
Hari baru dengan semangat baru, Reina bertekad untuk menyelesaikan kesulitan yang menggangunya akhir-akhir ini.
Jam 09.00 tepat Reina sudah mendapat telepon dari Jovan, kali ini Ia harus mengantarkan kue ke kolam renang. Tanpa membuang waktu, Reina bergegas berganti pakaian, memakai seragam lengkap dengan celana training hitam bergaris putih. Dengan sigap Reina menata kue dari kotak besar ke dalam etalase, lalu mengelap kaca etalase, merapikan meja kasir, menyapu dan mengepel lantai semua itu dilakukannya dengan begitu cepat.
Raya terperangah melihat Reina yang mengganti pakaian, lalu melakukan pekerjaan rutin pagi di toko dan memasukkan kue pesanan ke dalam kotak secepat kilat.
“Aku berangkat”. Reina berlari keluar, lalu menancap gas skuternya.
“Hati-hati di jalan”. Raya melambaikan tangan dari balik pintu kaca, tapi Reina sudah melaju cukup jauh.
Raya heran tapi juga senang melihat Reina yang begitu bersemangat.
Di rumah Jovan.
Jo sedang menikmati renang di pagi hari, kolam renang yang sangat besar dan luas hanya Ia sendiri di sana.
Reina sampai dalam waktu 30 menit saja, biasanya sampai satu jam lebih karena setidaknya Ia harus berputar-putar mencari ruangan selama lebih dari setengah jam. Sebelumnya, dalam perjalanan dari toko menuju ke rumah Jo Reina sempat menelpon Dito, Reina menanyakan di mana letak kolam renang. Reina menghafal apa yang dikatakan Dito. Selain itu Ia juga mengingat -ingat kembali rute lorong dan pintu ruangan yang kemarin pernah dilewatinya.
Dengan semangat yang membara, Reina bertekad untuk ‘mengalahkan’ Tuan Muda itu kali ini, Ia sangat yakin kali ini tidak terlambat.
Reina melihat Jo yang masih berenang, Ia meluncur ke arah Reina berdiri.
Jo keluar dari dari kolam renang, tanpa melihat ke arah Reina Ia berjalan ke tempat handuk dan robe nya yang sudah rapi tersedia. Tubuhnya basah, air kolam menyelimuti seluruh bagian tubuhnya. Jovan memiliki postur yang nyaris sempurna, dengan tinggi 180cm bahkan dengan hanya dengan balutan bath robe saja Ia tampak menawan, selain itu rambutnya yang terurai karena basah turut menambah kesan seksi. Reina mendapat pemandangan yang langka untuk kedua kalinya, setelah sebelumnya melihat Jo yang memainkan piano dari jarak yang cukup dekat. (What lucky flea she is!)
Jo meraih handuk yang menggantung di tiang sisi kolam lalu menaruhnya di kepala, sesekali menggosok-gosok rambutnya dengan handuk.
Jo menatap tajam ke arah Reina.
“ Kau terla … “
Reina memotong perkataan Jo, dengan menunjuk jam di tangannya sebagai isyarat kalau Ia datang tepat waktu.
Jo mengambil plastik yang dibawa Reina. Lalu berjalan melewatinya. Hanya beberapa langkah Ia tiba-tiba berhenti, berbalik dan memberikan isyarat dengan telunjuknya agar Reina mengikutinya.
Reina sempat terdiam namun perlahan mengikuti Jo, mereka berjalan beriringan dalam diam.
Jo sampai di ruangan kerjanya, tempat pertama kali Reina mengantarkan pesanan. Ruangan kerja yang ternyata terhubung dengan kamar tidur. Reina masih mengikuti tepat di belakang. Saat hendak masuk kamar tidur, Jo menghentikan langkahnya dan menatap Reina. Reina mengerti kalau Ia memintanya untuk tidak ikut ke dalam, Jo akan berganti pakaian.
Sambil menunggu mata Reina menyapu setiap sudut ruangan, ruangan yang sangat besar ini hanya sebuah kamar tidur. Ruangan yang luasnya 5 kali rumah Raya yang diisi oleh 9 anggota keluarganya. Dua dunia berbeda yang disaksikan Reina.
Tak berapa lama Jo kembali, butuh waktu 15 menit untuk Jo membilas badan dan berganti pakaiaan. Saat keluar dari kamarnya Jo sudah berapakaian, masih dengan style sebelumnya kemeja bermotif garis yang dipadukan dengan jeans biru robek dibagian paha dan lutut.
Mata Reina masih asyik melihat-lihat saat Jo berjalan keluar dari ruangannya, menyadari itu Reina bergegas mengekor dibelakangnya. Namun kali ini jarak mereka saat berjalan lebih dekat. Meskipun begitu Jo tidak menyuruhnya untuk mundur, dan membiarkan Reina berjalan dengan jarak sedekat itu.
Selama ini hanya Pak Tomo yang berani berjalan beriringan dengan Jo, bahkan Dito yang sekarang jadi supir pribadinya saja masih menjaga jarak agak jauh dengannya. Seluruh pegawai di rumah itu tidak satupun berani melihat wajah Jo secara langsung, setiap kali Jo lewat mereka seketika membungkukkan badan dan menundukkan kepala.
Pada awalnya Reina sangat takut pada Jo, tapi entah kenapa hari ini Ia merasa beban dan rasa takut yang menghantui nya sedikit memudar. Perasaan ringan yang dirasakannya hari ini datang begitu saja, membuatnya melangkah tanpa rasa was-was saat berada di rumah Jo. Rumah dengan atmosfer yang sangat berat bagi orang-orang dari dunia yang berbeda seperti Reina.
Reina masih mengikuti Jo. Dalam hatinya bertanya- tanya kemana Ia akan dibawa pergi, karena sepanjang perjalanan Jo hanya diam tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya.
Setelah melewati beberapa lorong dan menuruni dua tangga mereka sampai di sebuah dapur yang berada di basement.
Dapur yang sangat besar tapi tampaknya sudah tidak terpakai, meskipun begitu peralatannya masih sangat lengkap dan terawat dengan baik. Dilihat dari peralatannya bisa dipastikan hanya digunakan khusus untuk membuat kue, bukan untuk memasak. Di ujung meja yang terbuat dari stainless masih tersimpan beberapa karton coklat, susu bubuk, dan 3 karung tepung terigu yang salah satunya sudah terbuka. Dilihat dari warnanya semua bahan bahan ini sudah kadaluarsa.
“Sayang sekali dapur ini sepertinya tidak lagi dipakai” Batin Reina.
Jo mengambil sebuah kocokan telur, dari salah satu lemari yang berada di samping oven besar.
“Ini”
Jo menyerahkan kocokan telur stainless dengan gagang kayu itu padanya, Reina menerimanya dengan ekspresi bingung.
“Apa ini” Tanya Reina, sambil terus saja memandangi kocokan telur yang dipegangnya.
" Kocokan telur” Jawabnya datar.
“ Aku tahu itu, tapi untuk apa kocokan telur ini?”
“ Hadiah”
“Hadiah?” Reina semakin bingung.
“ Karena kau tidak terlambat hari ini” lanjut Jovan masih dengan nada dan wajah datar.
Mendengar itu Reina terkejut, perasaan terkejut yang bercampur-campur. Reina tidak menyangka akan mendapat sebuah hadiah karena hal itu, terlebih lagi hadiahnya adalah sebuah kocokan telur, kocokan telur bekas pakai. Perasaan kaget, heran, dan bahagia yang beradu bersamaan.
Reina dan Jo saling diam, Reina mendadak merasa canggung, suasana seketika hening.
“ Tidak terlalu enak, tapi tidak buruk. Kau hanya perlu berlatih”. Ucap Jo memecah keheningan.
" Hmmm?” Reina tidak mengerti maksud perkataan Jo.
" Aku memakan kue yang bentuknya aneh, sedikit gosong, dan rasanya juga tidak biasa. Pak Tomo bilang itu buatanmu”
Reina semakin terkejut, jadi yang Jo maksud itu adalah kue buatannya yang beberapa waktu lalu pernah Reina berikan sebagai hadiah untuk Pak Tomo. Ternyata Jo juga mencobanya.
“ Jadi dia memberikanku kocokan telur ini agar aku…….?” Reina tidak menyangka Jo memberikan sebuah hadiah dengan makna yang begitu besar baginya. Membangkitkan kembali cita-cita Reina yang telah lama tenggelam dan kian terlupakan. Reina yang sedari kecil senang melihat kue-kue cantik yang berjajar di etalase toko, namun tidak pernah bisa mencobanya - saat itu Reina hanya bisa melihatnya dari kejauhan atau dari balik kaca toko.
Ingatan Reina menjelajah ke masa lalu.
Reina yang berusia 8 tahun, bersama dengan teman-teman dari panti asuhan yang usianya tidak jauh berbeda dengannya diajak oleh pengasuh panti untuk menghadiri sebuah acara pernikahan. Acara pernikahan yang sekaligus acara amal, oleh karena itu mereka mengundang anak-anak dari panti asuhan untuk menghadiri acara tersebut.
Acara pernikahan yang sangat meriah, dihadiri ratusan anak dari berbagai panti asuhan di daerah itu. Semua anak begitu bersemangat melihat banyak kado yang berjajar di pojok ruangan mereka berlarian dan berkumpul di sana, tapi mata kecil Reina justru tertuju pada kue-kue yang berjajar rapi di atas meja, kue coklat dengan berbagai bentuk dan warna menarik perhatiannya.
Reina berjalan mendekati meja, melihat satu persatu kue dari dekat.
__ADS_1
Seorang petugas katering yang bertugas menghampiri Reina. Reina terkejut, Ia berpikir wanita itu akan memarahinya karena melihat kue-kue terlalu dekat.
Wanita itu berlutut di hadapan Reina agar tingginya sejajar dengannya.
Dengan senyum di wajahnya wanita itu bertanya.
“ Mau kue ini?” Wanita itu memberikan kue coklat topping cream putih dengan satu buah strawberry di atasnya.
Reina mengangguk, lalu menerima kue itu dengan senyum mengembang.
" Kenapa tidak bergabung dengan teman yang lainnya? Bukankah menyenangkan mendapat salah satu kado di ujung sana?” Tanyanya.
Reina menoleh ke belakang, melihat anak-anak lain yang sibuk dengan kadonya masing-masing. Reina kembali menatap wanita itu , lalu menggelengkan kepalanya.
“Apakah Kakak yang membuat kue-kue ini?” Tanya Reina.
“Iya, aku dan teman-temanku yang membuatnya” Jawabnya dengan sangat ramah.
" Kue yang mana yang dibuat oleh Kakak?”
“ Ini, kue yang kamu pegang ini adalah buatanku”
" Cantik sekali, aku tidak berani memakannya”
" Begitukah?Aku senang sekali mendengarnya”
Wanita yang mengikat rambut panjangnya itu kemudian mendekatkan wajahnya ke telinga Reina, Ia bermaksud untuk berbicara dengan sedikit berbisik pada Reina.
“Kamu tahu? Pagi tadi sebelum aku berangkat kerja, kekasihku melamarku. Hari ini adalah hari yang paling membahagiakan, dan lihat hasilnya aku membuat kue yang cantik ini”. Bisiknya.
Kedua bola mata Reina membulat. Ekspresi anak kecil yang senang dan penasaran.
Wanita itu lalu berdiri, tapi agak membungkukkan badannya.
“Membuat kue itu tidak hanya mengaduk adonan terigu dan coklat saja, tapi ada perasaan pembuatnya yang ikut tercampur di dalamnya. Dengan kata lain kamu bisa mengekspresikan perasaan melalui sebuah kue yang kamu buat”
Petugas yang lain memanggil wanita itu untuk meminta bantuaan. Ia bersiap pergi, Ia mencubit hidung Reina sebelum berlalu.
Reina melihat kue yang dipegangnya, memperhatikannya dengan detail dari ujung strawberry sampai ujung kertas yang melapisi bagian bawah kue coklatnya. Reina bisa merasakan kebahagiaan wanita berseragam koki tadi dengan hanya melihat kue dihadapannya.
Keesokan harinyaa setelah acara itu, Reina mengumpulkan tugas menulisnya kepada pengasuh. Ia datang ke kelas lebih awal dari biasanya. Ibu pengasuh menerima kertas yang berisi tugas yang diberikan beberapa hari yang lalu..
Tugas menuliskan cita-cita, dan Reina menulis
Cita-citaku adalah : Menjadi pembuat kue.
……..
Sore hari di toko.
Secangkir teh dan kopi panas menjadi teman kue di atas meja. Mereka berdua begitu santai bercengkrama menikmati suasana sore yang hangat.
Kriiing!!! Telepon toko berdering. Reina mengangkat gagang telepon.
" Toko kue tradisional”
“ Dengan Monika dari Rumah Sakit Mitra, waktu itu pesan paket kue untuk seminar”
Reina mengingat-ingat sejenak. Ah! Reina ingat, Dokter cantik berkacamata.
" Ya Ibu Dokter, ada yang bisa kami bantu?”
" Ah iya sebelumnya saya ingin mengucapkan terima kasih, para peserta dan panitia sangat suka dengan kue yang kalian kirim kemarin”.
“Syukurlah, kami sangat senang mendengarnya”.
Raya mendekati Reina yang sedang menerima telepon. Ekspresi sumringah Reina membuatnya penasaran siapa yang bicara dengannya. Raya bahkan menempelkan telinganya ke gagang telepon yang sedang dipegang Reina.
" Siapa .. siapa ..?” Bisik Raya.
Reina menaruh telunjuknya di mulut mengisyaratkan Raya untuk diam dan tidak membuat suara. Raya menutup mulut dengan kedua tangannya namun tetap sambil menguping.
“ Besok tolong kirimkan jenis kue yang sama masing-masing jumlahnya 20 pcs, pakai kotak besar saja tidak perlu dipisah-pisah seperti kemarin”
" Baik, untuk pengantaran jam berapa Dok?”
“ Jam istirahat saja, bertemu dengan saya di ruang cardiology lantai 2”
“ Baik, besok akan saya antar jam 11.30”
“ Ok, untuk pembayarannya akan langsung saya transfer ke pemilik seperti sebelumnya”
" Baik Dok, terima kasih”
" Ok ” Tutup Monika.
Tuuut..Tuuut Sambungan telepon putus.
“ Jadi besok kita akan mengantarkan lagi ke rumah sakit kemarin?” Tanya Raya bersemangat.
" Iya, tapi pengantarannya siang. Jadi kita tidak bisa pergi berdua, karena salah satu dari kita harus ada yang menjaga toko.” Jelas Reina.
“ Aku saja yang mengantar, siapa tau aku beruntung dan bertemu lagi dengan pangeran berjas putih itu lagi”.
“ Oh ya, bukankah besok kau ada janji dengan seseorang?”
" Ahhh, betul juga. Ish kenapa waktunya harus bersamaan. Haruskah aku membatalkannya ” Gerutunya.
__ADS_1
Raya membeli sesuatu secara online, dan membuat janji dengan penjualnya untuk bertemu di toko saat jam makan siang.
" Mungkin saja pangeran berjas putih itu hanya peserta seminar dan bukan dokter tetap disana”
“ Ah benar juga, kalau begitu aku tidak perlu memikirkannya lagi "
Raya sangat polos, baru saja Ia dibuat pusing oleh dua pilihan yang berat baginya tapi seketika kembali normal begitu saja hanya dengan sebuah alasan yang Reina berikan. Seseorang dengan sifat bebas tanpa berpikiran berat terhadap masalah apapun, Reina mengagumi karakter bebas tanpa beban yang dimiliki Raya.
……………
Hari berlalu begitu cepat, Reina sudah sampai di kamar kosnya.
Sebelum tidur Reina selalu menyempatkan untuk mandi. Dengan kaos pendek polos dan celana training panjang Reina mendekati mejanya. Kepalanya dibalut handuk, rambutnya masih basah. Reina memutuskan untuk duduk sembari menunggu rambutnya kering.
Reina melihat kalender yang ada di atas meja.
Tiba-tiba Ia terpikir untuk mencatat sesuatu. Reina menulis menggunakan spidol kecil dengan tinta merah. Membuat lingkaran pada tanggal hari ini, lalu menambahkan catatan : Kocokan telur
Reina tersenyum sangat manis saat menuliskan catatan itu, terbersit sosok Jovan dibenaknya.
…….
Keesokan harinya.
Di rumah sakit pukul 11.45 Reina sudah sampai di lantai 2, tadi Ia berangkat pukul 11.30 dari toko. Hanya membutuhkan waktu 15 menit untuk sampai ke Rumah sakit dengan skuter, Reina masih punya cukup waktu sampai jam istirahat siang. Reina menenteng 5 kotak kue sambil menyusuri lorong rumah sakit, membaca satu persatu nama ruangan yang tertempel di samping pintu masing-masing ruangan yang dilewatinya.
Ruang kardiologi, ah ini dia. Gumamnya.
Tok Tok ! Reina mengetuk pintu, membuka pintu perlahan lalu melangkah memasuki ruangan itu.
“Toko kue tra ..” Perkataan Reina terhenti saat Ia melihat sosok laki-laki yang sedang duduk di atas meja kerja sambil membaca print out yang ada di tangannya , matanya melihat setiap baris dengan detil dan seksama. Begitu serius sampai tak menyadari seseorang masuk ke ruangannya.
Seorang dokter muda, dokter yang dilihat oleh Raya beberapa waktu lalu di depan pintu lift. Ini pertemuan pertama Reina dengannya, tapi wajahnya seolah tidak asing baginya. Ia adalah Reino, Reina yakin itu adalah Reino. Orang yang sangat dirindukannya selama ini, dan kini orang itu ada di hadapannya.
Reina berdiri terpaku, terdiam tanpa kata.
Beberapa saat kemudian Reino menyadari seseorang memperhatikannya, lalu Ia menoleh. Deg! mata mereka bertemu, untuk beberapa saat mereka saling menatap. Saat itu jantung Reina berdegup semakin kencang, Ia tak tahu harus menunjukkan ekspresi wajah seperti apa.
Reino tersenyum pada Reina, senyuman yang biasa Ia berikan pada rekan kerja atau pasiennya. Wajah ramahnya tidak menunjukkan raut wajah terkejut sedikitpun ,bukan raut wajah dari seseorang yang baru bertemu lagi dengan orang yang pernah Ia kenal di masa lalu.
Dokter Monika muncul, membawa secangkir kopi panas lalu meminumnya sedikit.
“Kau sudah sampai?” Sapa Monika.
Reina dengan segera berusaha menata kembali hatinya.
“I..iya” Reina terbata, Ia masih belum bisa mengendalikan perasaan sepenuhnya.
“Aku memesan kue yang kemarin. Professor suka sekali, aku pikir beliau akan senang jika meeting sore ini ada kue yang disukainya” Jelas Monika pada Reino yang kini sudah duduk di kursi kerjanya yang membelakangi Reina.
“Kau memang ahlinya mengambil hati Professor” ucapnya sambil melanjutkan membaca, dan sesekali menandai beberapa bagian print out dengan pena yang Ia ambil dari saku jas putihnya.
Reina meletakkan kotak kue diatas meja tamu. Lalu pamit undur diri.
" Dokter, saya letakkan disini ya” Ucap Reina.
“ Ok, terima kasih. Ah ngomong-ngomong siapa namamu? Ini kedua kalinya kita bertemu tapi aku belum tau namamu.
" Reina, nama saya Reina".
Reino sempat menghentikan coretan yang Ia buat, disaat bersamaan Reina melangkahkan kaki keluar dari ruangan.
Reina berjalan menyusuri lorong yang sama, namun dengan perasaan yang berbeda. Kakinya terasa melayang, seolah tak dapat merasakan kakinya sendiri. Perasaannya campur aduk, Ia bahkan tidak tahu harus senang atau sedih saat itu.
"Apakah Ia tak lagi mengenaliku?, atau aku salah mengenalinya?. Mungkinkah hanya orang yang mirip dengannya? Tapi Ia memiliki nama yang sama, apakah ada kebetulan yang seperti itu? Aku yakin tak salah mengenali wajahnya, bahkan namanyapun sama. Tapi kenapa hanya aku yang mengenalinya?"
Sebelumnya Reina sempat membaca nama Reino terbordir di jas putih yang dikenakannya.
Isi kepalanya dipenuhi dengan tanda tanya besar.
"Apa yang harus aku lakukan?" Kaki Reina terasa lemas, seolah seluruh tenaganya hilang.
Reina menuruni anak tangga dengan langkah sangat pelan, Ia hendak turun ke lantai 1. Setelah menuruni separuh anak tangga langkahnya terhenti.
"Reina!" Seseorang memanggilnya.
Terdengar suara langkah kaki yang berlari, suaranya semakin dekat. Seseorang muncul dibalik dinding tangga. Reino.
Reina berbalik, mereka saling menatap. Reino tersenyum padanya, tanpa Ia sadari matanya mulai berkaca-kaca.
…….
Reina mengendarai skuter menuju toko, dengan senyum mengembang Ia menerobos hujan yang mengguyur kota. Hatinya diliputi kebahagiaan, kebahagiaan yang sama yang pernah Ia rasakan waktu dulu.
Alunan hujan kali ini membawanya kembali pada kenangannya masa itu, saat Reino memboncengnya pulang dengan sepeda kala hujan.
Bunyi rintik, dan deru angin yang menyatu dengan alunan suara hujan, membawanya kembali ke masa lalu.
" Kak, siapa orang yang paling Kakak sukai di dunia ini?"
" Hmmm, seseorang. Nanti jika waktunya tiba aku akan memberitahumu"
Reina dan Reino duduk di atas sepeda yang melaju membelah hujan di suatu sore kala itu.
__ADS_1