The Secret Of Moon

The Secret Of Moon
Episode 2


__ADS_3

Sebelum kembali.


Terdengar suara gaduh diluar kamar "Brak..Bruk.."


Ternyata kegaduhan tersebut adalah datangnya Jendral Danial yang pulang ditengah peperangan, Danial pulang karena kematian ibu tirinya. Yaitu ibu mertua pertama.


"A-anda tak boleh begini tuan.." ucap pelayan, Marsha yang mencoba menghentikan Danial pergi ke kamar Regina.


Danial yang tidak senang dengan ucapan pelayan tersebut, langsung menatap pelayan ke arah belakang dengan tajam dan dingin.


Marsha sang pelayan yang melihat wajah tuannya langsung terkejut dan tidak bisa berkata apa-apa lagi "Astaga... Da-darah!"


Akhirnya, Danial pun membuka pintu kamar Regina dan berdiri di depan Regina dengan tatapan dingin beserta bau amis yang berasal dari darah di sekitar wajah dan badannya.


"Kau..." ucap Regina ragu-ragu.


* * *


Lalu saat ini.


Regina terbengong di meja makan, karena memikirkan kejadian di masa lalunya tersebut.


"*ck..ck..ck..ck.." *


*"Sudah kuduga, anak tak berpendidikan sepertimu.. memang tak tahu sopan santun" *


"Bisa-bisanya kau memikirkan hal lain saat duduk bersama orang yang lebih tua?" ucap Ibu mertua pertama.


"Ibu mertua" panggil Regina dengan nada sedikit dilembutkan.


"Panggil aku Nyonya Rose!" hentak Ibu mertua pertama.


Regina yang sudah tidak tahan lagi dengan sikap ibu mertua pertamanya tersebut, namun Regina tidak bisa berbuat apa-apa. "hah..." helaan nafas Regina yang begitu terlihat kelelahan dan hanya bisa pasrah.


"Kalau begitu, aku juga ingin memanggilku Nyonya Danial" ucap Regina dengan memberanikan diri.


"Apa katamu?" tanya ibu mertua pertama dengan nada sedikit meningkat.


Sesuai dugaan, di meja makan tersebut seketika hening. Ibu mertua kedua hanya bisa mengeluh dan menggerutu melihat Regina dan ibu mertua pertama berselisih.


"Saat ini, wanita utama di rumah ini adalah aku. Karena suamiku yang tercinta pergi berperang, maka... aku yang sebagai istrinya dan sudah menjadi tugasku menggantikan kedudukannya disini" ucap Regina dengan senyuman dan berpura-pura kuat.

__ADS_1


"Ibu terus memintaku menghormati ibu... tapi sikap ibu yang berlagak jadi nyonya rumah itu sama sekali tak mencerminkan rasa hormat padaku. Sungguh tak bisa dipercaya" lanjut Regina.


"Dasar kurang ajar..!" gertak Ibu mertua pertama sembari melemparkan garpu ke arah Regina.


Setelah Regina berbicara panjang lebar kepada ibu-ibu mertuanya, ia merasa sangat lega.


"Suami tercinta, katamu?! kenapa kau memanggil anak kami seperti itu?!" teriak Ibu mertua pertama yang amarahnya semakin meninggi.


Regina terdiam sebentar karena merasa kaget, dan membalas pertanyaan ibu mertuanya tersebut dengan santai "Tentu saja karena dia suamiku..."


Ibu mertua pertama yang mendengar ucapan Regina pun langsung berdiri dan membuat jatuh kursi yang didudukinya "Dasar perempuan s*alan" teriak Ibu mertua pertama sambil menunjuk-nunjuk ke arah Regina.


"Huhu...huhu..." terdengar suara tangisan, ternyata tangisan tersebut berasal dari ibu mertua kedua.


"kupingku sakit, aku jadi tak bisa makan. Tak bisakah kalian tenang sedikit?" ucap Ibu mertua kedua sembari menutupkan kedua telinganya dengan tangan.


"Aku sampai berpikir, jangan-jangan kalian sengaja begini karena kalian membenciku..." gumam ibu mertua kedua yang masih menutupkan telinganya.


Regina yang masih tidak biasa melihat sikap kekanak-kanakan ibu mertuanya tesebut. Batin Regina berkata


"Usianya 40-an kan, berarti dia seusia denganku yang dulu, bisa-bisanya dia bersikap kekanak-kanakan begini?"


"*Ha... menyebalkan!" *


"Apa..?!" Nyonya Glora syok setelah mendengar perkataan Regina.


"Ibu kan sudah bukan anak-anak, apa tak bisa bicara tanpa merengek seperti itu" ejek Regina sembari tersenyum.


"Kau sudah selesai bicara?!" tanya ibu mertua kedua dengan nada tinggi namun di akhir dia menangis "Hu..huhu.."


"Kau pasti sudah gila" ucap Ibu mertua pertama sambil menyeka sisa makanan di mulutnya memakai tisu.


"Tidak. Aku hanya mengatakan hal yang sudah seharusnya dikatakan sejak dulu. Karena saat ini Danial tidak ada di rumah, maka... akulah yang memegang kekuasaan tertinggi di rumah ini!" jawab Regina dengan tenang namun lantang.


"Jadi mari kita saling jaga sopan santun pada satu sama lain. Maka dari itu... aku minta ibu menyerahkan kepengurusan keuangan kepadaku!" ucap Regina kepada ibu mertua pertamanya.


"Jangan bicara k*nyol" balas Nyonya Rose dengan tatapan tajam.


"Anak kampung yang tak pernah pegang uang banyak sepertimu... mana mungkin diberi kepercayaan untuk mengurus keuangan keluarga ini!" lanjut Nyonya Rose.


"Apa ibu semua tahu jurusanku di akademi? aku belajar akuntansi. Akuntansi!" ucap Regina sembari memegang dada nya.

__ADS_1


"Haaa..." helaan nafas Regina yang mencoba menenangkan diri "Yah, aku memang tidak mengharapkan izin dari ibu.." ucap Regina.


Regina membalikan badan dan memanggil pelayan "*Pelayan!" *


"Untuk kedepannya, antar semua dokumen yang dikirim untuk keluarga Danial. Dan juga siapkan kamar yang luas untukku" perintah Regina kepada pelayan.


"PELAYAN!" teriak ibu mertua pertama sembari memukul meja di depannya.


"Kalau kau berani melakukan itu, aku tak akan tinggal diam!" ucap Ibu mertua pertama kepada pelayan.


"Benar, ini dia sifat aslimu kan.." batin Regina.


"Pelayan, coba pikirkan. Siapa yang akan lebih lama tinggal di kediaman ini nantinya" ucap Regina.


Pelayan yang sangat terlihat di wajahnya sedang bingung dan gelisah, "Kalau begitu... saya akan bertanya kepada tuan Danial terlebih dahulu" ucap pelayan tersebut sembari membungkukkan badan.


"Beraninya kau! menganggu anakku yang sedang berjuang keras demi negeri ini!" teriak ibu mertua kedua, Nyonya Glora kepada pelayan.


"Itu ide yang bagus.." sambung ibu mertua pertama sembari menyeringai.


Ibu mertua kedua terlihat marah dan bingung apa yang direncanakan oleh ibu mertua pertama. Dan setelah percakapan panjang itu, Regina keluar dengan muka yang kesal.


Setelah sampai dikamar, Regina mengeluarkan kertas dan pensil. "Memang kalian saja yang bisa menulis surat?! aku juga bisa!" batin Regina.


***


Markas Tentara.


"Kepada suamiku yang sedang berjuang di Medan perang"


"Maaf aku tiba-tiba menghubungimu seperti ini, alasanku mengirim surat ini padamu. Tak lain karena keadaanku saat ini benar-benar tak dianggap dalam urusan rumah tangga kita"


"Aku diperlakukan bagaikan pelayan yang dikurung dalam kamar, dan sama sekali tak dianggap sebagai keluarga"


"Jika pada kesempatan ini kau mengizinkanku mengurus keuangan rumah tangga kita, aku berjanji akan bertanggung jawab dan bekerja keras agar bisa meningkatkan harta kita jadi dua kali lipat saat kau kembali"


*"Tak hanya masalah ini saja, tapi kedepannya juga... demi kedamaian rumah tangga kita. Kuharap kau mau mendengar permintaan dan pendapatku" *


"Semoga kau dapat kembali dengan selamat. Istrimu, Regina"


Danial yang membaca isi surat tersebut sembari memandangi langit yang malam. Entah apa yang ia pikirkan setelah membaca surat yang ditulis oleh istrinya.

__ADS_1



__ADS_2