The Sweet Hotel

The Sweet Hotel
Anna


__ADS_3

Sore itu di kamar yang sama, Galuh dan Anna saling berhadapan. Setelah menidurkan Lala, mereka duduk berhadapan ditemani secangkir teh yang masih mengepul.


Sedangkan Eka dan Hashi bermain di lantai samping mereka berdua. Galuh memperhatikan gerak gerik Anna, postur duduknya sampai caranya minum.


"Mbak kenapa ngelihatin saya seperti itu?" tanya Anna ragu.


Galuh tersenyum, dia mengambil cangkir teh dan mengusapnya. "Aku belum pernah melihatmu di rumah Hendry sebelumnya. Jadi, sejak kapan kamu bekerja dengan Hendry?"


"Sejak Tuan Hendry menyelamatkan saya dari sebuah kejadian mbak. Sejak saat itu, saya disuruh untuk merawat apartemen pribadi Tuan Hendry," jelas Anna.


Galuh mengangguk, "pantas saja saat aku ke sana apartemennya rapi sekali. Biasanya seperti kapal pecah." Galuh menggeleng mengingat apartemen Hendry sebelum ada Anna.


"Iya benar, itu saya yang membersihkan." Anna terlihat memaksakan senyumnya.


"Kenapa An?" tanya Galuh. "Sepertinya kamu memiliki sesuatu yang mengganjal," tebak Galuh. Dia menatap Anna dengan simpati.


"Nggak ada apa-apa kok mbak, hanya teringat dengan keluarga saya yang sudah tiada," jawab Anna dengan senyum yang dipaksakan.


"Maaf ya, An," ucap Galuh dengan rasa bersalah.


Anna tertawa, hambar. Ya, tawa yang hambar. "Nggak papa kok mbak,"


Galuh kembali menyesap tehnya. Dia melirik Anna yang juga menyesap teh. Dipikiran Galuh sekarang hanya ada satu, Anna bukan orang sembarangan.


Galuh yakin jika wanita di depannya bukan dari sembarang keluarga. Pasti keluarganya dulu sangat terpandang. Terlihat dari cara duduknya dan cara minumnya.


"Kamu nyaman kerja sama Hendry?"


"Nyaman, nyaman saja mbak. Tuan Hendry adalah tuan yang baik," jawab Anna. Raut wajah yakin Anna membuat Galuh ingin tertawa.


"Kamu sepertinya yakin sekali jika Hendry baik." Galuh tertawa kecil sembari mengusap cangkir teh di tangannya.


"Saya sangat yakin, Tuan Hendry adalah orang yang baik. Jika tidak, tidak mungkin dia menolong saya," ucap Anna sungguh-sungguh.


Galuh tertawa lumayan keras kali ini, dia melirik ke arah pintu, "kalo dia emang baik, dia akan nikahin kamu, bukan malah jadiin pembantu. Ya, minimal ngasih kamu apartemennya dan uang setiap bulan,"


"Mbak Galuh ini gimana sih? Saya dijadikan pembantu saja sudah senang, nggak perlu sampai kaya gitu." Anna menundukkan kepalanya, wajahnya sudah merona sejak tadi. Dia malu, sangat malu karena ucapan Galuh.


Sedangkan Galuh semakin mengeraskan suaranya sampai anak sulungnya menegur, "bunda jangan tawa kelas-kelas, nanti Lala bangun,"


Galuh meredakan tawanya, "iya, bunda minta maaf." Dia melirik pintu kamar dan tertawa lagi, ya meskipun tidak sekeras tadi.


Di pintu, Hendry dengan melipat tangannya menatap malas Galuh yang sedang menertawakannya. "Belum puas ketawanya?"


Anna terperanjat, dia menoleh ke belakang dan melihat Hendry yang sudah berdiri di sana. Dia lalu menoleh ke Galuh yang masih tertawa.


Sekarang dia paham, Galuh bicara seperti itu karena sedang menyindir Hendry.


Anna memegang pipinya yang masih merona. Dia merona karena ucapan Galuh, dan Hendry ada di sana. Itu berarti Hendry melihatnya tersipu.


"Anak gadis kalo digoda gitu ya, pipinya langsung merah," ucap Galuh dengan sisa-sisa tawanya.


Hendry menghampiri Galuh dan menyentil jidat wanita itu.


"Aw!" Galuh memegangi dahinya dan tersenyum menggoda.


"Maaf Anna, Galuh memang begitu," ucap Hendry.


"Iya Tuan, tidak apa-apa," jawab Anna. Dia masih malu, tapi mau bagaimana lagi semuanya sudah terjadi.


Hendry duduk di samping Galuh dan melonggarkan dasinya.


"Cepatlah berganti hari agar aku bisa pergi dari sini," ujar Hendry.


"Apa maksudmu?"


"Apa kamu lupa? Kamar suami kamu tepat di sebelah kamar ini, jelas-jelas dia tau kalo anaknya ada di sini," jelas Hendry. "Dan aku yang jadi sasaran pertanyaannya," gerutu Hendry.


Anna sedari tadi menunduk, tak berani menatap wajah tampan Hendry. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya melihat majikannya duduk di samping Galuh. Tapi Anna mencoba menepis rasa itu.


"Lalu?" tanya Galuh dengan sinis.


Hendry mengusap wajahnya kasar, dia menghela napas, "kau masih bertanya? Mengapa kalian tidak bersama lagi saja?"


Galuh terdiam, dia mencoba mencerna ucapan Hendry. Kembali bersama? Apakah itu mungkin?


"Aku tidak tau." Hanya itu yang keluar dari mulut Galuh.


Hendry melirik Anna, mengisyaratkan untuk bermain dengan anak-anak.


Tahu akan isyarat tuannya, Anna segera bangkit dan bergabung dengan Eka dan Hashi.


"Luh, sampai kapan akan kaya gini?" tanya Hendry pelan.


"Aku tidak tau," jawabnya pelan.


"Pikirkan semuanya baik-baik, dia mencintaimu. Percaya padaku," ucap Hendry tulus. Senyumnya mengembang, tapi tidak ada yang tahu jika tangannya terkepal sedari tadi.


"Cukup, Hendry! Ucapan tanpa tindakan itu sama saja bohong," ucap Galuh dengan tajam.


"Tapi dia nggak pernah bilang, dia langsung memperlihatkan melalui tindakannya, Luh," Hendry mencoba menjelaskan.


Galuh terdiam, dia tidak tahu harus menjawab apa.


Melihat Galuh yang diam, Hendry menggenggam tangannya. "Semuanya akan baik-baik saja. Kembalilah padanya, mulailah pelan-pelan,"


Galuh menatap Hendry lekat. Dia menemukan harapan dari ucapan Hendry. Tapi apakah semuanya benar akan baik-baik saja.


"Pelan-pelan saja, Luh. Seiring berjalannya waktu kamu akan terbiasa. Kalian akan terbiasa bersama." Hendry semakin mengeratkan genggamannya.


"Aku akan coba nanti," ucap Galuh pelan.


Hendry tersenyum, dia mengusap tangan Galuh dengan lembut.

__ADS_1


"Ya ... untuk merayakan kepergianku kita harus jalan-jalan," ucap Hendry santai.


"Jadi kepergianmu akan dirayakan?" Galuh memelototkan matanya.


"Mmm ... maksudku merayakan hari terakhir aku di sini, kamu harus memiliki kesan baik dengan bos lama hotel ini sebelum aku pergi." Hendry mengambil teh Galuh dan menyesapnya.


"Huh, aku yakin kau akan selalu menghubungiku," sanggah Galuh. "Dan, itu tehku mengapa kau meminumnya?" kesal wanita itu pada Hendry.


"Ini sangat nikmat," ucapnya santai. "Sudahlah, aku hanya ingin mengajak kalian berempat jalan-jalan."


"Untuk membuat kesan baik denganku sebelum kamu kembali dengan Ferdian," batin Hendry.


"Ya terserah," pasrah Galuh.


Hendry tersenyum, dia menghabiskan teh yang ada di tangannya.


"Kalo begitu aku akan keluar dulu," pamit Hendry. Dia lalu berjalan keluar ruangan.


"Iya, jangan lupa untuk mengganti tehku!"


☆☆☆


Galuh bersama dengan seorang wanita dan tiga orang anak memasuki rumah sedang nan elegan.


"Selamat datang di rumahku Anna," sambut Galuh.


"Wah, rumah Mbak Galuh rapi ya," puji Anna. Dia terkagum-kagum melihat penataan rumah Galuh yang terkesan rapi dan elegan.


"Biasa saja, tidak sebesar rumahnya Hendry, tapi cukup untuk kami berempat," Galuh tersenyum.


Rumah ini adalah rumah yang dibeli dari hasil kerja kerasnya, dibuat senyaman mungkin tapi tetap elegan jika dipandang.


"Ah iya Anna, mari saya tunjukkan kamar kamu,"


"Iya mbak, tapi ini anak-anak gimana?"


"Biarkan mereka bermain di sini,"


Kedua wanita itu pergi ke area belakang. Di sebuah kamar yang cukup untuk dihuni oleh satu orang.


"Ini kamar kamu, belum sempat aku bersihkan, kamu bersihkan sendiri ya," ujar Galuh.


"Iya mbak, makasih banget,"


"Maaf, kamar ini tak seluas kamar yang ada di apartemen Hendry," ucap Galuh merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa mbak, ini nyaman sekali,"


Galuh tersenyum lega, "ya sudah, aku tinggal dulu ya,"


"Iya mbak,"


Galuh pergi meninggalkan Anna sendirian. Dia menuju ke depan tempat anak-anaknya bermain.


Sekarang pukul 17.30 WIB, Eka dan Hashi sedang bermain di karpet depan televisi.


Mungkin mereka terlihat akur sekarang, tidak tahu kedepannya akan seperti apa.


Galuh menghampiri kedua anaknya dan duduk di karpet. Dia menyusui Lala yang sudah lapar.


Hashi menghampiri Galuh dan Lala, mengusap pipi gembil adiknya. "Lala lapal ya? Kenapa Lala makannya nggak nasi?"


"Karena Lala belum boleh makan nasi, nanti kalo Lala udah kaya Kak Hashi, Lala pasti makan nasi," jelas Galuh.


"Oo gitu, dulu Achi kaya Lala ya Bun?" gadis itu menatap Galuh dengan mata polosnya.


"Iya, bukan cuma Hashi, Kak Eka pun dulu seperti itu," jawab Galuh dengan sabar.


Hashi mencubit pipi Lala dengan gemas, "iiihhh pipinya Lala gemeeesshhh,"


"Eh, jangan dicubit, sakit!" tegur Galuh.


Hashi melepas cubitannya pada pipi adiknya, "habisnya pipi Lala gemes banget Bun, Achi pengen nyubit,"


"Kan sakit sayang kalo dicubit,"


Tiba-tiba Eka mendekati mereka bertiga dan mencubit pipi Hashi. Sontak Hashi lalu berteriak kesakitan dan menangis 


"HUWAAAA ATIT, KAKAK JAHAT, BUNDA ...."


Galuh terkejut dan menatap putra sulungnya dengan tatapan menegur, dia meraih tubuh Hashi dan mengusap pipinya.


"Sakit ya?" Galuh masih mengusap pipi anak keduanya. "Eka, kenapa pipi Hashi dicubit?"


Eka menunduk dan mengerucutkan bibirnya, "tadi Hashi nyubit pipi Lala, telus Hashi nggak pelcaya kalo dicubit itu sakit. Jadi, Eka nyubit pipi Hashi bial Hashi tau lasanya."


Mata Eka berkaca-kaca, dia menahan tangisnya kuat-kuat. Dia ingin seperti yang diinginkan ayahnya, menjadi kuat untuk melindungi orang-orang tersayangnya.


Melihat Eka yang menjelaskan dengan menahan tangis, Galuh menjadi terenyuh dan mendekap tubuh anak sulungnya.


Sekarang, Galuh mendekap ketiga buah hatinya. Memberikan ketenangan untuk mereka.


"Kalian yang akur ya, saling melindungi dan menyayangi," tutur Galuh.


☆☆☆


Malam ini Galuh dan ketiga anaknya sudah rapi.


Galuh dengan dress longgar dan jaket hijau tua terlihat sangat simpel dan manis.


Sedangkan kedua anaknya memakai baju motif sama yang terlihat sangat santai tapi elegan.


Dan anaknya yang satu lagi? Untuk seorang bayi tidak perlu susah-susah, pake apapun tetap cocok.

__ADS_1


"Mbak Anna mana ya?" Galuh memperhatikan sekeliling, tapi tidak menemukan Anna sama sekali.


Tak berselang lama, datang seorang gadis dengan baju santai.


"Ini dia Mbak Anna," ucap Galuh. "Kamu pake apa aja selalu cocok," puji Galuh.


Anna tersipu dan menunduk, "Mbak Galuh bisa saja. Mbak Galuh juga cantik,"


"Hahaha, dasar anak gadis, kalo dipuji pasti malu." Galuh membenahi topi yang dipakai Lala. "Mbak juga pernah gadis kok, kalo digoda atau dipuji sama malunya kaya kamu,"


"Kalo kamu mah bukan malu, tapi malu-maluin," kata Hendry yang sudah ada di pintu.


"Ih apaan sih?" Galuh menatap Hendry sinis. "Kalo datang tuh salam, permisi, bukan malah motong pembicaraan orang," sarkas Galuh.


"Permisi Nyonya Galuh, sudah siapkah?"


"Ayo cepat kita berangkat, nanti kemalaman," Galuh menggandeng tangan Hashi dan Eka.


Mereka lalu keluar bersama. Anna mengikuti di belakang Galuh, diam-diam memperhatikan dua orang yang terlihat sangat dekat itu.


Hendry membukakan pintu untuk Galuh, "silahkan masuk Nyonya,"


Galuh hanya diam dan masuk ke mobil. Sedangkan Anna, Eka dan Hashi duduk di belakang.


"Kemana kita akan pergi?" tanya Galuh setelah Hendry duduk di belakang kemudi.


"Ke suatu tempat, yang sederhana namun menyenangkan," jawab Hendry sembari menghidupkan mobil.


"Cih, sok misterius," cibir Galuh.


Hendry hanya cuek dan menjalankan mobilnya. Sudah biasa baginya mendengar cibiran Galuh.


Perjalanan berlangsung dengan hening. Galuh yang sibuk dengan Lala, Hendry yang fokus menyetir, dan Anna yang sibuk dengan pikirannya.


Sampai akhirnya mobil berhenti di sebuah parkiran terbuka yang penuh dengan motor. Galuh memperhatikan sekeliling dan menahan tawanya.


"Ini yang kamu maksud sederhana namun menyenangkan?"


Hendry berdeham dan keluar dari mobil. Dia berputar untuk membukakan pintu untuk Galuh.


"Ya, kita di sini dan memakai baju branded. Haha konyol," Galuh tertawa.


Pasalnya, mereka memakai baju rancangan seorang desainer terkenal. Dan sekarang mereka ada di sini, di mana isinya hanya muda-mudi yang sedang berduaan.


"Aku kan mau nostalgia. Dulu kita ke sini setiap selesai penilaian semester," ucap Hendry menerawang.


"Itu dulu Hen, waktu kita SMA," Galuh tersenyum, mengingat masa-masa remajanya bersama Hendry.


"Udah yuk masuk," ajak Galuh. "Anna, kamu sama Eka dan Hashi ya,"


"Iya Mbak,"


Mereka berenam memasuki tempat itu. Eka dan Hashi berseru senang, mereka memperhatikan sekeliling dan sesekali tertawa.


"Ini pasal malem?" tanya Eka dengan sedikit berteriak.


"Wah, lame ya!" seru Hashi senang.


Galuh dan Hendry tersenyum melihat kedua anak itu senang. Memang ini pertama kali Hashi dan Eka datang ke pasar malam. Biasa, anak zaman sekarang.


"Kita naik wahana apa?" tanya Hendry.


"Om Hendly, Om Hendly, Eka mau naik itu," Eka menunjuk kincir angin yang berputar lambat.


"Jangan, Achi atut," tolak Hashi.


"Hashi tenang aja, kan ada Om Hendry di sini," ucap Hendry menenangkan.


"Tapi Om ...."


"Hashi nggak usah ikut, di sini aja," kata Eka dengan kesal.


Hashi mengerucutkan bibirnya dan menghampiri Galuh. Matanya sudah siap untuk mengeluarkan air mata, "Bunda,"


Gadis cilik itu memeluk ibunya dengan erat. Menahan untuk tidak menangis.


"Eka nggak boleh gitu, masa sama adiknya gitu," tegur Galuh. "Hashi nggak usah takut, nanti naik sama bunda. Pasti nanti Hashi suka," lanjutnya membujuk Hashi.


Eka menunduk. Mungkin Eka memiliki naluri seorang anak sulung, sehingga dia lebih memilih untuk mengalah. Eka menghampiri Hashi dan meraih tangannya, "ayo sama kakak,"


Galuh tersenyum. Melihat anaknya akur memang membuat hati tenang.


"Kalo begitu kita bagi," ujar Galuh. "Bunda sama anak-anak, Om Hendry sama Mbak An,"


"Saya sama anak-anak saja, Mbak," balas Anna dengan cepat.


"Anak-anak biar sama aku. Aku nggak tenang kalo harus dipisah dari mereka," jelas Galuh. Dia juga merasa sedikit takut.


"Ya udah ayo, aku beli tiket dulu," ujar Hendry. Lalu pergi membeli tiket.


Tak berselang lama, Hendry kembali dan membawa tiga tiket dewasa, dan dua tiket anak-anak. Lala pasti belum dihitung.


Mereka langsung menuju ke wahana. Seperti yang sudah dibagi, Anna dengan Hendry, dan Galuh dengan anak-anak.


Eka dan Hashi sangat senang. Berkali-kali mereka berseru karena melihat pemandangan malam yang indah.


"Bunda liat!" seru Eka. "Lampunya, kelip-kelip,"


"Bunda, Bunda!" seru Hashi. "Achi deket cama bintang,"


"Iya, iya." Hanya itu yang keluar dari mulut Galuh.


"Bunda, kenapa Om Hendly nggak cama kita?" tanya Hashi.

__ADS_1


Galuh tersenyum penuh arti, dia menatap ke depan, "karena mereka harus bersama,"


__ADS_2