
"Hai cantik," sapanya seorang pria tampan yang sedang bersandar di front desk.
Galuh membelalakkan matanya, dia menarik pria itu menjauh dari sana. "Ngapain kamu di sini?"
"Loh, kamu lupa? Ini kan hotelku, jadi bebas dong aku di sini," jawab pria itu dengan santai.
"Hendry!" tegur Galuh. "Jangan temui aku disaat bekerja, aku tidak ingin menimbulkan kecurigaan," lanjutnya.
Ya siapa lagi jika bukan Hendry? Laki-laki yang selalu ada di sisinya setelah suaminya pergi.
"Santai saja, apakah rekanmu tadi mengenaliku? Tentu saja tidak." Pria itu menyandarkan punggungnya di dinding. "Sudahlah tenang saja."
"Lalu ada apa kau mencariku?"
Hendry tertawa pelan, "apa kau tidak rindu mantan suamimu?"
Galuh terdiam.
"Jangan bicarakan itu. Aku harus bekerja, pergilah!"
"Hanya kamu yang berani mengusirku di sini," kata Hendry menaik turunkan alisnya.
"Aku tidak peduli," ketus Galuh.
Hendry tertawa, "selamat bekerja. Jangan lupa makan!"
Laki-laki itu lalu pergi meninggalkan Galuh yang menatapnya.
Pandangannya kosong.
"Mungkin aku terlalu banyak berpikir. Aku harus istirahat dengan baik hari ini," ucapnya sembari melihat kening.
"Mbak Galuh kenapa?" tanya seorang pekerja yang sama sepertinya.
"Nggak papa, pusing dikit aja," jawab Galuh.
"Kalo sakit mending istirahat aja, Mbak," sarannya.
"Saya sehat kok, cuma agak pusing tadi kepentok meja," alibi Galuh.
"Ooo gitu, ya sudah deh,"
Karyawan itu lalu pergi.
Galuh menghela napas panjang. Waktu terasa lambat baginya.
Dia hanya bisa berdoa semoga dia bisa melewati hari yang panjang ini.
Sebagai seorang front officer, Galuh dituntut untuk menjadi orang yang profesional.
Dia harus lebih tahan banting dan kuat secara fisik dan mental. Senyumnya harus selalu mengembang apapun situasinya.
Memang sesulit itu bekerja keras memenuhi kebutuhan ketiga anaknya.
Galuh juga harus berterima kasih pada Hendry. Jika bukan karena laki-laki itu, mungkin dia sekarang sedang berkeliling mencari pekerjaan.
Gajinya sekarang lebih dari cukup untuk menutupi kebutuhannya dan ketiga anaknya. Semua itu berkat kerja kerasnya.
Semenjak suaminya pergi, Galuh harus menjadi sosok ibu yang kuat. Dia tidak tahu kemana suaminya itu.
Mengingatnya saja sudah membuat Galuh muak.
Dia bertekad, suatu hari nanti akan membuat suaminya menyesal karena meninggalkannya.
Galuh mengepalkan tangannya, " Aku akan buktikan, kalo aku bisa bertahan tanpa dia,"
*****
Hari ini akan ada tamu istimewa yang akan datang ke hotel tempatnya bekerja. Semua staf diharuskan ikut menyambut di hall, sebagai bentuk hormat kepada tamu itu.
Tentu saja selain itu, tujuan lain adalah untuk memperkenalkan semua staf.
__ADS_1
Beberapa menit lagi mungkin dia akan dipanggil manager-nya. Dia hanya perlu menunggu sembari melanjutkan pekerjaannya.
Benar saja, Beberapa menit kemudian seorang laki-laki berjas menghampiri mejanya dan menyuruhnya untuk segera menuju hall.
"Sebentar lagi tamu terhormat kita akan datang, semuanya segera bersiap. Terutama kamu Galuh, kamu diminta khusus untuk menyambut dan mengantar beliau ke kamarnya!" perintahnya.
Galuh mengangguk dan berdiri. Dia merapikan penampilannya dan mengatur napasnya. "Tetap profesional Galuh, kamu bisa," tekadnya dalam hati.
Wanita itu berjalan cepat menuju hall. Semua orang sudah berada di sana, berjajar rapi menunggu tamu terhormat itu.
Galuh berdiri di samping manager-nya, di sana juga ada Hendry yang tersenyum melihatnya.
Terlihat dari kejauhan, beberapa mobil hitam mengkilat memasuki halaman hotel. Semua staf bersiap merapikan barisan dan pakaian masing-masing.
Galuh mengembuskan napas panjang untuk menekan kegugupannya. Dilihatnya mobil hitam yang baru saja berhenti.
Dari mobil itu keluar seorang pria dengan setelan jas hitam. Pria itu menepuk pundak supir yang membukakan pintu mobil untuknya.
Kacamata hitam yang bertengger di hidungnya dilepas, membuat mata tajamnya dengan alis tebal terlihat. Sangat menawan.
Galuh menundukkan kepala, dia amat kenal dengan orang itu. Seseorang yang istimewa, ayah dari ketiga anaknya.
"Mbak Galuh kenapa?" tanya salah seorang rekannya.
"Saya baik-baik saja," jawab Galuh dengan senyum dipaksa.
Hendry sedari tadi menatap Galuh yang gelisah, dia tahu apa yang dipikirkan sahabatnya itu. Tidak ada yang bisa dilakukannya, karena di sini Hendry dipaksa untuk profesional.
Melihat tamunya sudah berada di hadapannya, Hendry menjabat tangan tamunya. Senyumnya tersungging dengan sopan. Meskipun dalam hatinya dia ingin menonjok pria di depannya.
"Selamat datang, Tuan Ferdian."
"Terima kasih, Tuan Hendry," balas Ferdian. "Sambutan yang sangat mengesankan, semua staf rela hadir demi menyambut saya." Ferdian tertawa.
Galuh menelan ludahnya, tawa itu mengingatkannya akan masa lalu ketika mereka masih bersama. Dia hanya berharap Ferdian tidak melihatnya.
"Tuan Ferdian terlalu memuji, sudah menjadi kewajiban kami untuk menyambut tamu istimewa seperti Anda." Hendry ikut tertawa, meskipun tawa itu terkesan hambar dan terpaksa.
"Sekali lagi terima kasih, Tuan Hendry."
"Sama-sama, tidak perlu sungkan. Kami sudah menyiapkan kamar terbaik untuk Anda."
"Benarkah? Jika begitu saya tidak sabar untuk melihatnya."
Hendry tersenyum, "jangan terlalu terburu-buru, mari kita berbincang-bincang sebentar di sini."
"Baiklah, mari kita berbincang-bincang sebentar, saya juga ingin menanyakan beberapa hal kepada Anda." Ferdian menerima tawaran Hendry dengan senang hati.
Kedua laki-laki itu berjalan menuju meja di tengah hall. Hendry mempersilakan Ferdian untuk duduk.
"Jadi apa yang ingin ditanyakan Tuan Ferdian?"
"Begini, kami ingin membeli hotel ini." Ferdian mulai menjelaskan maksudnya, "kami mendengar bahwa hotel ini memiliki banyak pekerja yang handal, terutama dibidang tersebut. Lokasinya pun strategis, jadi saya sangat tertarik dengan hotel ini. Jadi bolehkah saya membeli hotel ini?" lanjutnya.
Hendry terdiam sejenak, memang tidak ada masalah untuk menjual hotelnya kepada laki-laki di depannya. Tapi, dia takut Ferdian akan melihat Galuh dan Galuh merasa tidak nyaman.
"Itu akan kita bahas nanti," jawab Hendry.
"Baiklah."
Hendry hanya tersenyum dan menatap Galuh yang berdiri diam di belakang Ferdian.
"Apakah Anda tidak ingin melihat kamar Anda?" tanya Hendry.
"Oh tentu saja, saya sangat ingin merasakan layanan dari hotel ini." Ferdian tersenyum lebar.
Berbeda dengan Galuh yang gugup. Wanita itu ditugaskan untuk mengantarkan Ferdian ke kamarnya. Bisakah dia menahan semuanya?
Hendry menatap FO Manager yang berdiri di sebelahnya. Mengetahui maksud dari atasannya, dia mengedipkan mata ke Galuh.
Galuh mengembuskan napas panjang, dia menetralkan kegugupannya dan berjalan menuju Ferdian.
__ADS_1
"Permisi Tuan, mari ikuti saya,"
☆☆☆
Empat orang sedang berjalan menyusuri lorong hotel. Galuh memimpin di depan sembari menjelaskan fasilitas yang ada di hotel.
Dia menjelaskan sembari menjaga langkahnya agar tetap seimbang dan teratur. Dia juga harus mengatur napasnya agar tidak ngos-ngosan karena harus berjalan jauh sambil bicara terus-menerus.
"Di depan adalah tempat excecutive lounge, tempat Anda check in nantinya," jelas Galuh.
Ferdian sedari tadi diam dan tidak terlalu memperhatikan penjelasan Galuh. Perhatiannya hanya tertuju pada yang menjelaskan, bukan yang dijelaskan.
Sesampainya di tempat check in, Galuh berdiri di belakang mejanya. Dia menangkupkan kedua tangannya dan tersenyum ke arah tiga tamu istimewa.
"Selamat datang di Widjaya Hotel & Spa," sapanya dengan ramah.
Melihat senyum wanita di depannya, membuat Ferdian tak bisa berkutik. Dia terpaku melihat senyum yang sudah lama tak pernah dilihatnya.
"Nomor kamar Tuan Ferdian 2315, dan dua lainnya 2316, 2317, ini kuncinya. Anda akan di antar oleh bellboy kami Pak Ari," jelas Galuh.
Ferdian tersadar dari lamunannya, dia mencegah bellboy yang akan mengambil kopernya. Dia lalu menatap wanita di depannya. "Saya ingin di antar oleh front officer,"
"Tapi ...."
"Biarkan bellboy mengantar kedua rekan saya. Saya ingin berkeliling di hotel ini terlebih dahulu," sela Ferdian.
Galuh menghela napas kasar, dia tidak berharap pria di depannya akan seperti ini. Dia tetap tersenyum, bagaimanapun juga dia harus tetap profesional.
"Baiklah, mari saya antarkan," tawar Galuh.
Ferdian tersenyum penuh kemenangan, akhirnya dia bisa memiliki waktu lebih lama bersama Galuh.
Wanita itu menjelaskan kembali fasilitas yang mereka lewati. Sampai akhirnya mereka sampai di depan lift.
Galuh menekan tombol menuju ke lantai 10, tak berselang lama pintu terbuka. Galuh mempersilakan Ferdian masuk terlebih dahulu, baru dia masuk.
Wanita itu kembali menekan tombol. Keheningan menyerang mereka berdua. Galuh dengan kebungkamannya, dan Ferdian dengan pikirannya.
"Galuh," panggil Ferdian.
"Sebentar lagi kita akan sampai Tuan," sela Galuh berusaha untuk tidak membahas hal-hal yang tidak diinginkan.
"Kamu masih nggak berubah ya? Nggak nyesel sama apa yang udah terjadi?"
Galuh hanya diam tidak menanggapi semua ucapan Ferdian. Dia hanya ingin tenang tanpa gangguan.
Sedangkan Ferdian hanya bisa menghela napas karena diabaikan.
☆☆☆
"Ini kamar Anda." Galuh memasukkan keycard ke dalam tempat di pintu.
Setelah pintu terbuka menampakkan isi hotel yang mewah, Galuh masuk dan menjelaskan semuanya.
Meskipun dia tahu pria di belakangnya tidak pernah mendengarkannya sedari tadi, tapi dia tetap menjelaskan.
Saat Galuh sedang menjelaskan semuanya tiba-tiba ada yang menariknya dari belakang. Tentu saja punggungnya langsung menabrak dada milik orang itu.
Sepasang tangan melingkar di perutnya, dan dia merasa ada beban di puncak kepalanya. Dia tahu itu dagu pria ini.
Galuh ingin memberontak, tapi pelukannya semakin erat.
"Sstt ... biarkan seperti ini, apa kau tidak merindukan saat-saat seperti ini?" suara tenang itu mengalun seperti angin. Sejuk tapi membuat orang menggigil.
Karena tidak bisa bergerak Galuh hanya pasrah dan diam. Dia juga merindukan saat-saat seperti ini, tapi semuanya sudah tertutup. Rasanya masih sakit mengingat semua.
Tanpa sadar air matanya luruh dan mengenai tangan Ferdian, membuat pria itu menatap wanita di pelukannya.
"Jangan menangis." Dia mengusap air mata yang sudah mengalir, menatap wajah cantik wanita ini.
"Aku mohon jangan menangis, ini pertemuan pertama kita," bisiknya.
__ADS_1
"Aku mohon lepaskan aku," lirih Galuh.