
Kami tiba di sebuah taman kecil di rumah sakit. Aku dan Ryan melihat seorang pria tengah tertunduk lesu. Lengannya dibaluti perban.
"Itu suamiku?" tanyaku.
Ryan mengangguk, "Iya."
Aku mencoba mendekati sosok tersebut. Dan ternyata benar, dia adalah Erik, suamiku. Ia menatap layar ponselnya yang menampilkan foto pernikahan kami.
"Maaf, sayang. Aku berharap kamu mau kembali dan mewarnai hariku seperti kemarin," gumamnya sembari menitikkan air mata.
Aku yang berada tepat di depannya hanya bisa menangis. Tentu saja tangisanku tidak terdengar olehnya.
"Aku di sini, Sayang," ujarku.
Tanganku mencoba menyentuh bahunya. Namun, hasilnya seperti yang sebelumnya terjadi. Tanganku tidak bisa menyentuhnya karena tembus pandang.
"Sayang, kau dengar aku? Aku di sini," bisikku.
Namun, suamiku hanya diam dan menggeser foto di galeri ponselnya satu per satu.
Tanpa ku sadari, Ryan sudah berdiri di sampingku dan menepuki bahuku.
"Sudahlah. Kau sekarang ikut aku. Ada hal yang harus kau lakukan agar bisa kembali," ujar Ryan kemudian menggandeng tanganku.
"Kita ke mana?" tanyaku lirih.
"Ikut saja."
Aku pun mengangguk patuh. Tidak ada pilihan lagi selain menuruti pria asing ini.
Ryan pun menggerakkan tangannya secara memutar, dan terciptalah cahaya dari gerakan itu. Cahaya tersebut semakin besar dan terang, membuatku memejamkan mata secara reflek.
__ADS_1
***
"Kita sampai."
Setelah mendengar ucapan Ryan, aku pun membuka mataku dan menatap sekitar. Sepertinya kami berada di taman kota sekarang.
"Kenapa kita di sini?" tanyaku.
Ryan melepas genggamannya, dan mendekati sebuah pohon besar.
"Jadi, aku akan menyampaikan sebuah misi untukmu agar kau bisa kembali." Ryan mulai menjelaskan.
"Kau punya waktu 60 hari untuk mendapatkan tiga cinta," lanjutnya.
"Tiga cinta?"
"Iya. Dan jika kau tidak memperoleh cinta itu, kau tidak akan bisa kembali."
"Kau bisa jelaskan tiga cinta itu apa saja?" tanyaku.
"Itu, tidak bisa ku katakan. Aku hanya bisa menyampaikan itu saja," balas Ryan.
"Ayolah! Aku tidak tahu soal tiga cinta! Bagaimana bisa aku mendapatkannya kalau ..."
"Kau akan mendapatkan petunjuk, Tina. Kau tidak usah khawatir," ujar Ryan memotong ucapanku.
"Kenapa tidak kamu saja yang mengatakannya!?" seruku.
"Aku tidak bisa, Tina. Itu bukan wewenangku. Aku hanya menyampaikan dan memantau saja. Tidak bisa lebih."
Aku pun menelungkup wajahku dengan kedua telapak tangan. Aku tidak tahu apapun tentang tiga cinta. Dan pria asing ini menyuruhku mencari sesuatu yang belum aku pahami. Aneh!
__ADS_1
"Baiklah, kita mulai misi ini."
Aku terbelalak mendengar ucapan Ryan.
"Ta-tapi Ryan ..."
Sebelum ucapanku selesai, Ryan sudah membuat cahaya yang sama seperti sebelumnya.
Aku pasrah sekarang. Entah nanti bisa memperoleh tiga cinta tersebut atau tidak.
***
Kami pun tiba di sebuah kota yang ... asing bagiku. Kota ini terlihat sepi sekali.
"Dimana ini?" tanyaku.
Namun saat aku menoleh, Ryan sudah tidak ada di sisiku.
"Ryan! Dimana kau!?" seruku.
Hingga lewatlah seorang pria tak dikenal, membuatku berlari dan mencari tempat bersembunyi.
"Eh aku 'kan tidak terlihat. Kenapa harus sembunyi?" ujarku setelah menyadari bila aku sedang dalam mode invisible saat ini.
Aku pun mengikuti langkah pria tersebut. Dari penampilannya, ia sepertinya sedang mengalami kesusahan. Muka yang murung, dasi yang berantakan, dan jaz yang nampak kusam, menggambarkan sisi kesedihannya.
"Halo, kau bisa melihatku?" ucapku mencoba memanggilnya.
Dia masih abai, dan terus berjalan ke depan. Sepertinya dia tidak bisa melihatku.
***
__ADS_1