The Royal School

The Royal School
Jeritan Di Dalam Toilet


__ADS_3

Setelah puas berjoget mengikuti irama musik yang begitu keras. Kini mereka duduk bersama menikmati makanan yang dihidangkan.


"Lo ngapain sih deket-deket sama gue, Al," kesal Yogi. Sejak tadi Aldi terus saja nempel padanya padahal kursi di sebelahnya masih kosong.


"Emang kenapa sih, Yog? Lagian gue cuman duduk doang."


"Lo yang kenapa, bego! Emang nggak bisa geseran ke sana dikit? Itu si Fasa nggak bakal ngegigit juga."


Aldi menatap Fasa sejenak lalu berkata. "Nggak ah, gue mau di sini aja."


"Geseran dong, Al. Gue kejepit nih," kata Yuki yang duduk di sudut.


"Udah tau badan kecil, masih aja nyempil di situ," celetuk Aldi, tetapi ia fokus bermain ponsel. Yuki menatap garang Aldi, lalu beralih menatap Fasa dengan maksud meminta bantuan.


"Aakkkhhh!!"


"Sini lo!" kata Fasa sambil menarik telinga Aldi.


Aldi bergerak mengikuti ke mana arah Fasa menarik telinganya. "Sa, Sa, lepasin telinga gue, nanti putus," protesnya.


Astaga! Gadis itu sepertinya menyimpan dendam, jewerannya sangat kuat.


"Lo itu mangkanya jangan bandel, disuruh geser tuh, ya geser!" cerocos Fasa.


"Ya, tapi jangan dijewer juga kali, lepas ah!"


Fasa akhirnya melepaskan telinga Aldi yang memerah karena perbuatannya, laki-laki itu wajahnya semakin cemberut.


"Kalian tuh ribut mulu, lo juga, kenapa takut banget deket sama Fasa sih, Al?" geram Ayyara. Dua orang itu hanya diam, seolah tak mendengar apapun, mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing.


Ayyara berdecak, bisa-bisanya mereka mengabaikannya. Gadis itu beralih pada Fanan yang duduk di sebelahnya. "Kak, gue ke toilet dulu ya," pamitnya dan langsung berdiri.


Fanan mendongak. "Mau gue temenin nggak, Yar?" tawarnya.


Bukannya bermaksud lain, hanya saja ia khawatir jika Ayyara berkeliaran sendiri di tempat ini, apalagi gadis itu baru pertama kali ikut ke acara yang diadakan oleh Royal School.

__ADS_1


"Yaelah, Fan, lengket banget sih lo," goda Yogi yang tengah bermanja dengan Yuki.


Ayyara sedikit meringis melihat kelakuan temannya itu. Ia kira selama ini Yuki adalah gadis yang pemalu ataupun kalem, ternyata jago memikat buaya, dan juga terlihat sangat ahli.


"Berisik lo, ngaca dulu sana!" balas Fanan.


"Udah sayang, biarin aja mereka, nih makan lagi." Yuki mengambil keripik lalu menyodorkannya ke mulut Yogi dan langsung dilahap oleh cowok itu.


"Yaudah, gue ke toilet dulu ya," pamit Ayyara lagi.


"Hati-hati ya, Yar," pesan Fanan.


Sebenarnya Ayyara bingung kenapa Fanan terlihat begitu khawatir saat ia izin pergi sendiri ke toilet. Seharusnya tidak masalahkan? Lagian di tempat ini ramai, tidak mungkin akan terjadi sesuatu di sini.


"Diem mulu lo, nih makan," ujar Fasa seraya menyodorkan piring berisikan camilan dengan kasar ke hadapan.


Setibanya di depan pintu toilet, Ayyara celungak-celinguk, hanya sekedar memastikan dan membuang rasa curiganya.


"Tuh, kan! Ini tuh nggak masalah, bahkan ada banyak orang yang lalu lalang," ujarnya pada diri sendiri. Namun, saat ia hendak membuka pintu, tiba-tiba saja terdengar suara jeritan minta tolong.


Ia urung membuka pintu, bingung dengan sekitarnya. Dirinya yang salah dengar atau gimana? Semua orang bersikap tidak acuh, seakan hanya dirinya seorang yang mendengar jeritan yang begitu keras.


Mata Ayyara memicing, berusaha mengingat gadis itu, ia seperti pernah bertemu dengannya. "Lo? ... lo yang pas itu, kan?" ujar Ayyara.


Gadis berwajah pucat itu tidak menjawab, Ia melirik sekilas ke arah toilet. "Biarin aja," katanya tiba-tiba membuat Ayyara mengernyit bingung.


Apa maksudnya coba? Jelas-jelas ada yang teriak minta tolong, dan cewek itu bilang biarkan aja?


"Maksud lo?" Ayyara bingung.


Sementara di dalam sana seseorang terus saja berteriak meminta tolong. Ayyara tidak tahan, ia ingin masuk dan menolong orang itu, tapi lagi-lagi tangannya dicekal oleh cewek berwajah pucat itu.


Ayyara berdecak. "Apalagi, sih?"


"Lo nggak boleh ke sana," ujar cewek itu tanpa ekspresi. Ayyara sedikit meringis melihat wajahnya yang seperti itu, membuatnya merinding.

__ADS_1


"Lo nggak denger ada orang minta tolong? Gimana bisa gue biarin."


"Lihat mereka." Ayyara melihat sekeliling, tampak orang-orang berlalu lalang dengan tenang. Mereka asyik menikmati pesta yang tengah berlangsung.


"Menurut lo mereka yang nggak denger, atau ini cuman halusinasi lo doang?" tanyanya lagi.


Ayyara terdiam, ia mulai berpikir bahwa dirinya sedang berhalusinasi karena mereka semua terlihat biasa saja. "Nggak usah terlalu dipikirin, lo bisa anggap nggak terjadi apa-apa. Mau ke toilet, 'kan? Biar gue temenin, kita pakai toilet di lantai dua," ujar gadis itu lalu menarik Ayyara mengikutinya menaiki tangga.


Dari atas dapat dilihat secara keseluruhan orang-orang yang tengah berjoget menikmati dentuman musik. Dan ... Fanan, Ayyara mengernyit dan berusaha melihat dengan jelas siapa orang yang tengah berbicara dengannya di sana.


Namun, dirinya tak diberi kesempatan untuk berhenti oleh cewek yang membawanya. "Lo harus cepat," ujarnya.


"Kenapa?"


"Ikuti aja kata gue, dan kembali ke tempat temen-temen lo."


Ok! Ia lelah memikirkan semua ini, lebih baik ikuti saja kemauan cewek itu dan kembali pada teman-temannya secepat mungkin. Lagi pula, tempat ini lama-lama terasa mencekam.


Saat Ayyara keluar dari toilet, cewek itu sudah pergi entah kemana. "Ish, kayak jelangkung tuh cewek, mana mukanya pucet gitu lagi, mending kalo senyum, ini nggak," gerutunya sambil menuruni anak tangga.


"Yar, ayo pulang," ajak Fanan begitu Ayyara tiba.


"Ha? Kok tiba-tiba?" bingung gadis itu. Ini masih pukul sebelas malam, padahal perjanjian mereka akan party sampai pukul tiga pagi.


Fanan bangkit. "Nggak pa-pa, lebih bagus pulang cepet aja." Ia melihat Aldi dan Yogi. "Lo bedua mau tetep di sini atau pulang sekarang?" tanyanya, dan entah kenapa Aldi dan Yogi langsung berdiri, padahal mereka tadi masih asyik bercanda tawa dengan teman-teman yang lain.


"Yah, beb, kok cepet banget sih?" keluh Yuki manja.


"Lain kali lagi aja ya, sayang. Sekarang kita harus pulang," ucap Yogi berusaha membujuk.


"Heh, nggak usah lebay, kalau nggak mau pulang, lo tinggal aja sendiri di sini," sela Fasa.


Ia juga sudah muak berada di sini, melihat wajah Aldi yang terus ditekuk, laki-laki itu membuat moodnya ikutan rusak.


Yuki menatap kesal Fasa. "Biasa aja mata lo," ujar Fasa.

__ADS_1


Fanan berjalan duluan diikuti Aldi dan yang lainnya. Ia menoleh melihat Ayyara yang menatapnya dengan tatapan kebingungan. "Kenapa, Yar?"


Ayyara menggeleng, kemudian melihat ke depan. Mungkin lebih baik tidak usah membahasnya sekarang.


__ADS_2