
Guru dan Murid
Setelah kejadian berlalu, Zaki dan Rani di hantar ke masing-masing rumah mereka, setelah di obati.
Di taman kediaman keluarga AS, di atas gasebo Chiko mengingat kembali kata-kata pak Andy, untuk menjaga Asti. Dan itu jelas bahwa pak Andy meminta menjaga Asti bukan dari manusia.
Pertanyaan-pertanyaan dalam kepala Chiko sangat banyak namun pak Andy mengakhiri pembicaraan dengan "besok saya akan mengajakmu pada suatu tempat."
"Haih..., Hari ini terlalu banyak hal yang mengajutkan" gumamnya dengan lesu.
Dari kejauhan seseorang memebawa nampan berwarna perak, melangkah menuju Chiko dengan tetap elegan mempesona, seperti waiters hotel internasional, dia adalah Astuti yang sedang membawakan sebuah teko dan beberapa cangkir kecil untuk menikmati Teh.
"Chiko, apa yang sedang kamu fikirkan?" Tanya Astuti, sambil menuangkan segelas teh untuk Chiko.
"Hah, tidak ada kok, hanya menikmati angin segar ditanam ini" balas Chiko dengan berbohong.
Ushhh... Ahh..
Suara seruputan teh oleh Astuti, dengan wajah penuh selidik "saya tahu kamu sedang berbohong"
Ucapan Astuti hanya di balas dengan senyuman canggung oleh Chiko, dia merasa tidak bisa berbohong pada seorang wanita.
__ADS_1
"Baiklah, lupakan apa yang saya katakan, dan nikmati teh ini" pinta Astuti dengan senyuman sambut menyodorkan senyuman.
Chiko hanya terdiam tidak bicara, hanya mengarahkan Majah serta pandangannya pada langit berwarna oren yang menandakan senja telah tiba, dengan di iringi beberapa jenis burung yang berterbangan untuk kembali pada sarang mereka, dan sesekali menyeruput segelas teh yang ada di tangan kanannya.
Begitupula Astuti tidak beda jauh dengan apa yang dilakukan oleh Chiko, namun hanya beda pemikiran masing-masing, Chiko yang dipenuhi fikiran tentang seatu hal yang diluar akal manusia pada umunya, sedangkan Astuti memikirkan permasalahan perusahaan yang terus merosot sejak beberapa bulan yang lalu, tepat satu Minggu setelah meninggalnya Beny.
***
Matahari telah terbit dari arah timur, menandakan hari telah berganti. Sinar matahari menyingsing pada setiap rumah untuk membangunkan setiap insan yang masih tertidur, seakan-akan sinar matahari itu hidup, seperti seorang ibu membangunkan anaknya dengan lembut. (Diguyur emak tau rasa lu)
'Tok.. tokk'
"Chiko bangun, ayo sarapan nanti kita bisa terlambat" panggil Asti dengan keras sambil mengetuk pintu.
Asti yang melihat Chiko dalam keadaan tela*Jang dada, langsung menutupi wajah yang sudah berubah merah merona, sambil sesekali mengintip dari sedikit di jarinya.
"A~~apa yang kau lakukan?" Gugupnya pada,
"Seperti yang kamu lihat, saya baru saja selesai mandi" jawabnya dengan santai, dan terus mendekat pada Asti, "dan kamu lagi ngapain dikamar saya?" Tanyanya pada Asti sambil menyentuh pipinya dari balik jari Asti.
"Kyaaa...., Chiko bodoh" bentak Asti sambil mendorong dada Chiko dan berlari menjauh dari kamar Chiko
__ADS_1
"Cepat turun, sarapan sudah siap. Kak Astuti udah nunggu"teriaknya sambil menjauh.
***
Puluhan bahkan ratusan orang terlihat memasuki gerbang sekolah dengan lambaian, saling menegur sapa dan sedikit bising jika diperhatikan. Dan beberapa dari mereka terlihat cukup tua berdiri dekat gerbang sekolah untuk mengamati murid-muridnya yang melanggar aturan seperti rambut yang gondrong berlebihan serta baju yg di press dari ukuran L menjadi M, mereka adalah guru dan murid.
***Maaf chapter ini kurang klimaks atau kurang memuaskan, karena di luar perencanaan.
Tadinya saya mau bikin jadi 1000 kata, tapi yang di atas cuman 516 kata.
Besok pagi baru saya upload oke.
MOHON DUKUNGANNYA, JANGAN LUPA
TAP LOVE β€
__ADS_1
TAP LIKE π
TAP 5 RATE βββββ***