
Di sepanjang perjalanan ke Toko pagi ini Reina mengayuh sepedanya dengan senyum yang terus mengembang. Ia tak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya, bahkan sesekali menyanyi nyanyi kecil. Menyanyikan sebuah lagu yang seirama dengan suasana hatinya.
Sesampainya di Toko dan berganti seragam, Reina juga menyiapkan segala keperluan dengan wajah sumringah. Raya memperhatikan Reina yang tidak biasanya mengepel lantai sambil menyanyi nyanyi seperti sekarang ini.
Mata Raya mencuri - curi pandang dari balik kaca etalase, tangan Raya yang sedang menata kuepun terhenti, insting detektifnya seolah tergugah. Ia berdiri lalu mengendap-endap mendekati Reina yang tidak biasanya menguncir rambutnya yang hitam dan tebal itu, biasanya Reina selalu membiarkan rambut sebahunya terurai begitu saja.
“Wuhuuuu, sepertinya ada yang mendapat jackpot tadi malam?” Goda Raya.
Reina terperanjat, wajahnya memerah tersipu.
“A...akuu ah tidak” Reina tergagap.
“Sudah kuduga, pasti ada sesuatu” Selidik Raya sambil menyiku Reina.
Reina menarik tangan Raya lalu mengajaknya ke belakang etalase kue. Sambil berjongkok Ia berbisik di telinga Raya, mendengar cerita Reina wajah Raya berubah seketika, matanya membulat. Ia menunjukkan ekspresi bahagia mendengar cerita singkat dari Reina.
“Haaaa, benarkah itu?” Ucap Raya setengah berteriak sambil menutup mulutnya yang menganga.
“Ssstt” Reina mengangguk mengiyakan.
“Aku ikut bahagia Reina, akhirnya kau bertemu dengannya” Raya berkaca-kaca, lalu memeluk Reina bahagia.
“Meskipun sebenarnya aku sempat ragu karena bahkan Ia tidak mengenaliku. Tapi ternyata…”
Reina mengingat kejadian kemarin, sambil menceritakan detil kejadiannya. Dimulai saat Reino memanggilnya setelah Reina menuruni beberapa anak tangga.
Kemarin di rumah sakit.
“Reina” Teriak Reino yang berlari mengejar Reina.
Mendengar seseorang memanggil namanya langkahnya pun terhenti. Reina menatap ke arah asal suara.
Di sana Reino sudah berdiri tepat di belakangnya, Ia tersenyum. Senyum manis yang sangat Reina rindukan, senyum yang sama dari seseorang yang sangat Ia kagumi. Tidak ada yang berubah dari Reino, Ia masih seperti dulu hanya saja kini sudah dewasa dan semakin tampan. Pesona dokter muda yang dapat meluluhkan hati para wanita, termasuk Reina. Seketika perasaan yang dulu meliputi hatinya tumbuh kembali.
“Ini” Reino menyerahkan secarik kertas.
Reina yang masih terkesima menerima kertas itu tanpa bisa berkata apapun.
Reino sedikit canggung karena Reina tak berkata apa-apa.
Reina masih menatapnya dalam diam.
Kriiiingg. Reina terperanjat, suara ponselnya memecah suasana canggung diantara mereka. Reina mengambil ponsel dari saku apron, panggilan masuk tapi dibiarkan saja, dari nomor tidak dikenal biasanya telepon dari sales atau marketing.
Tangan Reino memberikan isyarat untuk Reina agar Ia menelponnya.
Reina mengangguk, lalu dengan setengah berlari Reino menaiki tangga kembali ke ruangannya.
Malam harinya.
Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, Reina sudah selesai mandi dan bersiap tidur. Ia teringat dengan secarik kertas yang diberikan Reino siang tadi, sayangnya Ia lupa menyimpannya di mana hal itu membuatnya sedikit panik. Setelah merogoh beberapa saku di baju, tas dan celananya, akhirnya Ia menemukan kertas itu di saku celana trainingnya.
" Untung saja, kukira terbuang tadi "
Reina lega karena menemukan kertas itu, sebelumnya Ia menyelipkannya di apron, lalu Ia pindahkan ke tempat lain. Karena terlalu banyak kertas faktur dan catatan yang terselip di saku nya, sebagian dibuang ke tong sampah untunglah kertas dari Reino sempat Ia pindahkan dan tidak ikut terbuang.
Reina memegang secarik kertas, kertas yang tampaknya dirobek dari buku catatan, di sana tertulis nomor telepon dengan tulisan tangan Reino.
Reina menekan satu persatu nomor yang tertulis di kertas, meskipun hatinya masih ragu karena perasaan yang campur aduk. Haruskah Ia menelponnya atau tidak? Tapi rasa rindu Reina membuatnya ingin sekali mendengar suara Reino. Setelah beberapa saat Reina berhasil menata hatinya, Ia pun menelpon Reino.
Tuuuuut tuuuuut telepon tersambung, tapi tidak ada jawaban. Reina menunggu beberapa saat, dan mencoba menelponnya lagi.
“Sudah hampir tengah malam, mungkin Ia sudah tertidur. Apakah sebaiknya aku menelponnya besok saja?” Gumam Reina. Sudut matanya melirik jam weker berbentuk bola di atas meja.
Sesaat sebelum Reina hendak menutup telponnya, terdengar suara seseorang.
“ Halo” Suara Reino terdengar dari ujung sana.
Jantung Reina berdebar-debar, mendengar suaranya saja sudah membuat Reina begitu salah tingkah. Ingin sekali Reina berteriak saat itu.
“ Re..Reina” Ucapnya sambil berusaha agar tetap tenang.
“ Ah maafkan aku, tadi aku sedikit ada pekerjaan jadi baru aku angkat”
“ Tidak, tidak, aku yang seharusnya meminta maaf karena menelponmu tengah malam begini”
“ Tidak apa, hari ini aku long shift. Aku berjaga sampai pagi. Aku senang kau menelponku karena biasanya aku mulai sedikit mengantuk jam segini, untunglah aku jadi ada yang menemani ” Ucap Reino sambil menyeruput kopi hitam yang baru selesai Ia aduk.
“Benarkah? Syukurlah kalau begitu” Reina tersenyum lega.
Obrolan mereka masih sangat canggung, karena setelah 7 tahun mereka baru bertemu dan mengobrol lagi, Reina dan Reino keduanya kagok untuk membuka obrolan. Hening, keduanya terdiam.
“ Aku ..” Reina dan Reino bicara bersamaan.
“ Kau dulu” Ucap Reino
“ Ah tidak Kakak saja”
“ Kalau begitu…” Mereka kembali bicara bersamaan.
Tawa mereka pun pecah, tawa kecil mereka sedikit memecah kecanggungan.
“ Baiklah kalau begitu aku dulu” Reino masih terkikik.
“ Iya”
“ Bagaimana kabarmu?”
“ Aku baik-baik saja, seperti yang tadi Kakak lihat aku sekarang bekerja di Toko kue. Bagaimana dengan Kakak? Aku senang Kakak sudah menjadi Dokter”
“ Aaah, aku juga baik. Aku senang kau baik-baik saja, selama ini tidak mendapat kabar darimu. Setelah pindah ke kota aku sempat kembali kesana dan mampir ke panti, tapi pengasuh di sana mengatakan kau mendapat orang tua asuh dan tidak tahu lagi kau tinggal di mana. Waktu itu aku sempat menitipkan nomor teleponku padanya, aku selalu menunggu telepon darimu” Jelas Reino.
“Sejak aku diadopsi aku tidak pernah lagi berkunjung ke panti, maafkan aku” Reina sangat menyesal mengetahui hal itu, jika sekali saja Ia menyempatkan untuk mampir ke panti mungkin mereka tidak akan lost contact sampai 7 tahun lamanya. Banyak hal terjadi, membuat Reina bahkan tidak terfikir untuk kembali ke panti.
“Tak perlu minta maaf, bukankah malam ini kau menelponku?”
Perkataan Reino manis sekali, membuat perasaan Reina menjadi lega.
Malam semakin larut, mereka berdua semakin asyik berbincang, membicarkan beberapa kejadian lucu dan menyenangkan yang pernah mereka alami dulu juga berbagi cerita selama mereka tinggal berjauhan. Setelah sekian lama tak pernah bertukar kabar, dan mungkin tidak akan pernah bertemu lagi . Ternyata takdir berkata lain mereka dipertemukan kembali dengan cara yang tak pernah diduga.
Reina merasa seperti menemukan separuh hatinya yang tertinggal di masa lalu, kini hatinya utuh karena seseorang dari masa lalu itu kini datang kembali memenuhi hatinya.
……
Di Toko.
“ Aaah” Reina yang sesaat tenggelam dalam ingatan semalam teringat pesanan Jo. Tubuhnya reflek berdiri.
Reina bergegas menyiapkan pesanan seperti biasa, harus cepat atau Ia akan terlambat.
“ Hari ini kau mengantar lagi?” Tanya Raya.
“Umm, sampai Pak Dito kembali aku harus mengantar ini ke rumahnya. Terima kasih ya, kau selalu menggantikan tugasku setiap kali aku pergi”
“Tak apa, lagipula toko tidak ramai pagi hari” Raya membantu memasukkan kotak kue itu ke plastik.
Reina memacu cepat skuternya menuju istana Jovan.
“Ah” Reina baru teringat pagi ini Reina belum mendapat telepon dari Jo. Ia tidak tahu kemana harus mengantar, atau mungkin hari ini malah tidak memesan? Reina hendak putar arah pulang kembali ke Toko, tapi Ia sudah hampir sampai gerbang akhirnya Reina memutuskan untuk lanjut.
Reina melewati gerbang sambil tetap mengendarai skuter, tak berapa lama Reina hampir sampai di pintu utama rumah Ia melihat Jovan yang sedang duduk sambil membaca buku di bangku taman. Taman luas yang berada tepat di sisi kanan rumah, bahkan ada danau kecil dengan air mancur di tengahnya. Reina berhenti. Menaruh helm di atas spion motor lalu mengambil kantong plastik yang menggantung di stang.
Reina setengah berlari menghampiri Jo yang duduk dengan kaki kanan diatas kaki kiri, Ia menyandarkan punggungnya yang bidang di bangku yang terbuat dari kayu bercat putih.
“ Selamat pagi Tuan Muda” Sapa Reina sambil manganggukkan kepala.
“ Jo, panggil saja begitu” Ucapnya tanpa menatap Reina, Ia membuka lembaran demi lembaran buku yang dipegangnya.
“ Ah tidak, bagaimana bisa aku memanggil anda demikian”
__ADS_1
“ Sepertinya kau hanya dua atau tiga tahun lebih muda dariku, tidak perlu begitu formal aku bosan”
“ Haaa, Bosan?” Reina bingung, selama ini Ia melayani berbagai macam karakter pelanggannya tapi Jovan berbeda, pertama kalinya Ia bertemu seseorang dengan karakter yang terkadang perkataan dan tindakannya sulit dipahami .
“ Setidaknya kau bisa menjadi satu orang yang tidak membosankan diantara mereka” Jovan menatap ke arah para pekerja dan pelayan yang berlalu lalang sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Reina melihat ke arah yang sama, melihat pemandangan itu seketika Reina mengerti. Jo seorang Tuan Muda di sebuah istana yang hanya diisi oleh orang-orang yang melayaninya , sudah pasti Ia tidak punya teman. Bisa saja Ia akrab dengan salah satu pekerjanya, tapi itu akan merusak image nya sebagai seseorang yang berada di garis yang berbeda dengan yang lainnya. Ia harus membuat jarak dan garis yang jelas, garis itulah yang membuatnya hidup dengan kemewahan tapi hatinya kosong dan kesepian. Status yang membuat hidupnya rumit, bahkan untuk urusan sederhana seperti pertemanan.
Reina melihat buku yang dibaca Jo, buku resep kue untuk pemula yang ditulis oleh chef internasional idola Reina. Jessica Praelpoti. Melihat buku itu Reina begitu bersemangat, matanya berbinar ingin sekali melihat isinya. Jovan menyadari hal itu.
“ Ambillah, aku menemukannya di meja” Jo menyodorkan buku cukup tebal itu pada Reina.
“ Benarkah aku boleh memilikinya?” Reina hendak menerima buku itu, namun ragu ragu.
Jo menaruh buku itu di meja.
“ Terserah, itu buku lama aku tidak memerlukannya lagi "
Jo bangkit dari tempat duduknya, mengambil plastik kue dari tangan Reina lalu berjalan melewatinya yang masih berdiri menatap buku di atas meja.
Reina berjalan mendekati meja, mengambil buku dengan sampul hardcover namun isinya tidak begitu tebal . Setelah buku itu ada di tangan, Reina mengusap-usap buku itu, Ia begitu bahagia mendapatkan buku yang sudah lama diidamkan. Karena harganya mahal Reina tak sanggup membelinya. Setiap kali lewat toko buku , buku itu selalu ada di rak terdepan buku-buku best seller dengan harga yang cukup mahal bagi Reina. Ia tidak percaya buku itu kini ada di tangannya.
“ Terima kasih Tuan muda, ah tidak. Terima kasih Joooooo” Teriak Reina.
Langkah Jo terhenti, lalu menoleh.
“ Itu hadiah karena kau memberiku ini” Reina mengacungkan bukunya sambil tersenyum lebar bahagia. Reina yang begitu bahagia mencium dan memeluk erat buku itu.
Jo hanya diam, lalu Ia tersenyum tipis tapi sayangnya Reina tidak melihatnya karena Jo tersenyum seraya membalikkan badannya dan berlalu.
Di toko, Reina masih mengusap - usap buku pemberian Jo, senyum yang tidak lepas dari bibirnya sepanjang perjalanan pulang sampai dalam toko.
“Wah, buku itu terlihat sangat mahal” Komentar Raya sambil mengelap nampan kue yang sudah kosong.
“Iya buku ini mahal, karena buku ini dibuat oleh chef nomor satu dunia. Ah bahkan sampulnya pun tampak mewah sekali”
“Tapi buku ini tidak seperti buku lama, lihat bahkan masih ada barcode harganya” Raya menunjuk barcode yang tertempel di ujung bawah sampul buku bagian belakang.
“Benar juga, buku ini memang seperti baru dibeli kemarin” Tambah Reina sambil membolak balik bukunya.
“Ah iya mungkin barang apapun yang sudah dibuka itu adalah barang lama untuk Tuan Muda”
“Memang level kita di dasar bumi, sedangkan Ia mungkin di ujung neptunus” Reina menghela nafas, namun kembali fokus pada buku dambaannya.
Flashback sehari sebelumnya.
Jo menghadiri peresmian outlet pastry terbaru milik grupnya, di sana Jo menjadi bagian dari stakeholder untuk bersama menggunting pita. Meskipun di acara resmi penampilan Jo sama seperti biasanya, rambut separuh diikat dan kemeja dengan kancing atas terbuka yang dilapisi dengan jas hitam. Saat MC memanggil namanya untuk maju ke depan, dengan wajah datar Jo melangkah lalu berdiri paling tengah di antara stakeholder lainnya. Ada 5 orang yang berdiri berjajar, tiga laki –laki termasuk Jo dan dua perempuan paruh baya.
Setelah selesai menggunting pita, Jo langsung kembali tanpa melakukan sambutan apapun karena akan diwakili oleh bagian direksi lain. Jo adalah pewaris utama dan pemegang saham terbesar MCV Group yang diwariskan Chairman sebelumnya, meskipun begitu Ia baru bisa memegang kendali secara langsung perusahaan setelah menyelesaikan studinya sesuai dengan surat wasiat yang ditinggalkan Ayahnya. Jo saat ini tercatat sebagai mahasiswa semester akhir, seharusnya sudah lulus tahun ini tapi Jo tidak melanjutkan dan malah mengambil cuti sehingga Ia kehilangan hak nya sebagai pewaris untuk sementara waktu sampai Ia benar-benar menyelesaikan studinya.
Sebelum keluar dari ruangan Jo sempat melihat sebuah buku pastry yang berjajar di meja outlet. Buku itu adalah salah satu doorprize untuk pengunjung yang beruntung di hari peresmian pembukaan outlet baru.
“ Bawakan satu untukku” Jo menunjuk buku itu, lalu berjalan menuju lobby utama. Satu diantara lima orang yang mendampingi Jo mengisyaratkan untuk segera mencarikan buku yang sama. Laki-laki paruh baya yang menjabat sebagai general manager segera menelpon bagian yang bertanggung jawab menyuplai buku itu.
Jo duduk dalam mobil mewahnya, mesin mobil sudah menyala. Saat pintu kaca jendela mobil perlahan menutup, dari kejauhan terlihat sang general manager berlari mendekat ke arah mobilnya membawa buku yang diminta Jo.
“ Ini Tuan, buku yang anda minta” Ucap General Manager berkepala botak dan bertubuh gempal itu dengan nafas terengah-engah, setelah menyerahkan buku Ia membetulkan kacamata bulatnya yang melorot.
Jo menerima buku itu dari jendela mobil yang separuh tertutup. General Manager itupun membungkuk memberi hormat.
Mobilpun melaju, keluar melalui gerbang utama gedung, semakin jauh dan tak terlihat lagi.
Buku itu memang baru, saat melihat buku itu Jovan terpikir untuk memberikannya pada Reina. Ia merasa kalau Reina mempunyai bakat yang bisa dikembangkan.
Begitulah bagaimana Jo mendapatkan buku yang akhirnya menjadi milik Reina.
…….
“Apakah kau ada waktu hari minggu ini?” Tulisnya. Pesan dari Reino.
Reina terdiam, belum membalas. Raya mengintip pesan itu dan ikut membacanya.
“Wah ajakan kencan, kurasa Ia tidak bisa membuang waktu begitu saja” Komentar Raya.
“Apakah benar begitu?”
“Sudah pasti, adikku bilang jika wanita mendapat pertanyaan seperti itu dari seorang laki-laki, tandanya laki-laki itu mengajak kencan” Raya berapi-api meyakinkan Reina.
“Ah, bukankah minggu ini kita sudah berjanji untuk menginap bersama di kosan ku?” Reina teringat janji yang pernah dibuatnya bersama Raya.
“Benarkah? Aku bahkan lupa itu. Tidak apa, kita bisa melakukan itu lain kali, tapi ajakan seperti ini belum tentu ada lagi". Raya meyakinkan.
Reina membalas pesan Reino.
“Hari minggu ini aku libur bekerja dan belum ada rencana” tulis Reina.
Tidak ada jawaban.
Apakah karena aku terlalu lama membalasnya? Tanya Reina dalam hati.
Sudah 10 menit, dan belum ada jawaban. Akhirnya Reina menaruh ponselnya di laci yang berada di bawah meja kasir, tepat sekali ada pelanggan masuk. Reina dan Raya melayani pelanggan yang memesan kue dan teh untuk makan di tempat.
Suasana toko cukup ramai, semua meja penuh terisi dan beberapa orang membeli kue untuk dibawa pulang. Kesibukan membuatnya tak sempat mengecek ponselnya, setelah situasi toko cukup sepi Reina teringat chat yang tadi belum dibalas Reino, setelah melihat kondisi cukup aman Ia mengambil ponselnya dari laci untuk mengecek apakah ada jawaban untuk chatnya tadi.
Ada. Reina tak sabar membuka isi pesannya.
“Ok, jam 5 sore aku akan menjemputmu “ Balas Reino, tertera waktu chat itu diterima satu jam lalu.
Reina segera membalasnya.
“Ya” Tulis Reina singkat, membalas chat Reino.
………….
Dua hari berlalu, aktivitas harian Reina berjalan lancar sebagaimana mestinya. Mengantar coklat pagi hari ke rumah Jo tepat waktu, pulang pada malam hari lalu mengantarkan sisa kue ke tetangga kosan. Kini Reina mempunyai aktivitas tambahan yaitu mempelajari buku tips cake & pastry yang diberikan Jo sebelum tidur, hal itu membuatnya jadi tidur lebih larut. Dua hari yang cukup melelahkan, aktivitas harian yang padat dari pagi hingga lewat tengah malam.
Tanpa terasa sudah hari sabtu, seharusnya besok Reina libur kerja tapi Ia sudah membuat janji untuk bertemu dengan Reino. Janji yang membuatnya tidak bisa memejamkan mata malam ini, bahkan tubuh lelahnya pun tak cukup untuk membuatnya mengantuk. Sudah dua jam Ia hanya berguling guling berganti posisi di tempat tidur dan sesekali membuka ponselnya, membaca baca ulang pesan singkat dari Reino beberapa waktu lalu, dan tersenyum-senyum sendiri dibuatnya.
Terdengar suara motor yang menyala dan pintu gerbang kos yang digeser, hari sudah menjelang subuh beberapa penghuni sudah ada yang mulai berangkat kerja. Reina masih terjaga, mata pandanya kian tampak nyata. Ia terkejut saat melihat wajahnya sendiri di cermin.
“Aduh bagaimana ini? Kenapa aku tidak bisa tidur semalaman?” Reina mencuci dan menggosok wajahnya dengan sabun, membasuhnya dengan air lalu mengeringkannya dengan handuk kecil bergambar awan. Sayangnya hal itu tidak membantu, wajahnya masih tampak kusam, wajah lelah dan kusut karena terjaga semalaman.
Reina menuju dapur kecil di ujung kamarnya, membuka lemari es dan mencari sesuatu yang bisa Ia pakai untuk mengurangi kusam di wajahnya. Hanya ada satu buah mentimun dan tomat. Reina mengirisnya tipis-tipis dan menjadikannya sebagai masker wajah.
“Kuharap ini berhasil” Gumamnya dalam hati. Reina membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil perlahan menempelkan satu demi demi satu irisan tomat dan mentimun di wajahnya.
Drrrrrrt . Ponsel Reina bergetar. Jovan memanggil, tapi Reina tidak mendengarnya karena sejak semalam Reina belum mengganti mode deringnya. Reina masih santai berbaring di tempat tidur dengan masker sayur yang menyelimuti seluruh bagian wajah, sesekali menekan-nekan perlahan wajah dengan kedua telapak tangannya. Rasa dingin dari mentimun dan tomat yang menempel di wajah membuatnya sedikit rilex, perasaan nyaman yang akhirnya tanpa sadar membuat ngantuk. Reinapun tertidur.
Jam sudah menunjukkan pukul 4.30 sore. Reina terperanjat, terbangun dari tidur lelapnya. Ia kaget dan panik melihat hari sudah menjelang sore dan Ia baru terbangun. Ia bergegas ke kamar mandi, membersihkan sisa masker yang menempel di wajahnya lalu mandi dengan secepat kilat.
Setelah selesai mandi, dengan masih berbalut handuk Reina membuka lemari bajunya, Ia bingung baju apa yang sebaiknya dipakai, satu persatu isi lemari terbang ke atas tempat tidur. Akhirnya setelah mencoba mix and match beberapa pasang baju di depan cermin, Reina memutuskan untuk memakai jeans biru dengan kaos rajut polos berwarna pink muda. Selain itu Iapun hanya sempat menguncir kuda rambutnya padahal awalnya Ia ingin me-roll rambut agar tampak sedikit bergelombang, sayangnya waktunya mepet tidak akan sempat. Wajahnyapun hanya dilapisi bedak tipis-tipis dan sedikit liptint pink di bibirnya.
Reina memasukkan ponsel dan dompet ke dalam tas gendong berwarna hitam yang biasa Ia bawa ke toko setiap hari, mengunci pintu kamar kos, bergegas menuruni anak tangga, lalu berjalan ke depan gang menuju ke tempat di mana Reino menunggu. Reina diliputi rasa cemas, khawatir Reino kecewa padanya karena terlambat di hari pertama mereka jalan berdua.
__ADS_1
Di lain tempat Jovan duduk bersandar di sofa mewah yang menghadap ke jendela, Ia mencoba menelpon Reina untuk kedua kalinya, masih tidak ada jawaban. Jovan memandangi ponselnya dengan dahi mengkerut, mulai kesal.
Jovan yang bosan lalu pergi ke basement untuk mengambil motor besarnya yang terparkir di garasi. Di sana berjajar berbagai merek mobil dan motor mewah, Jovan memilih motor besar yang berada di ujung garasi yang luasnya sama dengan kolam renang indoor untuk olimpiade.
Seseorang berteriak memanggil Jo, lelaki berbaju putih dengan celana hitam yang tahun ini berusia 65 tahun. Ia adalah kepala asisten rumah tangga yang merangkap sebagai pengatur jadwal tuannya selama berada di rumah, dengan tergopoh-gopoh Ia berlari ke arah Jo yang sudah duduk di atas motor lengkap dengan helm di kepalanya, Jo bersiap untuk menancap gas.
“Maafkan saya Tuan Muda, tapi setengah jam lagi jadwal anda untuk bertemu dengan penase …”
Belum sempat dia menyelesaikan perkataannya Jo malah menancap gas dan melaju kencang. Laki-laki dengan perawakan kurus dengan rambut ubannya hanya bisa menghela nafas panjang, Ia hanya berdiri melihat tuannya pergi tanpa bisa melakukan apapun. Selang beberapa menit kemudian Ia menelpon penasihat hukum yang dijadwalkan bertemu dengan Jo untuk membatalkan pertemuannya hari ini dan memintanya menjadwalkan ulang pertemuannya dengan tuan muda.
Jo berhenti di depan Toko kue tempat Reina dan Raya bekerja, tokonya tutup sebuah plang bertuliskan closed menggantung di balik pintu kaca toko. Ah, Jo baru ingat toko itu tutup setiap hari minggu. Biasanya Jo mampir ke Toko itu dua atau tiga kali dalam seminggu bersama Pak Tomo pada hari selain minggu, dan baru kali ini Ia memesan satu minggu berturut-turut, membuatnya lupa kalau Toko ini tutup di hari minggu.
“Pantas saja Ia tidak datang hari ini” Gumamnya, lalu memacu kembali motornya menuju cafe yang berada di seberang hotel terbesar di kota itu, yang ternyata masih di bawah naungan MCV grup.
Jam 3 tepat, Reino sudah menunggu di dalam mobilnya. Mereka berjanji untuk bertemu di halte bus yang tidak jauh dari kosan Reina. Reina berlari tergopoh dan nafas terengah, Ia terlalu lama memilih baju tadi, padahal Ia hanya punya waktu 30 menit saja.
Reino melihat Reina yang berlari ke arahnya dari kaca spion mobil. Iapun keluar dari mobil, menyambut Reina dengan senyuman.
Melihat Reino yang berpenampilan sangat rapi membuat Reina sedikit minder, Reino mengenakan celana kanvas berwarna coklat muda, atasan turtleneck hitam dan coat panjang dengan warna coklat tua. Bahkan wangi parfum Reino tercium saat dirinya membuka pintu mobil untuk menyambut kedatangan Reina.
Reino merasakan kecanggungan Reina, dengan senyum Ia membukakan pintu mobil untuk Reina. Sebuah mobil sedan berwarna putih keluaran terbaru dengan interior yang cukup mewah. Reino melajukan kendaraannya. Melihat Reino duduk tepat di sampingnya seharusnya menjadi moment yang menyenangkan, bisa melihat seseorang nyaris sempurna dari jarak begitu dekat. Tapi, suasana yang tercipta malah sebaliknya, Reina tidak bisa menikmati moment itu karena perasaan mindernya yang semakin menjadi. Reina terdiam, pandangannya hanya lurus ke arah depan.
“ Maafkan aku ” Reina merasa malu karena penampilannya tampak biasa saja.
“ Apa aku membuatmu merasa canggung? ” Tanya Reino tanpa melihat ke arah Reina, tetap fokus menyetir.
Reina tidak menjawab, Ia tidak tahu harus menjawab apa.
“ Kurasa aku menanyakan sesuatu yang seharusnya tidak aku tanyakan ”
Reina tersenyum canggung.
Jalanan cukup lengang, tidak banyak kendaraan sore itu, tak berapa lama berkendara Reino berhenti di sebuah Butik, memarkirkan mobilnya dan mengajak Reina masuk.
“Selamat datang, ada yang bisa saya bantu?” Sapa seorang spg wanita menghampiri Reino.
“Tolong carikan yang sesuai untuknya” Ucap Reino.
Reina menatap Reino, tapi SPG tadi langsung membawa Reina ke dalam. Beberapa SPG lain membantu mencarikan pakaian yang pas untuk Reina. Juga mengambilkan beberapa pasang sepatu yang cocok dengan bajunya. Mereka bergantian mencocokan baju dan sepatu yang sesuai dengan bentuk badan dan tinggi badan Reina yang hanya 160cm saja. Pilihan jatuh ke sebuah gaun putih selutut berbahan kain sifon, dan sepatu terbuka berwarna hitam dengan tinggi heels 10 cm.
Reino menunggu di ruang tunggu sambil membaca majalah yang tersedia di meja.
Dengan rambut terurai, Reina keluar dari ruang ganti. Ia berjalan sangat pelan karena tidak terbiasa dengan sepatu hak tinggi. Reino cukup puas dengan pilihan baju yang dipakai Reina.
“Cocok sekali” Puji Reino.
Reina tersipu, mendengar pujian Reino membuatnya lupa akan rasa sakit yang harus Ia tahan karena untuk pertama kalinya memakai sepatu dengan hak setinggi itu.
Reino menuju kasir dan melakukan pembayaran dengan kredit card. Lalu mereka berdua kembali kedalam mobil.
“ Apakah ini tidak berlebihan, bahkan Kakak membelikanku baju di hari pertama kita pergi ” Ucap Reina.
“ Aku suka melakukan itu, dan ku harap kau pun suka memakainya ”
“ Aku suka sekali ” Reina masih tersipu.
“ Aku senang mendengarnya”
Mereka berdua keluar dari toko, Reino keluar lebih dulu lalu diikuti Reina yang berjalan lambat selangkah demi selangkah, Ia berjalan sangat hati-hati khawatir akan tergelincir dan jatuh. Benar saja, baru beberapa langkah keluar dari toko Reina oleng dan hampir terkilir untung saja Reino cekatan dan memegang tangan Reina.
“ Hati-hati, kau tidak apa-apa?” Tanya Reino khawatir.
Reina menggelengkan kepalanya, jantungnya berdebar kencang. Reino memegang tanggannya begitu erat. Pertama kali bagi Reina seseorang menggenggam tangannya seperti itu, bahkan Reino tidak melepaskan tanggannya sampai mereka berdua masuk ke mobil.
Hanya 15 menit perjalanan, mereka sampai di sebuah hotel mewah, hotel yang berada tepat di seberang cafe tempat Jo saat ini berada.
Reino turun dari mobil, memberikan kunci ke petugas valet parking lalu membukakan pintu untuk Reina. Perlakuan istimewa yang baru pertama kali Ia terima selama hidupnya. Mengenakan gaun cantik, menaiki mobil mewah, dan menginjakkan kaki di hotel mewah yang memiliki jaringan internasional.
Reino menuju ke lobby hotel, Reina mengikuti namun Ia masih belum bisa menyesuaikan diri dengan sepatu hak tinggi membuatnya sedikit kesulitan berjalan dan jadi tertinggal jauh. Reino menyadari Reina tertinggal di belakangnya, Ia lalu memperlambat langkahnya agar bisa berjalan bersama.
“Maafkan aku, sepertinya aku belum terbiasa” Keluh Reina.
“Sini” Reino menyodorkan tangannya, Reina sempat ragu untuk memegang tangan Reino tapi Ia membutuhkan itu atau Ia akan terus tertinggal.
Jantung Reina kembali berdegup kencang.
Mereka berdua berjalan menuju lift, lantai 20.
Reino mengajak Reina makan malam di restoran mewah di hotel itu. Hotel dengan interior gaya eropa, bahkan ada live performance seorang pianis dan violinis di sudut restoran. Langi-langit yang begitu tinggi dengan hiasan lampu kristal yang gemerlap menambah kesan mewah nan romantis.
Seorang pelayan datang menghampiri, tepat saat mereka memasuki pintu restauran.
“Selamat datang Tuan dan Nyonya, silakan sebelah sini” Pelayan itu mengantar mereka ke tempat duduk yang sudah Reino pesan sebelumnya, tempat duduk di samping jendela kaca besar yang mengelilingi seluruh ruangan restoran. Dari balik kaca restoran terlihat pemandangan yang begitu memanjakan mata, pemandangan gedung gedung , juga kendaraan sepanjang jalan kota penuh lampu seperti bintang berkelip, Reina begitu takjub dibuatnya.
Berapa harga yang harus dibayar untuk pemandangan malam seindah ini? Batin Reina.
Pelayan wanita berseragam suit berwarna hitam itu membantu menarik bangku untuk Reina. Reina sangat canggung, Ia berusaha keras untuk menguasai dirinya sendiri agar terlihat santai.
Reino membuka buku menu, Reina mengikuti.
“Reina, apa menu yang kau sukai?” Tanya Reino.
“Aku tidak terlalu pilih-pilih, apa saja” Jawab Reina, padahal sebenarnya Ia sama sekali tidak mengerti dengan aneka menu makanan yang tertulis dalam bahasa prancis itu. Dan akhirnya Ia memesan menu yang sama dengan Reino.
Reina tidak bisa melepaskan pandangannya dari Reino, melihat wajahnya secara detil mulai dari rambut yang tertata rapi, dahi, alis hitam, sepasang bola mata indah, juga yang sangat mancung terutama jika dilihat dari samping, kulitnya begitu putih dna halus tanpa cela.
Bagaimana bisa ada sesorang yang memiliki wajah setampan ini, selain wajah yang nyaris mendekati sempurna juga ditunjang dengan tinggi badan dan bentuk tubuh yang proporsional.
Perasaan bahagia menyelimuti hati Reina, sejujurnya Ia masih tidak percaya bisa bertemu lagi dengan seseorang yang Ia fikir tak akan pernah lagi hadir dalam hidupnya, Reina merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia saat ini.
Reina masih menatap Reino yang sedang membaca pesan teks di ponselnya.
Saat Reino mengalihkan pandangannya, mata mereka bertemu. Reina tertangkap basah sedang memperhatikannya sedari tadi. Reina tak sempat mengelak.
“Apakah ada sesuatu di wajahku?” Tanya Reino santai.
“A, tidak. Tidak ada” Jawabnya terbata. Reina yang terlalu gugup lalu mengambil gelas berisi air putih dan meminumnya sekaligus.
“Jadi selama ini kau tinggal bersama orang tua barumu?” Reino membuka topik pembicaraan lain.
“Sebenarnya aku hanya bersama mereka selama sekolah menengah pertama, setelah Ibuku meninggal aku tinggal sendiri di kota. Banyak hal yang terjadi sehingga membuatku harus berpisah dengan Ayah” Jelas Reina.
“Begitukah? Sepertinya kau melewati masa sulit”
“Ya kurasa begitu” Ucap Reina dengan nada canggung.
“Tidak apa, setiap orang memiliki masa sulitnya tersendiri dan harus melewati masa itu”
Reino kembali mengecek ponselnya yang berbunyi, ada beberapa chat dari dokter Monika.
“Kakak, bolehkah aku bertanya sesuatu?”
“Katakanlah” Reino urung membalas chat di ponselnya.
“Waktu itu apakah Kakak benar-benar tak mengenaliku?”
“Waktu itu?” Reino mengingat-ingat beberapa saat
“Ah maksudmu di rumah sakit?”
“Ya” Reina yang penasaran, dengan wajah serius menunggu jawaban dari Reino.
“Awalnya aku terkejut, aku merasa kau bukan orang asing. Butuh beberapa saat sampai aku benar-benar mengingatmu”
“Hmmm Mungkin karena sudah terlalu lama, wajar saja jika Kakak tidak mengenaliku”
“Tidak, bukan itu. Hanya saja kau jadi lebih cantik” Ucap Reino dengan senyumnya yang menawan.
Whaaaaaaat?!! .
Reina tak bisa berkata apa-apa lagi, mendengar pujian dari Reino membuat jiwanya entah terbang kemana. Ia seperti kehilangan kesadaran, kedua kaki Reina tak lagi menyentuh bumi. Mendapat pujian dari seseorang dengan figur seperti Reino adalah sebuah jackpot yang hanya bisa didapatkan dengan kemungkinan satu berbanding satu juta.
Obrolanpun terhenti, Reina masih tertegun tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
Reino disibukkan dengan membalas chat yang berderet di ponselnya.
__ADS_1
Tak berapa lama, sebuah sajian mewah sudah lengkap di atas meja, lalu merekapun menikmati makan malam berdua dengan suasana hangat dan romantis.
Malam ini Reina menjadi Chinderella, segalanya berubah dalam sekejap dengan kekuatan Ibu Peri. Dan Reino adalah Peri di kehidupan nyata bagi Reina.