
Sudah memasuki hari senin, kini waktunya bagi murid jenius dan murid bangsawan untuk berlomba mendapatkan nilai terbaik mereka. Sebagus apapun nilai mereka jika berada di peringkat bawah maka mereka akan celaka, tidak ada yang dapat menolong selain tuhan dan juga uang. Itu adalah hal yang pasti di sekolah elite ini.
"Yar," panggil Fanan.
Ayyara menoleh pada Fanan yang sedikit berlari menghampirinya. "Kenapa, Kak?"
Ia menunduk, melihat lembaran kertas yang diberikan oleh laki-laki itu. "Ini apa, Kak?" tanyanya seraya meraih kertas tersebut.
"Itu prediksi soal yang akan keluar dalam lomba nanti, tolong bagiin ke yang lain ya," pinta Fanan.
"Loh? Bukannya ini tugas kak Desi ya?" bingung Ayyara. Selama ini yang memimpin murid jenius adalah Fanan dan Desi kelas tiga, dan membagikan prediksi soal ini adalah salah satu tugas cewek itu.
"Yar," Ayyara sedikit terkejut saat Fasa menegurnya. Ia melihat ke sekeliling di mana banyak anak jenius yang sedang menatapnya dengan pandangan aneh. Ayyara mengernyit bingung, ia kembali menatap Fasa, lalu Fanan, meminta penjelasan.
"Kak Desi udah mati, Yar," bisik Fasa.
"Hah?" kaget Ayyara dan tanpa sengaja mengeluarkan suara yang begitu nyaring, ia menutup mulut tak percaya.
"Suara lo pelanin, bego," geram Yuki.
Ayyara menatap Fanan, dan cowok itu mengangguk. Ia masih diam tak percaya, belum ada seminggu saat kejadian kematian kemarin, sekarang sudah ada yang mati lagi. Lalu sekarang ia merasa jadi orang kudet, di saat satu sekolah sudah tahu, hanya dirinya saja yang belum mengetahuinya.
"Kok bisa? Kapan? Di mana?" tanyanya beruntun pada Fasa, Yuki, dan juga Fanan.
"Dicekik pakai tali," jawab Fanan.
"Tadi malam," jawab Yuki.
"Di toilet club itu," jawab Fasa.
Ayyara teringat kejadian tadi malam saat ia mendengar suara minta tolong dari dalam toilet. Apakah itu kak Desi? Ia sedikit menyalahkan dirinya karena tidak menolongnya tadi malam, dan lebih mendengarkan cewek wajah pucat itu untuk menggunakan toilet di lantai atas.
__ADS_1
"Gue tau apa yang terjadi tadi malam, dan juga apa yang lagi lo pikirin," ujar Fanan spontan. "Dengan pasti gue bisa bilang, itu nggak ada hubungannya sama lo, karna dia udah mati sebelum lo ke toilet, bahkan sebelum party itu dimulai."
"Tapi gue denger suara jeritan minta tolong, Kak." Ayyara berusaha agar suaranya tidak terdengar oleh yang lain selain mereka berempat.
"Itu bukan dia Yar, tapi orang lain." Tiba-tiba Fanan diam, ia menyesal karena telah memberitahu hal yang tidak seharusnya.
"Maksud lo, Kak?" tanya tiga cewek itu bersamaan.
"Yar, jangan lupa dibagiin ya, gue balik ke kelas, mau mantau anggota yang lain," kata Fanan berusaha menghindari ketiga gadis itu. Ia cepat-cepat pergi dari hadapan mereka.
"Kak, jawab dulu pertanyaan kami," teriak Ayyara.
"Ntar aja!"
Ayyara mendengus, ia melihat lembaran kertas di tangannya, kemudian memberikannya pada Fasa. "Nih, lo aja yang bagiin," katanya.
.............
"Waktu kalian tinggal dua puluh lima menit lagi," ujar guru pengawas mengintrupsi.
Sebagian murid mulai panik dan sulit untuk berkonsentrasi. Meskipun begitu, mereka terus berusaha agar tetap menjawab semua soal dengan benar. Soal yang diberikan benar-benar soal yang sangat sulit untuk murid sekolah menengah atas seperti mereka.
Setelah waktu habis semua mengumpulkan lembar soal secara teratur, satu-satu persatu mereka keluar dari kelas. Waktu istirahat lima belas menit yang diberikan untuk makan mereka gunakan untuk belajar, nilai benar-benar penting untuk mereka, karena taruhannya adalah nyawa.
Yuki menghela napas panjang. "Gue kayaknya harus berterima kasih banyak-banyak sama kak Fanan, karna dia gue bisa ngejawab semua soal dengan lancar," ujarnya.
"Sama, gue juga," imbuh Fasa. "Sempet deg-degan juga sih tadi, takut soal yang diprediksi kak Fanan meleset, ternyata semuanya ada."
Tanpa mereka sadari, orang yang mereka bicarakan sudah berada di belakang mereka sedari tadi. "Lagi ngomongin gue, ya?" ucapnya membuat ketiga cewek itu terkejut dan reflek menoleh.
"Loh, Kak, sejak kapan?" tanya Ayyara.
__ADS_1
"Sejak kalian keluar dari kelas tadi, tapi kalian nggak ngeliat gue karna sibuk cerita, mangkanya gue ikutin sampe sini," ungkap Fanan.
"Untung aja gue nggak reflek mukul lo pake ni buku, Kak." Fasa menggulung-gulung buku yang dipegangnya.
"Tenang aja, bisa gue hindarin kok," balas Fanan.
"Woi!" Teriakan itu mencuri atensi keempat orang yang sedang berjalan di koridor tersebut. Mencari orang yang tadi berteriak, ternyata berasal dari arah taman, di mana ada dua orang cowok yang sedang duduk di sana.
"Ini bukan hutan, nggak usah teriak-teriak," tegur Fanan, lalu duduk di sebelah Aldi. "Gimana? Aman?"
Yogi tersenyum cerah. "Selagi ada lo apa sih yang nggak aman, Fan. Ya, nggak, Al?"
"Yoi," sahut Aldi yang kemudian mengangkat kantong plastik berisikan minuman kaleng. "Nih, ambil satu-satu," katanya seraya menyodorkan plastik tersebut.
Fasa mengambil terlebih dahulu, ia sudah menahan haus sejak tadi. "Wih, minuman kesukaan gue, nih. Thank's, ya," ucapnya pada Aldi, namun cowok itu tak merespon, hanya menatap Fasa yang langsung meneguk kasar minuman itu tanpa henti.
"Itu terlalu suka atau terlalu haus," gumam Aldi pelan, keheranan melihat Fasa. Namun, tanpa sadar sudut bibir cowok itu berkedut menahan senyum.
Yang lain ikut mengambil minuman kaleng itu satu persatu. "Ini mah emang kesukaannya Fasa banget," celetuk Yuki dan diangguki Ayyara.
Yogi menatap Aldi curiga. "Lo sengaja ya, Al?"
"Apaan?"
"Pantesan tadi gue pas mau ngambil rasa lemon lo larang, dan lo malah ngeborong semua rasa Leci. Ternyata untuk Fasa," ujar Yogi.
"Gue cuman asal ngambil karna warnanya lucu, lagian mana gue tau kalau itu minuman kesukaan dia, kalau tau nggak bakal gue ambil tadi," elak Aldi dengan tetap mempertahankan wajah cueknya.
"Sejak kapan lo suka sama yang lucu-lucu, warna pink lagi," timpal Fanan ikut merasa curiga dan ingin menggoda Aldi. Cowok itu jarang sekali mau terlibat dengan perempuan, baru dengan Fasa saja dia bebas berinteraksi apalagi sampai bisa beradu mulut.
"Lo suka sama gue?" ucap Fasa, wajahnya berada tepat di sebelah Aldi. Saat cowok itu menoleh, hampir saja wajah Fasa tercium olehnya.
__ADS_1
Empat orang yang menyaksikan itu langsung bersorak heboh, terutama Yuki yang gemas melihat wajah memerah teman tomboynya itu. Mereka berdua menjauhkan wajah, dan menjadi salah tingkah.