
Seluruh murid sudah berada di aula sekolah untuk mengikuti lomba lisan yang akan dimulai lima menit lagi. Semua fokus mendengarkan pidato guru yang berbicara di podium. Seharusnya yang berpidato di saat seperti ini adalah kepala sekolah atau wakil kepala sekolah, tetapi dua orang itu sedang tidak memungkinkan untuk muncul saat ini.
Saat semua fokus melihat ke depan, tiba-tiba terjadi kericuhan di aula. Ada siswi yang berteriak, perlahan teriakan itu semakin ramai, pidato yang sedang berlangsung pun terpaksa berhenti. Ayyara dan teman-temannya menoleh ke sumber suara. Terlihat para murid berkerumun di satu titik, entah apa yang mereka kermunin, Ayyara tidak dapat melihat karena tertutup oleh tubuh para murid.
Para guru bergegas menghampiri keramaian tersebut, bukan karena khawatir terjadi seuatu, melainkan ingin cepat-cepat membereskan masalah itu. "Semuanya minggir!" perintah guru perempuan yang terlihat garang.
Seorang siswa tergeletak di lantai dengan mulut penuh buih. Tangan dan kakinya masih bergerak samar-samar, dan matanya melotot melihat ke atas. "Cepat bawa dia!" perintah guru itu pada dua satpam yang bergegas datang.
Para murid memberi jarak agar siswa itu dapat dibawa pergi dari aula. "Itu dia kenapa?" tanya Ayyara entah pada siapa. Seseorang yang berada di belakangnya langsung menyahut. "Mati keracunan."
Ayyara menoleh. Agra, laki-laki itu kini tengah berdiri dengan jarak yang begitu tipis dengannya. Ayyara mundur dua langkah. "Sembarangan lo, Kak. Gue liat kok tadi tangannya masih gerak, itu tandanya dia masih hidup, belum mati," bantahnya.
Agra tersenyum meremehkan, seolah menertawai kepolosan gadis itu. "Lo kira murid di sini nggak becus?" Agra mendekatkan wajahnya. "Untuk ngebunuh saingannya," lanjutnya.
Ayyara memandang aneh laki-laki di hadapannya itu. Entahlah, ia juga merasa aneh dengan dirinya sendiri. Saat mendengar Agra berkata seperti itu ia sudah tidak terlalu kaget lagi, bahkan seperti mendengar cerita seseorang memukul nyamuk. Biasa saja bukan?
"Gue cuman mau ingetin lo, hati-hati mulai sekarang. Mungkin aja saat udah ada yang ngincer nyawa lo."
Ayyara menatap dalam netra laki-laki itu sebelum akhirnya ia disadarkan oleh Fasa yang menepuk pundaknya. "Yar, ayok."
Ayyara melihat ke sekeliling. Keadaan aula sudah kembali seperti semula, meskipun sebagian murid junior masih ada yang berbisik-bisik. "Semua jangan ada yang bersuara, perhatikan guru kalian yang sedang berbicara di depan," instruksi salah satu Pak Guru.
"Kalau gitu gue ke sana," Pamit Agra. "Inget, hati-hati," tekannya sekali lagi sebelum bergabung dengan kelasnya.
__ADS_1
..........
Hari ini benar-benar bencana, dalam sehari sudah ada lima korban. Entah itu dari kalangan bangsawan atau pun murid jenius.
Sebelum perlombaan sudah ada Ulia Sagun yang jatuh dan menyebabkan dirinya mati di tempat, lalu Cadna Givan mati karena racun, Zano Fathur ditemukan gantung diri di toilet, Deastamira ditemukan mati tenggelam di kolam, Reta Aswar mati ditusuk dengan pisau, lalu terakhir saat perlombaan kecerdasan sudah berakhir, Giwyes Abfrad mati digigit ular berbisa.
Ayyara penasaran apakah kasus ini akan diselidiki, namun sepertinya tidak. Karena guru-guru juga pasti tahu bahwa ini adalah perbuatan salah satu dari ratusan murid mereka.
Bahkan Kepala Sekolah dan Wakil Kepala Sekolah tidak ada untuk memantau keadaan sekolah secara langsung, para guru juga tidak ambil pusing dengan kejadian ini. Mereka tahu bahwa semua ini tidak akan membuat diri mereka mengalami kesulitan, seperti dipecat atau masuk penjara karena mendiami kejadian pembunuhan ini.
"Ini bio data para korban," kata Fanan seraya menyerahkan setumpuk kertas pada Ayyara.
Ayyara mengambil kertas-kertas itu, membaca satu persatu bio data mereka yang ada di sana. Di antara lima korban, dua dari mereka adalah murid bangsawan, tapi tetap saja mereka tidak bisa lepas dari kematian.
Ayyara penasaran bagaimana reaksi orang tua mereka saat tahu anaknya telah mati terbunuh di tempat ini. Apakah mereka akan menuntut sekolah ini?
"Kenapa enggak?" Ayyara penasaran, sangat penasaran.
"Untuk murid jenius nggak ada perjanjian khusus, karna rata-rata keluarga mereka tidak punya kuasa. Jadi mereka nggak bisa ngelakuin apa pun kalau kejadian ini menimpa anak mereka. Beda sama murid bangsawan, orang tua mereka punya kuasa dan bisa aja ngancam sekolah ini. Mangkanya mereka harus menandatangani surat perjanjian biar mereka nggak bisa berbuat apa pun," kata Fanan menjelaskan.
"Perjanjian apa?"
Fanan menggeleng. "Nggak ada yang tahu isi perjanjiannya. Yang pasti orang paling berkuasa pun nggak akan bisa ngusik sekolah ini."
__ADS_1
Fanan sudah berusaha mencari tahu apa isi perjanjian yang mereka lakukan, namun dia tidak menemukan apa pun.
"Lo harus ikut dalam kelompok mereka untuk cari tahu jawabannya."
"Kelompok apa? Mereka siapa?"
Fanan membuka jendela, dia memandang orang-orang yang sedang berada di taman. "Kelompok yang diciptain sebagian anggota osis, dan beberapa murid jenius lain untuk nyari tau konspirasi apa yang dilakuin sama petinggi sekolah ini."
Kertas-kertas berisi biodata yang diberikan Fanan tadi dia letakkan di atas meja, lalu Ayyara berjalan mendekati Fanan yang berdiri di dekat jendela. Dia ikut memandang beberapa orang yang berada di taman itu.
Tiba-tiba Fanan menunjuk beberapa orang yang ada di sana. "Tiga orang yang duduk di bangku taman itu adalah kelompok pencari rahasia Royal School, lo bisa ngedeketin mereka, mereka yang paling banyak tau rahasia di sini."
Tetapi Ayyara justru malah fokus dengan Agra yang berjalan ke arah kolam. Mau ngapain dia, batin Ayyara.
"Gue pergi dulu, Kak." Ayyara langsung berlari meninggalkan Fanan yang kebingungan.
Menuruni satu persatu anak tangga yang membawanya ke bagian belakang sekolah. Ayyara melihat ke kanan dan ke kiri mencari ke beradaan Agra. Ternyata cowok itu benar menuju ke area kolam.
Saat Agra akan menyentuh air kolam itu, Ayyara datang mengejutkannya. "Lo mau ngapain, Kak?" tanya Ayyara.
Tangan Agra menggantung. Dia kembali menarik tangannya, lalu memasukkannya ke dalam saku celana sambil berbalik mendatangi Ayyara. "Bukan urusan lo," ucap Agra tepat di depan wajah Ayyara kemudian berlalu pergi.
Ayyara berbalik, menatap punggung Agra yang semakin menjauhinya. Dia kemudian melangkahkan kakinya, menyusul Agra. "Apa yang mau lo lakuin tadi di sana?" tanya Ayyara penuh kecurigaan, dan Agra tahu itu.
__ADS_1
"Udah gue bilang, bukan urusan lo." Ayyara tidak puas dengan jawaban yang diberikan Agra. Cowok itu malah membuatnya semakin curiga.
Sementara itu dari atas ada Fanan yang memantau mereka berdua. "Gue yakin itu lo," gumamnya mengepalkan tangan kuat-kuat.