sedotannya karena kesal.
Terdengar bisik bisik dari bangku belakang. Dua orang yang kelihatannya seorang pekerja kantoran, membicarakan penampilannya. Meskipun bisik-bisik tapi terdengat cukup jelas di telinganya.
" Pelajar tapi roknya sependek itu " Ucap salah seorang pekerja wanita yang memakai celana berwarna putih.
" Kelihatannya itu seragam privat school, tetap saja apa pantas memakai rok sependek itu" Tambah pekerja yang satunya lagi.
" Mungkin Ia merasa cantik, makanya dengan penampilannya yang begitu untuk mencari perhatian "
Mereka berdua tertawa.
Mendengar itu Ia berdiri, memegang ice americano di tangannya menghampiri tempat duduk mereka berdua.
" It's big yes that I'm beautiful, itulah mengapa aku bahkan tidak perlu memakai make up tebal atau men-styling rambut seperti kalian. Untuk menjadi pusat perhatian, sepertinya kalian membutuhkan ekstra operasi plastik di beberapa bagian wajah dan tubuh lainnya. Mau aku rekomendasikan beberapa dokter kecantikan di luar negri yang ku kenal? " Ujarnya dengan senyum sinis di hadapan mereka, lalu Ia pergi begitu saja.
Mereka hanya terdiam, pengunjung lain mendengar ucapan pelajar itu dan melihat ke arahnya.
Baru dua langkah Ia pergi, tiba-tiba berhenti, dan berbalik.
" Jangan salahkan kecantikan orang lain, hanya karena kalian gagal menjadi pusat perhatian " Ia pun keluar dari cafe, masuk ke dalam mobil lalu pergi.
Semua yang ada di cafe memperhatikan dua wanita pekerja tadi yang menunduk karena malu.
Di lain tempat, Reina dan Raya sibuk melayani beberapa pelanggan yang makan kue di tempat. Ada tiga bangku yang terisi.
Saat Reina mengelap meja yang baru saja ditinggal pelanggan pergi, Ia teringat melupakan sesuatu. Sambil mengelap ngelap beberapa bagian meja yang sedikit kotor dan basah terkena tumpahan teh, Ia berusaha mengingat -ingat hal yang Ia lupakan itu.
Ya ampun, pesanan Jo.
Reina segera mengecek ponselnya.
Tidak ada chat atau panggilan masuk darinya. Setelah berfikir sejenak, Ia memutuskan untuk menelponnya.
Tuuuuuuut tuuuuuuuut.
Tersambung tapi tidak diangkat, Reina mencoba menghubunginya sekali lagi. Hasilnya sama, tidak ada jawaban.
" Ada apa Reina? " Tanya Raya, mendekat sembari membawa nampan berisi cangkir kosong dari meja lain.
__ADS_1
" Aku lupa dengan pesanan Jo "
" Haaaaaa " Raya ikut khawatir.
" Aku mencoba dua kali menghubunginya, tapi tidak ada jawaban. Sebaiknya aku harus bagaimana menurutmu?"
" Menurutku antarkan saja ke rumahnya, yang penting kau sudah mengantarkan jika Tuan muda itu komplain itu bukan kesalahanmu karena Ia sendiri yang tidak memberitahukan mau diantar kemana "
" Benar juga, kalau begitu akan aku siapkan pesanannya dulu. Siang ini aku antar kalau toko sudah sepi "
Raya mengacungkan jempol, tanda setuju.
Pukul 12.00 tepat siang hari toko mulai sepi , saat jam makan siang toko ini justru sepi pengunjung. Karena jarang sekali lansia yang ke toko di jam jam padat orang - orang keluar untuk mencari makan siang, biasanya mereka ke toko saat pagi atau sore hari saat cuaca tidak terlalu panas dan tidak terlalu ramai yang berlalu lalang.
Reina memacu skuternya, membawa kantong plastik berisi satu kotak kue berisi 10 pcs kue coklat berbentuk persegi berukuran 4 cm. Sebelum berangkat Ia sempat chat Jovan.
" Karena aku tidak mendapat kabar darimu, hari ini aku mengantarkan pesanan ke rumah " Begitu isi chat yang dikirimnya, namun tak ada jawaban.
Reina tiba di rumah Jovan, sekali lagi mencoba menghubungi namun tetap tidak ada jawaban. Reina masuk melalui pintu depan. Syukurlah Ia bertemu kepala pelayan, saat hendak menaiki tangga.
" Selamat siang, saya akan mengantarkan pesanan Tuan Muda "
" Kau dari toko kue, kalau begitu antarkan langsung ke ruangan beliau " Ujarnya sambil sesekali mengecek catatan kecil yang dibawanya.
Reina berjalan menyusuri lorong di lantai dua, menuju ruangan yang berada di ujung yang merupakan kamar pribadi Jovan.
Pintu kamarnya terbuka, Reina berfikir mungkin Jovan sedang tidur di kamarnya sehingga tak menjawab telepon dan chat yang Ia kirim. Reina tak mengetuk pintu, Ia berjalan mengendap - ngendap khawatir membangunkan Jo.
Reina memasuki kamar, saat Ia hendak menaruh kotak kue Ia dikagetkan oleh seseorang yang berbaring di atas tempat tidur Jo. Seorang gadis muda berbaring dengan hanya mengenakan gaun tidur yang sangat tipis.
Reina yang kaget tidak sengaja menjatuhkan kotak tisu dari atas meja, gadis itu terbangun karena mendengar suara yang cukup keras.
Gadis berambut panjang dan lurus sepinggang dengan wajah mengantuk menatap ke arah Reina sambil tetap duduk di atas tampat tidur Jo. Dia adalah gadis yang tadi pagi sempat berhenti di sebrang toko, lalu mengikuti Jo dan berhenti di cafe.
Tanpa sepatah katapun keluar dar mulutnya, Ia hanya menatap Reina dalam diam.
" Ma ma maaafkan saya, saya hanya mengantar pesanan Tuan Muda " Reina menaruh kue itu di atas meja kerja Jovan, lalu pergi tanpa menunggu jawaban dari wanita yang justru malah kembali tidur setelah Reina keluar dari ruangannya.
Reina setengah berlari, Ia hendak keluar rumah. Ia masih kaget, sampai-sampai membuatnya grogi dan berkali kali menjatuhkan kunci skuter saat hendak memasukkannya.
Bagaimana bisa aku melihat pemandangan seperti itu tengah hari begini. Untung saja aku tidak menyakasikan itu secara langsung.
Fikiran Reina saat itu kemana-mana, yang ada difikirannya adalah Jovan sedang melakukan sesuatu dengan wanita itu sehingga Ia tak bisa menjawab panggilan darinya. Andai saja Reina tiba lebih awal mungkin saja Ia melihat apa yang seharusnya tidak Ia lihat. Begitu yang ada di fikirannya saat ini.
Ternyata kepala pelayan yang tadi menyuruh Reina untuk langsung mengantar ke kamar Jo itu salah mengira, satu jam sebelumnya saat Ia ke lantai atas dan melihat pintu ruangan Jo terbuka Ia berfikir Tuan Muda nya itu sudah pulang setelah beberapa hari tidak tidur di rumah. Tak ada seorangpun yang berani masuk kamar, bahkan kepala pelayan sekalipun sehingga Ia tidak memastikan kebenarannya dan hanya menduga saja.
Reina kembali ke toko.
Raya melihat Reina sudah sampai, tidak biasanya Ia datang begitu cepat biasanya sampai berjam-jam.
Reina kembali tanpa berkata apa-apa, Ia hanya diam namun wajahnya tampak syok. Raya tak berani bertanya, Ia menunggu sampai Reina kembali normal.
Di tempat lain satu jam sebelumnya Jovan baru saja keluar dari sauna, setelah mengantar Reina tadi pagi Ia kembali ke hotel dan melakukan beberapa treatment di spa yang berada di hotel itu sehingga Ia tak bisa mengecek ponselnya.
Setelah selesai membasuh tubuhnya yang penuh keringat karena sauna, Ia mengecek ponsel yang Ia taruh di loker VIP.
Ada beberapa panggilan masuk, dan beberapa chat salah satunya dari Reina.
Setelah membaca chat itu Ia memutuskan untuk kembali ke rumah dengan mengendarai motor besarnya.
Sebenarnya Reina dan Jovan berangkat dalam waktu yang bersamaan hanya saja jarak dari hotel ke rumahnya lebih jauh dibandingkan dengan jarak dari toko Reina, sehingga mereka tidak sampai dalam waktu yang sama hanya selang 5 menit saja setelah Reina meninggalkan rumah itu Jovan sampai.
Saat masuk ke rumah itu Ia juga bertemu dengan kepala pelayan. Ia kaget melihat Jovan yang baru saja tiba. Jovan melihat merespon wajah kagetnya dengan wajah datar seperti biasa.
" Tuan Muda anda baru tiba?!" Tanyanya.
Tanpa menjawab, Jovan lantas pergi menuju kamarnya.
Kepala pelayan hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya, heran.
Jovan berjalan santai menuju kamar, Ia melihat pintu kamarnya terbuka. Ia masuk.
Ia melihat seseorang tidur di atas tempat tidurnya. Orang yang sama yang dilihat Reina. Ia juga melihat kotak kue di atas mejanya.
Ia bisa menebak apa yang terjadi.
Jovan mendekati tempat tidurnya.
Gadis itu terbangun, lalu duduk sambil menguap.
" Kenapa kau tidak menggunakan kamarmu sendiri" Ucap Jovan datar.
" Kamar ini lebih hangat dan nyaman " jawabnya.
Ia turun dari tempat tidur, masih dengan pakaian minimnya berjalan menuju pintu keluar.
" Tiffany, bawa juga bajumu " Ucap Jovan, menunjuk baju seragam yang menumpuk di bangku samping tempat tidur, baju yang tadi pagi Ia kenakan.
Baru sampai meja kerja Jovan, Ia berhenti setelah melihat kotak kue yang ada di atas meja. Ia teringat kejadian tadi, saat Reina masuk ke kamar dan melihatnya tidur di atas tempat tidur.
" Pacarmu cukup manis, sepertiya aku sedikit mengagetkannya tadi " ucapnya sambil menguap, lalu pergi keluar kamar dan menuju kamarnya yang berada sejajar dengan kamar Jo namun berada di ujung lorong satunya. Meskipun sejajar kamar itu berada cukup jauh, melewati beberapa ruangan besar dan tangga yang membelah lorong lantai dua.
Jovan tak menjawab apapun, Ia hanya diam lalu berbaring di tempat tidurnya. Sambil menatap langit-langit kamarnya Ia memikirkan sesuatu.
Hingga malam harinya suasana hati Reina belum membaik. Ia tidak banyak bicara hari ini, dan itu berlangsung sampai toko tutup.
" Reina, kau baik-baik saja?" Tanya Raya ragu-ragu. Ia ingin menanyakan itu sedari siang tadi, tapi Ia menunggu sampai Reina yang membuka obrolan lebih dulu namun sampai tiba waktunya toko tutup Reina masih diam seribu bahasa.
Reina hanya menjawab pertanyaan Raya dengan senyum yang terlihat sekali dipaksakan. Ia lalu pergi mengambil sepedanya, tapi tidak mengendarainya malah Ia tuntun sambil berjalan.
Raya merasa khawatir tapi tidak ada yang bisa Ia lakukan.
Reina berjalan dengan langkah gontai, entah kenapa Ia merasa lututnya seolah kehilangan kekuatan untuk menopang tubuhnya sendiri.
Kejadian siang tadi berputar- putar di kepalanya, Ia masih ingat wajah wanita yang ternyata bernama Tiffany itu. Gadis muda yang sangat - sangat cantik. Akhir - akhir Reina sudah dua kali bertemu dengan wanita dengan figur seperti mannequin hidup. Waktu itu dokter cantik bernama Monika, dan kini pelajar cantik bernama Tiffany. Keduanya tidak bisa dibandingkan, karena keduanya memiliki kecantikan dengan sudut pandang berbeda. Dokter Monika cantik dengan wajahnya yang dewasa, dan Tiffany cantik dengan wajahnya yang masih belia.
Kenapa harus aku yang melihat itu? ah lupakaan lupakaaan.
Reina terus berkata demikian sepanjang perjalanan dari toko menuju kosan, mensugesti dirinya sendiri agar apa yang Ia lihat hilang dan berhenti berputar di kepalanya.
Tidak berhasil.
Reina pagi ini bangun dengan wajah kusut dan rambut semrawut, bukannya hilang dari ingatan hal itu justru terbawa ke dalam mimpinya. Kenapa kejadian itu tidak bisa lepas dari ingatannya, malah berlanjut ikut ke dalam mimpi dengan cerita yang lebih ekstrim.
Di dalam mimpinya, Reina berangkat dengan skuter menuju rumah Jovan persis seperti yang terjadi kemarin siang, semua kejadian sama sampai Reina menaruh kue di atas meja. Yang berbeda adalah saat Reina melihat gadis itu berbaring di atas tempat tidur di sana ada Jovan yang ikut berbaring bertelanjang dada di sampingnya. Jovan dan Tiffany tersenyum ke arah Reina, lalu Jovan berkata :
" Tunggu apa lagi, kau tidak ingin ikut bergabung di sini?" Ajak Jovan melambaikan tangannya mengajak Reina yang berdiri mematung di samping meja menghadap ke tempat tidur. Tiffany duduk tersenyum ke arahnya sambil mengusap dada Jovan.
Reina bangun tidur dengan nafas terengah - engah seperti seseorang yang kelelahan karena berlari, padahal Ia hanya berlari dalam mimpinya berlari tanpa henti dikejar bayangan Jovan dan Tiffany yang duduk berdua di atas ranjang sampai akhirnya Ia terbangun dengan kondisi seperti itu.
Kondisi tak berbeda saat Reina tiba di toko. Ia melakukan pekerjaan pagi ini tanpa semangat di wajahnya, matanya hitam karena mimpinya semalam membuatnya tidak bisa tidur dengan nyenyak. Setelah selesai merapikan toko dan menata kue, Reina berjongkok samping etalase. Raya berdiri disampingnya. Ia tidak ikut berjongkok karena toko akan terlihat tak berpenghuni dari luar.
" Reina, kau baik-baik saja?" Pertanyaan yang sama, namun Ia tak mendapat jawaban semalam.
" Raya, mungkin ini pertanyaan yang aneh. Tapi aku tidak tau harusnya bicara pada siapa, hanya saja jika aku simpan rasanya akan terus terbawa di kepalaku " Ucap Reina masih dengan posisi berjongkok sembunyi di balik etalase.
" Jika itu membuatmu lebih baik katakan saja" ujar Raya sambil tersenyum dan melambaikan tangan membalas lambaian tangan dari customer langganan yang lewat di depan toko, Ia sedang berjogging dengan hewan peliharaannya.
" Apa kau pernah melihat orang yang baru saja selesai melakukan itu?" Tanya Reina dengan suara pelan.
" Itu, itu apa?" Tanya Raya tidak mengerti.
" Itu, adegan 18+" Jelas Reina.
" Hooo itu yang kau maksud " Raya mengangguk angguk.
" Aku tidak pernah melihat secara langsung, tapi aku pernah membaca komik yang ceritanya seperti itu. Perempuan pemeran utama memergoki kekasihnya tidur bersama selingkuhannya, saat Ia berkunjung untuk mengantarkan makanan kesukaannya "
" Lalu apa yang terjadi ?"
" Hmmm tidak ada, perempuan itu hanya kaget dan syok setelah itu memutuskan untuk meninggalkan kekasihnya namun Ia menjadi trauma setiap kali akan masuk kamar Ia selalu terbayangkan peristiwa itu dan enggan menjalin hubungan baru"
Reina terdiam.
" Reina apa kau memergoki Kak Reino tidur dengan wanita lain "
" Tidak " Sanggah Reina.
" Lantas siapa? Jika bukan Kak Reino lantas siapa yang sampai-sampai membuat syok seperti itu".
" Aku sendiri tidak mengerti, kenapa aku bisa syok dan bahkan sampai terbawa mimpi. Padahal aku tidak melihat kejadiannya dengan mata kepalaku sendiri, aku hanya melihat seseorang tidur di atas tempat tidurnya. Itu saja " Jelas Reina.
" Seseorang? Seseorang seperti apa yang kau maksud?" Tanya Raya.
" Seorang gadis muda, sepertinya usianya masih dibawahku. Wajahnya cantik, memiliki rambut panjang yang lurus tergerai"
" Rambutnya berwarna hitam dengan poni?" Tanya Raya.
" Kurasa Ia memang berponi, tapi poninya cukup panjang sampai menutupi alisnya " Reina mengingat-ingat.
" Berkulit putih, hidung mancung dengan mata bulat yang menyipit di ujungnya?"
" Kurasa wajahnya memang bagitu" Reina berusaha mengingat-ingat wajahnya secara detail.
" Ia memakai seragam sekolah menengah salah satu privat school yang sangat terkenal "
" Tidak, bukan seragam tapi baju tidur yang transpa……" Sebelum Reina melanjutkan ucapannya Ia tersadar akan sesuatu.
" Tunggu Raya, bagaimana kau tau Ia memiliki detail wajah demikian "
Raya menunjuk ke arah seseorang yang berdiri di hadapannya.
" Bukankah Ia seperti itu?"
Reina berdiri, Ia muncul dari balik etalase. Dan terkejut hampir terjengkang melihat orang yang ada dihadapannya.
Tiffany.
Dan yang lebih mengagetkan ada Jovan yang berdiri di belakangnya.
" Maafkan aku, untuk kejadian kemarin aku tidak bermaksud untuk berlaku tidak sopan dan mengintip. Ah tidak bukan mengintip maksudku….." Reina gelagapan.
Raya hanya berdiri terkesima melihat Tiffany dan Jovan. Baru pertama kali Ia melihat sosok seperti Tiffany yang masih belia namun wajahnya sudah memperlihatkan garis garis kecantikan yang akan semakin terbentuk saat Ia dewasa nanti, apalagi Jovan wajahnya persis mewakili karakter komik yang begitu Ia dambakan sekian lama. Jika karakter komik itu hidup, maka sosoknya adalah Jovan.
Dua orang dengan wajah dan tubuh sempurna, dibalut dengan baju, sepatu dan aksesories branded yang harganya setara kendaraan bermotor. Belum lagi wangi semerbak parfum mahal yang baunya asing karena hanya orang tertentu saja yang mampu membelinya.
Jovan dan Tiffany yang berdiri di dalam toko terlihat seperti dua tangkai bunga yang menjulang diantara rumput yang mengering. Sosok yang hanya dengan berdiri saja seolah seluruh tubuhnya yang berbicara dan mengatakan mereka berasal dari level berbeda.
" Untuk yang kemarin? Sebenarnya aku sangat terganggu karena orang asing masuk bahkan tanpa mengetuk pintu " Ucap Tifanny sambil menyilangkan tangannya, bahasa tubuhnya sangat mengintimidasi.
" Awalnya aku fikir Jovan yang sedang tertidur ,aku tidak ingin menggangunya " Jelas Reina.
" Jovan? Kau bahkan memanggil namanya begitu saja"
" Maksud saya tuan muda" Reina semakin merasa terintimidasi oleh gaya bicara Tiffany.
" Sudahlah " Potong Jovan singkat, sambil melirik ke arah Tiffany.
" Bahkan Kakak tidak membiarkanku untuk bersenang-senang sedikit lebih lama, membosankan" Ketus Tiffany pada Jovan.
" Ehhh?!" Reina dan Raya terkejut mendengar itu.
" Aku Tiffany, adik Kak Jovan. Salam kenaaaaal " Wajahnya berubah ramah, intonasi bicaranya juga berbeda dari sebelumnya.
" Namamu Reina, dan kau Raya, sepertinya kalian berdua hanya beberapa tahun saja diatasku. Jadi, aku akan memanggil nama saja "
" Aaah iya " Reina dan Raya saling berpandangan. Mereka tidak tau harus menjawab apa.
" Because there is no objection, So mulai hari aku memutuskan untuk menjadikan kalian berdua temanku"
Tifanny menjabat tangan Raya dan Reina bersamaan. Tiffany gadis cantik yang unik, dan eksentrik. Jika biasanya mereka selalu menjaga jarak dengan orang- orang bukan dari golongan mereka Tiffany justru yang lebih dulu mengajak berteman, selain itu jika biasanya mereka sangat anggun dan menjaga image Tiffany sebalikny Ia justru bicara apa adanya dan tersenyum begitu ramah bahkan pada Raya dan Reina yang baru dikenalnya.
Tiffany dan Jovan menuju keluar pintu Toko, Tiffany keluar lebih dulu disusul Jovan di belakangnya. Saat tiba di bibir pintu Jovan menghentikan langkahnya, lalu berbalik melihat ke arah Reina.
Dengan gerakan tangannya Jovan mengisyaratkan kalau Ia akan menelponnya.
Gerakan sederhana, bahkan tanpa segaris senyuman. Namun entah mengapa membuat Reina membatu dibuatnya.
Deg! Reina memegang dadanya, kenapa Ia merasa seperti ada sesuatu yang melesat menusuk jantungnya saat itu.
Jovan keluar, Tiffany sudah menunggu di mobil. Mereka pergi dengan mobil yang dibawa Tiffany kemarin.
__ADS_1