
"Jadi ini yang disebut bapak presiden berani.." batin Lion yang masih tidak menyangka.
"Ucapanmu membuat ku tidak bisa berkata-kata" ucap Lion sembari tangannya memijat dahinya.
"Itu sudah pasti kan" balas Regina dengan senyuman yang ditutupi oleh tangannya.
"*Apa itu berarti kau tak peduli walau aku impoten*?" tanya Lion penasaran kepada Nona yang mengajaknya menikah itu.
Regina pun tersenyum dan tertawa sedikit, lalu berkata "Itu justru bagus"
"Aku tak begitu suka melakukan hubungan di ranjang, atau di kursi sekalipun" tambahnya blak-blakan.
"Jangan bercanda hal-hal yang tak perlu" ucap Lion dingin.
"Astaga, tak kusangka kau juga tak punya rasa humor" ejek Regina. Dan setelah dia melihat reaksi Lion yang menghela napas, dalam batinnya "Ku kira dia akan marah, ternyata dia cukup sabar juga..."
Seketika Lion berbicara dengan serius dan menatap mata ke arah Regina yang sedang minum teh dengan dalam dan tajam.
"Aku tak suka bicara, apalagi basa-basi"
"Aku juga tak menarik dan tak peduli pada hal-hal yang biasa diminati orang biasa seperti berkeluarga"
"Jadi apa pun yang kau harapkan, aku yakin kau hanya akan kecewa"
Regina yang mendengar semua perkataan yang dikatakan Lion bereaksi tenang-tenang saja sembari meminum teh dengan nyaman.Ia berpikir dalam batinnya sambil memejamkan matanya. "Haha, aku ini sudah terlalu tua untuk mengharapkan pernikahan yang romantis"
"Lagi pula, Danial juga hampir tak pernah berbicara"
"Kata-kata yang dikeluarkan anak ini sekarang, kalau kuhitung jumlahnya mungkin sama jumlahnya dengan jumlah kata yang di ucapkan Danial selama Seminggu"
Lion yang menunggu reaksi dari Regina yang terlihat tenang itu mulai mengambil tehnya, lalu Regina pun langsung berkata "Aku sudah pernah hidup seorang diri, kok..."
"...Lion Adora. Kau tak punya orang tua, kan?" lanjutnya.
"Ya. Mereka berdua sudah waf..." balas Lion sembari menyicip teh nya. Belum saja Lion menyelesaikan perkataannya, Regina langsung memotongnya dan berkata "Karena itu menikahlah denganku"
"Hah?!" Lion terkaget-kaget dan hampir tersedak oleh teh nya.
"Aku mengajakmu menikah karena sudah memperhitungkan semuanya rasional. Aku tidak sedang bercanda sama sekali. Ayo, menikahlah denganku**" Jelas Regina yang masih mencoba membujuk Lion agak setuju atas ajakannya.
Regina yang melihat Lion memalingkan wajahnya kesamping dan terdiam membuat nya kesal, lalu memikirkan sesuatu di dalam batinnya "Huh.. pantas saja Presiden merasa khawatir..."
"...Adik sepupu satu-satunya selain impoten, juga tak ada keinginan untuk menikah. Tapi, itu justru yang kucari!"
"Kalau beliau mendengar rumor ini, beliau pasti akan mendorong agar pernikahan ini terjadi"
__ADS_1
"Yang jelas langkah pertama, aku harus membuat manusia ini luluh dulu"
Setelah Regina bertekad, ia bersiap-siap untuk langkah pertamanya tersebut "Huhh... Atau kau ternyata hanya ingin mai-main saja denganku?!" teriak Regina sembari sedikit menitihkan air mata.
Dalam sekejap cafe Evernes sedikit gaduh, yang awalnya suasana cafe tersebut damai, tentram dan hening. Orang-orang yang ada di sana pun terkejut karena teriakan Regina itu dan mulai membicarakannya secara terang-terangan.
"Apa kau...!" teriak Regina lagi, namun terpotong karena mulutnya ditutupi oleh tangan Lion.
Regina langsung membulatkan matanya dan melihat wajah Lion secara dekat, wajah Lion tampak memerah. Mata Regina langsung mencoba melihat tangan Lion yang ada di mulutnya, dan dalam batinnya berkata "Berbeda dengan Danial, tangannya sangat lembut"
"Bisa-bisanya disaat seperti ini, kenapa aku masih saja membandingkannya dengan suamiku.."
"Kau benar-benar sengaja membuatku kesal, ya" ucap Lion dan melepaskan tangannya dari mulut Regina.
"*Baiklah, ayo kita bicara di ruang private*..." lanjutnya sembari menghela napas dan memegang kepalanya yang sedikit pusing. Dan Regina hanya terdiam dan melirik ke arah Lion.
* * *
Ruang private, ruang tersebut sangatlah luas dengan interior-interior mewah didalamnya. Di sanalah Lion dan Regina melanjutkan perbincangan yang sempat membuat kegaduhan tersebut.
"Selamat menikma..." Ucap pelayan yang tadi, namun terpotong oleh Regina "Tunggu"
"Bisa tolong bawakan aku Smoky Early Grey, oh ya... tak usah pakai makanan penutup, ya" lanjutnya yang ternyata memesan teh lagi.
Dan sekarang tersisa Regina dan Lion saja di ruang private yang mewah itu, "Kau suka teh, ya?" tanya Lion yang memulai pembicaraan secara santai.
"Ya, satu-satunya hal yang menenangkan ku" balas Regina. Setelah Regina membalas pertanyaan Lion, lalu tidak ada kata-kata lagi dan mereka berdua terdiam.
"Ayo, menikahlah denganku" ajak Regina lagi, sambil sedikit bercanda.
"Bisakah kau berhenti mengatakan hal itu?" ucap Lion dan memalingkan wajahnya sedikit kesamping dan menutupi mawajnya dengan tangan, dan ternyata pipinya merah merona.
Regina yang melihat itu, terdiam sedangkan dalam batinnya tidak "Tak kusangka, Lion Adora bisa berekspresi seperti itu"
"Padahal dikehidupanku sebelumnya, saat dia mulai menua... dia kelihatan sangat dingin"
"Yah... saat ini dia memang masih muda, sih" lanjut batinnya dan tersenyum manis sembari melihat ekspresi pria yang dihadapannya.
Dan ternyata Lion sedari tadi melihat Regina yang lagi melihatnya, Lion menatap dingin ke arah Regina. Dan Regina baru menyadarinya "Ah... aku akan berhenti saat kau menerima tawaranku" ucap Regina dan tersenyum kembali.
"Kenapa dengan ku?" tanya Lion tiba-tiba.
"Apa?" Regina yang bingung akan pertanyaan Lion tiba-tiba itu.
"Hanya karena sebuah lagu, kau memintaku untuk menikah denganm..." Jelas Lion.
__ADS_1
"...Bagaimana bisa kau memutuskan untuk melakukan hal nekat seperti itu?" lanjutnya sembari melihat Regina dengan matanya yang tajam.
Regina memejamkan matanya sesaat, dan menjelaskan pertanyaan yang ditanyakan Lion "Tadikan sudah ku katakan dengan cukup jelas"
"Karena lagu itu, keadaanku saat ini sangat sulit. Para ibu mertuaku semua menyiksaku"
"Karena itu, kalau sudah begini. Lebih baik kubuat saja lagu itu menjadi kenyataan"
"Hanya itu saja alasannya?" tanya Lion yang merasa biasa saja terhadap perkataan Regina yang menderita itu.
"Hanya itu katamu?! apa kau mau menggantikan ku menghadapi para mertua gila itu?" ucap kesal Regina sembari mengepalkan kedua tangannya dan menggertakan giginya.
"Maafkan perkataanku barusan" ucap Lion tidak enak.
"Akan ku maafkan" balas Regina.
Regina pun melanjutkan pembicaraan sebenarnya dengan serius sembari memegang tangan Lion secara perlahan dan lembut.
"Aku bisa menerima kenyataan kau tak lagi memiliki orang tua"
"Begitu juga kenyataan kau tak banyak berbicara dan tak peduli pada istri atau pernikahan. Masalah di ranjangmu juga tak masalah bagiku"
"Karena itu, menikahl denganku" Regina semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Lion, sehingga pipi dan telinga Lion merah. Dan Lion memungkinkan wajahnya lagi ke samping.
"Hei! ayao cepat jawab!" lanjut Regina sedikit memaksa.
"Permisi" tiba-tiba pelayan datang, Regina pun langsung melepaskan genggamannya dan duduk kembali di kursinya.
"Ini teh pesanan anda" lanjut pelayan dan meletakkan cangkir dan teko di atas meja, lalu pergi lagi.
"Aduh lelahnya" batin Regina yang sedang menuangkan teh dari poci ke cangkir nya.
"Kau suka teh ini?" tanya Lion.
"Ini bukan kesukaanku, tapi ya aku suka" balas Regina dan mulai menuangkan teh ke cangkir Lion.
Lion yang melihat Regina menuangkan tehnya untuk dirinya langsung berkata "Baiklah"
"Apa?" tanya Regina bingung dan kaget.
Lion langsung menghabiskan tehnya dalam seteguk, Regina yang melihatnya membuatnya tambah kaget. Lion pun meletakkan cangkirnya setelah menghabiskan tehnya.
"Ayo kita menikah" ucap Lion sembari berdiri dan mengulurkan tangannya.
"Aku juga sudah lelah sekali karenamu" tambahnya sambil tersenyum.
__ADS_1