
Di sebuah ruangan yang gelap, namun pekat dengan aroma darah, terdengar rintihan pilu dari seseorang.
"Gue minta maaf, gue benar-benar nggak sengaja," lirih sosok laki-laki yang sudah tergeletak di lantai bersimbah darahnya sendiri.
di depannya duduk seseorang dengan wajah tertutup topeng hitam. Walaupun wajahnya tidak terihat, tetapi dapat diketahui ia kini tengah tersenyum dari dengusan yang terdengar. "Gue selalu memperingati semua orang yang bekerja di bawah pengawasan gue, saat dia lupa dengan peringatan yang gue kasi, maka hidupnya akan berakhir. Tidak ada kesempatan, karena kesempatan hanya untuk orang-orang lemah, dan dapat menghancurkan rencananya sendiri," ujar laki-laki bertopeng itu.
Laki-laki bertopeng itu kembali memainkan pisau di tangannya, sedangkan korbannya tengah menatap was-was pisau itu. Ia sudah tahu akhir dari hidupnya, tetapi tetap saja ia masih terus berharap agar laki-laki bertopeng itu mengampuninya, meskipun itu mustahil.
Laki-laki bertopeng sedikit membungkukkan badannya. "Kenapa? Lo lagi berdoa sama tuhan?" ujarnya menatap lurus korban.
Korban tidak menjawab, ia justru menatap tajam Laki-laki itu. "Tuhan nggak akan mau nolongin umat mendadak kayak lo, Fik," imbuh laki-laki itu.
Fikri Samka, seorang siswa bangsawan kelas dua, dirinya adalah salah satu orang yang tidak mengakui adanya tuhan. Ia sudah merasa kecewa pada tuhan sejak masih duduk di bangku dasar. Wanita pertama yang ia cintai mati meskipun ia telah berdoa terus menerus pada tuhan demi keselamatannya.
Laki-laki itu tahu karena Fikri adalah temannya, mereka pernah curhat dan membuat kenangan bersama, namun kini tidak ada lagi yang namanya teman bagi laki-laki itu, ia hanya mempedulikan rencanya, jangan sampai hancur hanya karena perasaannya yang lemah.
Meskipun pernah tidak percaya pada tuhan, tetapi kini Fikri telah kembali memercayai adanya tuhan, Laki-laki itu tidak tahu akan hal itu.
"Soal Sasa lo tenang aja, gue bakal jagain dia setelah lo nggak ada," ujar Laki-laki itu membuat Fikri membulatkan matanya terkejut sekaligus marah. Bagaimana laki-laki itu bisa mengetahui mengenai Sasa, sementara gadis itu saja belum tahu mengenai perasaan yang sudah ia pendam selama kurang lebih satu tahun ini.
"Semua yang kerja di bawah pengawasan gue, akan gue cari tahu seluk beluknya, jadi lo nggak perlu kaget gitu, bro," sambungnya lalu melepaskan topeng yang menutupi wajahnya.
__ADS_1
"Jangan libatin dia! Dia nggak salah, Raz," desis Fikri.
Raz bangkit, lalu berjalan mendekati Fikri yang kini sudah duduk bersandar pada dinding, dengan keadaan yang mengenaskan. Pisau yang dipegangnya ia gunakan untuk mengangkat dagu Fikri agar ia bisa menatap manik mata laki-laki itu. "Dia emang nggak salah, tapi lo salah. Karna lo temen gue, dari awal gue udah ngingetin dan nanya lo berulang kali untuk pikirin baik-baik sebelum ikut gabung dalam misi ini. Tapi apa? Lo dengan keukeuhnya tetep mau lanjut, hanya demi mengetahui semua rahasia tentang gue, lo udah ngegali kuburan lo sendiri, Fik."
"Seharusnya lo kerjain tugas dari gue dengan benar. Seandainya bukan karna tujuan gue sekarang, gue nggak akan ngabisin lo di sini. Karna lo adalah teman pertama gue di saat orang-orang ngejauhin gue dulu. Tapi sorry, hidup lo berakhir di sini."
Craatt ....
Pisau yang digenggamnya sejak tadi akhirnya tertancap di jantung laki-laki itu. Darah kental berwarna merah pekat menyembur keluar hingga wajah serta bajunya terkena cipratan darah tersebut. Raz perlahan mundur beberapa langkah, tak lama matanya mulai berkaca-kaca menatap wajah Fikri yang kini sudah tak bernyawa. "Gue emang nggak bisa jadi temen yang baik, Fik, tapi gue akan jadi laki-laki sejati yang menepati janjinya. Sasa, dia akan aman selagi ada gue di dekatnya, gue akan berusaha untuk terus ngelindungin dia selagi gue bisa," ujar Raz dengan segenap hati.
Flash back
Fikri memerhatikan teman-temannya yang tengah sibuk dengan sesuatu, entah apa itu, ia tidak tahu. Yang jelas, mereka terlihat sangat serius.
"Raz, rencana yang udah kita bahas kemarin tetep mau dijalankan malam ini?" tanya Faruq.
Raz yang tengah sibuk dengan laptopnya, mengangkat kepala melihat Faruq. "Setelah gue pikir-pikir dan baca ulang, rencana itu nggak terlalu beresiko, kita bisa pakai itu untuk seterusnya," ujarnya.
Fikri hanya bisa menatap bingung mereka, ia sama sekali tidak tahu maksud mereka, dan apa yang akan mereka kerjakan malam ini. "Kalian mau ngapain?" tanyanya spontan.
Seketika semua langsung menoleh pada Fikri yang duduk di sebelah Raz dengan gitar di pangkuannya. Saat mereka sibuk dan mengacuhkannya, maka Fikri hanya bisa bermain gitar guna mengurangi rasa bosannya.
__ADS_1
"Memulai bisnis," sahut Yuno enteng.
Jawaban Yuno membuat Fikri mengernyit bingung, mengapa semua temannya menatap Yuno seperti tidak senang. "Jangan kebiasan langsung nyahut kalau ditanyain kayak begitu, lo bisa aja keceplosan dan ngebongkar semua rencana kita," tegur Acio.
Yuno mendelik tidak suka. "Gue nyahut juga karna yang nanya itu Fikri." Yuno membela diri.
"Fikri tidak bergabung dalam misi kita, dia bahkan nggak tahu semua tentang Raz," sela Faruq.
"Faruq!" tegur Raz, ia tidak suka jika orang-orang membahas antara hubungannya dengan Fikri.
Fikri terdiam, memikirkan perkataan Faruq. Ia pikir selama ini ia sudah sangat dekat dengan Raz, namun ia salah. Meskipun kemana-mana selalu bersama, tapi banyak yang belum ia ketahui mengenai Raz. "Gue mau gabung dalam misi ini," ujarnya mantap.
Laki-laki itu ingin lebih akrab lagi dengan Raz, maka dari itu ia akan selalu bersama Raz mulai dari sekarang.
Raz melotot tak percaya, jujur ia tidak ingin Fikri sampai harus ikut terlibat di dalam misi ini. "Ini bukan permaianan anak kecil atau pun misi biasa yang bisa seenaknya lo ikutin, Fik."
Raz mencoba mencegah Fikri untuk ikut terlibat, tetapi laki-laki itu sangat keras kepala dan keu-keuh ingin bergabung. Sebenarnya bisa saja ia menolak tegas Fikri untuk bergabung, namun Raz takut itu akan melukai perasaan Fikri dan membuatnya merasa Raz tidak menganggapnya lagi karena sekarang dirinya sudah memiliki banyak teman, berbeda dengan dulu.
Faruq dan Acio saling tatap, senyuman licik terbit di wajah mereka. Akhirnya mereka berhasil memengaruhi laki-laki yang dilindungi oleh Raz itu.
Malam itu mereka tidak jadi menjalankan misi, Raz ingin menunda aksi mereka sebelum Fikri benar-benar yakin dengan pilihannnya. Berulang kali dan di manapun, Raz terus bertanya dan berusaha membujuk Fikri untuk tidak ikut-ikutan di dalam rencana jahatnya. Namun, semua sia-sia, karena Fikri telah mengabdi pada Raz, sosok yang sangat ia kagumi.
__ADS_1