Three Love

Three Love
Pernikahan


__ADS_3

Hari yang sangat aku tunggu, akhirnya tiba. Para penata rias tengah asik mendandaniku layaknya ratu kerajaan. Ah, bukankah hari ini memang aku tengah diratukan?


Iya, hari ini aku akan menikahi pria yang sudah membersamaiku selama lima tahun.


Oh, iya, aku lupa memperkenalkan diri. Namaku Agustina Cahyani. Biasa dipanggil Tina. Dua bulan lalu aku lulus dari universitas kedokteran di ibukota. Dan Erik, pacarku dan sekaligus calon suamiku nanti, ia melamarku satu bulan setelah kelulusan. Aku merasa kebahagiaanku sudah lengkap sekarang. Kelulusan dengan peringkat terbaik, dan menikahi orang yang paling aku sayangi.


“Nona Tina, apa Nona tidak mau didandani layaknya pengantin pada umumnya?” seorang penata rias menanyaiku setelah menghiasi alisku.


Aku menggeleng, “Aku hanya ingin netral saja, tidak mau berlebihan.”


Penata rias itu mengangguk patuh. Aku memang tidak mau terlihat berlebihan make up, orang lain menyebutnya “menor”. Mungkin telihat wajar saja, karena penata riasku adalah orang yang profesional. Namun, aku tidak akan nyaman menikmati hari terindahku nanti.


“Sudah siap, Nona Tina. Ada yang kurang?” tanya penata rias kembali.


Aku menatap ke kaca, dan bergaya. Bahagiaku seakan terpancar dari wajahku, membuatku semakin mempesona pastinya. Erik tidak akan mudah berpaling dariku nanti.


“Sudah cukup. Terima kasih banyak ya,” balasku.


“Sudah kewajiban saya, Nona.”


Aku tersenyum kepada penata rias. Erik benar-benar pandai memilihkan penata rias untukku.


“Tina, sudah siap belum?” Ibuku tiba-tiba muncul dari tirai kamarku. Aku bisa melihatnya dari cermin.


“Iya, Buk. Aku sudah siap.”


Ibuku mendekatiku, dan memegang kedua bahuku.


“Ibu bangga sama kamu. Kamu lulus dengan nilai terbaik, dan sekarang kamu akan menikah. Ingat semua nasehat Ibu semalam ya, Nak. Dan patuhi suamimu,” ucapnya.


Aku tersenyum. Air mataku pun mengalir tanpa kusadari. Aku langsung memeluk ibuku dengan erat.


“Ibu doakan Tina, ya,” bisikku.


Ibuku mengelus punggungku, “Iya, Nak. Selalu,”


Drama kami terhenti saat ayahku datang.


“Loh! Calon pengantinnya malah nangis begini. Kasihan penata riasnya dong!” ujarnya.


Aku tertawa dan mengusap mataku dengan tisu.


Aku pun diantar ke panggung pengantin. Di sana sudah ada Erik dan ayahnya, dan seorang penghulu. Dekorasi panggung yang ditempatkan di teras rumahku, begitu indah dan bernuansa alam. Aku memang menghendaki demikian, agar para tamu undangan merasa nyaman di tempat mereka duduk.


Aku duduk di sebelah kiri Erik, sedang ayahku di sebelah kanan. Suasana cukup menegangkan sekarang. Erik pun mengucapkan akad yang sakral itu.


“Saya terima nikahnya, Agustina Cahyani Binti Handoko, dengan maskawin tersebut, Tunai!”


Penghulu pun menyebarkan pandangannya, “Bagaimana saksi? Sah?”


“SAH!” seruan itu menggaung di seluruh sudut.

__ADS_1


Penghulu pun melantunkan doa pernikahan. Akhirnya aku dan Erik resmi menjadi sepasang suami dan istri sah. Kami saling menatap satu sama lain, dan saling melemparkan senyuman. Erik langsung beralih pandangan ke arah meja yang sudah disediakan berkas-berkas untuk ditanda tangani.


Aku terus menatap Erik dengan penuh arti. Cintaku sudah sepenuhnya untuknya.


“Giliran Nona Tina yang tanda tangan,” ujar penghulu menegurku.


“Eh!” Aku merasa kewalahan hanya untuk tanda tangan. Mungkin aku grogi.


Orang tuaku dan orang tua Erik tertawa melihat tingkahku. Ah, mereka pasti lupa rasanya posisiku dan Erik sekarang. Atau jangan-jangan mereka justru mengingat masa lalu mereka.


“Nah, sekarang Nona Tina sama Tuan Erik bisa salaman. Sudah boleh saling menyentuh, atau melakukan apapun yang diinginkan.” Penghulu itu tersenyum menatap kami berdua.


Kami hanya diam. Karena kami selama pacaran jarang bertemu, alias LDR, jadi kami masih canggung satu sama lain.


“Loh? Kok diam?” tanya penghulu kembali.


Tawa pun kembali pecah dan acara kami kemudian berlanjut.


***


Malam pun datang. Aku sudah selesai membersihkan diri sejak pukul tujuh tadi. Aku menyisiri rambutku yang panjang nan bergelombang. Melelahkan, tapi aku bahagia.


Tak lama, Erik memasuki kamar. Aku melihatnya dari cermin, ia tengah berdiri terpaku melihat aku yang sudah berbusana minim. Ini adalah pakaian pemberian dari ibuku, aku mematuhinya untuk mengenakan ini di malam pertama.


“Cantik sekali kamu, sayang,” puji Erik dengan menyentuh bahuku yang tidak tertutup.


Aku tersenyum, “Namanya perempuan jelas cantik, dong. Kalau ganteng bahaya,” balasku.


Aku membalikkan badanku. Erik hanya mengenakan kaos putih dengan celana pendek. Badannya cukup kekar karena sering berolahraga. Aku mengalungkan tangan ke lehernya, hingga jarak kami sebatas beberapa senti saja.


“Jadi? Kita sudah mulai menjalani hidup baru bersama. Maka tolonglah tetap setia kepada istrimu ini,” pintaku sambil menatapnya dengan manja.


“Tentu saja, sayang. Aku sudah perjuangkan kamu sampai detik ini, mana bisa aku menyia-nyiakannya?”


Tangan Erik pun menyentuh pinggangku dengan lembut. Aku tidak mempedulikannya. Malam ini kami harus memulai dengan senyuman.


“Oh, ya? Kalau diantara kita ada yang berkhianat?” tanyaku.


“Kau bisa lakukan apapun, bahkan untuk membunuhku,” balasnya.


“Dan kau bisa lakukan hal yang sama kepadaku,” ujarku


“Sepakat?”


“Sepakat!” bisikku.


Kami pun akhirnya saling memadu kasih. Malam ini, kami memainkan permainan cinta yang kelaknya menghasilkan generasi baru di dunia ini. Ah, betapa indahnya cinta ketika ikrar sudah diucapkan. Hidupku sudah terasa sempurna sekarang.


***


Tok! Tok! Tok!

__ADS_1


Ketukan pintu itu membuatku terjaga dari tidurku. Aku melirik ke arah jam dinding, ternyata masih pukul empat pagi. Pandanganku beralih ke Erik yang ada di sampingku. Erik masih tertidur dalam keadaan telentang. Dia sepertinya kelelahan.


Aku pun bangkit dari tidurku, dan segera mengenakan piyama. Erik akhirnya terbangun karena terusik oleh aktivitasku.


“Kenapa, Sayang?” ujarnya lirih.


“Kamu cepetan pake piyama ini! Ada yang ketok pintu,” bisikku.


Ia langsung bangkit dan menuruti perintahku. Saat kami siap, aku membukakan pintu. Rupanya ibuku.


“Tina, persiapan sholat subuh, bangunkan Erik juga,” ujarnya.


“He em. Kamar mandi kosong ‘kan, Buk?”


Ibuku mengangguk. Lalu beliau kembali masuk ke kamarnya yang berseberangan dengan kamarku.


Aku langsung menoleh ke Erik.


“Sayang, buruan mandi! Mumpung kosong!” bisikku.


Erik hanya diam menatapku. Ia nampaknya masih belum memahami perkataanku.


“Yang! Cepetan!”


Erik menyeringai, “Mau mandi bareng,” ucapnya.


Aku menepuk jidatku. Erik ini, baru hari pertama semanja ini.


“Jangan dulu, Sayang! Lain kali aja, oke? Soalnya belum di rumah sendiri. Susah!” balasku berbisik.


Erik tetap terdiam menatapku.


“Oke, oke! Mandi bareng ‘kan?” tawarku.


Erik tidak menjawab, namun segera mengambil baju yang ada di kopernya, sekaligus handuknya.


“Yuk!” ajak Erik.


Aku hanya memutar bola mataku asal.


Kami berdua pun berjalan ke kamar mandi tanpa mengeluarkan suara. Kami khawatir akan membangunkan yang lainnya.


Kami sampai di depan dua kamar mandi. Aku langsung mendorong pelan Erik ke kamar mandi sebelahku.


“Loh? Bukannya bareng?” Erik malah bertanya dengan lugu.


Aku melototkan mata ke arahnya, “Iya, ini bareng! Kamu di kamar mandi yang situ, aku yang sini!”


Erik nampak kesal dengan memanyunkan bibirnya. Aku mengabaikannya, dan langsung memasuki kamar mandi.


***

__ADS_1


__ADS_2