
Kami tiba di rumah Jhon. Mungkin terlihat seperti kamar sewa, karena hanya ada pintu di tembok.
"Bukain!" seru Jhon.
"Eh, aku nggak bisa bukain. 'Kan kamu yang bawa kuncinya," tukasku.
"Di saku celana belakang, cari!" titahnya dengan lirih.
Aku pun meraba saku celana belakang Jhon. Agak memalukan, sih. Tapi toh orang-orang tidak akan bisa melihatku. Jadi rasa takutku sedikit sirna.
Aku akhirnya mendapatkan kunci dengan gantungan tali. Aneh juga, aku bisa menyentuh barang milik Jhon juga.
"Buruan!" seru Jhon membuyarkan lamunanku.
Aku terkejut dan merasa gugup. Kemudian, aku membuka pintu itu, dan membawa Jhon masuk ke dalam.
Pemandangan kamar milik Jhon cukup memprihatinkan. Baju yang berserakan, sampah di mana-mana, sisa makanan yang sudah didatangi pasukan semut.
"Jangan pergi! Temenin gue!" ujar Jhon.
"Eh, tapi ..."
Belum selesai aku berbicara, Jhon sudah terkapar di atas kasurnya.
"Pria aneh. Tapi kenapa bisa dia melihatku?" gumamku.
Aku mencoba mengambil salah satu kaleng minuman kosong yang ada di depanku. Dan ternyata aku bisa mengambilnya.
"Sebaiknya aku membantunya membersihkan tempat ini," ujarku.
__ADS_1
Aku segera mencari kantong plastik sampah yang berada di dekat kamar mandi, dan mengumpulkan sampah dan sisa makanan di piring.
"Jorok sekali orang ini," gerutuku.
Setelah mengumpulkan sampah, aku mengambil lagi kantong plastik yang baru, dan mengumpulkan baju yang berserakan.
"Banyak banget, sih. Ini baju kotor semua?"
Aku memisahkan baju dan celana, juga pakaian dalam, di tiga plastik berbeda. Setelah terkumpul semua, aku membawa plastik sampah itu ke luar.
Kemudian aku kembali, dan melihat ketiga plastik yang masih berjajar di depanku.
"Aku tidak mungkin mencuci baju ini. Bagaimana, ya?"
Lalu aku mengambil plastik berisi pakaian dalam, dan memasukkannya ke dalam ember. kemudian mengisinya dengan air dan sabun cuci.
"Aku akan memeriksa tempat laundry di sekitar sini!" gumamku.
"Hai makhluk lucu," sapaku lalu berjongkok dan mencoba mengelus kucing itu.
"Hai."
Aku terkejut karena sapaanku dibalas oleh kucing tersebut. Bahasanya bukan seperti kucing pada umumnya.
"Kamu bisa bicara?" tanyaku.
"Iya. Kamu siapa? Sedang apa di sini?" balas kucing hitam itu sembari menjilati kaki depannya.
"Eh? Aku Tina. Aku sedang menjalani misi agar aku bisa kembali ke tubuhku," jelasku gugup.
__ADS_1
"Oh, roh gentayangan ternyata. Aku Hitam," kucing itu kemudian menyodorkan salah satu kaki depannya.
Aku tersenyum lalu menerima uluran kaki depannya itu.
"Oke, sekarang kamu mau ngapain, Tina? Kayaknya kamu lagi cari sesuatu."
"Aku hanya mencari tempat untuk laundry baju milik Jhon."
Kucing itu memiringkan kepalanya.
"Jhon? Pria yang ada di dalam ruangan itu?"
Aku mengangguk.
"Dia bisa melihatmu?" tanya Hitam memastikan.
"Awalnya tidak. Tapi saat dia mabuk semalam, aku bahkan bisa memapahnya sampai kemari. Dan aku bisa menyentuh barang-barang miliknya," jelas ku.
"Kau baik sekali, Tina. Aku akan membantumu. Kau tunggu di sini!" ujar si Hitam kemudian berlari meninggalkanku sendirian.
Aku pun menyandarkan diri di tembok. Huft, misi ini cukup aneh bagiku. Tidak ada clue apapun dari Ryan, bagaimana aku bisa mendapatkan tiga cinta itu sekarang?
Tidak lama kemudian, Hitam kembali dengan membawa beberapa ekor kucing beragam warna di belakangnya.
"Eh, kok banyak banget kucing yang ke sini?" seruku terkejut.
Si Hitam terbahak-bahak melihat ekspresiku.
"Jangan khawatir, kita akan bantu kamu untuk bisa membawa baju itu ke tempat laundry."
__ADS_1
***