
Saat ini aku sedang berjalan di kampung kumuh di pinggiran kota, sambil menenteng kresek berisikan nasi bungkus, sampah berserakan di jalan jalan yang kulalui, sungai yang tak lagi nampak seperti sungai yang seharusnya, telah dirusakkan oleh timbah timbah dari pabrik sekitar, dan lumuran sampah juga mengotori sungai di sampingku ini, sepulang dari tragedi kejar kejaran tadi, aku singgah di rumah makan, memesan 4 bungkus makanan yang ingin kubagikan ke rumah orang miskin, ini kebiasaanku setiap kali pulang sekolah, jika uang saku ku masih tersisa, aku selalu membelikan mereka makanan, ini juga alasan aku menolak ajakan pulang bersama dengan monica dan teman temannya tadi, aku kurang begitu suka jika kebaikan diketahui oleh banyak orang.
kali ini aku sudah berada di rumah yang ingin kukunjugi, rumah yang nampak dari depan sangat sederhana dan terbatas, plafonnya banyak yang sudah berlubang, hingga ketika hujan turun maka air hujan akan memasuki rumah.
"Permisi...Bu dini.. pak dani.." ucapku sambil mengetuk pintu rumah yang sedang tertutup.
"Permisi..." salamku untuk yang kedua kali.
tak berselang lama pintu dibuka, keluar seorang pria paruh baya.
"Ooh.. Nak Yuda"
"Iya pak dani" lanjutku.
"Ini saya bawa oleh oleh buat pak dani dan yang lain" ucapaku sambil mengangkat kresek.
"Oleh oleh? kayak abis dari luar kota aja..hehe" jawab pak dani bercanda.
"Ayo.. ayo masuk dulu nak Yuda" pinta pak dani mempersilahkan aku masuk.
"Buu.. Ada Yuda datang"
"Ya ampum nak yuda" keluar seorang ibu yang tak lain adalah Ibu Dini, istri pak Dani.
aku berjabat tangan dengan Bu dini.
"Ini saya bawa nasi bungkus"
"Ya ampun.. Nggak usah repot repot" jawab Bu Dini.
"Nggak apa bu"
tak berselang lama muncul dua anak kecil berlari menujuku.
"Kak Yuda.. kak Yuda." teriak mereka berdua riang.
mereka memelukku, aku membalas merunduk memeluk mereka, mereka adalah anak kembarnya nya pak Dani dan Bu dini. Nama mereka, Jimmi dan Kimmi, Jimmi yang lebih tua sekian jam, sedangkan Yang perempuan yaitu Kimmi adalah paling bungsu, umur mereka 9 tahun. kami bercanda dan berbincang sekian lama layaknya sebuah keluarga, mereka senang akupun senang, sesekali kami tertawa lepas melihat tingkah lucu Jimmi dan Kimmi, hingga akhirnya aku harus berpamitan pulang, Bu dini dan Pak dani menahan aku untuk ikut makan bersama, aku menolak karena khawatir ibu mencariku jika aku belum juga pulang, aku bersalaman dengan pak dani dan Bu dini. mereka berulang kali mengucapkan terimakasih padaku, aku juga memeluk Jimmi dan Kimmi, wajah mereka nampak sedih berpisah denganku. aku melambaikan tangan tanda berpisah.
Monica,Steve dan Joe jhan saat ini lagi di kamar Steve.
"Dengar, perkembangan pencarian pedang legendaris semakin terbuka, aku dan Joe berhasil melacak beberapa tempat yang kemungkinan dahulu adalah tempat yang pernah disinggahi oleh salah satu legenda pedang, setidaknya ada empat tempat yang paling mendekati, kita harus telusuri tempat tempat ini. tapi setelah kau benar benar sembuh monica."
"tunggu sebentar, sebelum kita melanjutkan misi itu, aku ingin masalah ku dengan geng disekolahku selesai terlebih dahulu"
"Kenapa kita tidak hajar saja mereka semua tadi?" tanya monica dengan nada sedikit tinggi.
"Kau ingin menambah masalah di sekolahmu?" jawab Steve membantingkan tubuhnya ke kasur.
"Jika mereka tidak diberi efek jerah, maka mereka akan terus mengincarku, buat mereka takut maka mereka tidak akan mengulanginya lagi." Terang monica menjelaskan.
"Kau yakin? Hanya dengan kita bertiga? dengan kondisi kakimu seperti itu?"
"Hey aku baik baik saja. yah, jika memang tidak memungkinkan menyerang mereka secara langsung, maka serang mereka dengan strategi, itu yang selalu kau katakan kan?."
Steve terdiam beberapa saat, dia kemudian menarik napas.
"Joe, bagaimana menurutmu?" Steve menoleh ke Joe.
"Ya, tidak masalah"
"Berarti besok kau tidak masuk sekolah?"
"Iya"
"Lalu bagaimana dengan temanmu yang tadi?, dia juga diincar oleh mereka kan?"
"iya, sepertinya dia juga diincar"
"kalau begitu beritahu dia, untuk tidak masuk sekolah besok"
"Akan kuberitahu dia" monica terdiam sebentar seperti mengingat sesuatu.
"ah..tapi aku tidak ada nomor telponnya" ucap monica sedikit terkaget.
Yuda sedang berbaring di kasurnya, melipatkan kedua tangan menengadah ke plafon kamar. Tiba tiba hpnya berdering, panggilan masuk dari Selly. Yuda mengangkatnya.
__ADS_1
"Hey Selly, ada apa?"
"Yuda. Dengar!, besok kau jangan dulu masuk sekolah. Oke?"
"Kenapa?"
"Monica dan kawan kawannya merencanakan untuk menghajar Gengnya Asthon besok"
"Menghajar gengnya Asthon?" Ucap yuda setengah teriak karena kaget, sambil bangkit dari baringnya.
"Untuk apa?" Tanya yuda mulai menurunkan nada suaranya.
"Agar kita tidak diincar dan tidak dibully oleh mereka lagi, kita buat mereka takut ke kita, agar kita tidak diganggu lagi"
Yuda menepuk jidat.
"Berikan aku Nomor monica, aku ingin bicara dengan dia"
Yuda kemudian menelpon Monica.
"Halo, ini dengan siapa? " terdengar suara Monica dari balik telpon
"Hei, ini aku Yuda"
"Hei Yuda. Ingat besok kau jangan dulu masuk sekolah. Kita..."
"Ya, ya, aku sudah diberitahu Selly tadi."
"Monica dengar. Kurasa rencana kalian itu terlalu berbahaya, Asthon dan gengnya bukan orang sembarangan, mereka banyak, mereka kuat, mereka berkuasa, jika kita bermasalah dengan mereka, semuanya akan jadi lebih buruk dari sekarang. Dengar. kita tidak perlu lakukan ini, kita akan baik baik saja di sekolah selama kita mengikuti mau mereka, tinggalkan mereka Monica."
"Yuda, aku tidak takut pada apapun, dan pada siapapun." Jawab monica
"hey Monica, jika kau memang bersikeras, aku minta maaf, aku tidak bisa ikut kalian, itu terlalu berbahaya."
"Yuda... kau pecundang dan penakut" kata Monica sebelum akhirnya dia menutup panggilan.
Yuda menatap layar hp yang sudah selesai panggilan antar mereka, dia kemudian menatap keluar jendela, dan menghembuskan nafas kekhawatiran.
Keesokan harinya.
"Yuda?" panggil Pak Adan.
"Yuda?"
"Yuda ada?"
Suasana di kelas diam tidak ada yang menyahut, beberapa menoleh mencari sosok yang dipanggil.
"Yuda tidak hadir ya?" tanya pak Adan sebagai penegasan.
"Selly?" lanjut pak Adan.
"Selly?"
"Selly tidak hadir juga?"
"Tidak ada pak" jawab beberapa Murid.
"Monica?"
"Tidak ada juga?"
"oh ya, mungkin dia belum sembuh dari kakinya itu"
"baik dua murid rajin ini absen di waktu yang bersamaan,ada apa dengan mereka?" celutuh pak Adan.
Asthon Menatap teman teman gengnya, memberi suatu isyarat "Dimana mereka?"
teman temannya mengangkat kedua bahu, tanda mereka juga tidak tahu.
"Baik, pelajaran kita mulai sekarang." lanjut Pak Adan berdiri dari kursinya.
Monica,Steve,Joe Jhan dan Selly sedang berada di suatu bangunan tua tak berpenghuni dekat dengan daerah sekolah.
"Dimana Yuda?" tanya selly membuka perbincangan.
__ADS_1
"Dia tidak mau ikut." jawab Monica.
"Kenapa?"
"Dia takut, itu intinya."
"Baik, ayo kita mulai." putus Steve memulai penyusunan rencana untuk menghajar gengnya Ashton, dia membuka layar laptopnya. menu jukkan suatu map yang sudah ditandai.
"lihat, sesuai dengan tempat yang sudah diberitahu Selly, ini adalah lokasi mereka biasa nongkrong setelah pulang sekolah, aku akan menempatkan kalian di lokasi lokasi yang berbeda. mereka menang jumlah jika dibandingkan dengan kita, dan Monica dengan kondisi kakinya yang cedera, karena itu kita tidak mungkin menyerang mereka secara langsung." terang Steve.
"Karena itu kita harus mengalahkan mereka dengan strategi" lanjut steve sambil menatap layar laptop.
"Kalian dengarkan dengan baik.. ini adalah strateginya..."
Sekolah riuh piuk, suara sekumpulan orang sedang ngobrol, sekumpulan lain tertawa, tak terkecuali geng nya Ashton, mereka pulang keluar dari gerbang sekolah berkerumun, bos mereka Asthon paling depan diantara mereka. mereka berjalan menghampiri para pedagang gerobak yang memang berjualan di dekat sekolah, tentu mereka tidak membeli dagangan melainkan memalak alias makan secara gratis.
"Tunggu sebentar anak muda, yang ganteng yang keren. kalian tidak perlu memalak yang lain, dagangan saya gratis khusus buat kalian, saya tau kalau kalian suka memalak pedagang disekitar sini, saya pedagang baru disini, jadi saya harap kalau hari ini saya gratiskan dagangan saya ke kalian, kalian bisa izinkan saya besok berdagang disini tanpa dipalak lagi. bagaimana?" ucap salah satu pedagang cilok yang memakai topi hitam, dan kain yang digulungkan di leher.
Kawanan gengnya ashton langsung menyerbu.
mereka langsung melahap dengan gembira cilok yang ditusukkan dengan lidi kecil.
beberapa yang lain memanggil yang lainnya. jadilah gerobak kang cilok diserbu oleh gengnya Ashton. semua memakan cilok gratis itu kecuali Ashton, karena dia tidak suka Cilok.
Setelah melahap cilok dengan puas, mereka mulai pergi menuju markas mereka itu.
Setelah dagangannya sudah ditinggalkan kawanan geng Ashton, kang cilok langsung pergi meninggalkan gerobaknya, pergi ke tempat sunyi yang tak terlihat banyak oranģ. dia melepas baju koyaknya, dan juga topi. ternyata dia melapisi bajunya yang asli dengan baju daganganya. dengan wajah yang tak asing, ternyata dia adalah Joe Jhan.dia membuka ponselnya menelpon seseorang.
"Steve.. misi berjalan lancar. sekarang mereka sudah menuju ke lokasi."
Geng ashton sudah tiba di markas mereka,beberapa ada yang duduk menyebat rokok.beberapa lagi asyik mengobrol. tiba tiba salah satu dari mereka ada yang jatuh tersungkur.
"hei. Ron pingsan!"
"Ada apa ini?"
kenapa dengan dia?"
"Hei.. kenapa tubuhku terasa lemas ya?"
"Aku juga sama"
"Kau juga?"
"brengsek. jangan jangan cilok tadi ada racunnya."
satu demi satu berguguran seperti kartu domino.
ashton menatap mereka dengan bingung.
"hei. ada apa ini?"bisik ashton bingung.
orang terakhir yang berada tepat di depan ashton mulai lemas, tubuhnya mulai hilang kendali.
"kepalaku pusing, cilok tadi sepertinya berac...." belum selesai dia mengucapkan, dia telah jatuh tersungkur pingsan.
Dari balik pintu, masuklah Steve, monica, Selly dan Joe jhan. mereka perlahan mendekati Ashton yang mulai ketakutan dengan gagah.
Monica lalu menarik kerah baju Ashton, mengeluarkan pisau lalu menempelkan ke perut Ashton.
"Jangan.. ganggu... aku..Selly..dan Yuda lagi, jika tidak ingin yang lebih dari terjadi padamu" ancam monica dengan nada serius.
"cih. kalian pikir aku takut" jawab Ashton sambil meludah ke tanah.
Wajah monica mulai memerah, emosi mulai memuncak, monica mengangkat sikutnya lalu menghantam pelipis ashton hingga ia terjatuh, monica melepaskan pisau ditangannya, membuangnya ke tanah, monica kembali mengangkat ashton, menarik kerah baju ashton dengan paksa, menonjok ashton hingga terjatuh lagi, dia mengangkatnya lagi, menonjok wajah ashton untuk yang kedua kali, dia kembali mengangkat ashton memukulnya lagi seperti sebelumnya kali ini teriakkan emosi yang keluar dari mulut monica, ashton terkapar di tanah dengan wajah yang sudah memar dan berdarah, monica belum selesai dia kembali meluncurkan pukulan bertubi tubi ke ashton yang sudah terbaring di tanah, satu pukulan, dua pukulan, tiga pukulan, darah mulai keluar lebih banyak. Selly memalingkan wajahnya karena ngeri.
"kenapa.. kalian.. bertingkah seenaknya, memeras..menghukum.. membulli.." teriak monica ditengah tengah dia memukuli ashton.
Satu pukulan berikut bersiap menghantam wajah ashton. Steve segera menahannya.
"Monica! cukup! kau bisa membunuhnya" teriak steve menghentikan monica.
Monica mulai berdiri dibantu steve, Ashton terkapar lemah dengan wajah yang memar dan berlumuran darah.
"Ayo kita pergi" pinta steve sambil menopang monica.
__ADS_1
Merekapun pergi meninggalkan markas Geng Ashton.