
Semua memandang enam orang yang baru saja berjalan memasuki klub secara berpasang-pasangan. Bagian depan ada Yuki dan Yogi yang terus nempel dan bermesra-mesraan, di tengah ada Ayyara dan Fanan yang terlihat malu-malu, sementara di belakang ada Fasa dan Aldi yang tampak bermusuhan.
"Liat tuh siapa yang datang."
"Gila, si playboy sama siapa tuh, ceweknya keliatan genit banget, cocok lah mereka berdua."
"Wow! Itu bukannya cewek yang suka nyari gara-gara sama Ketos? Bisa-bisanya dia dateng bareng sama Waketos."
"Cewek yang di belakang parah banget anjir. Liat tuh mukanya Aldi, gue yakin tu cewek udah bikin moodnya rusak."
"Iya, padahal kalo ke party gini dia yang paling semangat, tapi mukanya sekarang keliatan kesel gitu."
Tak lama semua orang kembali melihat ke arah pintu, di mana orang berpengaruh di Royal School telah tiba. Seorang gadis datang bersama dua pengawal di belakangnya serta seorang laki-laki tampan yang tak lepas dari gandengannya.
"OMG, Queen!"
"Foto, woi, foto! Momen langka gandengan sama Agra tuh."
"Queen gue cantik banget."
"Couple terpanas, sih, ini."
"Jangan ngalangin jalan Queen, bego!"
Melihat orang-orang yang semakin mendekat dan menutup jalan untuk mengambil potret Queen dan Agra, kedua pengawal maju membelah kerumunan agar bosnya bisa lewat.
Fasa melirik Aldi yang tak lepas memandang Queen sejak gadis itu memasuki klub tempat diadakannya party.
"Kedip lo, jangan sampe ngancurin ni party karna tiba-tiba kesambet," sentak Fasa lalu melangkah menuju bar. Ia gerah berada di kerumunan orang-orang penjilat.
Dengan asal gadis itu memilih minuman yang tak seharusnya ia minta karena kadar alkoholnya yang terlalu tinggi.
Tak!
Gelas yang sudah berada digenggamannya tiba-tiba direbut dan dihabiskan tanpa seizinnya. Fasa menoleh dengan perkataan kasar yang sudah siap keluar dari bibir merahnya, namun ia tahan.
Fasa memerhatikan wajah Aldi yang terlihat sangat tidak bisa diganggu. Berbeda dengan tadi, walaupun tanpa ekspresi, tetapi ia masih berani untuk melawannya, sekarang tidak.
Aldi menarik kursi di sebelah Fasa untuk ia duduki. Tanpa minat ia melirik sekilas gadis itu. "Cih, gadis kampungan," gumamnya.
__ADS_1
Fasa membelalakkan mata tidak percaya, dengan kasar ia menarik rambut Aldi, hingga laki-laki itu mendongak kesakitan. "Lepasin tangan lo dari rambut gue!" desis Aldi.
Fasa tersadar, ia langsung melepaskan rambut laki-laki itu, lalu berpura-pura tidak melakukan apa-apa.
"Tangan lo itu ya, kurang ajar banget." Aldi memegangi kepalanya yang berdenyut akibat jambakan tak tanggung-tanggung dari gadis bar-bar di sebelahnya.
"Apa bedanya sama mulut lo yang seenaknya ngatain gue kampungan," balas Fasa garang sambil melotot.
"Ngatain lo?" Aldi mendengus. "Ngapain juga gue ngatain cewek kayak lo, ngatain lo itu bakal ngabisin banyak waktu karna banyak yang mau dikatain, paham lo!"
Fasa berdecih, pandangannya beralih pada bartender yang tengah mengelap gelas. "Mas, pesen minuman tadi satu lagi ya, soalnya piaraan saya main rebut aja tadi," ujarnya tersenyum manis pada bartender ganteng di sana.
Sang bartender hanya mengangguk dan sedikit melirik Aldi yang tengah menatap sengit Fasa atas ucapannya barusan. Ia pun kembali menuangkan minuman yang dipesan oleh gadis itu, lalu menyajikannya di hadapannya.
Namun, lagi-lagi Aldi merebut minuman itu dan menghabiskannya dalam sekali teguk. "SETANN!!" pekik Fasa kepalang kesal. Apakah laki-laki itu tidak punya mulut ataukah ia sedang punya masalah dengan bartender itu hingga tidak dapat memesan minumannya sendiri.
"Lo kenapa, sih?" tanya Aldi santai.
"Lo yang kenapa! Ngapain dari tadi terus ngerebut minuman gue?" ucap Fasa berapi-api.
Fasa memundurkan wajahnya ketika Aldi semakin mendekat. Dengan jarak dua ruas jari, mata mereka bertemu dan saling tatap tanpa berkedip, laki-laki itu berkata, "Yang lo pesen itu minuman dengan kadar alkohol yang tinggi, cewek lemah kayak lo bisa-bisa langsung overdosis."
Sementara itu di tempat Ayyara dan Fanan ....
"Yar, lo mau minum apa?" tanya Fanan.
Ayyara tampak berpikir sejenak, ia melihat menara yang tersusun dengan gelas-gelas berisikan berbagai sirup. "Mmm ... gue mau yang merah aja, Kak," jawab gadis itu. Ia tidak tahu rasa minuman yang tersedia di sana, jadi bilang saja warna merah.
"Ok, kalau gitu lo tunggu bentar di sini, gue ke sana ngambil minumannya." Ayyara mengangguk patuh.
Seperginya Fanan, ia hanya bisa diam memandang sekeliling, karena yang datang kebanyakan para senior.
"Ayyara," panggil seseorang dari belakang. Ayyara menoleh, sedikit terkejut melihat siapa yang baru saja menyapanya.
"Kak Agra?"
Queen menatap Ayyara. "Dia siapa, Jay?" tanyanya pada Agra.
Ayyara menurunkan pandangannya, melihat lengan Agra. Sejak tadi gandengan Queen tak lepas darinya, seakan tak ingin laki-laki itu direbut oleh siapapun.
__ADS_1
"Don't call me Bratajaya saat kita nggak di acara formal, Queen," tegur Agra.
"Oh, ok, sorry, baby."
"Dia Ayyara, siswi kelas sepuluh," jawaban Agra untuk pertanyaan Queen yang tertunda.
"Owh, jadi dia junior yang selalu nyari masalah sama cowok gue," ujar Queen dengan tatapan tak suka pada Ayyara.
Ayyara menatap diam kedua orang itu. Kenapa juga Agra membawa gadis itu kehadapannya.
"Lo datang ke sini sama siapa?" tanya Agra.
Gue mau datang sama siapa kek, terserah gue, ngapain lo kepo banget jadi orang, gerutu Ayyara dalam hati.
Ayyara tersenyum. "Eee ... gue datang sama te—"
"Dia datang sama gue," potong Fanan, tangannya langsung merangkul posesif pinggang Ayyara.
"Oh, si jenius," celetuk Queen.
"Oh, ada Queen, sorry, gue nggak liat kalau ada lo. Kabar lo gimana? Udah lama nggak keliatan, gue denger-denger lo abis dioperasi," balas Fanan atas tatapan sinis dan meremehkan gadis yang menggandeng tangan ketuanya.
Queen memaksakan senyumnya. Sialan lo Fanan, lama-lama makin ngelunjak.
"Kabar gue baik, sekarang udah sembuh total, dan makin cantik," balasnya sangat percaya diri.
"Pfftt ...," tawa Ayyara tertahan. Ia tidak menyangka gadis yang diagung-agungkan murid Royal School ternyata se-narsis ini.
Queen menyorot tajam Ayyara. "Apa yang lo ketawain?"
"Ha? Ini ... Kak Fanan, neken ... pinggang gue, jadi geli," ucapnya berbohong. Ayyara dan Fanan saling tatap, diam-diam mereka saling menahan tawa.
"Cih, dasar orang-orang rendahan," sarkasnya sebelum mengajak Agra pergi.
Setelah Queen, Agra, dan para bodyguard nya pergi, Ayyara dan Fanan tak sanggup menahan tawa mereka lagi. "Pfftt ... Hahahahaha!! Kak, serius gue pengen banget ketawa lepas di depan mukanya."
"Gue nggak nyangka, ternyata dia punya sifat kayak gitu," Fanan menimpali. Fanan hanya pernah tiga kali bertemu dengan Queen saat masih jadi junior, dan itu hanya bicara sepatah dua patah kata saja, lalu gadis itu izin untuk berobat dan baru masuk kembali seminggu yang lalu.
...Likenya??...
__ADS_1
...Kasih likenya!!...