The Sword Hero

The Sword Hero
Teror tiba


__ADS_3

Butiran salju berguguran dari langit yang mendung, atap atap rumah mulai terlapisi salju, begitu juga dengan jalanan,pepohonan, mobil mobil yang terparkir di luar.


"Sayang, koper nya sudah siap?" tanya Ayah. memakai jaket tebal musim dingin, sambil menarik kopernya.


"Iya, semua sudah siap. Yuda, kamu cepat turun temani ayah." jawab Ibu.


Ibu masih membongkar lemari mencari barang yang harus dibawah.


Aku bergegas turun mengikuti Ayah yang tadi baru saja turun, aku sudah siap dengan pakaian musim dingin, dengan penutup kepala merah yang melindungiku dari Cuaca dingin di luar, hari ini adalah hari libur panjang, jadi Ayah mengajak aku dan Ibu untuk berlibur.


Ayah mulai berjalan ke luar rumah dengan membawa koper, aku mengekor ayah dari belakang, Aku menatap punggung ayah, Tubuhnya yang kekar dengan perawakan besar, itu semua wajar karena Ayah adalah Seorang Anggota Militer aktif.


Rumah kami diselimuti salju yang tebal, senja matahari di sore hari bersembunyi dibalik langit yang mendung.


Aku memeluk tubuhku menggigil menahan dinginnya udara yang berhembus.


"Yuda... Ini akan menjadi hari libur yang menyenangkan buat kita" ayah tersenyum padaku setelah dia meletakkan koper di bagasi mobil, aku mengangguk tanda setuju.


Tak berselang lama ibu sudah turun dengan membawa satu koper lainnya, Ayah bergegas membantu ibu mengangkat koper, lalu menaruhnya di bagasi mobil.


"Kau yakin? Tiket kapalnya masih tersedia di pelabuhan?, bukankah lebih baik kita naik pesawat atau kereta saja" tanya ibu pada Ayah.


"Sayang.. kau tidak perlu ragu, aku sudah sering bepergian keluar kota untuk kerja, Jadi aku sudah tahu, kenapa aku memilih kapal.. bukannya pahlawan kita yang dibelakang itu yang minta" jawab Ayah sambil melirik padaku.


Ibu menoleh padaku dan tersenyum.


"Baiklah, semoga tiket nya masih ada"


"Oke.. semua sudah siap?" Ayah membuka pintu masuk di kursi kemudi mobil, lalu menyuruh aku dan Ibu untuk Masuk, Ibu duduk di kursi depan bersama Ayah, dan aku duduk dibelakang sendiri, Gas mobil mulai menyala, roda perlahan mulai berputar, percikan salju di jalanan terhempas karena roda mobil, Kami mulai meninggalkan rumah menuju Pelabuhan.


Setelah beberapa jam perjalanan kami akhirnya sampai di pelabuhan, terlihat begitu ramai dengan orang orang yang juga ingin berlibur, beberapa petugas kesana kemari menjalankan tugas mereka masing masing, lampu lampu besar menerangi jalanan disekitar, uap dingin keluar dari setiap nafas orang yang lewat, rembulan nampak berseri menampakkan keindahannya.


kami menaiki kapal pesiar yang lumayan besar, dengan lampu lampu yang cantik nan indah, pancaran kebahagiaan selalu terlihat diwajahku, demikian dengan ibu dan ayah, kami sudah menaiki tangga untuk segera masuk ke dalam kapal, namun kami harus mengantri sebentar karena di depan kami ada penumpang lain sedang dicek oleh petugas tiket, mereka ada dua orang salah satunya seorang nenek yang sudah sangat tua, disebelah nenek itu ada seorang Pemuda berkisar usia delapan belas atau sembilan belas tahun, berpakaian rapi dan mewah ala style orang kaya, sambil beberapa kali melihat jam di tangannya ketika si petugas sedang memeriksa tiket yang dia berikan.


" Baik.... dimana tiket yang satunya lagi?" tanya petugas pada pemuda itu.


" Oh, saya bukan penumpang, saya hanya ingin mengantar nenek saya, dia sudah tua dan sulit berjalan, paling tidak biarkan saya antar dia sampai kedalam sampai dia sudah dapat tempat, setelah itu saya akan keluar"


"Lima belas menit lagi pintu kapal segera ditutup, jangan terlalu lama"

__ADS_1


" Baik, Terima kasih" Orang itu pun masuk sambil memandu neneknya ke dalam kapal.


Kini giliran kami..Seluruh tiket kami disimpan di tas Ibu agar tidak Kececeran.


Ibu mulai mengeluarkan tiket pertama milik Ayah, diperiksa oleh petugas, dilihat sebentar kemudian setelah itu di stempel tanda tiket ayah sudah lolos.


berikut tiket kedua, diperiksa sebentar lalu di stempel, berikutnya ketika ibu merogok tas ingin mengeluarkan tiket milikku...


namun..... satu tiket entah kemana tidak ada di tas ibu, ibu mulai panik, ayah cemas, dan wajahku yang riang mulai pudar.


"Tiketnya Yuda dimana ya?" bisik ibu gelisah sambil membongkar isi tas.


Ibu bertanya pada ayah mungkin tiketnya ada pada ayah. ibu kemudian teringat, tadi ketika di gerbang pelabuhan, ketika ayah menyerahkan tiga tiket pada ibu. sebelum memasukkan ke tas, ibu bertabrakan dengan orang, karena pada waktu itu orang begitu padat memasuki pelabuhan, dua tiket berhasil masuk di tas, namun tanpa ibu sadari satu tiket milikku terjatuh ketika itu.


"Mungkin terjatuh ketika di gerbang pelabuhan tadi" ucap Ibu menyadarkan kami.


"biar aku mencarinya, kalian tunggu disini" pinta ayah.


"Maaf pak, sebentar lagi kapal segera berangkat, jadi jika bapak tertinggal kami tidak bertanggung jawab" ucap petugas mengingatkan.


"Berapa lama lagi kapal berangkat?"


"Maaf pak petugas, satu tiket untuk anakku ini hilang, bagaimana jika kubayar saja secara kontan"


"Maaf, tidak bisa... sudah peraturannya, yang tidak punya tiket tidak boleh masuk.... atau jika kalian mau.. tundalah keberangkatan kalian malam ini, tunggu untuk keberangkatan besok."


"Pak, tolong, anak saya ini masih delapan tahun, apa tidak bisa diberikan dispensasi?, kami juga tidak bisa menunda keberangkatan besok, kami punya acara besok pagi di tempat tujuan, tolong pak, bapak pasti mengerti, bapak punya anak kan?, coba lihat dia pak, wajahnya sangat bersedih, karena acara yang sudah lama dia impikan bisa batal kalau malam ini tidak bisa berangkat"


Ayah terus membujuk si penjaga dengan berbagai bujukan, hingga akhirnya dia mengizinkan kami semua masuk. Namun dia bilang tidak bertanggung jawab jika penjaga patroli di dalam mengecek kami, kami senang akhirnya bisa masuk, penjaga tadi kemudian mencatat tiket ayah dan ibu pada daftar penumpang tanpa mencatat namaku.


kami akhirnya masuk ke dalam Kapal, disetiap tiket yang kami punya tercatat nomor kamar yang harus kami tempati, kami dapat kamar dengan nomor 66 dilantai paling atas, lantai tiga.


"Untungnya kita membeli tiket kelas Vvip, tidak ada orang lain di kamar kecuali kita" ujar ayah sambil berjalan mencari kamar tujuan.


"Tapi, bagaimana kalau penjaga patroli mengecek kamar kita?" tanya ibu.


"Kita sembunyikan Yuda di tempat yang aman, kau tidak perlu khawatir semuanya akan baik baik saja, yang terpenting kita sudah berada dalam kapal"


Terdengar bunyi yang menandakan akan ada pengumuman bahwa sebentar lagi kapal akan segera berangkat.

__ADS_1


Kami akhirnya sudah berada di depan kamar, Ayah membuka pintu, dan kami masuk. Ruangan yang kami punya sangat mewah dengan perlengkapan yang lengkap nan canggih, Televisi dengan Meja besar, lemari pakaian yang berada disamping, satu sofa dan dua kasur besar yang dipisah dengan satu meja kecil di antara keduanya, diatasnya terdapat lampu tidur kumbang, dibawah lantai dilapisi dengan karpet ala turki, dengan dua jendela bulat yang langsung menghadap laut, dan tak lupa kamar mandi dalam layaknya hotel bintang lima.


"Kalau pintu kamar kita diketok, kita langsung sembunyikan Yuda di lemari ini untuk sementara, setelah itu kita bisa tenang, karena patroli tiket hanya dilakukan sekali selama perjalanan." ucap Ayah sambil mengecek kondisi lemari.


Aku perlahan duduk di Sofa, melepas pelindung kepalaku, menatap Jendela yang tidak terlalu tinggi, keindahan langit di malam hari jadi begitu indah dengan cahaya bulan diatasnya dihiasi ratusan bintang , namun sayang keindahan lautan tak bisa dilihat di tengah gelapnya malam, hanya suara ombak yang menghantam dermaga yang dapat didengar.


Suasana Diluar kapal, terlihat para pekerja sedang bersiap melepas Jangkar kapal, memisahkan tangga masuk penumpang dari kapalnya, Di pos penjaga terlihat seorang petugas sedang menghitung jumlah seluruh penumpang di kapal yang kami naiki sambil berkomunikasi dengan handy talky nya.


"Baik, Semua sudah terisi, segera laporkan!"


"Aaaaah!!!!" teriak histeris dari orang yang sedang diajak bicara, tak berselang lama terdengar suara dentuman jatuh dari balik suara handy talky.


"Halo.halo.. hey ..kau dengar aku.. apa yang terjadi.. hey.."


Tiba tiba terdengar suara ledakan kecil, petugas itu terjatuh dengan deraian darah segar di kepalanya, percikan darah membekas di jendela kaca dan tembok, satu tembakan dari pistol laras pendek kedap suara menghujam kepala si petugas, orang yang menembakkan senjata kemudian perlahan masuk dan mengambil lembaran penumpang. melihat seluruh jumlah penumpang, dia kemudian mengambil handy talky tak bertuan milik petugas tadi yang tergeletak di atas meja.


"Seluruh penumpang berjumlah enam ratus tujuh puluh tujuh, Bunuh semua tanpa ada yang tersisa" perintah dibalik handy talky.


"Siap, laksanakan" jawab seseorang dari balik suara handy talky.


Orang pembunuh itu kemudian menatap lembaran penumpang sekali lagi, tidak terlihat dengan jelas wajahnya, seluruh wajahnya tertutupi, hanya tersisa kedua matanya yang nampak, dia kemudian memasukkan lembaran tadi ke saku celananya, mengisi kembali peluru pistolnya, dan pergi keluar dari pos penjaga.


Seluruh petugas di pos penjaga dan dermaga jatuh terkapar dengan deraian darah. ratusan lebih orang dengan senjata dan rompi perang berbondong bondong memasuki kapal. puluhan petugas yang jatuh tak berdaya dan darah yang membasahi tubuh mereka cukup menjadi tanda Teror dan Ancaman, tak ada yang tahu siapa mereka dan kenapa mereka melakukan ini, seluruh wajah mereka tertutupi hingga tak bisa dikenali, Satu demi satu dari mereka mulai naik mamasuki kapal.


Malam mulai berubah mencekam, udara mulai berhembus kencang, tak ada terdengar lagi suara bisik dari intruksi para petugas di dermaga, berubah menjadi keheningan yang penuh ketegangan.


dari dalam kapal terdengar pengumuman bahwa kapal sudah menutup gerbang,dan sudah berangkat meninggalkan dermaga pelabuhan.


Aku ayah dan Ibu masih di kamar, kapal mulai semakin menjauh dari daratan, dan sudah berada di tengah lautan.


"Kayaknya ada yang aneh." ucap ayah sedikit berbisik.


"Ada apa yah?" ibu bertanya setelah mendengar keluhan ayah.


"Suara dari pengumuman keberangkatan tadi, nada suaranya seperti dalam ketakutan dan tekanan."


Aku dan Ibu mulai menatap takut, Kami terdiam beberapa saat.


"Hah.. mungkin hanya perasaanku saja" lanjut ayah menenangkan dan melemparkan senyum pada kami.

__ADS_1


Terangnya bulan mulai nampak dari balik jendela, setelah tadi sempat tertutup gelapnya awan. aku menatap keluar. ayah mengelus elus kepalaku sambil tersenyum.


__ADS_2