The Secret Of Moon

The Secret Of Moon
Episode 1


__ADS_3

"Lion" ucap Regina yang memanggil nama pria yang duduk dihadapannya.


"Pria yang duduk dihadapanku ini... adalah pria yang dikenal sebagai sang artis yang impoten" batin Regina bersamaan dengan memanggil Lion.



Lion Adora, salah satu dari 5 artis paling terkenal di negeri ini. Ia merupakan sepupu sang presiden dari pihak ibu yang lahir bergelimang harta dan kehormatan.


Dalam batinnya Regina dengan menatap tajam ke arah Lion yang duduk dihadapannya.


"Memang kenapa kalau dia impoten... apa salahnya itu**?"


"Aku tak peduli. Tidak, justru malah lebih bagus"


Di kesempatan hidupnya yang ke-2, Regina sudah mempertimbangkan dengan kepala dingin. Dan pada akhirnya, ia yakin kalau Lion Adora lah jawaban untuknya.


"Jadi kau adalah Regina, istri jendral Danial?" Tanya Lion kepada Regina dengan alisnya yang terangkat dan terbersit senyuman.


Regina yang mendengarkan pertanyaan yang diucapkan oleh Lion membuatnya kesal dan tangannya pun ikut meremas sofa yang didudukinya.


"Bukan, kau salah. Namaku Regina Forench, kau bisa memanggilku Regina" ucap Regina sambil senyum dan memainkan rambut panjangnya.


Mimik wajah Lion seketika berubah setelah mendengar perkataan Regina. Muka bingung yang terlihat jelas di wajahnya dan bertanya-tanya didalam kepalanya. Lion bertanya dengan wajah bingungnya itu "Tapi, bukannya kau sudah menikah dengan jendral Danial?".


Regina terlintas membayangkan kehidupan setelah menikah dengan jendral Danial. Hanya terdapat kenangan buruk, dan dalam batin Regina "Danial, lelaki yang tak lebih baik dari sampah itu... aku tak akan lagi!".


"Maksudmu, suamiku yang pergi perang dan tak akan pulang sampai 7 tahun lagi itu?" ucap Regina sembari mengnyilangkan tangganya dan memejamkan matanya.


"Menurut hukum, semua pernikahan tanpa malam pertama dianggap tak sah dan batal bukan?. Aku yang bahkan tak pernah melihat wajah suamiku itu..." ucap Regina lagi yang terpotong karena meminum secangkir teh yang di sajikan oleh Lion.


"...Berarti masih seorang Forench, kan" ucap lanjut Regina sembari tersenyum ceria.


Lion yang sedikit terkejut setelah mendengar perkataan yang dikatakan oleh nona yang dihadapannya, "Sungguh kata-kata yang berani, sangat menarik"


"Baiklah, nona Forench. Apa alasanmu mengajakku bertemu?" Tanya Lion penasaran.


"Apa Lion sudah mendengar lagu yang tersebar di seluruh negeri ini?" tanya balik Regina ke Lion untuk memastikannya.


"Ah... lagu itu, lagu tentang kau dan aku yang bermesraan itu" ucap Lion dengan sebelah tangannya yang mengusap-usap dagu.


Tiba-tiba Regina tersedak "uhuk.. uhuk" Dan dalam batinnya berkata "langsung tepat sasaran ya.."


"Karna lagu itu, aku jadi kesulitan. Maka dari itu, aku ingin Lion bertanggung jawab" ucap Regina dengan muka memelas.

__ADS_1


"Tanggung jawab? tanggung jawab seperti apa maksudmu?" tanya Lion penasaran dan sedikit menggodanya.


Regina menyeringai sembari berdiri dan berkata dengan tegas "Lion, tolong menikahlah dengan aku!"


Seketika Lion memebeku mendengar jawaban tersebut. Jawaban yang tidak terduga dilontarkan oleh seorang nona yang menurutnya nona polos yang manis dan cantik.


***


Beberapa bulan yang lalu. Pada saat musim semi, langit yang begitu cerah, taman di depan rumah sangat indah di selimuti oleh berbagai macam bunga.


Terdapat cahaya dari arah jendela tersebut dan membuat ruangan Regina terang, bau wangi yang masuk dari arah jendela itu pun membuat Regina terbangun.


"Sudah jam berapa ini?" batin Regina yang menatap ke arah jendela setelah membuka matanya.


"ukh... aduh... punggungku..." ucap Regina yang mencoba bangun dari tempat tidurnya sembari sebelah tangan kirinya memegang punggungnya tersebut.


Regina langsung terdiam dan berfikir "loh, punggungku kok rasanya baik-baik saja?" batin Regina sembari melihat-lihat kearah sekitar.


Dan dalam batinnya berkata lagi, "Ini kan, kamar yang kugunakan saat awal-awal menikah. Kamar itu kan sudah kugunakan selama 20 tahun... kenapa ini? apa aku berkhayal?"


Regina yang masih tidak percaya dengan situasinya sekarang dengan mengucek-ngucekan matanya. Regina mencoba memanggil pelayan dengan membunyikan lonceng.


"Sebaiknya aku mulai menyiapkan perayaan ulang tahunku saja dulu"


"MARSHA!" teriak Regina dengan membuka pintu kamarnya secara keras.


"Ya, Nyonya!, a-aku datang!" ucap pelayan tersebut yang bernama Marsha sembari berlari dari atas tangga menuju kearah Regina.


"Hosh.. Hosh.. Nyonya memanggilku?" tanya Marsha dengan ekspresi kelelahan.


"Apa yang terjadi? aku sudah bunyikan lonceng, kenapa tak ada yang datang?" tanya Regina dengan muka datar.


"I-i-itu.." ucap Marsha gelisah.


Regina yang baru menyadari ketika melihat Marsha yang terlihat muda, lalu memegang kedua pundak Marsha dan menariknya "Kenapa Marsha jadi muda sekali gini? dia kelihatan seperti Marsha saat pertama kali diperintahkan jadi pelayan pribadiku" batin Regina sembari menatap tajam ke arah Marsha.


Regina pun melepaskan tangannya dari pundak Marsha dan sedikit tersenyum "Aku pasti kelelahan.." gumam Regina dan menggelengkan kepalanya.


"Sepertinya aku terlalu lelah karena mempersiapkan perayaan. Tolong bawakan aku teh peppermint" ucap Regina.


"apa? sa-saya?" tanya Marsha yang kebingungan.


"Memang ada orang lain?" tanya Regina.

__ADS_1


"Eh... a-anu, tidak Nyonya" balas Marsha terbata-bata.


"Wajahnya seperti belum pernah melakukannya saja..." batin Regina yang kebingungan melihat ekspresi Marsha.


"Beraninya kau! membuat keributan pagi-pagi begini!" teriak seseorang dari kejauhan yang terlihat marah.


Seketika Regina tersentak dan terdiam, namun di dalam pikirannya kacau karena teriakan tersebut. Dan dalam batinnya berkata


"Bagaimana aku bisa lupa suara ini?"


"Suara yang sangat familiar"


"Bagaimana bisa ibu mertua pertamaku yang meninggal karena sakit 10 tahun lalu.."


"Ibu mertua..." ucap Regina melongo melihat ibu mertua yang meninggal 10 tahun lalu, kembali muncul dihadapannya.



Ibu mertua pertama, wanita elegan. Nyonya Rose.


"Siapa yang kau panggil ibu? sudah kubilang, panggil aku Nyonya Rose!" teriak ibu mertua pertama.


Tak lama kemudian...


"Aduh, siapa yang berteriak pagi-pagi begini?"



Ibu mertua kedua, wanita pengeluh dan kurang berpendidikan. Nyonya Glora, sekaligus ibu kandung dari (mantan) suami Regina, Danial.


"Kenapa ribut sekali?! minta di hajar ya rupanya!" ucap ibu mertua kedua sembari teriak.


"Ha...ha...ha." gumam Regina dengan menundukkan kepala dan mengernyitkan alisnya.


Regina sempat tidak percaya bahwa dia kembali lagi ke masa awal-awal pernikahannya, namun setelah kejadian ini. Regina berfikir dan mulai percaya apa yang terjadi pada dirinya. Dalam batinnya berkata


"Kalau sudah begini, tak ada gunanya membantah. aku terpaksa harus mengakui kalau ini ternyata benar-benar terjadi.."


"kamar tua itu..."


"Kedua ibu mertua itu..."


"Ya Tuhan, jadi aku kembali ke umur 20 tahun?"

__ADS_1


__ADS_2