The Royal School

The Royal School
Dijemput tiga laki-laki tampan


__ADS_3

Tumpukan baju itu memenuhi single bed Ayyara, gadis itu mengembuskan napas letih. Kedua temannya datang sambil membawa beberapa baju yang untuk dicoba, dan akhirnya ... kamarnya dipenuhi baju mereka di setiap sisinya.


"Yar, menurut lo yang ini gimana? Cocok nggak?" tanya Yuki berdiri membelakangi cermin sambil memegang sebuah gaun berwarna biru laut.


Ayyara memutar bola mata malas, ini sudah kali ke enam Yuki bertanya seperti itu, dan ia belum juga memutuskan akan memakai baju yang mana. "Yar, gue nanyak sama lo, kok diam aja sih?" geram Yuki melihat Ayyara tak kunjung meresponnya.


"Cantik, Ki, cantik, semua baju lo nggak ada yang nggak cantik," balas Ayyara jengah.


"Kalau gue cantik nggak?" timbrung Fasa.


"Baju lo juga cantik kok, Sa."


Fasa berdecak. "Bukan bajunya Yar, tapi guenya!"


"Ooohh ... cantik kok, cantik," balas Ayyara seadanya.


"Kok, lo dari tadi duduk doang sih, Yar, emang udah tau mau pake baju apa?" tanya Yuki.


"Kalau gue juga ikutan milih baju sekarang, ni kamar bakalan jadi kapal pecah. Lagian lo bedua ngapain harus ke kamar gue sih milih bajunya."


"Numpang bentar doang, Yar. Lagian nanti diberesin kok," sahut Fasa dan diangguki oleh Yuki.


"Gue lebih percaya Ipin tumbuh rambut, dari pada lo bedua bakal beresin kamar gue."


"Aduhh ... udah deh, Yar, mendingan sekarang lo cepetan pilih baju karna ini udah jam 5," tutur Fasa masih sibuk memilih-milih pakaiannya.


Ayyara melihat jam, dan ternyata memang sudah menunjukan pukul 5, ia tidak sadar karena sibuk memerhatikan kedua temannya yang begitu heboh memilih pakaian. Astaga! Berarti sudah satu jam mereka berdua memilih baju dan sampai sekarang belum dapat memutuskan akan memakai pakaian yang mana.


Ayyara bangkit dari kasur dan dengan santainya ia berjalan ke lemari lalu mengambil satu gaun yang sudah tergantung rapi di sana. "Milih baju aja kalian satu jam, gimana dandannya nanti." ia berlalu menuju kamar mandi tanpa menghiraukan lagi temannya.


..........

__ADS_1


Di hadapan cermin ia berdiri dengan mengenakan gaun hitam yang begitu menawan di tubuhnya, panjang yang di atas lutut membuat kaki mulusnya terlihat. Rambut terurai, serta makeup yang tipis membuatnya terkesan elegan dan berwibawa.


Ayyara berbalik, menatap jijik kedua temannya yang sedang terperangah di depannya. "Biasa aja muka lo bedua, mau gua sembur, ha?" galaknya.


Yuki menatap tak percaya, matanya membulat dan mulut sedikit terbuka karena takjub. "Yar, serius ini lo? Sumpah cantik banget!," heboh gadis itu sambil menatap Ayyara dari segala sisi.


Ayyara merasa risih dengan Fasa dan Yuki yang tak lepas menatapnya sejak ia selesai berdandan, seperti tidak pernah melihat manusia saja. "Lo bedua kenapa, sih? Nggak pernah liat orang cantik ya?"


"Bukannya nggak pernah Yar, sering malah, apalagi anak sultan di sebelah. Tapi kharisma lo itu beda, walaupun dandanan lo feminin gini, tapi aura yang lo pancarkan serem tau nggak, gue aja serasa mau nunduk sama lo," tukas Fasa.


"Apaan sih, lebay banget, biasa aja kali." Diam-diam Ayyara tersipu malu, ini kali pertama mereka memujinya, terlebih lagi sangat heboh seperti itu.


"Gue jadi nggak sabar ngeliat reaksi orang-orang di party malam ini pas ngeliat lo," ujar Yuki.


"Sama, gue juga." timpal Fasa.


Setelah selesai berkemas, mereka bertiga akhirnya meninggalkan gedung asrama. Saat tiba di gerbang, terlihat mobil mewah terparkir di sana, tiga laki-laki turun dari mobil mewah itu. Tanpa disadari oleh siapa pun, wajah Ayyara berubah tidak senang, tetapi saat orang menoleh padanya, ia langsung tersenyum, menyembunyikan ketidak sukaannya.


"Mimpi apa gue semalam sampai disamperin sama pangeran," sahutnya menatap genit Yogi.


Orang setres ketemu orang setres, batin Ayyara.


Fanan berjalan mendekati Ayyara, dengan tatapan kagum, ia menatap gadis itu dari bawah sampai atas. "Eemm ... ada yang aneh sama penampilan gue, Kak?"


Fanan tersenyum kaku, kenapa juga ia harus memerhatikan Ayyara seperti tadi. "Nggak ada yang aneh, justru keliatan cantik banget di mata gue," sahutnya, membuat Ayyara tersipu malu untuk yang kedua kalinya.


"Bisa, aja sih, Kak." Ayyara memerhatikan ke seliling. "Loh? Fasa mana?" tanyanya.


"Woi! Bisa cepetan nggak sih? Gue udah nggak sabar mau dugem nih?" teriaknya dari dalam mobil.


Sejak kapan tuh anak naik ke mobil?

__ADS_1


Sementara Aldi yang sejak tadi berada di mobil juga heran dengan kedatangan Fasa, gadis itu tadi langsung masuk, lalu duduk di sebelah kemudi tanpa permisi pada orang di sebelehnya.


"Lo kalau masuk permisi kek, apa kek," ujar Aldi.


Fasa menoleh, berpura-pura kaget. "Oh, ada orang ternyata. Sorry ya, gue tadi nggak liat."


Sialan, ni cewek!


setelah semua naik ke mobil, Aldi melajukan mobilnnya menuju tempat party. Jika saja Royal School tidak mencurigakan, mereka akan sangat senang bersekolah di sini. Meskipun tertutup dan seperti tinggal di kota yang terasingkan, tetapi semua fasilitas lengkap seperti kota pada umumnya, bahkan lebih lengkap lagi.


Sejak tadi Fanan terus saja memerhatikan Ayyara yang duduk di sebelahnya, gadis itu benar-benar terlihat cantik, apalagi saat terkena cahaya lampu jalan yang mereka lalui. Saat Ayyara menoleh, Fanan langsung mengalihkan tatapannya, hal itu diperhatikan oleh Yuki yang duduk di belakang bersama Yogi.


Aroma menenangkan menyeruak dari tubuh Ayyara, aroma bunga dengan campuran sedikit wangi strawberry sangat tenang masuk ke dalam indra penciuman Fanan. Sepertinya malam ini ia akan dibuat gila oleh gadis itu.


"Rencananya sih ke party nyari cewek, ternyata belum sampai ke tempat party udah dapat masing-masing," celetuk Yogi. Laki-laki itu bersandar manja pada Yuki sambil menciumi rambut harum gadis itu.


Jika dilihat-lihat memang seperti itu, tapi tidak jika memerhatikan sepasang manusia yang duduk di depan. Aldi fokus mengemudi, sedangkan Fasa hanya diam memandang keluar jendela, mereka berdua lebih terlihat seperti kakak beradik yang sedang marahan.


Ni cewek emang sialan banget, dia lebih milih mandang kelaur jendela daripada ngeliat cowok ganteng di sebelahnya, batin Aldi.


Sangking gregetnya cowok itu tidak sengaja memukul setirnya hingga klakson tiba-tiba saja berbunyi, dan membuat seluruh penghuni mobil terkejut. Fasa langsung menatap tajam Aldi. "Lo ngapain, sih?" tanyanya ketus.


"Mata lo masih bisa dipake kan? Nggak liat gue lagi nyetir," sarkas Aldi tak mau kalah.


Fasa kembali membuang muka, melipat tangan di dada, dan mengembuskan napas kasar.


Cowok an****\, makinya di dalam hati.


Sementara itu, dua pasangan di belakang hanya menyimak interaksi antara mereka berdua.


Orang-orang barbar, batin mereka berempat.

__ADS_1


__ADS_2