
Setelah puas menaiki berbagai wahana, akhirnya mereka memutuskan untuk mencari warung makan.
"Bunda, Eka lapar," rengek Eka.
Galuh tersenyum dan mengusap kepala putra sulungnya, "Eka mau makan apa?"
"Gimana kalo kita makan bakso? Di sana ada bakso enak banget," usul Hendry.
"Eka mau bakso,"
"Achi juga mau, Bunda,"
Galuh mengangguk setuju, sudah lama dia tidak makan bakso.
Mereka berlima menuju warung bakso yang ditunjuk Hendry.
Hendry memesan bakso empat mangkuk, sedangkan yang lainnya menunggu.
"Kamu suka bakso, An?" tanya Galuh pada Anna yang diam sejak tadi.
"Suka Mbak,"
"Kalo gitu kapan-kapan kita beli bakso sendiri, nggak usah ajak Hendry," bisik Galuh.
Mereka berdua tertawa.
"Gimana?"
Galuh dan Anna terperanjat. Entah sejak kapan Hendry sudah berdiri di samping Galuh.
Anna menunduk dan Galuh berpura-pura tidak tahu.
Keadaan menjadi hening, hanya ada celotehan dua anak kecil yang sedang mendebatkan bentuk bakso.
"Bakso itu kaya bola, Hashi. Bukan roda,"
"Kaya loda," protes Hashi.
"Bola,"
"Loda."
Dan perdebatan masih berlanjut sampai bakso datang.
Asap mengepul dari mangkuk, menandakan bakso yang masih panas.
"Yeay baksonya datang!" sorak kedua anak Galuh.
"Hati-hati kuahnya masih panas. Makannya pelan-pelan aja,"
"Iya, Bunda,"
Galuh membantu kedua anaknya memotong-motong bakso di mangkuk.
Terkadang dia juga harus menyuapi mereka.
"Mereka makan bakso semangkuk bisa abis?" tanya Hendry.
"Bisa lah, yang penting disuapi," jawab Galuh.
Hendry hanya mengangguk dan melanjutkan makannya.
Setelah mereka selesai makan, mereka memutuskan untuk pulang.
Ketiga anak Galuh terlihat sangat lelah. Lala bahkan sudah tidur sejak tadi.
Setelah drama perdebatan masalah tempat duduk, akhirnya mereka sampai di rumah dengan selamat.
Galuh menggendong Lala, Anna menggendong Hashi, dan Hendry menggendong Eka.
Ketiganya ditidurkan di ranjang.
"Aku pulang dulu, Luh," ucap Hendry.
"Terima kasih, Hen. Hati-hati di jalan," balas Galuh.
Hendry mengangguk lalu pergi dari sana.
"An, kamu istirahat sana. Biar aku yang jaga anak-anak,"
"Tapi mbak ...."
"Tidak apa-apa, An."
Anna menatap Galuh khawatir. Majikannya ini tidak pernah istirahat.
__ADS_1
Sehabis kerja langsung mengurus anak. Lalu melanjutkan pekerjaan sampingan.
Anna tidak tahu berapa banyak energi yang dimiliki Galuh sampai bisa seperti itu.
"Beneran, Bu?" tanya Anna memastikan.
"Iya, An,"
"Baik, Mbak. Saya keluar dulu, kalo ada apa-apa panggil saya ya, Mbak."
Galuh mengangguk dan tersenyum.
Kini hanya Galuh dan ketiga anaknya. Ditatapnya wajah ketiga anaknya.
"Bunda berharap kalian selalu bahagia,"
Lalu diciumnya kening anak-anak satu persatu.
Dia pun mengambil posisi berbaring di sebelah Lala. Dipeluknya anak itu dengan erat.
Anak bungsunya yang tidak pernah melihat rupa ayah kandungnya.
Yang anak itu tahu hanya Hendry. Seseorang yang selalu ada di samping Galuh.
Galuh memejamkan matanya dan tidur.
Dia bahkan tidak mengganti bajunya. Dan Galuh tidak peduli tentang itu.
*****
Pagi telah tiba. Galuh bersama kedua anaknya dan Anna sedang duduk di kursi meja makan.
Keempatnya sibuk dengan makanan masing-masing.
"Kalian di rumah ya. Turuti kata-kata Mbak An, jangan nakal, jangan keluar rumah, makan yang teratur!" perintah Galuh.
"Siap Bunda!" jawab kedua anak kecil itu serempak.
Mereka lalu melanjutkan sarapan mereka.
Setelah sarapan Galuh berangkat bekerja.
Hari ini adalah hari pertama Ferdian menjadi atasannya. Sedangkan Hendry beralih haluan ke bisnis pariwisata di Bali.
Minggu depan dia akan berangkat ke Bali. Itu membuat Galuh merasa sedih.
Di perjalanan, Galuh hanya melihat keluar jendela.
Dia berpikir, akankah kedepannya semua baik-baik saja?
Sesampainya di hotel, Galuh langsung turun. Dia lalu masuk ke loker untuk memasukkan barang-barangnya.
Galuh juga langsung mengganti pakaiannya dengan seragam.
Setelah dia siap, dia akan langsung menuju front desk untuk bekerja.
Hari ini dia terlihat perfect seperti biasa. Tapi, hatinya sedang tidak karuan.
Saat Galuh sedang menata meja kerjanya, dia melihat seseorang yang selalu dia hindari.
"Ferdian," gumamnya.
Galuh langsung pura-pura sibuk saat Ferdian semakin mendekat.
Dia berdoa di dalam hati semoga Ferdian tidak melihatnya.
"Selamat pagi, Tuan Ferdian," sapa seorang koki wanita.
Terlihat dari pakaiannya dia seperti seorang koki. Dan Galuh tahu siapa wanita itu.
"Selamat pagi," jawab Ferdian.
Koki itu lalu pergi dari sana meninggalkan Ferdian sendiri.
Ferdian merasa ada yang menatapnya. Dia melihat sekeliling dan mendapati Galuh yang berdiri di belakang front desk.
Pria itu menghampiri Galuh yang pura-pura sibuk mengutak-atik komputer di depannya.
"Ekhem!"
Ferdian sengaja batuk untuk membuat Galuh melihatnya.
Galuh yang terkejut mendongakkan kepala dan melihat Ferdian menatapnya dengan senyum manis.
"Se ... selamat pagi, Tuan," sapa Galuh kaku.
__ADS_1
"Selamat pagi, Nyonya," balas Ferdian dengan senyumnya.
Galuh menghela napas. ingin sekali dia melempar buku dihadapannya ke pria ini.
Berani-beraninya dia tersenyum saat melihatnya salah tingkah.
Galuh benar-benar muak melihat senyum itu.
"Sebaiknya ketika menyapa orang lain harus disertai senyuman." Ferdian menasehati Galuh.
Galuh menatap Ferdian dnegan sengit. Apa maksudnya?
Dia tidak akan tersenyum kepada laki-laki ini.
Galuh mengabaikan Ferdian dan pergi dari sana. Dia berjalan menuju loker.
Bukan untuk mengambil apapun. Hanya untuk menghindari Ferdian yang menggodanya.
"Apakah aku akan kuat kerja di sini?" Galuh menghela napas panjang.
Wanita itu memejamkan matanya dan bersandar di dinding.
"Mbak Galuh," panggil seseorang.
Galuh membuka matanya dan melihat temannya.
"Iya?"
Nia, - nama teman Galuh - memberikan sebuah undangan.
Galuh membacanya. Ternyata undangan perayaan pergantian pemilik baru dan nama hotel.
"Wajib datang loh, Mbak," kata Nia.
"Wajib?" Galuh terkejut. Dia berniat untuk tidak menghadirinya.
"Iya, Mbak. Karena acara ini penting banget," jelas Nia.
Galuh menghela napas, "sepenting apa sih? Males banget aku,"
"Tumben Mbak Galuh males. Biasanya kalo ada acara kantor pasti semangat," kata Nia.
"Nggak tahu. Lagi males," ujar Galuh dengan lesu. "Aku ke front desk dulu,"
Nia mengangguk dan melihat Galuh dengan aneh.
"Mbak Galuh aneh," gumamnya.
*****
Siang yang cukup panas. Galuh mengibaskan tangannya lalu meneguk air mineral dari botol.
"Duh, panas banget," gumamnya.
Mungkin memang sudah takdir atau memang nasib Galuh yang kurang baik. Tempat dia bekerja terbuka dan tentu saja ini sangat panas.
Hanya ada atap yang melindunginya. Dinding? jangan tanyakan itu.
Jika dia bertemu Hendry, dia akan menjitak kepalanya karena sudah membuat desain hotel seperti ini.
Hanya mereka yang ada di dalam kamar yang mendapatkan fasilitas AC.
"Aku benar-benar akan membunuh Hendry!" geram Galuh.
Dia lalu meneguk air lagi.
"Panas ya?"
Galuh terperanjat. Ferdian sudah berdiri di depan meja kerjanya.
"Ngapain kamu di sini?"
"Nggak boleh? Sekarang aku pemilik hotel ini,"
Galuh mendengus.
"Sejauh apapun kamu lari, aku akan tetap mengejar kamu sampai dapat," ucap Ferdian dengan senyumnya.
"Aku tidak peduli,"
Ferdian terkekeh, "Baiklah, jangan lupa untuk menghadiri acara lusa,"
Setelah mengatakan itu, Ferdian langsung pergi dari sana.
Galuh menatap kepergian Ferdian. Ucapan laki-laki itu terngiang-ngiang di kepalanya.
__ADS_1
"Ucapan hanyalah sebuah ucapan jika tidak diimbangi dengan perbuatan," lirihnya.