
Si Hitam terbahak-bahak melihat ekspresiku.
"Jangan khawatir, kita akan bantu kamu untuk bisa membawa baju itu ke tempat laundry," ujarnya.
Aku hanya diam tercengang melihat gerombolan kucing jalanan yang semakin datang dari berbagai sisi.
"Ta-tapi, bagaimana caranya? Dengan kucing sebanyak ini?" tanyaku.
Hitam menyeringai hingga terlihat taringnya.
"Yen, kau sudah bawa barangnya?" tanya Hitam kepada kucing berwarna oren di sebelahnya.
"Meow! Sudah, Bos!" balas kucing oren tersebut.
"Sepertinya, aku bisa mengerti bahasa kucing dalam dimensi ini," batinku.
"Bawa benda itu kemari!" titah si Hitam membuat kucing oren itu pergi bersama beberapa ekor lainnya.
Mataku pun mengamati kucing oren tersebut, hingga menghilang di balik atap rumah.
"Mau ke mana temanmu itu?" tanyaku kepada si Hitam.
"Kau akan melihatnya sendiri," balas si Hitam sembari menjilati salah satu kaki depannya.
Kucing oren tadi pun kembali bersama rekan-rekannya dengan membawa berbagai macam boneka. Ada boneka berbentuk beruang, kura-kura, hingga berbentuk seperti anak kecil dengan rambut yang diikat di belakang.
__ADS_1
"Masuki salah satu boneka itu," ujar si Hitam.
Dahiku mengernyit tidak mengerti.
"Biasanya, roh bergentayangan butuh sesuatu yang bisa ia masuki. Mungkin boneka ini bisa membantu," lanjut si Hitam.
"Lalu bagaimana dengan baju kotornya?" tanyaku.
"Aku akan suruh anak-anak mengurusnya. Sekarang, masuki salah satu boneka itu!"
Aku menghela nafas, lalu melihat beberapa boneka yang ada.
"Aku memilih boneka beruang bagaimana?" Aku menunjuk boneka yang aku maksud.
"Sepertinya yang anak kecil cocok, sih," saran dari si Hitam.
"Itu untuk sementara saja, Na. Kalau bisa kau harus bisa memasuki wanita yang asli agar lebih nyaman menjalankan misi mu," lanjut Hitam.
"Baiklah," balasku.
Kemudian, aku menyentuh ujung kepala dari boneka itu. Dengan sangat cepat, aku sudah berada dalam tubuh boneka perempuan tersebut. Aku memeriksa tangan dan kakiku. Lalu menyentuh wajahku.
Hei, ini berhasil!
Aku mencoba bangkit, dan menghadap si Hitam. Tinggi kami kini tidak terlampau jauh berbeda sekarang.
__ADS_1
"Berhasil, Tam! Terima kasih banyak," seruku.
"Meow! Sama-sama. Sekarang giliranku."
Hitam pun melompat ke atas tong sampah besar. Lalu memutar tubuhnya menghadap ke kawanan kucing di bawahnya.
"Oke anak-anak! Kita akan menjalankan misi yang penting!" Hitam memulai ucapannya dengan lantang.
"MEOW!" Serentak semua kucing menyahut seruan Hitam.
"Kita akan menyerbu tempat laundry di sebelah utara! Dan akan dibagi menjadi beberapa regu!" lanjut Hitam. Lalu dia membagi sesuai warna bulu kucing-kucing itu.
Aku terpana melihat kejadian ini. Seekor kucing bisa bekerja sama dengan kucing lainnya adalah hal yang mustahil bagiku. Ini adalah moment langka, tapi sayang aku tidak bisa merekamnya dengan ponsel atau kamera apapun.
"Tom! Yeti! Pusi! Ren! Maju ke atas!" seru Hitam kemudian.
Empat ekor kucing pun melompat ke atas. Yang satu berwarna hitam dengan kaki putih dan mulut putih, satu lagi berwarna orange, yang satu berwarna putih dengan beberapa garis hitam di kakinya, dan terakhir berwarna abu-abu menyeluruh.
"MEOW!" keempat kucing itu pun mengeong bersamaan.
"Oke! Tom akan mengawal regu pertama!" Hitam menunjuk kucing yang berwarna hitam dengan kaki putihnya.
"Dan Yeti akan mengawal regu kedua!" Hitam menunjuk kucing berwarna abu-abu.
"Pusi akan mengawal regu ketiga!" Hitam menunjuk kucing orange.
__ADS_1
"Dan Ren akan mengawal regu empat!" Hitam menunjuk kucing putih dengan garis hitam di kakinya.
***