Three Love

Three Love
You Can See Me?


__ADS_3

Aku pun memutuskan untuk mengikuti pria tersebut. Ia ternyata berjalan menuju sebuah bar. Dengan mudah aku memasukinya tanpa harus membuka pintu.


"Satu gelas seperti biasa, Pak," ujar lelaki itu.


"Lu semakin rajin ke sini, Jhon. Gagal interview lagi?" ucap bar tender yang asik mengocokkan air dengan dua gelas yang saling menyatu.


"Begitulah," balas lelaki tersebut.


"Oke. Ini gue racik kan minuman khusus untuk lu."


Aku memperhatikan dari meja di dekat lelaki itu. Ia benar-benar terlihat menyedihkan sekali. Oh iya namanya Jhon. Tadi bar tender itu yang mengatakannya.


"Thank you, Bro. Aku butuh itu."


Ia begitu saja menerima gelas dari bar tender tersebut. Miris sekali dia meminta tambah terus menerus. Hingga ia merasakan mabuk.


"Jhon, mau tambah? Kagak kembung tuh perut diisi air mulu?" tanya si bar tender.


"Lu nggak tahu ya, gue ini haus!" sentak Jhon dengan nada lemas.


Aku yang sudah tidak tahan melihatnya langsung menghampiri pria itu.


"Gue ini udah jalan jauh ke kantor tapi gagal terus!" Jhon masih saja ngelantur.


Bagaimana aku bisa mengingatkan pria ini agar berhenti?


"Hai, kamu bisa mendengarku?" aku mencoba berbicara. Meski itu akan sia-sia saja hasilnya.


"Lo siapa?" tanyanya sembari mencoba melihatku. Tunggu, dia mendengarku?

__ADS_1


"Aku, pengunjung." Aku menyeringai.


"Lo kayak manager yang gue temui tadi."


Aku langsung kebingungan. Pertama, dia mendengarkan ku dalam keadaan mabuk. Sekarang dia bisa melihatku? Mana dimiripkan dengan manager kantor lagi.


"Eh, bukan. Aku beda orang," aku mengelak.


"Bohong!"


Sebuah tepukan melayang di pipi Jhon. Ternyata berasal dari bar tender yang tadi.


"Lo ngeri kalau mabuk. Sampai bisa ngomong sama makhluk dimensi lain," ujarnya.


"Dimensi lain apa? Ini pengunjung kasian nggak lo ladenin dari tadi!"


"Bikinin dia satu! Gue yang bayar!" lanjut si Jhon.


Aku mencoba menolak, "Em, nggak usah! Aku hanya mampir, kok. Nggak mau minum."


"Nurut kata gue! Ngerti!?" gertaknya membuatku sedikit panik.


"Apaan sih!? Aku nggak mau minum." Aku terus menolak.


Jhon pun berjalan dan mencoba mendekatiku dengan sempoyongan.


"Lo, ikut gue!" titahnya.


Aku mengerutkan dahi, lalu menunjuk diriku.

__ADS_1


"Aku? Tapi kita ..."


"Bodo amat! Gue ga peduli lo siapa, tapi lo ikut gue!" potongnya.


Entah mungkin dia sedang dalam pengaruh minuman itu atau bagaimana, tapi ucapannya benar-benar membingungkan.


"O-oke. Aku ikut." Aku memutuskan untuk mengalah.


Dia pun berjalan keluar dengan tidak seimbang. Aku mengikutinya dari belakang seperti anak ayam. Saat beberapa langkah dari bar tersebut, ia hampir jatuh ke tepian jalan. Dengan sigap aku mencoba membantunya, dan keanehan pun terjadi.


Aku bisa menyentuh si Jhon!


Aku pun berusaha memapahnya agar ia bisa melangkah dengan baik.


"Kenapa lo nolong gue?" tanya Jhon.


"Gue punya simpati, makanya nolong lo," balasku ketus.


"Hari-hari gue berat banget di kota si*lan ini. Jerih payah gue sekolah tidak ada gunanya!"


Ia mulai berbicara asal lagi. Biarlah, kata orang-orang bila ada yang mabuk, kadang sebagian ucapannya adalah fakta yang ia tutupi dari orang lain. Dan sebagian lainnya adalah efek halusinasi.


"Trus tadi ditolak lagi?" tanyaku mencoba mengikuti alur ceritanya.


"Ah! HRD tadi memang sukanya main orang dalam! Temanku diterima karena saudaranya ada yang menjadi petinggi di perusahaan!" jelasnya dengan nada yang tidak beraturan.


Aku menghela nafas. Ternyata sekeras itu perjuangan orang-orang di luar untuk mencari uang. Sepertinya aku harus banyak bersyukur kalau dikasih kehidupan kembali.


***

__ADS_1


__ADS_2