The Sword Hero

The Sword Hero
Lari !!


__ADS_3

Kegiatanku keesokan harinya berjalan seperti biasa, bangun pagi, memakai seragam sekolah dengan terburu buru, tidak menyisir rambut, tidak merapikan seragam, semua dilakukan karena waktu di jam seakan berteriak padaku tiada henti "Kau terlambat ke sekolah, kau terlambat ke sekolah."


Aku segera turun dari tangga kamarku sambil menenteng tas ransel dan sepatu.


"Yuda.. kau selalu saja terlambat.ibu sudah berkali kali membangunkanmu, tapi kau tidur seperti orang mati, ambil sarapanmu di meja, makan saja nanti ketika di sekolah." suara ibu mengomel dari arah dapur.


Aku mengambil wadah yang sudah disiapkan ibu, Memasukkannya ke ransel, memakai sepatu.


"Bu. Yuda pergi." ucapku pamit.


Sejurus kemudian aku keluar dan segera menuju ke sekolah dengan menaiki bus umum.


Bel tanda istirahat sudah terdengar, kondisi kelas sunyi, hampir semua sudah keluar dengan hajat mereka masing masing. aku mengambil sarapanku, berniat sarapan di taman sekolah, tak sengaja aku melewati tempat murid baru yang kemarin menolongku, dia nampak sedang menulis sesuatu di catatannya dengan kumpulan tempelan foto dan sobekan koran yang sudah nampak kusam, sambil sesekali melihat layar hpnya, aku berhenti sebentar dan melihat sedikit catatan yang ada dibukunya.


Aku begitu kaget ketika melihat salah satu sobekan foto yang menunjukkan ilustrasi sebuah pedang, aku baru teringat, pedang itu persis seperti pedang yang kuterima didalam mimpi dari orang misterius beberapa hari lalu.petunjuk yang selama ini membuatku bertanya tanya.


"Heii, jangan sembarangan melihat privasi orang!"


Ucapnya setengah berteriak setelah menyadari apa yang kulakukan.


"Oh maaf, tidak sengaja"


Dia segera memasukkan buku catatannya ke ransel, dan segera pergi keluar kelas.


aku melihat dia berjalan tertatih tatih, menopang sebelah kakinya.


"hei, kakimu masih cedera karena kejadian kemarin ya?"


dia berhenti sejenak namun tidak meresponku, dia kemudian kembali berjalan keluar kelas dengan susah payah.


Aku saat ini sedang duduk di sekitaran taman sekolah sambil memakan sarapan.tak sengaja aku mendengar percakapan beberapa orang dibelakang tempat aku duduk yang kebetulan tertutup dengan tanaman tanaman.


"Sudah kalian siapkan alat alatnya?"


"Aman"


"Anak anak yang lain sudah kau beritahu?"


"Sudah deal, kalau dihitung dihitung hampir 30an orang."


"Ingat, setelah pulang sekolah nanti, kita langsung targetkan murid baru yang bernama Monica itu, kita lakukan sesuai rencana dan ditempat yang ditentukan.terus amati dia. jangan sampai dia berhasil lolos. Kemarin kita dihajar oleh dia karena kurang persiapan, Pokoknya balas dendam kita harus terbayarkan hari ini juga, kita buat dia jerah"


"Bagaimana dengan Yuda? dia penyebab kita dihajar kemarin." tanya salah satu anak buah.


"Hajar juga dia, dia juga target kita" jawab bos mereka yang tidak lain adalah Asthon.


Setelah itu mereka bubar, dan beranjak pergi ke tempat lain.


"Mereka ingin balas dendam padaku dan monica, aku harus segera beritahu monica, dia dalam bahaya" bisikku setelah mengintip pembicaraan mereka.


Setelah itu aku sudahi makan dan segera beranjak pergi mencari Monica.


Aku kembali ke kelas mencoba mencarinya, namun kelas kosong tak ada monica disana.


Aku beralih mencari monica di kantin, pandanganku fokus mencari disetiap sudut tempat, bertanya ke beberapa orang di kantin,nihil. tidak ada monica di kantin. Aku beralih ke ruang locker para murid. Belum selesai aku menemukan dia bel masuk telah berbunyi. Tidak ada pilihan lain. aku harus segera kembali masuk ke kelas.


Pak adan sudah ada dikelas siap untuk mengajar, aku melihat monica sudah ada dikursinya, para geng yang merencanakan rencana itupun sudah ada di kursi mereka masing masing.


Aku menuju ke tempat duduk monica


"Monica,dengar aku. kau harus segera pulang,segera sekarang ini juga, telpon siapapun untuk menjemputmu, kau dalam bahaya.. me..mereka.."


"Yuda!.. segera kembali ke kursimu.pelajaran akan segera dimulai." Belum selesai aku memberitahu Monica, pak adan sudah memotong ucapanku.


Monica masih menatap bingung belum mengerti apa yang kumaksud.


Aku segera kembali ke kursiku, aku duduk dengan penuh cemas. Bagaimanapun semua ini karena ulahku, dia mendapat ancaman ini karena aku, aku harus membantunya.


Ditengah pelajaran,tiba tiba kepala sekolah dan seorang bu guru masuk ke kelas kami.


"Permisi pak adan, apakah Monica broschin kelasnya disini?"


"Iya,benar pak kepala sekolah."


"Eh,saya minta izinnya pak adan,saya ada butuh monica sekarang. Jadi untuk hari ini saja dia mungkin belum bisa ikut pelajaran pak Adan sampai selesai,ada sesuatu yang penting yang harus dibicarakan dengan monica."


"Oh baik pak kepala sekolah, tidak apa.


Monica! silahkan ikut pak kepala sekolah,sekalian bawa ranselmu."


Monica mulai mengemas buku bukunya, beranjak berdiri dan pergi dari kelas.


Pak adan yang melihat Monica berjalan tertatih tatih langsung bertanya."Monica ada apa dengan kakimu?"


"eh..jatuh pak." jawab Monica.


"Kalau begitu nanti kami obati di kantor" lanjut pak kepala sekolah.


Monica pun pergi dibantu pak kepala sekolah dengan bu guru yang menopangnya.


Aku makin cemas, jika monica pulang disaat sekolah mulai sepi,rencana mereka akan berjalan dengan lancar. Kenapa harus disaat seperti begini, ini gawat, ini sungguh gawat. Aku terus melihat jam di tangan,menunggu waktu pelajaran segera selesai. Pak adan kembali melanjutkan pelajaran.


15 menit kemudian bel pulang akhirnya berbunyi.


"Baik, pelajaran hari ini cukup sampai disini, di pertemuan berikut segera kumpulkan PR yang sudah diberikan tadi. Silahkan kalian bisa pulang sekarang."


Aku buru buru beranjak dari tempat dudukku segera keluar lebih dulu dari siapapun.


Aku segera ke Kantor kepala sekolah. Aku mengintip lewat jendela,ternyata monica masih ada disana. Aku semakin cemas, aku bolak balik


tak bisa diam.


"Yuda!" ada yang menepuk pundakku dari belakang membuatku terkaget hingga berteriak.


"Ternyata kau Selly"

__ADS_1


"Kau ini kenapa? keliatan bingung begitu."


"Selly, dengar, aku butuh bantuanmu."


"Bantuan Apa?"


"Kau pasti akrab dengan monica kan? Kau kan sebangku dengan dia, aku ingin kau sampaikan ke dia.."


"Aaahh. Yuda, dia baru saja 3 hari di sekolah dan kau sudah mau ungkapkan perasaanmu ke dia" ucap selly sambil tersenyum Usil.


"Apa..? Bukan, bukan itu maksudku. maksudku.."


"Alah sudah. tidak perlu malu, nanti aku sampaikan ke dia kalau memang kau serius,aku ini jago loh urusan mak comblang begini."


"Hey hey.. aku tidak punya waktu becanda sekarang, dia dalam bahaya."


"Bahaya?, monica dalam bahaya?"


"Anak gengnya Ashton mau balas dendam ke monica sekarang karena kejadiaan di cafe kemarin, aku kebetulan mendengar pembicaraan mereka ketika istirahat tadi."


"Kalau begitu, bagaimana cara kita ngebantu monica?" Tanya selly mulai cemas.


"Kau punya nomor hpnya?"


"Iya punya, aku baru memintanya tadi pagi."


"Sekarang kau telpon dia, beritahu dia"


Selly mulai membuka hp nya dan menelpon monica.


Monica masih berbincang dengan kepala sekolah ditemani salah satu ibu guru, hpnya berdering dia menatap sebentar, melihat Nama Selly yang menelponnya, dia pun mematikannya.


"Tidak diangkat" ucap selly kesal.


"Chat,sms, apapun itu!"


"Tidak bisa, dia tidak online, sepertinya dia mematikan Hp"


Aku berpikir sejenak mencari cara lain.


"Buku catatanmu?. Keluarkan !"


Selly mulai membuka ranselnya, mengeluarkan buku catatan yang kuminta.


Aku mencatat sesuatu di buku selly.


"Kau masuk ke dalam kantor, berikan catatan ini ke Monica, pastikan dia membacanya."


"Aku harus ijin seperti apa ke kepala sekolah untuk masuk?"


"Bilang saja kau permisi ingin mengembalikan buku milik monica, pastikan pesan ini terbuka dan bisa dibaca monica ketika diserahkan"


Selly mulai beranjak masuk sambil memegang buku catatan yang terbuka.


Pak kepala sekolah dan yang lainnya menatap selly.


"Oh ya, ada apa?" Tanya pak kepala sekolah.


"Permisi pak, saya teman sebangkunya monica, saya ingin mengembalikkan bukunya monica"


"Oh. ya silahkan"


Selly mulai maju ke arah monica, memberikan buku itu ke monica.monica menerimanya.


"Ini bukan bukuku." Kata monica sambil berbisik ke selly.


"Silahkan dibaca. Itu penting" bisik Selly pada monica


Selly mulai bergerak mundur "saya permisi pak,buk."


Monica mulai membaca isi pesan itu.


"Monica segera pulang sekarang, anak geng yang kemarin,mereka merencanakan sesuatu yang buruk padamu, hubungi kerabat mu untuk menjemputmu.mereka banyak kau tidak bisa melawan" monica menutup buku, terdiam sejenak.


"Pak, mohon maaf, saya izin ke toilet sebentar."


Pak kepala sekolah memberikan izin. Monica  keluar dari ruang kantor.


Kami pun buru buru kabur dari kantor kepala sekolah sebelum semuanya terlambat.


Kami sudah berada di halte bus dekat sekolah.


"Kenapa pak kepala sekolah memanggilmu tadi?" tanya Selly pada monica.


"Masalah perkelahianku kemarin di kafe kayu, pak kepala sekolah memperingatkanku untuk tidak mengulanginya lagi."


"Kau tidak hubungi orangtuamu atau kerabatmu untuk jemput?" Tanyaku pada monica.


"Itu justru lebih beresiko, sebelum mereka datang menjemputku mungkin kita sudah babak belur terlebih dulu, lagipula orangtuaku juga sudah tidak ada."


Aku dan selly terdiam setelah itu, kami baru tahu


Kalau ternyata orangtua monica sudah tiada.


Bus belum juga datang, kami semakin tegang.


"Selly kau sendiri kenapa tidak minta dijemput?" Tanya monica.


"Orang tuaku sedang keluar kota,sudah kuhubungi yang lain tapi tidak ada yang mengangkat." jawab selly sambil menatap layar hp.


Tak berselang lama kumpulan motor dengan suara bisiknya knalpot menuju ke arah kami.


"Mereka datang..mereka datang.... lariiii.!" Teriakku.


Kami mulai berlari, aku baru teringat kalau kaki monica sedang cedera.

__ADS_1


"Hey selly bantu monica! kakinya sedang sakit" teriakku pada Selly sambil coba membantu monica.


kumpulan motor yang tadi masih mengejar kami.


Tarikkan gas mereka semakin cepat.


"Cepat lari!" Pinta monica.


dengan susah payah kami menopang monica, sesekali kami terjatuh, lalu bangkit lagi.


"gawat, gawat, kalau seperti ini mereka akan menyusul kita." ucap selly mengeluh ketakutan.


"Masuk ke gang!" pinta Monica.


Kami pun memasuki gang gang kecil, kejar kejaran semakin sengit, beberapa motor berhasil masuk ke gang mengejar kami, kami masih bisa menghindari keramaian orang orang di gang.


Satu motor semakin dekat ke arah kami, kami masih mencoba setengah berlari sambil menopang Monica, motor itu semakin dekat.


"Gawat, dia sudah dekat" keluhku.


"Yuda, Selly! dalam hitungan ketiga, ulurkan tangan kalian berdua pada motor dibelakang kita" ucap monica setengah berteriak karena bisingnya suara gas motor dibelakang.


"Apa maksudmu?" tanyaku masih bingung.


"satu..dua..tiga, sekarang!" teriak monica.


sedetik kemudian monica melompat ke arah kiri melapskan diri dari kami.


aku dan selly lalu meluruskan tangan kami,membuat menjadi penghalau bagi motor dibelakang kami.


pemotor tadi pun menabrak tangan kami hingga terjatuh dari motornya.


Aku dan Selly kembali membantu Monica.


Kami masih terus berlari hingga berada di dua jalur gang.kumpulan motor yang lain dibelakang kami masih mengejar, mereka semakin dekat.


Monica mendorong kami, membuat kami terlepas darinya.monica langsung memaksakan kakinya dia mengambil jalur kanan,


"hey selly ke kiri!" teriakku.


aku dan selly memilih jalur kiri, dan suara kumpulan motor semakin menjauh, monica sepertinya sengaja memancing mereka untuk membiarkan kami kabur.


"Hey selly. Kau pulanglah, kau aman sekarang, mereka tidak akan mengejarmu. Aku akan menyusul monica."


"Oh iya baik, terima kasih, aku akan segera pulang, semoga kalian selamat, semoga kalian baik baik saja" ucap selly dengan wajah tegangnya sambil berlari kabur.


Aku kembali menyusul monica.kali ini aku tepat dibelakang kumpulan motor motor itu, aku bisa melihat monica di depan masih setengah berlari dengan susah payah,kejar kejaran masih sengit, belum ada yang mau menyerah, hingga monica tepat berada di pertigaan gang yang sempit. Dia hanya punya pilihan ke kanan atau ke kiri, karena jalur di depannya jalan buntu yang tertutupi tembok yang amat tinggi, monica menuju ke arah kiri namun sekumpulan anak gengnya Ashton tiba tiba muncul dari jalur kiri.monica berhenti dan mencoba berbalik ke arah kanan, namun di jalur kanan pun sudah dihalangi kelompok yang lain. Mereka semua bergerak maju ke arah monica. Diantara mereka ada yang membawa besi, rantai, kayu,pisau. Jumlah mereka sangat banyak tentu monica tidak akan bisa melawan mereka dengan kondisi kaki yang seperti itu.


Monica masih terpojok, dia dikepung. Aku tepat berada di belakang mereka. Aku masih berusaha berpikir keras, mencari sesuatu yang dapat kugunakan untuk membantu monica. Ayo.. ayo yuda, kau harus bisa. jika saja kekuatan kebalku sudah kembali aku mungkin berani mengahajar mereka semua didepan sana. bagaimana caranya aku mengetahui kekebalanku sudah kembali.


oh ya lebih baik kucoba saja memukul tembok disampingku, jika tidak ada sakit berarti kekuatanku sudah kembali, jika sakit, lebih baik kucari cara lain. aku pun menonjok tembok disampingku dengan keras.


"aouuuch" teriakku kesakitan sambil memegang tanganku.


Tak berselang lama kemudian tiba tiba di depan sana ada ledakan gas berasap yang entah darimana datangnya. seluruh pandangan terhalangi asap, semua menjadi kalangkabut


Aku mencoba menghindari kumpulan asap, tiba tiba dari balik asap monica keluar dengan salah satu orang disampingnya yang sedang menopangnya. mereka menuju ke arahku.


"Hey!, ayo lari" pinta monica menyadarkanku. Akupun berlari mengikuti monica, sedang kumpulan geng tadi masih bertabrakan dan berjatuhan satu sama lain. Kami pun selamat tanpa terlihat mereka.


Kami sudah berada di tempat yang aman.


"Beruntung... kalian.. datang tepat waktu" ucap monica sambil terengah engah lelah.


"Ya beruntung kau memberitahuku lewat Chat, bukankah sudah kubilang untuk tidak masuk sekolah dulu, kakimu masih belum sembuh" ucap salah satu temannya. dia kemudian melihatku


"Oh kau pasti temannya Monica?" dia menjulurkan tangan ingin berkenalan.


"Namaku Steve" lanjutnya.


Aku membalas uluran tangannya. "Yuda"


Teman mereka yang disebelah melakukan hal yang sama dia bernama Joe Jhan dan aku membalas seperti sebelumnya.


"Hey yuda, kau mau kami antarkan pulang, kebetulan aku bawa mobil." kata Steve.


"oh. terima kasih. tapi aku bisa pulang sendiri, lagipula aku mau mampir ke rumah seseorang di dekat sini, jadi aku bisa jalan kaki."


"baiklah, kalau begitu kami duluan" ucap steve berpamitan disusul Joe jhan.


"hey Yuda. aku duluan" dia mulai beranjak ingin pergi.


"Monica!"


"ada yang ingin kutanyakan"


"Apa?"


"Tadi ketika di kelas aku tidak sengaja melihat buku catatanmu, dan aku melihat di dalamnya ada sebuah foto atau gambar yang terlihat seperti sebuah pedang, apa kau tahu itu pedang apa? dan sejarah apa yang ada dibaliknya?"


"kenapa kau tertarik dengan pedang itu?" tanya monica.


"Aku bermimpi tentang pedang itu berulang kali,pedang yang sama persis seperti yang ada di gambar bukumu, di dalam mimpiku aku diberikan oleh seseorang pedang itu. orang yang tidak kukenal. dan pedang yang tidak kuketahui. dia mengatakan aku adalah pewaris berikutnya.banyak hal aneh yang terjadi,tapi entah mengapa mimpi itu seperti nyata. aku dihantui oleh rasa penasaran dan kebingungan, aku tidak tahu harus bertanya kemana dan kepada siapa, sampai aku melihat petunjuk itu ada dibukumu ."


wajah monica nampak tercengang.


"dengar. itu hanya mimpi, dan pedang itu hanyalah gambar. tidak ada yang istimewa dengan pedang itu." jawab monica.


sejurus kemudian dia berbalik dan mulai beranjak pergi dengan kondisi kaki yang masih tergopoh gopoh.


"oh dan satu lagi" dia tiba tiba berhenti sejenak.


"kalau aku jadi kamu aku tidak akan menceritakan mimpi konyol seperti itu pada orang lain, sebelum banyak orang mengatakan kau terlalu banyak menghayal." ucap monica sebelum dia benar benar pergi.


Matahari hendak tenggelam, aku harus segera pulang sebelum Ibu mengomel.

__ADS_1


__ADS_2