
"Siapkan ruang untuk pertemuan hari ini!" perintah Hendry pada bawahannya.
"Baik Pak,"
Hendry lalu melirik wanita yang masih ada di sana, punggungnya bersandar di sandaran kursi.
"Dan kamu, urus anak-anak itu!" Hendry menunjuk ketiga anak yang masih tidur.
"Maaf Pak, sebelumnya saya mau tanya, itu anak siapa?" tanya wanita itu. Karena dia tahu jika Hendry belum punya istri apalagi anak.
Hendry melirik sekilas wanita itu dan mendengus, "urus saja mereka!"
Wanita itu gugup dan langsung menghampiri ketiga anak yang masih terlelap. Dia membangunkan ketiganya, dan merawat mereka.
Wanita itu berpikir, mungkin ini ketiganya adalah anak dari saudara Hendry. Yang paling penting dia harus bekerja sebaik mungkin.
"Bunda." Suara Eka terdengar. Hendry bangkit dan melihat keadaan Eka yang masih mengantuk.
"Eka, bangun!" Hendry menepuk pipi mungil Eka.
"Bunda mana, Om?" Eka mengusap matanya dan menatap Hendry dengan tatapan polos.
"Bunda lagi kerja, kamu sama Mbak An ya. Nanti kamu kalo mau makan minta sama Mbak An," jawab Hendry dengan sabar.
Anna, wanita yang disuruh Hendry menatap atasannya dengan takjub. Dia tidak pernah melihat sisi lembut Hendry. Yang selalu dilihatnya adalah Hendry yang kejam, dingin, dan tidak tersentuh.
"Iya Om," jawab Eka.
Anna lalu menghampiri Eka dan mengusap kepala anak itu, "Eka sama Mbak An ya. Eka mandi dulu, mbak mau bangunin adik-adik kamu," ucap Ana.
Eka mengangguk, dia bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamar mandi bersama Anna.
Setelah memastikan Eka mandi dengan baik, Anna keluar dan membangunkan Hashi. Terlihat gadis cilik itu menggeliat saat dibangunkan.
"Cantik, bangun yuk," bujuk Anna. Hanya saja sedari tadi Hashi hanya menggeliat dan mengabaikan suara Anna.
Melihat kesulitan Anna, Hendry pun membantu Anna membangunkan Hashi. Secara, Hashi memang sedikit susah dibangunkan.
"Hashi, sudah siang, ayo bangun." Hendry ikut membujuk Hashi yang malah semakin nyenyak itu.
"Hashi," panggil Anna sembari menepuk pipi Hashi. "Ayo bangun!"
"Aaiisshh anak ini, jika bukan ibunya yang membangunkan akan sulit untuk bangun," keluh Hendry.
"Mungkin karena ikatan antara ibu dan anak lebih erat Pak, biar saya coba membangunkan Hashi lagi," ucap Anna menenangkan.
"Baiklah, aku titipkan mereka padamu, kerjakan semuanya dengan baik!" setelah mengatakan itu, Hendry berbalik dan keluar dari kamar. Tujuannya kali ini adalah ke ruang pertemuan.
☆☆☆
Di ruang pertemuan, bawahan Hendry sudah menunggu. Semuanya sudah siap sejak beberapa menit yang lalu.
Pintu terbuka dan terlihat atasan mereka memasuki ruangan. Tinggal menunggu tamu mereka yang baru datang kemarin.
"Selamat datang Tuan Hendry, silakan duduk," seorang bawahan mempersilakan Hendry duduk.
"Semuanya sudah siap, bagus," puji Hendry. Semua staf tersenyum senang karena pujian itu. "Apa semuanya sudah siap?"
"Sudah Tuan, seperti yang Tuan minta. Kami membuatkan surat perjanjian antara hotel dan Tuan Hendry," jawab salah seorang bawahan.
"Bagus,"
Tak berselang lama, Ferdian dan kedua bawahannya masuk. Meeting-pun dimulai.
__ADS_1
Suasana di dalam ruangan sedikit tegang. Beberapa meneguk ludahnya karena tidak tahan dengan ketegangan yang tercipta.
"Apakah Tuan Ferdian merasa puas dengan pelayanan kami?" Hendry mulai membuka suara.
"Sangat puas," jawab Ferdian dengan senyumnya.
"Syukurlah jika Tuan Ferdian puas." Hendry ikut tersenyum. "Langsung saja, silakan Tuan Ferdian,"
Ferdian menatap serius semua orang, tapi senyum di bibirnya masih terlihat. "Seperti yang sudah saya bicarakan kemarin, saya berniat untuk membeli hotel ini. Tidak peduli berapapun harga yang akan saya bayar, saya akan tetap membelinya. Saya tertarik dengan hotek ini sejak lama, dan mengatahui bahwa Tuan Hendry ingin menjualnya, saya jadi semakin tertarik untuk membelinya," jelas Ferdian panjang lebar.
"Memang yang dikatakan Tuan Terdiam benar. Saya sebagai pemilik hotel ini setuju dengan ini. Tapi, Tuan Ferdian harus menandatangani surat perjanjian," jawab Hendry.
"Surat perjanjian apa?" Ferdian menatap Hendry dengan bingung.
Hendry menyerahkan map berisi surat perjanjian.
Ferdian membukanya, laku membacanya. Alisnya berkerut melihat isi perjanjian.
"Apa Anda yakin?"
"Ya, saya sangat yakin," ucap Hendry mantap.
Ferdian menghela napas panjang, "baik, akan saya tanda tangani,"
Senyum Hendry mengembang. Dengan perjanjian itu dia bisa membantu seseorang.
Setelah Ferdian menandatangani surat perjanjian, Hendry langsung menyerahkan hotelnya ke Ferdian.
"Dengan ini Widjaya Hotel resmi menjadi milik Tuan Ferdian,"
"Terima kasih, Tuan Hendry. Pembayaran akan saya lakukan sekarang,"
Ferdian lalu menyerahkan selembar cek ke Hendry.
☆☆☆
"Mbak, siapa sih bos baru kita?"
"Entah, aku juga nggak terlalu tau," jawab Galuh.
Ya, dia harus berbohong untuk menutupi statusnya. Bagaimanapun juga statusnya sangat sensitif.
"Kenapa hotel ini harus dijual?" tanya Agnes.
"Aku juga tidak tau,"
Saat mereka sedang asyik berbincang, FO MANAGER memanggil mereka.
"Kalian bertiga diminta untuk ke ruang pertemuan sekarang!"
"Baik Pak," jawab mereka serempak.
Untuk apa mereka dipanggil ke ruang pertemuan?
Apa karena mereka pekerja terbaik?
Galuh meremas tangannya, dia gugup karena akan bertemu dengan Ferdian. Dia hanya bisa memantapkan hatinya, toh nanti mereka akan sering bertemu.
Galuh dan kedua rekannya mengikuti manajer mereka. Di ruangan tidak hanya mereka yang dipanggil. Beberapa pekerja terbaik dari masing-masing cabang juga dipanggil.
Setelah sampai mereka diminta memberi salam dan memperkenalkan diri.
Saat giliran Galuh, Ferdian menatapnya dengan hangat. Senyum mengembang di bibirnya.
__ADS_1
"Perkenalkan Saya Galuh Kimara, seorang front officer sejak tiga tahun yang lalu," Galuh memperkenalkan diri. Tatapannya terpaku pada Ferdian yang juga menatapnya.
"Ehem," Hendry berdeham untuk memecah keheningan setelah sesi perkenalan. "Bagaimana Tuan?"
"Bagus, sangat bagus. Kami sangat berterimakasih," ucap Ferdian dengan melirik Galuh sekilas. "Saya harap kalian dapat mempertahankan prestasi kalian,"
Ferdian tersenyum menatap Galuh. Secercah harapan muncul di hatinya.
Akankah semuanya berjalan sesuai pemikirannya?
☆☆☆
Setelah pertemuan selesai, Galuh langsung menuju ke kamar di mana anaknya tidur.
Pertemuan itu membuat Galuh tegang dan deg-degan. Dia masih ingat bagaimana tatapan Ferdian mengarah padanya.
Galuh hanya berpikir, akankah semua baik-baik saja?
Galuh membuka pintu lalu masuk ke kamar itu. Dia melihat ketiga anaknya bersama dengan seorang wanita, kira-kira lebih muda darinya.
Dia menghampiri wanita itu dan menepuk pundaknya pelan. Wanita itu terperanjat kaget. Bukannya tenang, Galuh malah ikut kaget melihat wanita yang ditepuknya terkejut, sehingga mereka berdua sama-sama berteriak.
"Aaaa!" teriak keduanya.
Anna tersadar lebih dulu dan memegang lengan Galuh agar tenang, "Bu, tenang. Saya bukan orang jahat," ucapnya pelan.
"Ya ampun, saya terkejut melihat kamu terkejut. Maaf ya sudah mengagetkan kamu." Galuh menatap Anna dengan tatapan bersalah.
"Iya Bu tidak apa-apa," jawab Anna. "Ah iya, ibu adalah ...."
"Ibunya Eka, Hashi, dan Lala," lanjut Hendry yang sudah ada di pintu menyaksikan kejadian maaf-maafan di depannya.
"Jadi ini ibunya anak-anak, cantik ya. Pantesan anaknya imut-imut," puji Anna.
"Bisa saja, kamu sendiri siapa?"
"Saya Anna, saya ditugaskan Tuan Hendry untuk menjaga anak-anak ibu," jawab Anna dengan senyum manisnya.
"Terima kasih Anna, maaf sudah merepotkan." Galuh merasa tidak enak pada Anna. Dia menatap Anna dengan tatapan minta maaf.
"Sudah tugas saya Bu, saya senang bisa kenal mereka bertiga. Mereka anak yang baik," ucap Anna tulus.
"Baiklah-baiklah, mari bermain dengan anak-anak. Jangan panggil saya bu, panggil saja Galuh," titah Galuh.
"Ah jangan, saya panggil mbak saja." Anna menolak dengan cepat. Tidak sopan rasanya memanggil orang dengan namanya langsung, terlebih dengan yang lebih tua.
Galuh terkekeh dan menghampiri anak-anaknya, "ayo An, kita main bareng," ajak Galuh.
Hendry tersenyum melihat keduanya langsung akrab. Sepertinya dia tidak salah menolong Anna waktu itu.
Karena kedua wanita itu telah asyik dengan anak-anak, Hendry merasa diabaikan dan memilih pergi dari ruangan. Mungkin dia akan pergi mengisi perutnya yang sudah protes.
Saat Hendry melewati kamar 2315, tangannya dicekal oleh seseorang. Hendry membelalakkan matanya dan melihat Ferdian sudah di hadapannya.
"Apa?!" seru Hendry dengan menekan suaranya agar tidak terlalu terdengar.
"Bagaimana keadaan mereka berempat?" tanya Ferdian. Ekspresi ingin tahu tercetak jelas di wajahnya.
"Mereka baik-baik saja, sebentar lagi kau akan lebih sering melihatnya bukan?" Hendry memutar matanya. Kenapa harus dia yang ditanyai? Kenapa tidak langsung ke kamar saja untuk mengecek.
"Oke, terima kasih," ucap Ferdian. Setelah mengucapkan itu, Ferdian langsung pergi meninggalkan Hendry yang masih berdiri.
"Dasar bucin,"
__ADS_1