
Pagi-pagi sekali Galuh sudah bersiap berangkat ke hotel. Dia mengambil tasnya lalu keluar kamar.
Baru saja dia akan melangkah keluar, Galuh teringat akan ketiga anaknya. Bi Ipah sudah izin kemarin karena suaminya semakin parah.
"Anak-anak gimana? Aku mana tega ninggalin mereka sendiri di rumah," gumam Galuh. "Apa aku bawa ke hotel aja ya?"
Galuh pergi ke kamar di sebelahnya. Terlihat dua ranjang berbeda dengan masing-masing ranjang terdapat seorang anak. Galuh menghampiri mereka berdua.
"Tapi kalo aku bawa ke hotel, mereka bisa mengganggu orang lain." Galuh menimbang-nimbang apa yang harus dia lakukan.
Saat Galuh sedang sibuk mempertimbangkan semuanya, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Wanita itu melihat ke layar dan tertera nama Hendry di sana. Pasti atasannya ini menanyakan keberadaannya.
"Halo,"
"Kamu nggak berangkat? Jam berapa ini? Biasanya kamu udah stand by di front desk," omel Hendry.
"Ya maaf, aku bingung anak-anak aku titipkan ke siapa," jelas Galuh. Dia memijat keningnya yang pusing.
"Bawa anak-anak ke hotel, biar aku yang urus," ucap Hendry dengan cepat. "Aku jemput ke rumah," lanjutnya.
Setelah mengucapkan itu Hendry langsung mematikan telpon sepihak. Galuh hanya mengangkat bahu lalu memasukkan peralatan ketiga anaknya ke tas, dari pakaian sampai alat makan dan mandi.
Dia lalu kembali ke kamarnya sendiri dan menggendong anak bungsunya. Tak berselang lama Hendry datang.
Galuh langsung meminta Hendry untuk menggendong Eka dan Hashi. "Kamu gendong Eka sama Hashi!" pinta Galuh, lebih tepatnya perintah.
"Iya," jawabnya. Hendry lalu menggendong Eka dan Hashi sekaligus. Tenaga laki-laki memang beda dari tenaga perempuan.
Mereka lalu menuju ke mobil, Hendry mendudukkan Eka dan Hashi di jok belakang. Sedangkan Galuh menggendong Lala duduk di depan, di samping Hendry.
"Yuk berangkat!"
"Berasa jadi supir," gumam Hendry.
"Apa?"
"Nggak ada apa-apa,"
Mereka menuju ke hotel dengan tenang tanpa ada yang membuka percakapan terlebih dahulu. Galuh sibuk dengan Lala yang bangun karena ingin menyusu, sedangkan Hendry sibuk dengan jalan.
Sesekali Galuh menoleh ke belakang memastikan kedua anaknya tidur dengan nyenyak.
"Mereka akan tidur sampai di hotel, tenang aja," ucap Hendry menenangkan.
"Iya,"
Mereka lalu kembali dengan kesibukan masing-masing, sampai mobil yang mereka tumpangi memasuki halaman hotel.
Hendry keluar terlebih dahulu diikuti Galuh yang masih menggendong Lala. Hendry ke jok belakang untuk menggendong dua anak yang masih tertidur pulas.
"Tasnya udah?" tanya Hendry.
"Udah, yuk masuk," ajak Galuh.
Mereka memasuki hotel dengan tenang. Banyak orang mengira mereka adalah sebuah keluarga, tapi kenyataannya tidak.
"Bawa mereka ke kamar eksekutif, biarkan mereka tidur di kamar itu."
Galuh mengangguk, mengiyakan saja apa yang dikatakan Hendry. Yang penting anaknya bisa tidur nyaman.
__ADS_1
"Siapa yang akan menjaga mereka?"
"Aku,"
"Apa tidak mengganggu pekerjaanmu?"
"Jangan lupa jika aku adalah bos di sini. Aku bebas melakukan apapun." Hendry mengeluarkan tatapan bangganya. Galuh mendengus melihat tingkah Hendry.
"Dan jangan lupa sebentar lagi kamu sudah bukan bos di sini," sarkas Galuh.
☆☆☆
"Permisi Pak,"
"Ada laporan apa?"
Laki-laki yang baru saja masuk memberikan selembar foto. Di foto itu terdapat dua orang yang sedang menggendong anak.
"Jadi mereka ada di sini?"
"Benar Pak, dan ketika saya ikuti tadi mereka memasuki kamar tepat di sebelah kamar Anda," jelas orang itu.
"Bagus, kau boleh pergi," kata Ferdian dingin.
Setelah laki-laki itu pergi wajah Ferdian berubah. Senyum hangat menghiasi bibirnya. Wajahnya yang dingin menjadi lebih hangat dan tersentuh.
"Ayah rindu kalian," ucapnya.
☆☆☆
"Aku titip mereka, Hen. Jaga mereka!" perintah Galuh.
"Iya,"
"Iya Bunda Galuh,"
Galuh tertawa melihat Hendry menatapnya dengan kesal. Mungkin karena celotehnya sedari tadi yang mencelotehkan hal yang sama sehingga membuat Hendry kesal.
"Aku titip mereka ya," ucap Galuh lalu tertawa dan pergi dari kamar.
Setelah memastikan kondisi ketiga anaknya dalam keadaan nyaman, dia akan tenang dalam bekerja.
"Dasar emak-emak, cerewet banget," gerutu Hendry.
Tiba-tiba pintu terbuka menampakkan Galuh, "Hen, aku denger loh."
Hendry meringis melihat Galuh, dia tidak tahu jika wanita itu masih di sana.
"Jaga anak-anak!" Galuh menunjuk Hendry dengan tatapan mengintimidasi.
Hendry hanya mengangguk lalu melihat pintu yang sudah tertutup rapat, takut jika hal yang sama terjadi lagi.
"Apa semua emak-emak kaya gitu ya?"
☆☆☆
Galuh sudah berdiri di belakang front desk, dia menyapa tamu yang lalu lalang. Baik yang baru check in atau yang sudah check out.
"Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?" tanya Galuh ramah.
__ADS_1
Begitulah kiranya setiap hari. Ada banyak pengunjung, dari yang sering komplain sampai yang menerima apa adanya. Mungkin kebanyakan adalah yang sering komplain.
Setiap harinya Galuh harus bolak-balik mengantar tamu dari tempat check in sampai ke kamar. Dan jaraknya juga bisa dikatakan sangat jauh.
Jarak jauh juga tidak menjadi halangan untuk selalu menjaga langkah. Di setiap langkah Galuh harus terlihat anggun.
"Nomor kamar Anda 2189, mari saya antar," tawar Galuh dengan senyum yang masih mengembang.
Dia mengantarkan tamu sembari menjelaskan. Tidak boleh tersedak dan tidak boleh tersandung. Harus jelas dan mudah dimengerti.
☆☆☆
Tok ... tok ... tok ....
"Masuk!"
Mendengar perintah dari dalam, orang yang mengetuk pintu pun membuka pintu.
"Selamat pagi menjelang siang, Tuan Hendry," ucap orang itu.
Hendry membalikkan tubuhnya dan melihat Ferdian sudah berdiri di depannya. Hendry melirik ke tiga anak yang masih terlelap.
Bagaimana jika Ferdian melihat kedua anaknya?
"Ah ternyata Tuan Ferdian, ada apa?" Hendry berusaha tenang agar Ferdian tidak curiga.
"Hanya ingin membahas sedikit masalah. Tapi sepertinya Tuan Hendry sedang bertugas menjaga anak," sindir Ferdian. Senyum menggantung di bibirnya, tetapi senyum itu bukan senyum asli.
Hendry tertegun. Ferdian pasti sudah melihat dia dan Galuh menggendong anak-anaknya.
Ferdian mendekati kasur dan melihat ketiga anaknya berbaring di sana. Wajah polos mereka membuat senyum Ferdian mengembang.
"Anak-anak yang lucu," ucapnya.
"Ferdian," panggil Hendry. Dia harus menjelaskan semuanya agar tidak terjadi kesalahpahaman.
"Aku tau semuanya, terima kasih telah menjaga mereka," ucap Ferdian sembari mengusap wajah Hashi. "Aku hanya ingin melihat mereka sebentar," lanjutnya.
Hendry kembali tertegun, laki-laki di depannya adalah ayah kandung dari ketiga anak ini. Tidak pernah disangka bahwa Ferdian akan berterimakasih padanya.
"Jangan sia-siakan waktumu, aku pergi dulu." Tanpa menunggu jawaban dari Ferdian, Hendry berdiri dan pergi dari kamar.
Tepat ketika Hendry pergi, Lala bangun. Mata polosnya menatap Ferdian. Bayi itu bergumam seperti memanggil seseorang.
Melihat bayi di depannya bangun, Ferdian mengangkatnya. Dia menimang Lala, anak yang tidak pernah dipegangnya apalagi ditimang seperti ini.
Sebutir air mata turun melalui pipinya. Dia bahkan tidak pernah menyentuh anaknya.
"Maafin ayah ya," ucapnya tulus sembari menciumi pipi bayi perempuan itu.
"Ayo tidur lagi, kamu pasti bangun karena ayah terlalu berisik." Ferdian menimang Lala agar cepat tidur. Mengusap kepala mungilnya sampai tidur.
Setelah Lala tidur, Ferdian meletakkan bayi itu di kasur dan bangkit dari sana.
"Ayah ...." Ferdian terkejut mendengar panggilan itu. Dia melihat ke Eka yang ternyata sedang mengigau.
Air mata kembali turun membentuk aliran di pipi. Ferdian menghampiri Eka dan mencium keningnya. Anak ini adalah saksi perpisahannya dengan ibunya. Ferdian juga mencium kening Hashi.
Setelah itu dia keluar dan mendapati Hendry yang berdiri di luar. Ferdian tersenyum, "terima kasih Hendry, tolong jaga mereka," pinta Ferdian. Pria itu lalu pergi dan meninggalkan Hendry yang masih terpaku.
__ADS_1
"Aku akan menjaga mereka, tapi suatu saat nanti kamu yang akan menjaga mereka, Ferdian,"