
Waktu yang ku nantikan akhirnya tiba. Erik dan aku sibuk memasukkan barang ke tas. Sesuai rencana, kami akan ke pantai yang ada di Ibukota. Aku sudah membayangkan betapa asiknya bermain ombak di sana, dan bisa memanjakan diri dengan Erik lebih dari biasanya.
“Em, Sayang,” seru Erik.
“Iya?”
Aku yang tengah berusaha menata barang-barangku di tas, bergegas menghampirinya.
“Kamu lihat ponselku, tidak?” Erik masih mencari ponselnya sejak tadi.
“Lah? Kenapa tidak ditelfon pakai ponselku?” tanyaku.
Erik malah bergusar mengabaikanku, dan menggeledah lagi laci di bawah televisi.
Tanpa instruksi darinya, aku mencoba menelfon ponsel Erik. Sayup-sayup terdengar suara nada dering ponsel khas milik Erik dari dapur.
Erik langsung bergegas ke sana. Beberapa menit kemudian, ia kembali dengan wajah tersenyum.
“Ternyata ada di laci dapur,” ujarnya.
Aku mendengus kasar, “Sudah kubilang, ‘kan?”
Erik hanya tertawa kecil, “Baik, aku salah. Terima kasih istriku tercinta.”
Bola mataku berputar penuh kesal. Aku pun meninggalkannya, dan kembali menata barang.
***
Perjalanan menuju Ibukota memakan waktu dua jam. Aku dan Erik memilih melewati jalan tol agar bisa lebih cepat sampai di tujuan.
Namun, saat memasuki tol aku merasakan hal yang membuatku tiba-tiba ingin membatalkan acara ini.
“Sayang.” Aku memulai percakapan.
“Iya, kenapa?”
“Em, berapa lama kita akan sampai?”
“Mungkin satu jam dengan kecepatan sedang, Sayang.”
Aku mengangguk. Rasa takut itu semakin kuat saat Erik mempercepat laju mobil.
“Sayang, jangan ngebut-ngebut! Aku takut.”
“Tenang saja, di depan kosong juga.”
Baru saja aku memperingatkannya, di depan kami terdapat dua truk yang saling bersebelahan. Erik mencoba mengurangi kecepatan, namun kabar buruk itu terjadi.
“SAYANG! REMNYA BLONG!” serunya.
“BANTING STIR, YANG!”
“TRUKNYA TIDAK ADA YANG MAU MINGGIR LAGI!”
“AWAS!”
BRAK!
Mobil kami berhenti dengan tragis. Pandanganku mulai kabur. Teriakan Erik sayup-sayup menghilang.
Dan perlahan semuanya gelap.
***
“Nona? Kau baik-baik saja?”
__ADS_1
Aku membuka mataku. Di depanku sudah ada pria asing yang mengecek kesadaranku. Tubuhnya gagah, wajahnya tampan dan bersinar. Belum pernah aku menemui manusia setampan itu. Bahkan artis luar negeri yang terkenal pun kalah.
“Kamu siapa?” tanyaku lirih.
Aku mencoba bangkit dan mengedarkan pandanganku ke sekeliling. Aneh, aku ada di belantara hutan? Bukannya aku ada di tol tadi?
Dan, hei! Tubuhku nampak baik-baik saja.
Aku menatap lelaki asing itu kembali dan spontan menjauhinya.
“Kamu siapa!? Di mana Erik?” seruku.
“Eh? Siapa Erik?” Ia malah balik bertanya.
Aku meraih ranting kayu dan menodongkannya ke wajahnya.
“Dia suamiku! Di mana dia!?”
Lelaki asing itu hanya diam menatapku dengan heran.
“Oh, pria itu suamimu? Kukira …”
“JELAS DIA SUAMIKU! DIMANA DIA SEKARANG!?” potongku dengan lantang.
Lelaki itu terkekeh, “Hei! Tenanglah, Nona! Kau baru saja siuman sudah mengamuk seperti ini.”
Ia mengibaskan tangannya ke udara. Ranting yang kugenggam tiba-tiba hilang begitu saja. Aneh sekali.
“Baiklah, aku Ryan. Aku ditugaskan untuk menyelamatkanmu dari alam kematian.”
“Alam kematian?”
“Iya. Kau tahu ‘kan? Alam yang akan memisahkan roh dari jasadnya. Tadi aku sudah negoisasi dengan pencabut nyawa untuk membawamu ke sini.”
Aku tertawa dengan ujarannya. Terdengar sangat konyol ada hal semacam itu.
Ryan justru tersenyum tenang.
“Kau mau bukti? Ikut aku!” ajaknya sambil menarik tanganku.
Tangannya perlahan bergerak memutar membentuk lingkaran. Lalu tercipta sebuah lubang hitam dengan angin yang berhembus mengitarinya. Ryan kemudian menarikku ke dalam lubang tersebut.
Seperti terseret arus sungai yang deras, kami melintasi terowongan tanpa tembok. Ryan memegangiku dengan erat.
“Kau akan tahu alasanku menyelamatkanmu, Tina.”
“Kamu tahu namaku?”
Ryan tertawa dengan keras.
Kami akhirnya tiba di penghujung terowongan aneh itu. Sinar cahaya yang menyilaukan mata memaksaku untuk terpejam.
“Lihatlah, Tina!”
Aku membuka mataku. Aku melihat dengan jelas mobil yang kutumpangi dengan Erik hancur di sisi tepat aku duduk. Ambulance dan beberapa mobil polisi mengitari lokasi kejadian.
“Aku bisa mendekat ke sana?”
Ryan menggeleng. Itu artinya tidak.
“Kenapa? Aku ingin memastikan Erik baik-baik saja!” bujukku.
“Kau masih saja mencari suamimu. Baiklah, kita langsung pindah lokasi!”
“Pindah!?”
__ADS_1
Belum selesai aku bicara, Ryan sudah membawaku ke lubang hitam yang muncul di hadapan kami.
Kami akhirnya tiba di ruang ICU di rumah sakit. Terbaring seorang wanita dengan perban yang melilit tubuhnya, dan beberapa selang terpasang di tangan dan dadanya.
Dokter sesekali mengecek layar pendeteksi denyut jantung di samping ranjang wanita malang itu.
“Sepertinya dia akan mengalami masa kritis yang panjang,” ujar salah seorang dokter.
“Iya, Dok. Kita hanya bisa menunggu keajaiban saja.”
Aku memperhatikan baik-baik tubuh wanita itu.
“Itu adalah kamu, Tina,” celetuk Ryan.
Aku pun tersentak kaget, “Hah!? Aku? T-tapi aku jelas di sini!”
Ryan terkekeh dan memegang pundakku, “Ini adalah setengah dari rohmu, Tina. Setengahnya lagi harus memastikan tubuhmu masih bisa berfungsi.”
“Apa maksudnya, Ryan?”
“Saat nyawamu hendak dicabut tadi, aku mencegah pencabut nyawa untuk mengambil semua roh milikmu. Jadi yang terambil hanya separuh saja.”
Aku hanya menatap Ryan tidak mengerti. Kemudian menatap kembali tubuhku yang tidak bergeming di atas ranjang.
“Jadi, apa aku bisa kembali?” tanyaku.
Ryan mengangguk.
“Sungguh!?”
Ryan mengangguk lagi, “Katamu, kau ingin melihat suamimu.”
“Iya! Dimana dia?”
Ryan menggeretku ke pintu keluar ICU. Saat kami berada di luar, aku melihat keluargaku sedang bersedih dan murung. Mereka pasti berharap aku bisa kembali.
“Ibu! Ayah!” Aku segera melepas tanganku dari Ryan, dan mendekati mereka. Ryan meneriakiku, tapi aku tidak mempedulikannya.
Namun saat aku mencoba memeluk ibuku, tanganku tidak bisa menyentuhnya. Aku pun mencoba menyentuh ayahku, dan hasilnya sama.
Kenapa tubuhku seperti ini?
Aku menatap kedua tanganku dengan perasaan sedih. Aku tersadar bahwa aku sedang di alam yang berbeda dengan mereka. Sentuhanku tidak akan bisa dirasakan oleh siapapun selain Ryan.
Ryan pun akhirnya menarikku dan membawaku pergi jauh dari ruang ICU. Air mataku tak henti-hentinya mengalir dari kedua mataku.
Ryan menghentikan langkahnya di ruang administrasi. Ia menatapku dengan penuh simpati.
“Sebaiknya tahan air matamu. Kesedihanmu tidak akan bisa mengembalikan dirimu begitu saja,” ujarnya.
Aku menatapnya dengan tajam.
“Kenapa tidak sekalian saja aku dibiarkan pergi bersama pencabut nyawa itu!?” seruku tidak terima.
Ia menghembuskan nafas, “Aku ‘kan sudah bilang, kau diberi kesempatan untuk kembali. Tenanglah dulu!”
Aku hanya diam sambil terisak.
“Kau mau melihat suamimu, tidak?”
Aku mengangguk.
“Sekarang, aku minta kau untuk tenang, oke?”
Aku tidak menjawab.
__ADS_1
Ryan kembali menarikku ke luar gedung rumah sakit.
***