The Secret Of Moon

The Secret Of Moon
Episode 5


__ADS_3

Sebuah mobil yang berhenti di depan cafe Evernes, dan seseorang keluar dari mobil tersebut. Dan ternyata seseorang itu adalah Regina.


Orang-orang disekitar Cafe tersebut mulai membicarakan dan berbisik-bisik...


"Astaga.. Jadi itu.."


"...Dia wanita yang dirumorkan itu kan? si wanita itu?"


Regina tidak mempedulikan orang-orang yang membicarakannya dibelakang dan hanya berjalan lurus dengan tenang, dalam batinnya berkata "Silahkan bergosip sesuka kalian, aku sudah terbiasa dengan hal itu"


Regina mengingat masa lalu pada saat pertama kalinya dia mendengar cemoohan orang lain dari belakang.


"Dia katanya tak punya sopan santun ya... "


"Anak buangan..."


"Hahahaha..."


"Ternyata pengalaman burukku dulu berguna juga di saat seperti ini" batin Regina sembari membuka pintu cafe Evernes.


Setelah Regina memasuki cafe Evernes, ia melihat-lihat sekitar. Evernes bukan sekedar cafe pada biasanya, namun tempat itu bagaikan (istana presiden ke dua) menurut orang-orang.


"Sudah pesan tempat?" tanya pelayan.


Tiba-tiba pelayan datang menghampiri Regina, dan ia nampak terkejut setelah mendengar jawaban Regina.


"Ya. Atas nama Lion" balas Regina sembari tersenyum anggun.


"Ah... Begitu, si-silahkan ke sebelah sini" ucap pelayan dan mengarahkan jalan kepada Regina.


"Interiornya sungguh luar biasa" batin Regina yang melihat lebih dalam tempat Cafe tersebut.


"Di sini, Nyonya. Silahkan..." ucap Pelayan.


Regina nampak kesal setelah melihat mejanya, dan ternyata tidak ada Lion. Dalam batin nya berkata "Belum datang ya... Dia sengaja mau mencari ribut denganku rupanya"


"Jadi, apa saja pilihan teh di tempat ini?" tanya Regina kepada pelayan tadi.


"Ya?" ucap pelayan yang merasa canggung dan gugup di samping orang yang dirumorkan berhubungan spesial dengan artis terkenal.


"Aku tanya, bagaimana pilihan tehnya? Tolong jangan buat aku bicara dua kali terus, dong!" tegas Regina yang merasa kesal dengan sikap pelayan.


"Ah, ahli teh kami telah memilih sendiri. 6 teh pilihan untuk dinikmati oleh para tamu. Untuk lebih jelasnya, anda bisa lihat dibuku menu ini" ucap pelayan dan memberikan buku menu kepada Regina.

__ADS_1


"Baiklah" ucap Regina sembari duduk, dan pelayan itu pun pergi.


Regina nampak ceria ketika melihat-lihat menu, batinnya berkata "*Hoho... sudah lama aku tak menikmati hal mewah begini, aku harus memanfaatkan kesempatan ini" *


"Tolong bawakan teh buah" ucap Regina yang memesan teh kepada pelayan.


"Aku mau teh bunga..." pesan Regina lagi.


"Teh puer..." dan pesan lagi.


"...ini baru teh, nikmatnya" gumam Regina yang sedang memyicip teh pesanannya.


"Pelayan!" panggil Regina.


Saat ketika Regina memanggil pelayan untuk memesan menu teh yang lain. Ternyata yang datang adalah bukan pelayan, melainkan Lion Adora.


Artis tersebut sama sekali tidak menyapa atau memberi salam kepada Regina, ia lewat begitu saja dan langsung duduk di hadapan Regina. "Ck...ck...ck..." batin Regina dengan muka yang masam.


"Kukira aku sudah tahu banyak tentangmu, ternyata aku tak tahu bahwa kau tak menghargai waktu... Artis terkenal, Lion" ucap Regina menyindir Lion yang telat hadir.


Lion mengabaikan sindiran dari Regina dan tersenyum miring dengan tatapan penasaran sambil berkata "Jadi Kau... Nona Regina?"


* * *


Setelah sampai di istana. "Selamat datang tuan" bungkuk pelayan kepada Lion.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu dari sang pelayan tadi. "Bapak presiden, tuan Lion Adora sudah datang" ucap sang pelayan sembari membuka pintu.


Presiden yang mendengar itu langsung beranjak dari kursi kerjanya dan berlari ke arah Lion. "Lioooooon..." panggil bapak presiden dengan wajah yang sumringah.


"Hoho... Adikku tersayang!" ucap Bapak presiden sembari memeluk Lion.


Lion yang melihat kelakuan bapak presiden negaranya seperti anak-anak tidaklah terkejut, karena itu adalah hal yang biasa baginya. Namun tidak dengan orang lain.


"Ugh... apa sih?!" risih Lion kepada presiden dan mendorongnya agar lepas dari pelukan.


"Walau semua orang memercayainya, tapi aku tak akan percaya pada rumor picisan begitu. Mustahil kan kau begitu!" oceh Presiden yang masih dengan wajah berseri-serinya.


"Apa...?" tanya Lion bingung mendengar ucapan yang dimaksud bapak presiden itu.


"Menurut kabar, akhirnya kau punya kekasih ya!" ucap Bapak presiden dengan semangat sembari menunjuk Lion.

__ADS_1


"Ya Tuhan..." gumam Lion dengan tangannya yang memijat dahinya.


"Itu sama sekali tidak benar. Bukannya Presiden sendiri yang merencanakan pernikahan Jendral Danial dan Nona Regina?" Lion pun langsung menyangkal dari perkataan bapak presiden tentang rumornya dengan Regina.


"Ah... Kalau itu, tinggal dibatalkan saja kan bisa" ucap presiden sembari menepukkan tangannya ke bahu Lion.


"Dia sudah di kirim ke medan perang, kurasa... tak mungkin dia sampai kembali hanya untuk menyelamatkan pernikahannya. Jadi tak ada yang perlu di khawatirkan" oceh bapak presiden yang mencoba menjelaskan.


"Aku tak peduli soal itu" toleh Lion yang acuh akan hal yang dibicarakan bapak presiden.


"Lion" panggil presiden ke Lion dengan nada yang serius. Seketika Lion langsung menoleh dan saling bertatapan serius dengan presiden.


Bapak presiden mulai berbicara panjang lebar kepada Lion dengan sikapnya yang seperti sedang mematahi anaknya yang bermodalkan pengalaman dalam hidupnya.


"Yang namanya suami istri itu bukanlah hal yang besar. Kalian bertemu, lalu hidup bersama dalam suka dan duka, hanya itu saja"


*"Lihat aku! walau aku memilih pasanganku hanya karena memiliki tanggal lahir yang sama, tapi pernikahanku cukup rukun, kan" *


"Orang sebelumnya hanya kurang beruntung saja. Sebagian besar orang juga hidup biasa seperti ini"


"Selama ini aku sudah nyaman hidup sendiri, jadi aku merasa tak perlu menikah" ucap Lion yang memalingkan wajahnya ke bawah.


"Jadi kau mau terus hidup dikelilingi rumor buruk itu?!" tanya Bapak presiden dengan muka yang bercampur antara ketakutan, gelisah dan terkejut.


"Tapi, dia wanita yang mencurigakan. Aku tak mengerti kenapa dia bertindak sejauh ini" balas Lion.


"Menurutku, dia wanita yang cerdas. Betapa beraninya dia mengacaukan pernikahan yang diatur oleh presiden..." pendapat bapak presiden.


"Coba temui saja dia" bujuk Bapak presiden sembari merangkul Lion.


"Tak mau" tolak Lion langsung dan lantang tanpa berpikir-pikir terlebih dahulu.


"Walau begitu, dia pasti akan terus menghubungimu... sekali lagi kukatakan, aku sangat setuju dengan ini" ucap Bapak presiden sembari menepuk-nepuk bahu Lion.


Lion yang mulai berpikir ketika mendengar ucapan bapak presiden dan dalam batinnya. "Apa kutemui saja dan kutolak dengan tegas, ya"


* * *


Kembali ke masa sekarang, di Cafe Evernes.


Regina menyeringai sembari berdiri dan berkata dengan tegas "Lion, tolong menikahlah dengan aku!"


Seketika Lion memebeku mendengar jawaban tersebut. Jawaban yang tidak terduga dilontarkan oleh seorang nona yang menurutnya nona polos yang manis dan cantik.

__ADS_1


"Apa sebenarnya tujuan wanita ini?" batinnya.


__ADS_2