
"Aku mohon lepaskan aku," lirih Galuh.
Ferdian menegang, matanya menjadi sayu menatap ke depan. Pelukannya sedikit mengendur.
Mengetahui Ferdian sedikit melemah, Galuh segera akan melepaskan diri dari kungkungan pria tinggi itu. Tapi bukan Ferdian namanya jika dengan mudah melepaskan. Dia semakin mengeratkan pelukan.
"Tidak semudah itu, cantik," bisiknya membuat Galuh bergidik.
"Aku mohon, aku harus kembali bekerja. Ada anak yang harus aku nafkahi," Galuh memohon kepada Ferdian.
Pria itu melepaskan wanita di pelukannya. Galuh membalikkan tubuhnya, menatap laki-laki yang juga menatapnya.
"Terima kasih," ucap Galuh tulus.
Ferdian mengangguk dan tersenyum singkat.
Tak menyia-nyiakan kesempatan, Galuh langsung pergi tanpa permisi. Dia takut Ferdian akan berubah pikiran.
☆☆☆
Pukul 17.00 WIB
Sore itu langit terlihat mendung. Langit seakan-akan ingin menangis, meluapkan semua kepedihan yang dialami.
Galuh menatap mendung yang tergantung di langit. Apakah langit tahu apa yang dia rasakan?
"Mau hujan, jaringan juga trouble. Gimana mau pesan taksi online?" gumamnya. Dia membuka dan menutup ponselnya sampai bosan.
"Anak-anak udah makan belum ya? Nggak bisa menghubungi orang rumah lagi." Lagi-lagi Galuh hanya bisa bergumam sendiri.
"Hai!" sentak seseorang dari belakang.
Galuh terperanjat, dia perlahan menoleh dan mendapati Hendry yang cengengesan. Dia menggeplak pundak pria di depannya dengan keras.
"Aw! Sakit Luh." Hendry mengusap pundaknya yang dipukul Galuh.
"Salah sendiri ngagetin," hardik Galuh.
Hendry hanya memamerkan cengirannya. Mukanya mendadak serius saat melihat langit yang mendung. "Kenapa belum pulang?"
"Nggak bisa pesan taksi online," jawab Galuh.
"Bareng aku aja, aku juga kangen sama anak-anak. Lama nggak pernah ketemu," tawar Hendry.
"Lama? Baru juga ketemu kemarin. Yuk pulang." Galuh menggandeng tangan Hendry menuju parkiran khusus.
Tanpa mereka sadari ada seseorang yang memperhatikan dari kejauhan. Tangannya terkepal dan ada cairan menggenang di pelupuk matanya.
"Ini yang aku takutkan, kamu menyukai orang lain," lirihnya.
☆☆☆
"Kita mampir mall dulu ya, aku mau beli sesuatu buat anak-anak," kata Hendry tiba-tiba.
"Beli apa?" spontan Galuh menatap Hendry dengan raut muka penuh tanya.
"Ada deh."
"Cih, sok misterius," cibir Galuh. "Aku tuh sebenarnya masih kesel ya sama kamu, kenapa nggak bilang dari awal kalo tamu yang kamu maksud itu Ferdian?" Galuh menatap Hendry nyalang.
__ADS_1
Hendry terkekeh, dia melirik Galuh sekilas, "sampai kapan sih kamu menghindar dari suami kamu?"
"Mantan," ralat Galuh dengan cepat.
"Iya-iya, mantan ...." Hendry memutar matanya.
"Kalo dia udah jadi pemilik hotel itu terus aku dikejar terus gimana?"
"Percaya diri banget sih? Belum mesti dia mau sama kamu lagi, dia bisa milih istri yang lebih waw, lebih cantik, lebih sexy." Hendry tertawa terbahak-bahak. Sedangkan muka Galuh sudah seperti air jeruk, asam sekali.
"Serah lah, ngomong sama kamu nggak ada gunanya," Galuh hanya bisa pasrah. Bicara dengan Hendry selalu membuat emosinya naik turun.
"Kalo dia emang milih kamu, itu berarti dia emang benar-benar mau memperjuangkan kamu. Dia nggak mau jauh dari kamu, dan yang paling penting dia nggak mau kamu jauh dari pengawasan dia. Secara, Ferdian kan posesif," jelas Hendry panjang lebar, raut wajahnya mulai serius.
"Tapi aku belum siap deket sama dia," lirih Galuh. Dia merasa semuanya terlalu cepat.
"Jalani saja dulu," jawab Hendry santai. Meskipun dalam hatinya dia juga merasa kasihan pada Galuh.
Galuh hanya tersenyum dan mengangguk.
Apapun yang terjadi, tetap berusaha adalah pilihan yang tepat, tidak peduli apa hasilnya.
☆☆☆
"Bunda pulang!" Seru Galuh saat memasuki rumah miliknya.
Terlihat dua anak kecil beda usia berlari menuju ke arahnya dengan berteriak, "Bunda!"
Galuh merentangkan kedua tangannya dan menyambut pelukan kedua anaknya. Dia anak yang selalu disayanginya.
"Lihat siapa yang datang?"
Hendry tertawa melihat tingkah dua anak beda gender ini. Dia memeluk keduanya dengan senyum yang masih tersungging.
"Lihat, Om Hendry bawa apa nih?" Hendry mengeluarkan dua bungkusan ke hadapan kedua anak itu.
"Apa itu?" tanya gadis kecil bernama Hashi.
"Ini buat Hashi." Hendry memberikan sebuah bungkusan pada Hashi. "Dan ini buat Eka." Dia juga memberikan bungkusan lain pada anak laki-laki yang ternyata anak sulung Galuh, kakak Hashi.
Eka dan Hashi terlihat sangat senang mendapatkan hadiah dari Hendry. Mereka lalu memperlihatkan hadiah itu kepada Galuh, "Bunda, Om Hendly kacih hadiah ke Eka," ucap Eka dengan lugunya.
"Oh ya? Kalian dapat hadiah? Bilang apa sama Om Hendry?"
Eka dan Hashi kembali menatap Hendry dan memeluknya. Hendry membalas semua perbuatan kedua anak itu.
"Makacih, Om Hendly," ucap mereka serempak lalu mencium pipi Hendry. Eka mencium pipi kanan, dan Hashi mencium pipi kiri.
Hendry terkekeh melihat tingkah kedua anak yang sudah dianggapnya sebagai anak sendiri. Dia tersenyum senang lalu membalas ciuman keduanya, "sama-sama."
"Kalian udah makan?" tanya Galuh merusak suasana manis diantara mereka bertiga.
"Belum," jawab keduanya serempak.
"Bi Ipah sama Lala mana?"
"Tadi kelual sebental." Kedua anak itu hanya menatap polos ibu mereka.
"Biar aku yang cari mereka," tawar Hendry.
__ADS_1
Galuh mengangguk dan tersenyum, "hati-hati di jalan."
Tanpa bicara lagi Hendry segera keluar dan mencari anak bungsu Galuh yang diajak asisten rumah tangganya.
"Bunda, gendong," pinta Hashi sembari merentangkan kedua tangannya.
"Sini bunda gendong anak bunda yang satu ini." Galuh mengangkat anak perempuannya. Dia juga menggandeng anak laki-lakinya yang sibuk menenteng bungkusan yang diberikan Hendry.
"Kita makan setelah Om Hendry, Lala, sama Bi Ipah pulang ya?"
"Iya Bunda," jawab keduanya serempak.
"Kalian mau buka mainan dari Om Hendry?"
"Mau!" Seru mereka bersama.
Galuh dan kedua anaknya duduk di karpet depan TV. Eka sudah bersiap membuka mainannya, begitu juga dengan Hashi.
"Wah mobil-mobilan!" seru Eka senang.
"Cantik!" seru Hashi yang memeluk kardus berisi boneka barbie.
"Kalian suka?" Galuh ikut senang melihat kedua anaknya senang. Hal yang tidak mereka dapat dari ayah mereka, didapat dari Hendry, sahabatnya.
"Thuka," jawab keduanya serempak.
Ting ... tong ....
"Bentar ya, bunda buka pintu dulu. Pasti itu Om Hendry." Galuh berdiri dan melangkah menuju pintu. Dibukanya pintu itu dan terlihat Hendry yang menggendong seorang bayi.
"Wah udah pulang, yuk masuk." Galuh mempersilakan Hendry masuk dengan Lala yang masih di gendongannya. "Bi Ipah mana?"
"Tadi langsung minta diantar pulang, suaminya sakit katanya," jelas Hendry.
"Kok Bi Ipah nggak bilang-bilang. Kalo bilang kan bisa aku liburkan," ucap Galuh.
"Bi Ipah juga butuh uang buat suaminya berobat, Luh." Hendry menimang Lala yang sedari tadi memainkan dasinya.
Galuh terdiam. Apa yang dikatakan Hendry benar, Bi Ipah butuh uang untuk berobat suaminya. Maka dari itu dia butuh kerja.
"Tenang saja, aku tadi sudah kasih uang sedikit buat berobat, jadi nggak perlu terlalu merasa bersalah." Seperti mengetahui pikiran Galuh, Hendry langsung menjawab sembari menimang Lala.
"Makasih, Hen," ucap Galuh tulus.
Hendry tersenyum, "sama-sama,"
"Udah yuk makan," ajak Galuh.
Mereka berempat makan bersama layaknya sebuah keluarga utuh.
☆☆☆
Di ruangan 2315, seorang laki-laki sedang membaca laporan dari bawahannya.
Ferdian Hanung Hermawan, seorang pengusaha yang sekarang sedang berusaha memenangkan kembali hati mantan istrinya.
Tidak ada yang tahu di mana dia berada sampai akhirnya ada berita bahwa sebuah hotel baru didirikan. Dengan seorang pemilik bernama Ferdian.
Pria itu masih membaca laporan itu dengan serius. Raut wajahnya tetap tenang, tapi tidak ada yang tahu bagaimana hatinya.
__ADS_1
"Jadi, selama ini Hendry yang membantu Galuh?" suaranya terdengar dingin dan tenang. "Aku tidak tau harus berterimakasih atau tidak." Ferdian memperlihatkan senyum miringnya.