
Ditengah hutan yang lebat, hujan yang deras dan kegelapan malam disertai petir yang mencekam......
"Nak, kau harus ikut denganku!" teriak seorang yang tidak terlihat wajahnya karena gelap di tengah bisiknya suara hujan dan petir, ia memakai jas hujan panjang hingga menutupi kepala, sesekali wajahnya terlihat sekilas ketika petir menyambar langit.
Dia kemudian menarik tanganku. membawaku agar terus berjalan mengikutinya, Aku meronta, dan menolak.
"Lepaskan !, Aku tidak mengenalmu."
"Lepaskaaan!! " teriakku dengan kencang.
orang itu tidak peduli, dia terus menarik lenganku, membawa dengan paksa.
"Lepaskaaan, tolooong, tolooooooong!!"
Aku mulai menangis, tanganku gemetar, dibayanganku orang ini mungkin akan menculik atau membunuhku.
"Tenang yuda. aku bukan orang jahat, aku hanya ingin menunjukkan sesuatu yang penting padamu."
"Da.. darimana kau tahu namaku?" tanyaku bingung.
Orang itu tidak menjawab, dia terus menarik lenganku untuk terus berjalan. hujan semakin deras, dentuman petir semakin keras memekakan telinga, baju kami basah kuyup, kaki kami berdua sudah kotor dengan lumpur dari genangan air yang kami lewati.
Aku terus berjalan tertatih tatih, beberapa kali terjatuh, namun genggaman orang itu begitu keras mengangkat dan menarikku, dan Aku masih tetap meronta dan menangis.
Namun Aku lemah, tubuhku sangat kurus, mentalku sangat tak terurus, rasa takutku tak bisa diputus.
Aku sangat lemah hingga tidak bisa melawan orang yang ada di depan, lebih tepatnya tidak berani.
tangis dan teriakan terhenti ketika pandanganku melihat dibalik cahaya petir, ada sebuah gua yang besar, rasa takutku semakin menjadi, Aku kemudian berteriak lebih kencang dari sebelumnya.
"Toloong, seseorang tolong"
Aku semakin meronta lebih keras, namun genggaman tanganku belum terlepas dari orang itu. tebakanku benar, orang itu mulai berjalan memasuki gua, perlahan kami mulai masuk, semakin langkah kami maju semakin kegelapan yang terlihat, dia kemudian berhenti ketika sudah berada sekitar dua puluh meter dari mulut goa, tangan kirinya yang tidak menggenggam tanganku bergerak meraba saku celananya, dia seperti sedang mencari sesuatu.
Dia kemudian mengeluarkan satu benda kecil, seperti Senter, benda itu perlahan mengeluarkan cahaya dengan Flashlight berkisar 50-60 lumen, cukup untuk bisa melihat jalan yang ada didepan.
Tak terduga dia perlahan melepaskan tanganku.....
"Aku tidak berniat melakukan sesuatu yang buruk padamu.....tapi.."
Belum selesai dia berbicara Aku sudah berbalik dan mulai berlari untuk kabur
Langkah kakiku berlari dengan cepat, tubuhku bergerak dengan sigap, kakiku terus berlari.....
Orang misterius itu kemudian melempar senter kecilnya ke arahku dengan keras, hingga tiba tiba senter kecil tadi melayang disampingku dengan cepat, dalam hitungan detik sudah melewatiku, tiba tiba benda itu seperti memanjangkan bentuk dengan cepat ketika masih melayang di udara.
Tidak, dia bukan memanjangkan bentuk..... dia merubah bentuk... benda itu berubah menjadi sebuah pedang hingga jatuh dan menancap ditanah.
langkah kakiku belum berhenti, aku masih berlari... lalu tiba tiba pedang tadi mengeluarkan cahaya yang terang. tak berselang lama terdengar seperti sesuatu keluar dari bawah tanah, suara gemuruh terdengar sangat jelas seperti gemuruh tanah longsor. perlahan cahaya yang menyilaukan tadi menghilang......
Aku tiba tiba menabrak sesuatu yang sangat keras hingga terjatuh. Aku mencoba melihat dengan jelas apa yang tadi kutabrak, tepat didepanku ada semacam kristal merah yang menutupi mulut gua, kristal itu seperti dinding yang menutup, tak ada celah sedikitpun.
__ADS_1
"Benda apa itu?" bisik ku penasaran.
Aku mulai berdiri perlahan dan maju mendekati kristal itu, tanganku mencoba perlahan menyentuh untuk memeriksa.
"Ini sangat keras." ujarku meneliti.
Kristal merah itu seperti kaca tebal yang tidak bisa dihancurkan.
"Keluarkan aku....." aku memohon
sambil memukul mukul kristal itu.
"Aku mohon keluarkan.... aku masih ingin hidup... aku ingin bertemu dengan ibuku dirumah...."
tukasku mengemis sambil menangis putus asa.
Orang itu perlahan berjalan mendekatiku, bunyi langkah kakinya terdengar menggema, dia mengambil pedangnya yang tadi, melihatnya sekian detik dan setelah itu dengan cepat dia kembali berubah bentuk menjadi seperti bentuk senter kecil yang mengeluarkan cahaya.
Sebelumnya Aku mengira jika benda itu adalah sumber penghalang merah yang ada di depannya. jika pedang itu diambil dan diubah ke bentuk yang lain maka penghalang yang ada di depannya juga akan ikut menghilang, namun kenyataannya tidak seperti itu, penghalang merah itu tetap berada di depan dan Aku menatap dengan bingung.
"Yuda, aku tidak berniat buruk padamu, Percayalah. aku berjanji, setelah aku memperlihatkan apa yang harus kau lihat, kau akan kembali dengan selamat." ucapnya sambil memegang sebelah pundakku. Wajahnya terlihat sangat dekat, dari sini aku mulai bisa melihat dengan jelas wajahnya.
entah kenapa hati kecilku berkata bahwa dia bukan orang jahat dan apa yang dia katakan benar.
Orang itupun kembali menarik lenganku, kali ini tidak kasar karena tidak ada perlawanan lagi dariku, dia terus membawaku untuk masuk lebih dalam ke gua.
"Siapa Kau sebenarnya? dan.. darimana kau tahu namaku? "
Aku semakin heran, dia bahkan mengenal pamanku, Paman Sam, Kakak kandung dari ibuku.
Kami terus melangkah masuk lebih dalam ke gua. suara kami dan langkah kaki kami menggema di dalam gua yang dalam Ini.
"Dan apa maksudmu?, tadi kau bilang kau ingin menunjukkan sesuatu yang harus kulihat"
"Sebentar lagi kau akan mengetahuinya Yuda, sebentar lagi kau akan melihatnya, akan sangat sulit menjelaskan jika kau belum melihatnya langsung. " jawab orang misterius itu tanpa menoleh.
Kami terus melangkah masuk ke dalam gua hingga berada tepat di depan batu besar yang menghalangi langkah kami, awalnya Aku mengira ini adalah jalan terakhir, namun orang itu kembali mengubah benda yang tadi menjadi pedang seperti sebelumnya dan mengeluarkan cahaya yang terang, aku reflek memalingkan pandangan, tak berselang berapa lama, dia kemudian menancapkan pedang tadi ke tanah.
Tiba-tiba, batu besar yang berada di depan kami perlahan mulai berdentum keras, kerikil dan tanah diatasnya berguguran layaknya daun yang berguguran dari pohon, sedikit demi sedikit mulai bergeser dan terbuka, Aku semakin bingung dengan semua keanehan ini, Batu besar selebar tiga mobil truck itupun mulai terbuka seutuhnya, Orang tadi kembali mengambil pedangnya..kami pun mulai melangkah maju, setelah beberapa langkah, dia berhenti dan berbalik menghadapku.
"Jika Si tangan merah sudah keluar, kau harus mencari tempat kau berdiri sekarang."
Dia menyodorkan pedang itu kepadaku.
"Ambil pedang Ini!" perintahnya.
Aku sedikit ragu, tapi Aku ingin semua ini segera berakhir agar bisa kembali ke rumah.
"Ingat ! hanya dengan pedang pedang yang memiliki kemampuan seperti ini, yang bisa mengalahkan si tangan merah."
Aku sama sekali tidak mengerti apa yang dia Maksud, Pedang magic, tempat sakral, Si tangan merah, Siapa dia?, apa hubunganya dia denganku?
__ADS_1
Aku kemudian mengambil pedang itu menggegamnya dengan kuat.
"Tancapkan pedang itu ke tanah!."
Aku kemudian menancapkan ke tanah sesuai perintah.
tiba tiba pedang itu mengeluarkan cahaya yang lebih terang, aku mengernyitkan alis, aku memaksa mataku untuk melihat apa yang terjadi pada pedang itu.
tiba tiba percikan darah dalam tangan kananku keluar dari balik kulit jari. Aku berteriak meringgis kesakitan, wajahku tegang, keringat dingin membasahi pelipis, tanganku gemetar ketakutan, Separuh tanganku yang kugunakan untuk memegang pedang terasa seperti Terkena Aliran Listrik lalu mati rasa, tubuhku juga merasakan sakit tak terhingga.
darah yang keluar tadi mulai naik kearah Bilah pedang, darah segarku berjalan naik melingkar, seperti Ular yang melingkari suatu Objek, meresap masuk perlahan ke pedang itu, aku menggigit ujung bibir.
dan tiba tiba aku seperti masuk ke portal cahaya dengan cepat, tubuhku seperti berpindah tempat dengan cepat, denyut jantungku berdetak sangat kencang setelah melewati semua keanehan ini.
Di tengah keanehan yang terjadi itu, Aku melihat visual sosok orang yang sedang duduk lemas dikurung di dalam penghalang merah, penghalang yang kulihat di mulut gua tadi, tapi penghalang itu terlihat lebih besar dan lebih tebal dari yang sebelumnya, orang yang dikurung di dalamnya bertubuh besar, wajahnya tidak terlalu terlihat jelas karena dia menundukkan wajahnya, sesuatu yang bisa diingat ketika melihatnya adalah tangan sebelah kirinya seperti bekas luka bakar.
"Ingat yuda !, Jika waktunya tiba, kau harus kesini, lakukan hal yang sama seperti yang kau lakukan tadi, kita akan bertemu lagi nanti." terdengar suara orang tadi namun tidak terlihat wujudnya.
Setelah itu Aku seperti melihat visual layar disebelah kanan sekelompok orang yang sedang bertarung dari kejauhan, tidak bisa terlihat dengan jelas siapa orang orang itu.
dan disebelah kiriku juga terlihat hal yang sama namun orang orangnya lebih banyak dan lokasi pertempurannya berbeda dengan yang pertama.
setelah itu, semua pemandangan tadi hilang dan aku seperti berpindah tempat lagi.. semuanya berjalan begitu cepat.. aku seperti berada di dalam partikel partikel aneh yang berjalan dengan kecepatan dahsyat, dan suara yang begitu bising,aku menutup telinga dengan kedua tanganku, perlahan juga menutup mataku, kepalaku pusing ketika melihat tempat aneh ini.
tiba tiba semuanya hening, aku perlahan membuka mata. kali ini aku berada di tempat yang begitu indah, hamparan rumput hijau menari ditiup angin sepoi sepoi, sungai mengalir dengan jernih di depanku, pepohonan dari segala macam jenis menghiasi tempat ini menjadi lebih asri, suasananya terasa sangat damai dan tenang, satu ekor kelinci melompat dari satu rerumputan ke rerumputan yang lain, suara pekikan burung terdengar saling bersahutan, sekian lama aku mencoba berkeliling sambil membawa pedang yang daritadi bersamaku, namun tidak ada satu orang pun yang kutemukan setelah lama berkeliling, hanya ada aku, dan pedang yang sekarang kupegang.
Setelah lama berkeliling aku lelah dan mencoba menenangkan diri dari semua keanehan yang telah kulihat, aku mulai duduk bersandar di sebuah pohon, kuletakkan pedang tepat disebelahku, aku menatapnya lama.
"Aku telah memilihmu diantara yang lain, kau orang yang pantas dan layak menjadi generasi berikutnya, kau akan memikul tanggung jawab besar ini, Yuda!"
terdengar suara tanpa wujud, aku kaget dan panik, menoleh kesana kemari mencari sumber suara berasal, aku semakin bingung karena tidak ada satu orang pun yang berada disekitarku.
Yuda..... Yudaa!!!
Aku terbangun dari tidur, di depanku sudah ada ibu yang membangunkanku dari mimpi buruk.
"Ada apa Yuda?, wajahmu terlihat sangat pucat, Kau sepertinya bermimpi buruk"
Aku masih terdiam dengan wajah yang basah dengan keringat, rambutku yang bergelombang dengan poni menutupi kening terlihat berantakan.
"Tenanglah Yuda, semuanya baik baik saja. kau bersama ibu sekarang"
Ucap Ibu sambil memelukku.
Di tengah pelukan Ibu, tak sengaja aku melihat tangan kananku, dan betapa terkejutnya aku, ada bekas luka di tanganku yang perlahan menghilang, luka yang kudapat setelah memegang pedang tadi, persis seperti yang terjadi di dalam mimpi.
Ini adalah Mimpi yang terlihat seperti kelanjutan dari mimpiku sebelumnya yang sudah kualami, dan ini adalah mimpiku yang ketiga, dan sekarang barulah aku yakin ini bukan sekedar mimpi tak berarti.
Namun aku harus merahasiakan ini dari Ibu, aku tidak ingin membuat ibu khawatir lebih dari ini...
..................................................................................
__ADS_1