
Namaku Yuda, anak remaja enam belas tahun, anak tunggal satu satunya, Ayahku dulu seorang Militer dengan keberanian dan tubuh yang kekar, masalah bela diri ayah jagonya.
Apa itu terwarisi padaku?
Jangan tanya, sekedar melihat ketinggian dan lautan saja tubuhku menggigil karena trauma.
Delapan tahun lalu Ayah meninggal sebagai pahlawan.
kini aku hidup dengan Ibu yang bekerja sebagai pegawai salah satu bank swasta, Jangan berharap aku memiliki banyak keistimewaan, karena lebih banyak kekurangan yang nampak, aku sampai pernah berpikir kalau semua yang aku kerjakan dengan campur tanganku pasti selalu gagal dan berantakan. aku jadi kurang percaya diri karena itu.
Keseharianku pergi ke sekolah yang menyebalkan dengan orang orang yang selalu bertingkah seenaknya padaku, aku ingin melawan namun rasa takut dan tubuhku yang lemah ini menolak.
Kau ingin mendengar kisahku? sebaiknya bersabar, karena banyak yang akan terjadi kemudian.
Duduk dan teguk kopimu, karena yang ini bukan cerita tentang seorang dewa yang terlahir dengan anugrah, bukan juga kisah Si Naga dan tuannya, Ini adalah Kisah dari Seorang remaja dengan Rambut gelombang berantakan, pakaian yang tak pernah rapi, Tak ada teman, tak punya saudara, keseharianku tidak istimewa sebelumnya, sampai keanehan terjadi padaku setelah mimpi itu, aku merasakan keanehan di tubuhku,pendengaranku menjadi semakin tajam,begitupun dengan pengelihatan ku.
Aku merasa seakan mimpiku itu seperti membenarkan sesuatu yang selama ini kuyakini sebagai dongeng masa lalu,kebanyakan orang lain juga berpikiran sama. dongeng tentang beberapa orang pahlawan penyelamat bumi dengan pedang pedang legendaris mereka, mereka menyelamatkan bumi dari bahaya yang hampir memusnahkan bumi. tidak banyak yang tahu tentang ini,karena ini hanyalah dongeng yang membuat banyak orang tidak peduli. namun setelah mimpi yang kualami berulang kali, dan keanehan yang terjadi padaku, aku mulai ragu kalau itu hanyalah dongeng, cerita tentang pedang itu mungkin benar adanya di masa lalu.
upps.. sudah cukup ngobrolnya, sekarang waktunya sekolah, ayo ikut aku kesana......
( Jam 08.20 di Sekolah Redwood )
Ini sekolahku, ketika kau masuk pertama kali dari gerbang utama nampak lapangan basket, yang terkadang juga dipakai beberapa murid untuk bermain bola kaki, tiga lantai dengan setiap kelas yang beragam, dan kantin ada di pojok tangga lantai satu, murid murid perlahan berlari kecil menuju kelas masing masing, beberapa lagi berjalan santai sambil ngobrol dengan temannya, aku berjalan dengan tubuh sempoyongan,dengan ransel di punggung, seseorang dari belakang menabrak hingga aku terjatuh, dia menatap padaku dan kemudian tertawa mengejek, aku berdiri dan mengepaskan debu di telapak tangan.
Kali ini aku berjalan hingga masuk ke lorong gedung utama tempat loker penyimpanan, seluruh kelas angkatan kami beserta kantor dan kantin berada di gedung ini, ketika aku menyelusuri lorong gedung, salah salah satu murid mengaitkan kakiku, aku terjatuh lagi, setiap yang ada disini tertawa membuliku.
Yaaps tapi itu dulu sebelum aku mendapatkan mimpi dan keanehan yang lain.
aku berjalan dengan tubuh sempoyongan,dengan ransel di punggung, seorang dari belakang berlari menghampiriku berniat menabrakku hingga aku terjatuh, langkah kakinya terdengar sangat jelas oleh telingaku, entah bagaimana aku bisa melihat dia dengan jelas dari belakang punggungku, sebelum dia menabrakku aku dengan sigap menghindar, tubuhnya tak terkendali hingga akhirnya jatuh kedepan, wajahnya menempel ke aspal dengan keras, orang orang disekitar tertawa. aku menatapnya ciut, aku langsung kabur sebelum dia kembali berdiri dan menghajarku. ketika aku menyelusuri lorong gedung, salah salah satu murid sedang berdiri di depan locker sambil meminum minumannya dia mencoba mengusiliku, tangannya mulai bergerak, dia melempar minumannya ke arahku, sebelum minuman itu sampai aku bisa melihat semuanya dengan jelas, waktu disekitarku seakan melambat, aku melihat minuman itu menuju ke arahku dengan sangat lambat, aku bahkan masih sempat melihat si pelempar dengan senyuman jahilnya.aku menangkap minuman gelas itu dengan tepat sebelum mengenaiku, si pembuli itu terkejut, senyuman jahilnya mulai pudar.
"Ini minumanmu, maaf. ada sedikit yang tumpah tadi." ucapku sambil mengembalikan minumannya.
Si pembuli menatap bingung.
...Jam 8.30 (Di kelas 11 sekolah Redwood)...
"Hari ini kita kedatangan Murid pindahan, bapak harap kalian bisa saling akur."
"Monica, Silahkan perkenalkan diri dihadapan teman temanmu, sebutkan nama lengkapmu, usiamu, asal daerahmu, hobi atau cita cita... Silahkan!" perintah pak Adan
"Nama.. Monica Broschin..., umur 16, Asal desa Tanah bambu, hobi dan cita cita.... belum kupikirkan.. sekian." kata wanita cantik berambut blonde sepundak , berkulit putih, bermata coklat.
"Sudah punya pacar?" tanya salah satu murid.
"Pertanyaan tidak berguna, tidak perlu kujawab!.."
jawabnya ketus.
satu ruangan yang tadinya mau tertawa terhenti ketika mereka sadar siapa orang yang bertanya tadi, mereka terlihat ciut dengan anak yang bertanya tadi, satu ruangan masih diam, beberapa anak ada yang menundukkan pandangan, ketika anak yang bertanya tadi masih memperhatikan orang orang disekitarnya.
"Baik. Monica, silahkan duduk... kau bisa duduk dikursi yang kosong itu"
pak adan menunjuk kursi yang dimaksud.
tiba tiba pintu kelas berdentum dengan keras, muncullah aku yang nampak buru buru karena terlambat masuk kelas sambil ter engah engah kelelahan. pak adan dan yang lainnya menatapku.
"Yuda, kau terlambat lagi. kau punya kesibukan apa sampai selalu terlambat datang ke sekolah?" tanya pak adan dengan nada tegas.
"Ma.maaf pak. sa..saya"
"sudah tidak perlu banyak alasan. ini terakhir kau dimaafkan, berikutnya kalau kau terlambat lagi, kau akan kusuruh pulang. faham?"
"ba..baik pak. terimakasih"
Aku mulai berjalan perlahan menuju tempat dudukku.
"Oh.tunggu sebentar Yuda!"
aku berhenti, merespon perintah pak Adan.
"Kau belum berkenalan dengan murid baru ini. berkenalanlah dulu!".
aku menatap gadis yang sedang berdiri disampingku,mengulurkan tangan.
"Yuda"
dia membalas uluran tanganku.
__ADS_1
"Monica"
setelah itu aku menuju ke kursiku.
"Monica, silahkan ke kursimu" perintah pak Adan.
Monica mulai berjalan ke kursi yang dimaksud tadi, melewati anak yang bertanya sebelumnya, dia menatap monica dengan tajam, terlihat jelas dia menyimpan dendam.
Disamping kursi kosong terdapat satu anak perempuan, monica mulai duduk, meletakkan ransel kecilnya diatas meja, mulai mengeluarkan buku catatan dan pulpen.
"Hay... Namaku Selly.." jawab anak yang duduk disampingnya sedikit berbisik, keduanya berjabat tangan dan Monica melemparkan senyum padanya.
"Hei.. kau sebaiknya jangan membuat masalah dengan orang yang bertanya tadi.. jangan buat dia marah. dia punya geng yang sangat ditakuti, semua yang ada di sekolah ini tidak ada yang berani dengan dia, dia sangat berbahaya, kau harus hati hati" lanjut perempuan yang bernama Selly.
"Terima kasih sudah memberitahu. tapi aku tidak takut sama sekali.." Jawab monica datar sembari membuka lembaran buku tulisnya.
Selly menatapnya heran.
...Jam 16.00 (Waktu pulang sekolah)...
Kafe kayu, kafe berlantai dua, bersebelahan dengan sekolah, Tempat yang begitu unik nan sederhana, seluruh elemen 70% terbuat dari Kayu, Di bagian depan terpampang papan indah di atas pintu yang juga terbuat dari kayu bertuliskan Kafe Kayu,
kursi-kursi, meja bundar yang berada di dalam terbuat dari kayu jati, berpasangan satu meja bundar dengan empat kursi, hanya meja panjang tempat memesan yang terlihat berbeda, permukaannya terbuat dari marmel, hiasan di dinding dari lukisan lukisan khas memanjakan setiap mata yang melihat.
Aku sedang duduk di dalam kafe yang lagi sunyi, duduk seorang diri dengan minuman disamping yang belum diminum, sedang melamun mengingat mimpi tadi malam. seragam sekolahku nampak dari belakang basah karena keringat. seluruh seragam sekolah kami sama dan digunakan sesuai jadwal harinya, hari ini kami memakai seragam putih dengan logo sekolah diatas kiri dan saku disebelah kanannya dengan celana panjang biru tua berbahan kain, adapun untuk perempuan ada yang memakai rok ada juga yang memakai celana panjang seperti kami.
Selang beberapa menit terdengar bunyi pintu kafe dibuka........
masuk sekitar tujuh orang ke kantin dengan angkuh, seragam sekolah mereka berantakan, dengan gelang di tangan mereka, rambut acak acakan, beberapa dari mereka ada yang memakai anting di telinga, menandakan mereka adalah anak anak berandalan atau bisa juga disebut preman sekolah.
"Bro, Ada Yuda ! " salah satu dari mereka menunjuk tempat Dudukku.
"Oh.. betul juga, dia sudah janji uang 200 ribu ke kita kan hari ini" ucap orang didepan yang paling besar dan kekar dia adalah bos atau ketua mereka, namanya Ashton.
Mereka mulai berjalan ke arah ku yang masih melamun di meja.
"Ooi, Yuda"
Asthon menepuk pundakku.
"Oooh... kau sudah berani sekarang"
"Ma... Maaf aku tidak bermaksud begitu"
"Cepat berikan 200.000 yang sudah kau janjikan kemarin" sambil memegang kerah bajuku.
"Ma...Maaf, tapi hari ini aku benar benar tidak ada uang..minuman yang kupesan ini adalah uang terakhirku." aku menunjuk minuman yang ada disamping.
"Bagaimana kalau besok?" ucapku menempelkan kedua telapak tangan tanda memohon.
"Besok? emmm.... Bagaimana kalau iniiii !!" teriaknya sambil mengepakkan tinjunya ke arah rahang ku. satu pukulan menghantam, hingga aku tersungkur ke lantai.
aku mulai bingung, kekebalanku tiba tiba hilang, kadang dia muncul, kadang dia hilang begitu saja. kali ini aku merasakan sakit dari pukulan tadi.
Salah satu karyawan Cafe coba melerai
"Hei.. hei jangan Berkelahi disini !, disini bukan tempat berkelahi."
"Jangan ikut campur kalau tidak ingin kami hajar juga." Sekian menit karyawan itu terdiam sambil menatap ciut gerombolan preman sekolah ini, tubuh mereka kekar kekar dan mereka terlalu banyak, hanya akan membahayakan diri jika berani menegur mereka. hampir semua yang berdagang di dalam dan sekitar sekolah mengenal siapa mereka dan betapa menakutkan mereka jika sudah marah, banyak yang tak berdaya jika berhadapan dengan mereka.
Karyawan tadi pun segera lari keluar dengan buru buru.
Asthon maju dan mulai menendang tubuhku yang sudah terjatuh.
Satu tendangan menghantam perut. Tendangan selanjutnya menghantam dada, aku berusaha menangkis dengan tangan.
Kemudian tendangan berikut mengarah ke perutku, namun tiba tiba....
Ada seseorang yang menahan tendangan ketiga dengan kakinya, kemudian menghempaskan kaki si Ashton hingga terjatuh.
ternyata orang yang menangkis tendangannya tadi dan sekarang sedang berdiri di depanku adalah murid baru pindahan tadi pagi, di kelas tadi aku tidak sepenuhnya sadar, jadi aku tidak terlalu mendengar perkenalannya tadi pagi, jadi aku hanya sekedar mengenali wajahnya... sisanya konstentrasi hilang teriang ngiang mimpiku tadi malam.
"Woy... jangan ikut campur urusan orang" ancam Asthon yang sudah terjatuh.
"Ooh.. kau murid baru yang tadi pagi itu yah? Kau masih ingat aku? kita satu kelas bukan? Orang yang kau permalukan tadi pagi di kelas, Kebetulan, aku tidak suka dengan sifat sombongmu waktu perkenalan tadi pagi" dia mulai beranjak berdiri.
Si wanita mulai mengencangkan kuda kudanya, dan mengepalkan tinjunya seakan dia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, dia bisa bergerak lebih bebas dan nyaman karena dia memakai celana panjang sekolah.
__ADS_1
"Kawan- kawan...sikat dia !" perintah Asthon.
satu orang mulai berlari ke arahnya, satu tinju mengarah ke wajah, dia reflek menghindar, satu pukulan gagal mengenai, satu tendangan dari orang yang sama mengarah tepat ke arah dada
dia menangkis dengan kedua tangannya yang disilangkan menjadi tameng.
di seper sekian detik tangan kanannya kemudian dengan cepat menahan kaki orang tadi, menariknya dengan kencang kemudian... melemparnya dengan keras...
tubuh lawan terpental jatuh dia atas meja papan hingga terbelah dua.
Dia menarik napas dalam..... mengencangkan kuda kudanya dan mengeraskan ke dua tinjunya untuk bertarung.
Tiga lawan mulai berlari ke arah nya, ia kemudian sedikit berlompat dan mengarahkan tumitnya ke ulu hati orang yang ditengah hingga terhempas.
Lawan yang dikiri dan kanan mengarahkan tinjunya ke arahnya secara bersamaan, ia kemudian menghindar dengan menjatuhkan tubuhnya kebelakang hingga kedua telapak tangannya menyentuh lantai sebagai tumpuan, menghantam wajah mereka dengan kedua kakinya yang terlentang, dua lawan tersungkur jatuh.
" Keren !" seruku takjub, Aku sudah bersembunyi di balik meja panjang pesanan, sambil sesekali menitip pertarungan.
"Kau lumayan juga ya" tutur si Asthon tersenyum bringas. "Tapi kita belum selesai"
Asthon yang daritadi belum ikut pertarungan dan hanya menonton bawahannya bertarung, sekarang mulai maju dan siap bertarung.
Musuh musuh yang tadi terkapar mulai beranjak berdiri, mereka siap menyerang lagi, Monica masih waspada. kali ini semua anak berandalan siap mengeroyoknya, dia dikelilingi di segala arah, belakang, depan, kiri, kanan, dikelilingi para musuh yang siap menyerang, pertarungan 7vs1 akan dimulai, Para musuh pun menyeringai penuh amarah.
Kaki wanita itu mulai bergerak dengan lincah, kuda kuda tetap kokoh, dia meliuk ke kanan dengan cepat, dengan pergerakan tubuh yang cepat seperti orang berdansa, pergerakan tangannya sigap, langkah kakinya gesit, seluruh anggota tubuhnya saling membantu satu sama lain, beberapa kali ia menggunakan kakinya untuk menyerang, dan kedua tangannya siap untuk bertahan, seluruh serangan musuh dipatahkan, satu tinju musuh mengudara menuju padanya, sebelum sampai, dia memutar badannya dengan cepat dan menendang tepat mengenai rahang hingga berhasil menjatuhkannya terlebih dahulu.
satu tendangan dari musuh yang lain menuju perut, wanita itu dengan sigap menghindar, menyorongkan tubuhnya kebelakang, mengunci sebelah kaki lawan yang masih terhempas diudara dengan tangannya, menariknya, lalu satu tangan yang bebas mengunci leher belakang lawan, menendang bagian kaki lawan yang digunakan berdiri hingga tersungkur dengan kepala menghantam keramik.
berikutnya serangan lawan yang lain menyerang, satu pukulan ditangkis dengan sikut ,satu pukulan berikut diblock dengan pisau tangan, satu pukulan berikut dia reflek menyampingkan tubuhnya membiarkan pukulan itu menghantam udara hampa, dengan cepat dia menarik lengan baju musuh, lalu mendorongnya ke belakang hingga terjatuh.
Target berikut dua orang didepan, dia berlari dengan cepat kedepan, menaiki meja, berlari lalu berlompat lagi dan menghajar kedua target dengan kedua kakinya. dua target terhempas K.O tak berkutik. ketika mendarat, pergelangan kakinya terkilir, membuatnya hilang keseimbangan, tubuhnya mulai goyah, dia menahan rasa sakit dengan merapatkan gigi gerahamnya.
dua lawan tersisa mengambil kesempatan mulai maju dan mengerahkan serangan bertubi tubi, tendangan, pukulan, pukulan, tendangan, namun tangkisannya masih kokoh, dia mulai mundur tersudut, serangan terus mengarah kepadanya, konsentrasi mulai buyar, dua lawan menghajarnya tanpa henti membuatnya kewalahan, hingga ia terpojok di meja panjang tempat Aku bersembunyi, satu tendangan cepat vertikal menuju ke kepalanya. Dia dengan gesit menghindar, kaki lawan menghantam keras permukaan meja dari marmel.
Satu lawan berikutnya masih menyerang, wanita itu masih terus menghindar, kaki kirinya masih terasa sakit menghambat pergerakannya. lawan yang disebelah ikut menyerang, kali ini pertarungan Satu vs dua tak terelakkan, dia masih kesulitan karena kakinya yang sakit, satu tendangan musuh berhasil mengenai perut, satu serangan lagi ke arah yang sama, satu sikutan menghujam punggungannya, dia perlahan terjatuh.
ditengah ketegangan yang terjadi, Aku segera mengambil satu botol dari rak minuman, mulai memberanikan diri, entah kenapa aku berani melangkah untuk menyelamatkan perempuan yang bahkan baru kukenal, aku mulai berlari, menggenggam erat botol ditangan, menghantam Asthon tepat mengenai kepalanya, dia belum terjatuh, tubuhnya yang kekar mulai berbalik menghadapku, wajahnya terlihat marah, matanya merah, darah segar mulai bercucuran dari kepalanya, dia meraba kepalanya.
"Sialan kau yuda, berani beraninya kau melakukan ini!" dia mulai berlari menghampiriku, melompat dan menjatuhkanku ke lantai.
"Sialan, kau lebih baik mati saja Anak lemah" ancamnya mulai mencekik leherku.
Dia mencekik semakin keras, napasku mulai tertahan, tubuhku mulai merasakan dampaknya. aku melihat ada bongkahan kaki kayu dari meja yang sudah patah, itu satu satunya yang bisa kugunakan, tanganku mencoba meraihnya, sedikit..... sedikit lagi..dan dapat.. aku mengambilnya dan kuhantamkan dengan keras ke kepala Ashton, satu pukulan, dia masih bertahan, dua pukulan, cekikan tangannya mulai melemah, dan pukulan ketiga kuhantamkan dengan keras, hingga ia jatuh terlentang tak bergerak...
Wanita tadi mulai beranjak berdiri setelah melihat lawan di depannya lengah, Dia mulai menyiapkan serangan, berjalan tertatih tatih melangkah mendekati musuh yang terakhir, ketika sudah tepat berada dibelakangnya dia menghantam leher belakang lawan dengan tangan, musuh pun jatuh tak sadarkan diri.
Tujuh anak berandalan berhasil dikalahkan, Sisa lawan yang tadi terkapar mulai berdiri, dengan wajah ketakutan mereka kabur sambil membawa dua teman mereka yang pingsan tadi.....
Suasana kafe hening, meja kayu patah, kursi dan botol botol berserakan di lantai, perhiaasan di dinding berjatuhan. kondisi Cafe semberawut karena pertarungan tadi.
Wanita tadi mulai berjalan ke arahku dengan susah payah menyeret kaki kirinya yang cedera, aku masih duduk bersandar di tembok, Dia menunduk kemudian mengambil ransel kecilnya yang kebetulan tergeletak disampingku.
"A..anu, terima kasih sudah menolongku" aku buru buru berdiri.
"Namaku Yuda, Namamu ?" Aku menyodorkan tangan.
dia menatapku sekian lama.
"Bukannya tadi pagi aku sudah memperkenalkan diri di kelas, kita kan satu kelas."
"yaa, maaf, aku... tidak terlalu memperhatikan perkenalanmu tadi pagi"
Namaku Monica" masih dengan ekspresi tak ramah dia bahkan tidak merespon sodoran tanganku, aku mulai menurunkan tanganku malu.
"Kenapa mereka menyerangmu?" tanyanya sambil meletakkan ransel kecil di belakang pundak.
"Mereka memalak uang 200.000 padaku, mereka selalu melakukan itu pada banyak orang di sekolah, Syukurlah kau ada, mereka mungkin akan berpikir dua kali untuk memeras uang lagi."
"Lalu .. Kenapa kau tidak melawan mereka, menolak, paling tidak menunjukkan sedikit dari keberaniaanmu, seperti yang kau lakukan tadi menghantam salah satu lawan dengan botol."
"Sebenarnya aku juga tidak mengerti, kenapa tadi aku berani melakukan itu, padahal selama ini aku tidak pernah melakukan hal seperti tadi. mungkin karena ada kau, jadi itu banyak membantuku, aku jadi merasa lebih aman dan terlindungi." aku melemparkan senyum ramah padanya.
dia lagi lagi tidak membalas senyumku sedikit pun.
Kemudian dia mulai berbalik membelakangiku.
"Jika kau lemah dan penakut, kau akan kehilangan segalanya, termasuk orang orang yang kau sayangi disekitarmu!, jangan menjadi penakut terutama kepada mereka yang bertindak menginjak injak orang lain dengan angkuh, jangan takut dan jangan pernah takut pada mereka." Kemudian dia pun pergi meninggalkan kafe kayu yang hening dan berantakan, menyisakan Aku seorang diri.
__ADS_1