
Jam berbetuk bulat yang menempel di dinding toko menunjukkan pukul 06.30, pagi ini Reina dan Raya sudah sibuk menata kue yang baru saja diantar oleh bagian produksi. Toko itu memang hanya menjual kue yang sudah jadi, dan untuk produksinya di tempat terpisah, dapur khusus yang hanya pemilik dan beberapa staff saja yang boleh masuk, bahkan Reina dan Raya Pun tidak pernah tahu di mana lokasi dapurnya selama ini mereka hanya bertugas langsung di toko.
Hari ini ada pesanan khusus dari sebuah rumah sakit, pesanan kue untuk acara seminar sehingga Reina dan Raya harus datang lebih pagi untuk menyiapkan toko lebih awal karena mereka harus menyiapkan pesanan khusus setelah itu. Toko buka jam 09.00 pagi, dan mereka hanya punya waktu 2 jam untuk menyiapkan 500 paket sebelum toko buka.
“ Apakah semua kue nya sudah lengkap?” Tanya Reina kepada supir bertubuh kurus dan berkulit gelap yang mengantar kue dari dapur.
“ Ini fakturnya, silakan dicek kembali. Sebelumnya sudah saya cek dan lengkap”. Jawabnya sembari menyodorkan satu lembar kertas faktur berwarna kuning.
“Baiklah, terima kasih” Reina menerima faktur yang langsung Ia selipkan di kantong depan apron.
“Haaah, sebanyak ini?” Raya menatap kotak kotak kue besar yang bertumpuk dan berjajar di depannya.
“ Ayo kita mulai” ajak Reina.
Raya dan Reina mulai merapikan kue pesanan khusus itu, dimulai dengan menata susunan kotak besar sesuai dengan jenisnya, sedangkan Raya menata kotak kardus untuk kue. Reina mengecek kembali jumlah dan jenis kue yang dipesan, ada 5 jenis kue dan 1 botol air mineral untuk setiap paketnya. Supir pengantaran tadi ikut membantu merapikan kotak kotak besar tempat kue yang sudah kosong dari dapur lalu dimasukkan kembali ke dalam mobil khusus pengantaran.
“Seharusnya aku kuliah, dan bekerja di depan komputer” Gerutu Raya.
“Jika kau kuliah, apa jurusan yang akan kau ambil ?” Tanya Reina, disela kesibukan mengisi setiap kotak paket.
“ Karena cita-citaku adalah menjadi orang kaya mungkin aku akan mengambil jurusan bisnis” Ucap Raya berapi-api.
“ Hmm, cita-cita” Reina tertegun sejenak, tak lama lalu melanjutkan kembali pekerjaannya. Raya melihat perubahan raut wajah temannya itu, membuatnya jadi penasaran.
“ Kenapa?” Tanya Raya.
“ Ah tidak apa-apa, hanya saja kau memiliki cita-cita yang sangat menarik. Berjuanglah suatu hari nanti mungkin kau akan mewujudkannya” Jawab Reina memberi motivasi untuk Raya.
“ Dan bagaimana denganmu?”
“ Aku? Hmm dulu aku punya, tapi kini tidak lagi”
“ Haa? Adakah cita-cita yang seperti itu?” Raya bingung.
“ Aku punya janji, tapi aku tidak bisa menepati janji itu” Ucap Reina sambil memasukka air mineral ke setiap kotak yang sudah terisi kue.
“ Janji?” Raya semakin penasaran.
“Apa kau ingat, saat pertama kali aku menjadi karyawan paruh waktu disini. Aku berkata, aku bekerja disini karena aku punya janji yang harus ditepati”.
Raya mengingat - ingat kembali waktu itu.
“Oh iya, aku ingat ” katanya.
“ 7 tahun lalu, aku pernah berjanji pada seseorang bahwa suatu hari nanti kami akan bertemu lagi, dan ketika saat itu tiba kami sudah mewujudkan cita-cita kami masing-masing”
“ Siapa?” Raya tidak ingat sosok yang disebut Reina.
“ Dia, dia adalah seseorang yang aku kagumi bahkan sejak pertama aku bertemu dengannya. Sejak hari itu aku memutuskan untuk menjadikannya role model, karena itulah aku bekerja keras belajar agar aku bisa sebaik dia, tapi kau lihat sendiri sampai hari ini aku masih di sini, aku merasa semakin jauh dengan mimpiku sendiri” Raut wajah Reina berubah muram.
“ Jadi cita-citamu menjadi seperti dia?” Raya malah bingung, tidak mengerti.
“Kita bicarakan lagi nanti, ayo kita selesaikan ini dulu. Waktu kita tidak banyak” Ajak Reina, karena Ia tahu jika diteruskan akan semakin panjang dan mungkin mereka bisa terlambat menyelesaikan pesanan.
Mereka menyelesaikan pesanan tepat waktu, kue yang sebelumnya dalam kotak besar sudah berpindah ke kotak kue yang terbuat dari kardus sebanyak 500 paket. Reina melihat jam di dinding toko, jam menunjukkan 8.30 saatnya mereka mengantar pesanan karena pesanan cukup banyak hari ini pesanan dibantu antar oleh supir dari dapur.
“ Rumah sakit Mitra yang di dekat persimpangan itukah?” Tanya Reina mengecek kembali alamat yang dikirimkan oleh pemesan kue.
“ Rumah sakit besar di sekitar sini hanya itu kurasa” Jawabnya sambil tetap fokus menyetir.
Rumah sakit itu sudah terlihat, terpampang nama rumah sakit di depan gerbang utama. Disana tertulis Rumah Sakit Mitra Pusat. Mobil masuk melalui gerbang belakang khusus untuk mobil pengantaran dan mobil operasional rumah sakit, gerbang utama hanya untuk pasien atau tamu yang datang.
Sesampainya di parkiran, Raya, Reina dan dibantu oleh supir bergegas mengeluarkan paket lalu ditata satu per satudi atas troli. Setelah jumlahnya sesuai lalu mereka berdua bergegas menuju lift yang berada di pintu masuk sebelah kanan. Supir menunggu di parkiran , Reina dan Raya yang bergantian mendorong paket ke dalam lift barang. Raya menekan tombol lift, mereka menuju ke lantai 5.
Sesampainya di lantai 5.
“ Disini tertulis ruang seminar ballroom lantai 5, mungkin pintu yang besar itu” Tunjuk Reina sambil melihat catatan kecil yang dibawanya.
“ Ya, sepertinya memang itu. Aku tidak melihat pintu lain disini” Raya mendorong troli mengikuti Reina yang berjalan di depannya.
Pintu ballroom terbuka lebar, Reina menjulurkan kepalanya dari balik pintu untuk memastikan Ia di ruangan yang benar. Setelah dia cukup yakin tidak salah ruangan, Reina membantu Raya mendorong troli dan mereka masuk bersama.
Ballroom yang sangat besar dan mewah, di sana kursi peserta seminar sudah berjajar rapi, begitupun dengan meja pembicara di depan sudah tertata sedemikian rupa. Atmosfer yang sangat berbeda, seketika Reina merasa kagum, namun jauh dalam lubuk hatinya Ia merasa begitu kecil dalam ruangan itu.
“ Beruntung sekali “ gumam Reina pelan.
“Hmmm? “ Raya menanggapi gumaman Reina, namun sebenarnya Ia tidak mendengar jelas apa yang Reina ucapkan.
“ Ah tidak apa-apa” Jawabnya singkat, sambil terus mendorong troli ke arah meja depan.
Di sana terlihat seorang wanita muda dengan jas putih, tampaknya seorang dokter. Wanita itu sedang sibuk mengecek mic, berulang kali mengatakan “cek, cek, test, test”
Reina berjalan mendekat menghampirinya.
__ADS_1
“ Permisi, dengan Dokter Monika? Tanya Reina kepada wanita yang menghadap slide proyektor yang berisi materi seminar. Mendengar seseorang menyebut namanya seketika wanita itu berbalik. Melihat Reina dan Raya yang memakai seragam, dokter berkacamata kotak itu sudah bisa menebak mereka berdua dari toko kue yang dipesannya.
" Dari Toko Kue?” Tanyanya ramah disertai senyum tipis. Dokter monika memiliki bentuk wajah oval, kulit wajahnya tampak putih dan halus, dibalik kacamata terlihat bulumatanya yangat lentik, membuat wajahnya terlihat semakin cantik. Dokter berusia 35 tahun itu juga memiliki perawakan tinggi, dengan badan dan wajah seperti itu Dokter Monika sangat cocok menjadi seorang model.
“ Di sini sudah ada 500 kotak, dengan masing-masing 5 kue dan 1 botol air mineral sesuai pesanan” Reina menyerahkan faktur pesanan kepada Dokter Monika. Dokter Monika mengecek faktur tersebut dengan seksama.
“ Ok, sudah lengkap. Tolong paket - paketnya dipindahkan ke meja yang sebelah sana ya” tunjuk Dokter Monika.
“Baik Dok” Ucap Raya dan Reina bersamaan.
Rambut Dokter Monika tergerai, membuatnya sedikit terganggu lalu Ia mengikat rambut panjang bergelombangnya itu.
Reina diam - diam memperhatikan Dokter Monika, Ia terkagum melihat sosok yang menurutnya sangat sempurna untuk seorang wanita. Standar sempurna wanita ada pada Dokter Monika.
Reina melihat pantulan dirinya pada kaca besar yang menempel di dinding ballroom, Ia menyentuh wajahnya yang tampak sedikit kusam karena lelah, sesaat Ia jadi merasa sedikit minder. Reina menepuk nepuk pipinya, Ia berusaha untuk kembali fokus pada apa yang sedang dikerjakannya.
Reina membantu Raya memindahkan paket dari troli ke atas meja yang berada paling belakang, di sana juga sudah tersedia ratusan tumpukan modul yang akan dibagikan untuk peserta seminar hari ini. Di sampul modul itu tertulis Skin Transplantation Surgery ‘Pembicara 1 : Reino’ . Deg! Melihat nama itu Reina tertegun seketika, hatinya tiba-tiba berdegup kencang.
“Oke kotak terakhir dan semua sudah selesai. Reina, ayo kita segera kembali atau kita bisa terlambat membuka toko” Ajak Raya, namun Reina tidak menjawab.
“ Ah, iya” Reina yang tertegun itu kembali tersadar.
“ Tidak mungkin, hanya kebetulan saja” ucap Reina dalam hati.
Dokter Monika menghampiri.
“ Terimakasih, untuk sisa pembayarannya saya akan menghubungi pemilik toko siang ini”
Reina dan Raya mengangguk lalu permisi keluar dari ruangan.
Sesampainya di depan lift, Reina masih terpikirkan nama pada sampul modul tadi. Ia meyakinkan dirinya kalau itu hanya kebetulan, dan itu pasti nama orang lain. Reino adalah nama anak laki-laki yang ia kagumi sejak kecil itu. Reina mengingat - ingat kembali untuk meyakinkan dugaannya, saat terakhir bertemu 7 tahun lalu Reina berusia 11 tahun dan Reino berusia 16 tahun, berarti saat ini Reino berusia 23 tahun jika Ia menjadi dokter sesuai dengan yang dicita-citakannya seharusnya Reino baru saja lulus dan sedang magang, rasanya tidak mungkin jika nama pembicara yang tertulis di modul itu adalah Reino yang dikenalnya.
Reina terus saja meyakinkan dirinya bahwa dugaannya benar, Ia tidak ingin terus memikirkan nama itu. Hatinya belum siap jika harus bertemu kembali dengannya.
" Hmmph” Reina menarik nafas panjang, lalu menghelanya perlahan hal itu Ia lakukan untuk menenangkan jantungnya yang masih berdegup kencang.
" Lega bukan? “ Raya mengira Reina menarik nafas panjang karena Ia lega pekerjaan ekstra sedari pagi tadi akhirnya selesai.
Reina menatap Raya lalu tersenyum.
Pintu lift terbuka, saat Reina dan Raya masuk ke dalam lift sebelah kanan di saat bersamaan pintu lift kiri terbuka. Reina melangkah masuk dan Raya mengikuti, sebelum masuk Raya sempat menoleh dan melihat seseorang yang keluar dari lift sebelah kiri. Seorang Dokter muda, dengan perawakan tinggi dan sempat tersenyum pada Raya. Di dalam lift Raya tertegun, masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.
Raya tertegun dan terdiam tanpa kata.
" Cubit aku ”
Reinapun mencubit Raya. Aw! Raya menjerit.
“ Ini bukan mimpi” Raya menepuk nepuk pipinya sendiri.
“ Ada apa denganmu? Kau mendadak aneh sekali”
“ Kau tau aku sering bermimpi tentang pangeran berkuda putih, dan hari ini aku bertemu dengan pangeran berjas putih “. Ucap Raya masih dengan ekpresu wajah sebelumnya.
Reina terkikik mendengar perkataan Raya.
“ Aku tidak mengada-ada, tadi saat aku masuk lift aku benar-benar melihat pangeran berjas putih, dan dia tersenyum padaku hampir saja aku pingsan dibuatnya”
“ Kau ini, ada-ada saja. Aku berpikir kau bertemu hantu, kau sampai bersikap aneh begitu, hmm kurasa kau harus mulai berhenti membaca komik komik itu”
Reina tertawa kecil saat Raya masih berceloteh meyakinkan Reina tentang apa yang baru saja Ia lihat adalah nyata bukan khayalan atau mengada-ada. Seketika perasaan Reina yang sempat terganggu dengan nama Reino kembali normal, Raya yang polos dan kadang ceplas-ceplos itu menjadi obat untuk Reina. Karena itulah mereka saling melengkapi selama 3 tahun mereka bersama sejak bekerja part time di toko kue itu.
……..
Saatnya membuka toko, mereka kembali dengan rutinitas pekerjaan di toko seperti biasanya. Untunglah pagi itu tidak terlalu banyak pengunjung, sehingga mereka bisa sambil santai sejenak setelah kerepotan pagi ini.
“Jika setiap hari kita mendapatkan pesanan sebanyak ini, mungkin dalam satu tahun kita bisa ke luar negeri untuk berlibur”. Raya menghentikan kegiatan menyapunya lalu memutar badannya menghadap Reina yang sedang mengelap etalase. “Berlibur ke luar negeri dan menginap satu minggu di rumah sakit”. Canda Reina.
“Ah kau benar, pagi ini saja rasanya tulang belakangku ada yang tertinggal di ballroom tadi Hahahhaah” Raya terbahak.
“ Hahhahaha”
Reina dan Raya tertawa bersama, tawa yang membuat lelah seolah hilang begitu saja.
Saat meraka tertawa terdengar pintu toko terbuka, seseorang dengan tubuh gempal dan kacamata bulat masuk. Reina dan Raya serentak menyapa mengucapkan selamat datang pada orang itu.
" Aku ingin mengambil pesanan” Ucapnya seraya mendekati etalase.
“Sudah memesan sebelumnya Pak? Tanya Reina ramah dengan senyum.
" Ayahku bilang aku tinggal mengambilnya disini”
" Ayah?” Reina bingung, namun Ia berusaha mengingat-ingat beberapa pesan singkat yang masuk ke ponselnya.
__ADS_1
Ah! Reina mengingat pesan singkat semalam, sebelum mandi Ia sempat membaca pesan di ponsel yang ternyata dari Pak Tomo , bahwa besok anaknya yang akan mengambil pesanan.
" Ah, berarti anda adalah Kak Dito?”
“ Benar, darimana kau tahu namaku aku bahkan belum memperkenalkan namaku”
" Saya berhutang banyak pada beliau, mungkin Ayah anda tidak banyak bercerita tentang saya yang pernah sangat terbantu oleh anda dan Pak Tomo”
Reina bergegas membungkus pesanan seperti biasa yang dipesan oleh Pak Tomo.
“Apakah Pak Tomo tidak datang hari ini?” Tanya Reina sambil memasukkan kotak kue ke dalam plastik.
“Ayah sudah berhenti, dan aku menggantikannya mulai hari ini”
“ Oooh, jadi Pak Tomo sudah tidak bekerja lagi?” Raya menghampiri lalu berdiri di samping Reina.
“ Begitulah, karena alasan kesehatannya Ayah memutuskan untuk berhenti sebelum kontraknya berakhir, sebagai gantinya aku yang bertanggung jawab untuk menyelesaikan nya” Ucap Dito menjelaskan kondisi yang terjadi.
Ini adalah kali pertama Reina bertemu secara langsung dengan Dito, selama ini Ia hanya mendengar tentang Dito dari cerita Pak Tomo. Dito adalah anak Pak Tomo, Ia anak yang pemalu, lebih banyak menunduk saat bicara. Selain pemalu Dito seseorang yang mudah berkeringat maka dari itu Ia selalu membawa sapu tangan kemanapun untuk mengelap keringat di dahinya. Dito juga sedikit tidak lancar berbicara, jika dalam kondisi takut, cemas atau tegang, sering kali bicara terbata-bata.
Setelah pesanan sudah siap, Reina menyiapkan total tagihan di mesin kasir. Dito mengambil plastik kue yang diserahkan Reina lalu menuju ke mobilnya yang di parkir di gedung sebelah. Dito mengatakan kalau Tuan mudanya sedang ada meeting dengan rekan bisnisnya di gedung itu karena lokasi toko dan tempat meeting hanya terhalang satu gedung Dito memutuskan untuk sekalian mengambil pesanan kue dari toko. Oleh karena itulah Raya dan Reina tidak mempersiapkan kue seperti biasanya, setiap kali mereka melihat mobil hitam parkir di seberang jalan mereka sudah tahu Pak Tomo akan mengambil pesanan maka Reina atau Raya akan bergegas membungkus kue.
………
Setelah Dito keluar dari toko, Reina dan Raya melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda sebelumnya. Di sela-sela pekerjaannya mengelap kaca etalase Reina jadi teringat pada Pak Tomo orang yang berjasa baginya.
" Pak Tomo adalah orang yang menyelamatkan nyawaku" Ucap Reina, Reina lalu menceritakan cerita tentang bagaimana Ia bisa bertemu dengan Pak Tomo.
Sedari kecil Reina tinggal di panti asuhan, saat usianya 12 tahun sepasang suami istri mengadopsinya. Orang tua baru Reina adalah pembuat tahu, mereka membuka toko kecil di rumah mereka untuk menjual tahu yang mereka buat sendiri.
Dua tahun pertama semua berjalan baik, Reina mendapat orang tua baru yang sangat menyayanginya. Meskipun ekonomi mereka tidak terlalu baik, tapi mereka menyekolahkan Reina di sekolah menengah pertama yang cukup bagus di kota itu. Sayangnya masa - masa indah keluarga baru Reina tidak berlangsung lama. Saat Reina sudah menginjak tahun ketiga sekolah menengah, Ibu asuhnya mulai sering sakit-sakitan. Ibunya mengidap kanker stadium akhir, penyakit yang sebenarnya sudah lama diderita tapi tidak pernah mengatakannya pada siapapun bahkan pada suaminya. Selama 20 tahun pernikahan mereka belum dikaruniai anak, karena tahu hidupnya tidak akan lama lagi lah maka Ia memutuskan untuk mengadopsi anak, merasakan menjadi orang tua setidaknya di sisa hidupnya.
Hanya berselang setelah 6 bulan setelah penyakit Ibunya terbongkar, sang Ibu meninggal dunia. Suaminya yang tidak bisa menerima kenyataan lalu menjadi seperti orang linglung, sering pulang malam dan pulang dalam keadaan mabuk. Terkadang memukuli Reina tanpa alasan, setelah kepergian Ibunya hidup Reina berubah drastis, tidak ada lagi kebahagiaan tidak ada lagi kasih sayang. Meskipun begitu, Reina tetap berusaha bersabar dan bertahan menghadapi perubahan pada Ayahnya. Sampai suatu ketika pada hari kelulusannya, Ayahnya sudah menunggu di depan pintu rumah sambil memegang pisau besar, melihat toko yang hancur berantakan sepertinya sang Ayah baru saja mengamuk. Orang- orang sekitar berkerumun tapi tidak ada yang berani mendekat. Mereka semua mengisyaratkan agar Reina tidak mendekat, tapi Reina tetap nekat menghampiri Ayahnya itu.
“ Kenapa kau di sini?” Dengan muka masam, Ayahnya berteriak pada Reina
“ Ayah, sadarlah kumohon” Bujuk Reina.
“ Aku seharusnya menyusul Ibumu”
“ Pergi, pergi” lanjutnya, sambil mengacungkan pisau ke arah Reina dan warga sekitar yang berkerumun.
Ayah Reina mendorongnya sampai tersungkur. Reina yang ketakutan berusaha untuk bangkit, perlahan berjalan mundur lalu berlari menjauh. Saat Reina tengah berlari Ia bisa mendengar Ayahnya meraung - raung berteriak pada siapapun orang yang mencoba mendekatinya, juga suara benda-benda yang dilempar secara membabi buta.
Reina masih terus berlari, semakin menjauh.
Rintik hujan membasahi tubuhnya, kakinya masih bergetar tapi ia harus tetap berlari untuk mencari tempat berteduh. Reina berhenti di sebuah halte bus yang atapnya lapuk dan bangkunya rusak karena tampaknya sudah lama tidak terpakai. Ia melihat darah menetes diantara rintik air hujan yang jatuh di kakinya, ternyata tetesan darah itu berasal dari tangannya yang terluka diakibatkan oleh lemparan benda yang mengenai lengannya, saat itu rasa takutnya sangat besar sampai Ia tidak menyadari lengannya terluka.
Selang beberapa saat kemudian, sebuah mobil hitam berhenti persis di hadapannya. Seseorang keluar dari dalam mobil sambil membawa payung. Pria paruh baya ini lantas bertanya apa yang terjadi padanya, Ia adalah Pak Tomo.
“ Apa kau baik-baik saja? Tanganmu terluka” Tanya Pak Tomo melihat darah yang menetes dari luka gores di tangan Reina.
Mata polos namun penuh ketakutan itu menatap Pak Tomo, Reina tak berkata apa-apa, dia yang masih syok tiba-tiba menitikkan air mata. Airmata yang menetes bersama air hujan yang membasahi wajahnya.
Dengan mobil Pak Tomo membawa Reina ke sebuah rumah kecil, rumah petak yang hanya memiliki satu kamar. Rumah yang jika dilihat dari barang-barangnya hanya dihuni oleh laki-laki.
“Minumlah, dan tenangkan dirimu di sini” Pak Tomo menyodorkan segelas teh panas.
Reina mengangguk dan meminumnya perlahan. Tangannya yang dingin terkena guyuran hujan masih gemetaran.
“Ini adalah rumahku, aku tinggal bersama anakku. Tapi semenjak aku bercerai dengan Istriku tahun lalu anakku ikut bersama istriku dan dia sekolah menengah di sana. Karena aku tinggal di rumah yang disediakan majikanku rumah ini jadi tidak berpenghuni. Tinggallah di sini , sampai kau dapatkan tempat baru” ujar Pak Tomo mengambilkan baju ganti dari lemari kayu berwarna coklat yang berisi pakaian milik anaknya.
Sejak hari itu Reina tinggal di rumah sederhana milik Pak Tomo, sesekali Ia berkunjung untuk mengisi lemari pendingin dengan makanan siap saji atau mengisi lemari dapur dengan makanan instan lainnya. Karena saat pergi Reina hanya memakai seragam sekolah, Reina tak memiliki pakaian ganti oleh karena itu Pak tomo mengizinkannya untuk memakai baju milik Dito yang usianya hanya satu tahun diatas Reina.
Satu bulan berlalu sejak kejadian itu, Reina memutuskan untuk mencari kerja karena Ia ingin melanjutkan sekolahnya. Saat Reina merapikan tasnya, tidak sengaja Ia menemukan buku tabungan yang terselip di bagian belakang tasnya. Dan ternyata tabungan atas nama dirinya, rupanya selama ini sang Ibu asuh selalu menyisihkan sebagian penghasilannya untuk tabungan Reina. Tidak begitu banyak tapi cukup untuk mendaftar sekolah dan biaya hidup beberapa bulan kedepan.
Saat berpamitan dengan Pak Tomo, Reina menyampaikan terima kasihnya karena secara tidak langsung Pak Tomo yang menyelamatkan nyawanya, dan juga untuk Dito yang sudah meminjamkan semua pakaian dan barangnya selama Ia menumpang tinggal di rumah itu.
Selain meminjamkan tempat tinggal Pak Tomo juga lah yang merekomendasikan Reina untuk bekerja paruh waktu di Toko Kue Tradisional itu. Bulan lalu saat Pak Tomo mengambil pesanan Ia membaca lowongan untuk pekerja paruh waktu.
Begitulah bagaimana Reina mengawali harinya sebagai pelajar menengah atas dan pekerja paruh waktu di Toko Kue.
" PakTomo orang yang sangat baik” Komentar Raya setelah mendengar cerita masa lalu Reina dari awal diadopsi hingga akhirnya sampai di sini dan bertemu Raya sebagai rekan kerjanya kini.
“Ya, beliau penyelamat hidupku. Nanti pada hari libur aku akan berkunjung ke rumahnya untuk melihat kondisinya. Kuharap dia baik-baik saja”
“ Lalu, bagaimana dengan Ayah angkat mu?” Raya penasaran.
“ Kau tau kenapa pada minggu keempat setiap bulannya aku tidak pernah bisa pergi keluar bersamamu atau pergi ke tempat lainnya? Sebenarnya aku mengunjungi Ayahku. Aku tidak pernah bertemu dengannya secara langsung, Aku selalu melihatnya dari jauh. Aku hanya ingin memastikan kondisinya baik-baik saja, walau bagaimanapun Ia adalah Ayah yang pernah begitu tulus menyayangiku”
Ternyata selama 3 tahun ini Reina juga selalu menyisihkan sebagian upah dari bekerja untuk mengunjungi Ayahnya, dan menitipkan uang kepada tetangga Ayahnya tanpa pernah memberi tahu kalau itu uang darinya. Reina tahu sejak kepergian Ibunya, Ayahnya tak lagi membuka toko dan untuk menyambung hidup hanya mengandalkan belas kasihan dari warga sekitar. Dengan kondisi psikis tidak stabil yang Ia derita , tidak ada yang bersedia mempekerjakannya karena suatu ketika bisa berubah brutal tak terkendali.
Kesulitan hidup yang Reina hadapi, membuatnya melupakan apa yang pernah Ia janjikan, janji untuk menggapai cita-citanya ketika suatu hari nanti bertemu kembali dengan orang yang Ia kagumi, Reino.
__ADS_1
Di luar hujan rintik seperti kemarin, tapi suasana hati Reina sedang tidak begitu baik karena Ia harus mengingat masa sulit yang pernah dilaluinya. Irama hujan yang mendayu-dayu seolah membawanya larut dalam kesedihan. Hujan hari ini seolah menyanyikan lagu kepedihan untuknya.