
Suasana di kapal nampak sibuk, beberapa lainnya masih berkeliling dengan membawa tas dan koper mencari kamar tujuan, ada yang duduk bercengkrama santai di cafe kapal, ada juga yang santai di deck kapal, tiba tiba satu tembakan keras terdengar jelas, salah satu petugas terkapar jatuh, darah bercucuran keluar.
tembakan lain menggema di dalam kapal, peluru menghujam kepala salah seorang penumpang. para penumpang lain mulai berteriak histeris, ketakutan terlihat jelas di wajah setiap orang, semua lari mencoba mencari perlindungan, beberapa terjatuh karena dorongan orang lain, ada yang terjatuh terbentur meja dan kursi, meja dan kursi berserakan dimana mana, ratusan orang bertutupkan wajah dengan senjata masuk di setiap ruangan di kapal, puluhan penumpang lainnya jatuh tak bernyawa, tembakan dan tembakan terus terdengar membabi buta dimana dimana, darah segar mengotori setiap lantai dan dinding di ruang utama kapal.
Aku, Ibu dan Ayah masih berada di kamar, Ayah kemudian berdiri dari duduknya ketika mendengar suara teriakan dan tembakan dari luar.
"Apa yang terjadi di luar Ayah?, ada apa?" tanya ibu.
"Kalian tunggu disini, akan kulihat kondisi di luar, kunci pintunya!, jangan dibuka sampai aku kembali lagi disini"
Ayah mulai beranjak keluar, ibu mengunci pintu.
Ibu dan aku mulai panik, rasa takut, cemas, khawatir mulai menggangu ketenangan kami.
"Ibu, apa semua baik baik saja?"
ibu memelukku."Semua akan baik baik saja, jangan takut Yuda, semua akan baik baik saja"
Dibenakku aku khawatir dengan Ayah, semoga ayah bisa kembali dengan selamat.
Di luar, ayah mulai berjalan mengendap ngendap waspada pada setiap kemungkinan, dengan bermodalkan pisau SOG Seal Knife 2000 khusus militer. Pisau ini sengaja dirancang dan ditujukan secara khusus hanya untuk pasukan NAVY Seals. NAVY Seals sendiri adalah sebutan untuk satuan pasukan militer elit dari Amerika. Latihan yang dibutuhkan untuk menjadi anggota NAVY sangatlah sulit, hal tersebut membuat pisau ini menjadi senjata yang amat berharga. Memiliki panjang keseluruhan 31 cm dan dilengkapi dengan bagian bergerigi di tubuh pisau, serta dengan pegangan yang lebih panjang dibandingkan pisau-pisau lain membuat pisau ini terkesan unik. Selain itu, mata pisau dari SOG Seal Knife 2000 juga cukup panjang.
suara teriakan dan tembakan masih terdengar di lantai bawah, ayah masih terus berjalan hati hati, di depan tangga tiba tiba ada seseorang yang terburu buru lari menyelamatkan diri. "Toloooong" teriakkanya terhenti ketika satu peluru menembus kerongkongannya, diapun jatuh tak bernyawa.
Ayah yang kebetulan melihat itu langsung bersembunyi di balik tembok dekat dengan tangga, ayah masih menunggu orang yang menembak tadi untuk naik keatas, lalu ayah akan menyerangnya selagi siap.
si penembak tadi mulai beranjak naik, setiap langkah kakinya terasa begitu lama, waktu terasa seperti berjalan lambat, denyut jantung mulai bergetar kuat, keringat mulai keluar dari pelipis, tangan yang menggenggam pisau telah siap, ayah menarik napas pendek, target mulai dekat,suara langkah kakinya terdengar, satu langkah, dua langkah, tiga langkah... sekarang waktunya..
Ayah mulai melangkah cepat ke arah musuh, ayah masih kesulitan karena perlawanan dari musuh, ayah berusaha menusuk dengan pisau namun dia menahan kedua tangan ayah, ayah masih berusaha melawan.dia menghantamkan kepalanya ke kepala ayah, ayah menjerit kesakitan,ayah terlepas darinya, musuh berdiri dan berusaha mengambil senjata kembali, ayahpun buru buru berdiri, mengarahkan pisau untuk menusuk musuh, satu serangan gagal, serangan kedua gagal, musuh begitu lihai menghindar, Ayah mencoba melakukan serangan berikut, dia menahan tangan ayah, Ayah mencoba memukul dengan satu tangannya yang kosong, dia berhasil menahannya lagi, dia kemudian menendang ulu hati ayah hingga terhempas sejauh tiga meter, musuh mengarahkan senjata Ak47 melepaskan tembakan ke arah ayah, ayah bergelinding menghindar, tembakan menghantam lantai baja.
Ayah dengan cepat maju dan menghantam musuh dengan tendangan ke arah rahang, musuh masih berdiri, musuh kemudian memukul dengan pegangan senjata ke arah ayah, ayah berhasil menghindar, berikutnya serangan yang sama, ayah menahan dengan kedua tangan, saling tarik menarik pun terjadi, ayah sedikit menjongkok dan melepas satu tangannya, mengambil pisau yang tergeletak tidak jauh dari Ayah, kemudian menancapkan ke paha musuh, dia berteriak kesakitan, duel tarik menarik senjata belum berakhir, ayah kemudian menarik kembali pisau yang masih menancap tadi, kemudian menusuk ke lambung musuh, tusukan berikut ke perut, musuh menjerit, dan tusukan terakhir menghujam jantung musuh hingga musuh perlahan jatuh dan tewas.
__ADS_1
Ayah merebut senjata Ak47 nya, kemudian segera mencari tempat Cover.
tiga musuh bersenjata naik, ayah sigap dengan senapan, ayah menarget mereka, melepaskan rentetan tembakan, ketiganya tumbang berlumur darah.
Ayah kemudian mengecek keadaan sekitar, suara tembakan terdengar bersahutan dari lantai bawah, ayah melihat sekilas lewat celah tangga, kelompok bertopeng nampak sedang bertempur sengit dengan seorang pemuda bersenjata, pemuda itu nampak sangat lihai menggunakan senjata laras panjangnya sambil mengcover dirinya dari balik tembok. jual beli tembakan terjadi antara mereka. sesekali pemuda tersebut menyuruh penumpang untuk kabur sambil dia menyibukkan para musuh dari mereka.
"Dia terlihat masih sangat muda.. dan dia bertarung seorang diri melawan mereka?" ucap ayah kagum pada pemuda tersebut.
setelah itu ayah mulai pergi kembali ke tempat kami.
Aku dan ibu masih di kamar, dengan rasa cemas dan khawatir. tak berselang lama terdengar bunyi ketokan pintu.
"Melisa, buka pintunya!, ini aku"
"Itu Ayah" kataku pada ibu.
Ibu mulai membuka pintu, ayah mulai masuk dengan wajah penuh cemas.
"Apa yang terjadi?" tanya ibu.
"Ada sekelompok orang gila bersenjata membunuh setiap orang yang ada, ini pembantaian" ayah mulai menatap kami dengan serius.
"Di bagian belakang kapal, ada sekoci, kita bisa gunakan itu untuk kabur dari sini. kalian berdua tetap berada di dekatku, jangan menjauh"
Ayah mulai mengarahkan kami menuju tempat sekoci sambil melindungi kami dengan senapan di tangan ayah.
kami mulai melangkah dengan hati hati, Ayah terus mengawasi sekitar. kami sedikit kesulitan untuk lewat, karena ramainya orang yang juga berusaha kabur, bertabrakan satu sama lain karena panik.
suara teriakan diiringi suara tembakan masih terdengar oleh telinga kami,kami juga melangkahi banyak mayat yang tergeletak tak bernyawa.
setelah rintangan dan ketegangan yang kami lewati kami akhirnya sampai di tempat sekoci.
__ADS_1
ayah mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya, ternyata sebuah senapan laras pendek, ayah menyerahkan pada Ibu.
"Simpan ini, gunakan hanya pada saat genting. Kau bisa kan?" tanya ayah pada Ibu.
"Tunggu. apa maksudmu ini?"
"Aku akan menyusul kalian ketika sudah selesai"
"Selesai dari apa? tidak. kau harus bersama kami"
"Melisa. melisa.. dengar.. tadi aku melihat beberapa anak kecil dan ibu ibu dalam keadaan bahaya, mereka bisa saja dibantai seperti yang lain, aku harus membantu mereka."
"lalu dengan membantu mereka kau tinggalkan kami, kau tinggalkan anakmu yang masih kecil ini, bagaimana kalau kami dalam bahaya ditengah lautan. kami bisa saja mati seperti yang lain."
"Melisa, kalian akan baik baik saja, perhatian mereka sedang teralihkan disini, kalian bisa pergi dengan aman"
"kalau begitu ayo kita sama sama kabur dari sini"
"melisa. ini tanggung jawabku, aku dilatih dalam militer, aku diberi sedikit kelebihan untuk bertarung, maka aku wajib melindungi mereka yang ada di dalam."
"Tidak...tidak. kau tidak boleh lakukan ini" ibu mulai berteriak histeris air mata ibu tumpah.
Ayah mulai berjalan menuju sekoci, mengangkatku ke sekoci. lalu menaikkan ibu secara paksa, ibu masih meronta, memukul mukul tubuh ayah.
"Pakai lampung kalian, jauhi kapal ini sejauh mungkin, cari daratan dengan mengikuti Arah Gps di hp, aku sudah menghubungi polisi, mereka akan melacak lokasi kalian lewat hpmu melisa, jadi jaga hpmu jangan sampai hilang.
Ayah menarik rantai secara perlahan menurunkan sekoci kami ke dasar laut.
"Aku janji, jika semua sudah selesai disini, aku akan pulang ke rumah."
"Yuda, tetaplah menjadi jagoan." ayah menatapku sambil tersenyum. setelah itu ayah pun pergi meninggalkan kami.
__ADS_1
saat itulah kami berpisah dengan ayah. perpisahan yang sebenarnya tidak pernah diingkan oleh Ibu ataupun Aku, itu adalah saat terakhir aku menatap wajah Ayah. setelah itu dia pergi dan tak pernah kembali lagi.