
Seharian ini Galuh melakukan pekerjaannya dengan baik.
Setelah pertemuannya dengan Ferdian pagi itu, mood-nya memburuk.
Dia menelepon Hendry dan menceritakan semuanya. Dari pertemuannya dengan Ferdian sampai undangan pesta.
Hendry hanya menanggapi dengan tawa dan godaan-godaan yang selalu dilontarkannya ke Galuh.
"Kau akan bertemu dia terus untuk kedepannya, Luh. Jadi, terima saja, siapa tau kalian berjodoh lagi," ucapnya dari seberang sana.
Galuh mendengus kesal dan mengancam untuk menutup teleponnya.
Untungnya Hendry berhasil merayu Galuh agar mood-nya membaik.
Sekarang, wanita itu sedang berdiri di pantai. Tepatnya di sebelah selatan hotel. Tempat yang menyenangkan bagi Galuh.
Setelah berganti pakaian, dia memutuskan untuk tidak langsung pulang. Pantai ini adalah tujuannya.
Selain gratis, dia juga tidak perlu jauh-jauh pergi. Di sini sudah cukup indah untuknya.
Pantai yang bersih dengan pasir putih. Airnya biru berkilau diterpa matahari sore. Dan angin sepoi-sepoi yang menenangkan.
"Rasanya ingin menginap di sini saja," ucapnya.
"Kau bisa menginap di sini dengan anak-anak,"
Galuh terperanjat. Dia terkejut melihat Ferdian berada di sampingnya.
"Ngapain kamu di sini?"
Ferdian terkekeh, "memangnya kenapa jika aku di sini, ini kan hotelku,"
Galuh mendengus lalu berbalik untuk pergi.
Tapi, tangannya ditahan Ferdian. Terpaksa dia harus berhenti.
"Lepas!"
Bukannya dilepaskan, Ferdian malah semakin mengencangkan genggamannya.
Laki-laki itu duduk dan ...
"Awwhh!" pekik Galuh.
Wanita itu kini berada di pangkuan Ferdian. Galuh mencoba bangkit tapi ditahan oleh Ferdian.
Laki-laki itu memeluknya dengan erat.
"Lepas, Ferdian!"
"Biarkan seperti ini sebentar. Apa kau tidak merindukan masa-masa seperti ini?"
Ferdian semakin mengencangkan pelukannya. Galuh hanya bisa pasrah menuruti perlakuan Ferdian.
"Bagaimana kabar anak-anak?" tanya Ferdian.
"Mereka baik," jawab Galuh.
"Apa mereka sering menanyakanku? Aku yakin mereka sering menanyakanku terutama Eka,"
Galuh mendengus, "huh, Eka bahkan tak pernah menyebutmu sekali pun,"
Bohong. Semua yang dikatakan Galuh bohong. Hampir setiap hari Eka selalu menanyakan keberadaan ayahnya.
Jika bukan karena kehadiran Hendry, mungkin Galuh akan kewalahan dengan pertanyaan Eka.
"Apakah seperti itu?" tanya Ferdian. Sorot matanya terlihat kecewa.
"Yang mereka tau hanya Hendry, karena dia yang selalu ada untuk anak-anak," ucap Galuh. Melihat Ferdian yang kecewa, dia tak segan-segan melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
Dan Galuh berhasil. Dia berhasil membuat Ferdian terdiam.
Pelukannya semakin kencang sampai membuat Galuh susah bernapas.
Laki-laki itu menatap intens Galuh. tangannya membelai pipi wanita di depannya.
"Tidak apa-apa jika mereka hanya tau Hendry. Sebentar lagi mereka akan tau siapa ayah kandungnya, dan kita akan bersama lagi," ucapnya membuat Galuh bergidik.
Ferdian mendekatkan wajah ke Galuh. Matanya menatap intens bibir di hadapannya.
"Sudah lama aku tak pernah memakan ini,"
Galuh merasakan tubuhnya menegang.
"Ferdian hentikan! Jangan gila!" Galuh berusaha melepaskan diri dari pelukan Ferdian.
Namun, percuma saja, tenaga Ferdian lebih kuat darinya.
Ferdian semakin mendekatkan wajahnya. Hal ini membuat Galuh pasrah.
Dia memejamkan matanya dan tangannya mengepal. Akankah pertahanannya runtuh kali ini?
Saat bibir Ferdian akan menyentuh bibir di depannya, tiba-tiba ponselnya berdering.
Ferdian mengumpat dan mengangkat telepon itu.
Melihat laki-laki itu sedang lengah, Galuh melepaskan dirinya dari rengkuhan Ferdian dan berlari menjauh.
Mengetahui Galuh kabur, Ferdian membanting ponselnya dengan marah dan menatap kepergian mantan istrinya dengan kesal.
*****
"Lapor Tuan, kami telah berhasil menggagalkan Ferdian,"
Seorang pria yang duduk di pinggir kolam tersenyum dan mengangguk. "Bagus, pantau terus mereka. Jangan biarkan Ferdian menyentuh Galuh,"
"Baik, Tuan Hendry."
Pria itu menyeruput jus jeruk di sampingnya. Senyumnya mengembang sempurna.
Meskipun dia sekarang jauh dari Galuh, tapi dia selalu mengawasi wanita itu dan anak-anaknya.
"Aku tidak akan pernah membiarkan kamu menyakiti mereka lagi,"
*****
Setelah melarikan diri dari Ferdian, Galuh langsung pergi ke loker. Mengambil barang-barangnya lalu pergi dari hotel.
Dia harus pulang secepatnya, sebelum Ferdian berhasil menemuinya lagi.
Galuh memesan taxi online. Dia menunggu di depan hotel. Sesekali dia menoleh ke belakang, takut jika Ferdian tiba-tiba berada di belakangnya.
Benar saja, beberapa menit setelah dia memesan taxi, Ferdian berada di ambang pintu masuk hotel.
"Astaga, Ferdian," gumamnya. "Bagaimana ini? Taxi yang kupesan belum datang,"
Ferdian berjalan ke arahnya dengan langkah mantap. Tatapannya setajam elang.
Galuh berharap taxi yang dipesannya cepat datang agar dia bisa pergi dari sana.
Pria itu semakin dekat dengannya membuat Galuh ketakutan. Entah mengapa dia merasa takut melihat Ferdian setelah kejadian tadi.
Beruntungnya sebuah mobil biru berlogo taxi berhenti di depannya. Dengan segera, Galuh masuk dan menyuruh supir untuk menjalankan mobilnya.
"Cepat Pak!" suruhnya.
"Baik, Bu,"
Mobil itu berjalan menjauhi hotel. Ferdian yang melihatnya berhenti, menatap kepergian mobil biru itu.
__ADS_1
"Kenapa kamu selalu lari dariku, Galuh?"
*****
Galuh menghela napas lega. Akhirnya dia terhindar dari mantan suaminya itu.
Baru hari pertama saja sudah begini, bagaimana kedepannya? batin Galuh.
Dia memejamkan matanya berharap bisa menenangkan pikirannya.
Galuh teringat jika lusa ada pesta dan kebiasaannya adalah mencari gaun yang cocok dengan tema pesta itu.
Akhirnya Galuh memutuskan untuk pergi ke butik.
Setelah sampai butik dia langsung memilih dress yang cocok untuknya.
Butik ini adalah miliknya, tidak ada orang yang tahu kecuali Hendry.
Jika dia membutuhkan gaun untuk ke pesta dia tinggal memilih saja.
Semua pakaian di sini hasil dari desainnya. Dan kebanyakan disukai oleh orang luar negeri.
Galuh memilih sebuah dress merah dengan lengan kecil sehingga jika dipakai akan terlihat bahu mulusnya.
"Sepertinya gaun ini sangat cantik," gumamnya.
"Hendry kan diundang ke pesta itu, aku harus memilihkan outfit yang cocok untuknya,"
Galuh menemukan outfit yang cocok untuk Hendry setelah memilih beberapa menit.
"Outfit untuknya sudah, tinggal menghubunginya saja,"
Galuh mengirimkan pesan ke Hendry.
"Sudah jam segini, anak-anak pasti nunggu, aku harus pulang," gumamnya.
"Mbak, tolong bungkus ini ya," ucap Galuh kepada pelayannya.
"Baik, Bu,"
Setelah mendapatkan outfit yang dia inginkan, Galuh pulang ke rumah.
Jarak antara rumah dan butik tidak terlalu jauh, hanya butuh beberapa detik untuk sampai di rumah.
Sesampainya di rumah, Galuh di sambut kedua anaknya dan Anna yang menggendong Lala.
"Bunda ..." panggil Hashi.
"Sebentar ya, bunda ganti baju dulu," ucap Galuh.
"Iya Bunda,"
Galuh memasuki kamarnya dan mengganti pakaiannya. Lalu, keluar kamar dan bergabung dengan anak-anaknya.
"Kalian main apa?" tanya Galuh.
Hashi duduk di pangkuannya dan memeluknya erat. "Kak Eka cama Mbak An lagi main batu gunting keltas,"
"Wah, pasti seru, ayo main lagi biar bunda ikut nonton,"
"Iya Bunda," jawab Eka.
Mereka melanjutkan permainan mereka. Terkadang mereka tertawa melihat wajah masam Eka yang kalah.
Eka menghampiri Galuh dengan muka masamnya. Itu terlihat lucu di mata Galuh.
"Bunda ..."
"Iya sayang?"
__ADS_1
Eka memeluk leher Galuh dari belakang.
"Ayah di mana sih, kok nggak pernah pulang?"