The Secret Of Moon

The Secret Of Moon
Episode 7


__ADS_3

"Ayo kita menikah. Aku juga sudah lelah karenamu" tambahnya sambil tersenyum.


"Kalau begitu, ayo kita berangkat" ajak Lion dan masih mengulurkan tangannya.


"Apa?" Regina terbengong dan menggapai uluran tangan Lion.


"Apa tak boleh aku pulang dulu dan menunggumu menghubungiku?" tanya Regina yang tadinya duduk, langsung berdiri.


"Menungguku menghubungimu? memang pulang kemana maksudmu?" tanya balik Lion.


Lalu Regina dan Lion terdiam, dan ekspresi mereka seakan saling bertanya-tanya akibat perkataan yang dilontarkan Lion barusan.


"Kalau sudah yakin akan menikah denganku,tak perlu kembali ke kediaman Danial lagi, kan? Langsung saja ke kediamanku bersama" tambah Lion, dan Regina ternganga masih tidak percaya yang dikatakan pria tampan di hadapannya sembari menggenggam tangannya.


* * *


Kediaman Lion Adora, begitu luas namun tidak terlalu terlihat mencolok dan nampak elegan.


"Tak kusangka berhasil semudah ini..." batin Regina dan masih menganga sembari melihat-lihat atap ruang tamu Lion.


Pelayan-pelayan mengintip di luar pintu yang sedang melihat Regina dan sedang berbisik-bisik. Bagaimana Regina tidak melihatnya, suara pelayan-pelayan tersebut sedikit keras meskipun sedang berbisik.


Dalam batinnya Regina berkata "Yah, aku saja tak menyangka, apalagi mereka"


"Kukira aku sudah paling nekat, ternyata ada juga yang lebih gila dariku"


"Setidaknya, untuk sementara aku bisa bernapas lega. Begitu menikah, pertama-tama aku akan langsung mengubah interior kaku di ruangan ini"


Pada saat Regina sedang berpikir, tiba-tiba pintu terbuka 'Krieeeeet~' dan ternyata yang datang Lion. "Tunggulah sebentar, karena ini mendadak... kami belum menyiapkan kamar untukmu" ucap Lion.


"Tak usah dipikirkan. Kalau hanya semalam, tidur di sofa juga aku tak masalah sama sekali" maklum Regina.


Lalu Regina meraba-raba sofa, "Walau ini sofa, tapi jauh lebih nyaman dari kasur di rumah lamaku" batin Regina.


"Huuuuh... semakin dipikir, aku semakin merasa rumah itu seperti sampah! Dasar wanita-wanita s*al! Sekarang aku tak perlu bertemu mereka lagi" tambah Regina membatin sembari menutupi telinga dan memejamkan matanya secara kuat.


Lion yang melihatnya itu merasa kasian dan simpati "Ha... Aku tak tahu bagaimana mereka memperlakukanmu di keluarga itu, tapi sebagai calon istri Lion Adora. Aku tak bisa mengizinkannya" ucap Lion.

__ADS_1


"Hmm..." pikir Regina.


"Kalau begitu, malam ini aku tidur di kamarmu juga tak masalah. Kan kau juga impoten" ucap ceria Regina. Lion seketika tersentak.


"Sepertinya dia tak akan mengijinkannya" batin Regina. Namun, ekspresi Lion seperti sedang mempertimbangkannya.


"Walau bersikap sok dewasa, tapi di mataku tetap saja dia hanya anak muda berumur 20-an" lanjut Regina membatin.


"Sebenarnya, apa alasanmu menerima dengan tenang kalau aku impoten?" tanya Lion penasaran.


"Alasan?" batin Regina, tiba-tiba suasana hati Regina berubah menjadi lebih suram dan pedih.


"Aku..."


"...Tak suka anak. Aku tak mau melahirkan seorang anak" balas Regina sembari menundukkan kepalanya dan mengenang masa kehidupan lalunya.


* * *


Sebelum Regina kembali ke umur 20 tahu, sudah 2 kali Regina melahirkan seorang anak. Karena proses melahirkan yang begitu sulit dan hampir merenggut nyawa, sulit bagiku untuk menyayangi anak-anakku.


"Proses melahirkan yang sangat sulit. Sepertinya kau harus beristirahat di kasur cukup lama" ucap bidan yang membantu proses melahirkan Regina.


"Nyonya, apa anda mau memeluk bayi Anda?" tanya pelayan pribadi Regina, yaitu Marsha. Namun, Regina menolak dengan cara menggeleng-gelengkan kepalanya.


'Krieeeeet~' Suara pintu terbuka, dan Danial muncul dari balik pintu tersebut.


"Tuan, bayinya sehat. Tapi Nyonya..." ucap bidan. Danial hanya melihat ke arah Regina yang tidak berdaya di kasur dan mukanya yang pucat serta berkeringat.


"Aku harus segera pergi lagi, tolong jaga istriku" ucap Danial dan langsung pergi begitu saja.


"Tuan sudah mau per... Oh, oh" ucap pelayan Marsha, namun terpotong karena Danial sudah pergi.


"Kasihan sekali nyonya... bagaimana bisa dia pergi tanpa menengok nyonya sedikit pun?" heran bidan tersebut. Regina pun hanya bisa menangis dan menahan rasa perih nya itu.


Regina tak mau mengalami hal menyakitkan itu lagi, walupun ia tak bisa bertemu anak-anaknya lagi.


* * *

__ADS_1


"Aku tahu banyak wanita hebat yang menderita karena tak bisa memiliki anak..." ucap Regina yang sedang menjelaskan alasannya kepada Lion.


"...Tapi aku tetap tak mau memiliki anak. Lebih baik aku mempersiapkan diri agar jadi tak semenderita itu" lanjut Regina.


"Karena itulah, aku tak masalah kalau kau impoten. Tidak, justru bagiku itu lebih bagus" ucap Regina lagi sembari dongak ke arah Lion yang sedang berdiri.


"Begitu, ya..." jawab Lion santai dan menganggukkan kepala.


"Kenapa kau menjawab dengan santai begitu? bukankah masalah keturunan adalah masalah yang sangat penting bagimu?" tanya Regina penasaran.


"Walau ini bukan tempatku bicara begini, tapi kalau kau terlalu pasrah pada keadaan, nantinya kau akan rugi sendiri. Kau harus lebih tegas dalam hal-hal penting" oceh Regina sembari berdiri dan menunjuk-nunjuk Lion.


"Ah, tanpa sadar aku jadi mengomel..." batin Regina, lalu duduk kembali ke sofa.


"Aku begitu karena bukan karena aku pasrah pada apa pun. Aku mengangguk karena bagiku hal itu tak masalah bagiku" ucap Lion yang tidak menerima akan hal yang diocehkan oleh Regina dan sembari mengangguk-anggukkan kepala"


"Benarkah?! jadi kau tak masalah walau tak punya penerus keluarga?" tanya semangat Regina yang langsung berdiri dan mendekatkan wajahnya ke wajah Lion.


"Entahlah, Tapi kurasa aku tak perlu menjawabnya" jawab Lion yang bingung akan ekspresi Regina.


"Hmmmmpp..." Regina tersenyum dan duduk kembali ke sofanya.


"Yah, kalau di lihat-lihat. Pria ini kan..." batin Regina dengan wajah nya yang melas.


"...'Tidak bisa berdiri'" lanjut batin Regina dan sekarang matanya melihat ke arah bagian yang tidak berdiri tersebut. Regina tersenyum namun ekspresi wajahnya seakan mengasihani hal tersebut.


Lion yang menyadarinya langsung mendekati Regina. "Tolong jangan melihatku seperti itu" kesal Lion. Regina langsung memalingkan wajah dan memanyunkan bibir, lalu berkata "Ti-tidak kok. Aku tak melakukan apa-apa"


"Tapi kau melihatku seperti orang yang


sangat malang" ucap Lion sambil mengerutkan kedua alisnya.


"Kau salah paham. Kenapa aku harus mengasihanimu?" tanya Regina yang menggodanya sedikit.


"Hmmmmm" tajam Lion menatap Regina, sedangkan Regina bersiul-siul.


"Maaf ya, aku terus menjailimu. Habis responnya lucu, sih" batin Regina sambil memejamkan matanya.

__ADS_1


"...?"


"Kok, rasanya seperti ada yang mendekati ku?" lanjut batin Regina dan membuka mata secara perlahan. Dan alangkah terkejutnya, di depan wajah Regina adalah wajah Lion, dengan badannya berdiri sedikit membungkuk dan kedua tangannya di taro di sofa.


__ADS_2