
Satu bulan telah berlalu. Aku dan Erik kini sudah tinggal di apartement. Hubungan kami tidak mengalami masalah yang serius. Namun, Erik harus sering bekerja lembur untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Hingga waktu kami untuk berdua saja hanya ada di akhir pekan, itu pun kami agendakan untuk bersih-bersih rumah.
Waktu menunjukkan pukul tujuh malam. Erik tadi mengirim pesan bila malam ini lembur lagi. Jadi tidak masalah bila aku tidur lebih awal.
Aku memasakkan sup jamur favoritnya, dan ayam goreng. Rasanya bosan bila seperti ini terus. Aku merasa seperti saat masa pacaran dulu, yang jarang bertemu dengannya. Walaupun kini seatap, rasanya masih sama saja. Namun, aku akui dia pekerja keras. Dia selalu mengambil jatah lembur setiap ada tawaran.
Tok! Tok!
“Iya, sebentar!” seruku dari dapur.
Buru-buru aku membuka pintu, dan dibaliknya ada Erik yang sudah pulang lebih awal.
“Loh? Udah selesai?” tanyaku spontan.
Erik hanya tersenyum kecut, lalu mencium pipiku seperti biasa. Erik langsung merebahkan diri di atas shofa tanpa melepas sepatunya.
Aku hanya menggeleng melihat tingkahnya setiap pulang kerja.
“Aku ke dapur dulu,” ujarku.
Erik hanya mengangguk sambil memejamkan matanya.
Dengan cepat, aku kembali meneruskan pekerjaan memasakku. Hanya tinggal menunggu satu potong ayam yang masih di penggorengan.
“Apa aku ajak dia bulan madu saja ya? Aku ada uang untuk tiket sih,” gumamku sembari membawa sutil.
Ayam itu sudang mulai matang, saatnya aku meniriskannya.
“Sayang! Pijitin!” Seruan Erik datang tiba-tiba, membuatku terkejut.
“Iya! Tunggu sebentar!” balasku.
Aku segera menata potongan ayam yang sudah digoreng sempurna. Pasti Erik akan makan dengan lahap malam ini. Kuliah di kedokteran tidak membuatku melupakan tabiat wanitaku yang ‘wajib bisa memasak’.
Setelah menutup makanan dengan tudung saji, aku melangkah ke kamar dan mendekati Erik. Rupanya Erik sudah memasang posisi tengkurap entah sejak kapan. Kepalanya terangkat dan menatapku antusias.
“Biasa, Yang. Diinjak-injak saja.” Ujar Erik lirih.
Aku tidak membalas ucapannya. Aku langsung menginjak telapak kaki Erik secara perlahan.
Erik hanya mendesis dan mengaduh sesekali, namun perlahan diam kembali. Injakanku memang selalu disukai siapapun yang pernah merasakannya. Sebelumnya, aku pernah mempelajari terapi Akuplessure di mata kuliah semester 5. Dan aku menjadi mahasiswa terbaik yang lolos dalam ujian terapi itu. Tidak sia-sia aku sungguh-sungguh mempelajarinya.
Ah, iya, setelah ini aku akan ajak dia berdiskusi soal bulan madu. Kuharap dia tertarik membahasnya.
“Sayang, habis ini kamu mandi air hangat, lalu makan. Oke,” saranku. Aku mencoba melunakkan hati dan pikirannya dahulu.
“Em, iya. Kamu rebuskan aja dulu. Terus lanjut mijet lagi," balasnya.
Aku segera kembali ke dapur, dan merebus air untuk Erik. Aku memikirkan kata-kata yang pas untuk menyampaikan hal ini.
“Huft, semoga Erik setuju,” gumamku.
Kemudian, aku kembali ke kamar untuk melanjutkan pijatan. Erik masih dengan posisi yang sama ; tengkurap.
“Yang, mau dilanjut?” tawarku. Aku tidak mau membuatnya terkejut.
“Em iya, Yang,” balasnya dengan suara serak.
Aku pun menginjak betis kirinya perlahan. Erik nampak menahan rasa sakit.
__ADS_1
“Uh! Sakit, Yang!” serunya.
Tentu saja sakit! Baru kali ini aku menginjak betisnya. Selama ini aku hanya menginjak telapak kaki dan punggung saja.
Lalu berganti ke pahanya. Seruan Erik makin menjadi.
“Sakit!”
Aku tetap melanjutkan “terapi” ini. Kasihan Erik, dia sering lembur sampai kakinya terasa kaku begini. Apalagi ini pertama kalinya diinjak di bagian kaki.
15 menit kemudian, aku menyelesaikan misi menginjak Erik. Aku bergegas ke dapur dan mengurusi keperluan mandi Erik. Lalu kembali ke kamar dan memberikan handuk kepadanya.
“Sayang, mandi dulu! Airnya sudah siap,” ujarku.
Erik yang sempat ketiduran perlahan menggeliat malas.
“Mandiin,” pintanya.
“Sayang, airnya cukup buat kamu aja. Aku juga masih harus bersih-bersih.”
Erik menggeleng pelan, “Mandiin pokoknya.”
Aku menepuk jidat. Ah suamiku ini. Baiklah demi terwujudnya keinginanku untuk bulan madu, aku harus menurutinya.
“Bangun dulu! Keburu airnya dingin!” ujarku.
Erik akhinya menurut. Ia bangkit dari tempat ternyaman itu, dan meregangkan tubuhnya.
“Kamu memang dokter terbaik!” pujinya.
Aku hanya menghela nafas panjang.
“Cepatlah!” seruku.
“Sayang kamu deh, istriku tercantik,” bisiknya ke telingaku.
“Ayo mandi, Yang!” seruku mengingatkannya.
“Mau …” Pergelangan tangannya mulai ‘mendeteksi’ tubuhku dengan pelan.
“Jangan sekarang sayang!” seruku kembali, sembari menahan diriku yang mulai terpancing karena sentuhan mautnya.
“Sekarang saja, yuk! Mandinya biar sekalian.”
Ampun! Kenapa dia malah seperti ini sekarang? Harusnya dia mandi dan makan! Bukannya …
“Sayang …” bisiknya.
Aku langsung melepas paksa pelukannya, dan memberinya handuk.
“Cepat mandi! Jatahnya nanti saja,” ujarku.
Erik hanya diam dan memajukan bibirnya yang tipis. Seperti itulah dia ketika keinginannya tidak dipenuhi.
“Oke, Sayang! Aku penuhi keinginanmu, habis itu mandi!” Akhirnya aku mengalah lagi.
Erik langsung sumringah, dan menarikku ke kasur.
***
__ADS_1
Pukul sembilan malam, kami baru makan malam berdua. Ini saat yang tepat untuk menyampaikan keinginanku.
“Sayang, aku pengen berbulan madu.”
Erik hanya mengangguk, dan menyantap potongan ayam goreng yang dilumuri sambal.
“Sayang! Aku serius!” ujarku manja.
“Oke, Yang. Kapan maunya?”
“Dekat-dekat ini, kamu bisa?”
Erik terdiam dan berfikir keras.
“Akhir bulan?” tawarnya.
“Serius?” tanyaku memastikan.
Erik mengangguk, “Dengan syarat, kamu menginjakku seperti tadi.”
Aku menghela nafas panjang, lalu mengangguk setuju.
“Oke, yang penting kita bulan madu!”
Erik kembali melanjutkan makannya. Ah, syukurlah sesuai harapanku. Saatnya menanyakan tempat!
“Enaknya di mana, Yang?”
Erik terdiam kembali. Matanya bergerak seakan mengisyaratkan bila ia tengah berfikir.
“Di Ibukota, ada pantai terkenal. Kita bisa ke sana,” usul Erik.
“Oh, iya aku tahu itu. Pilihanmu boleh juga, Yang.”
Erik tersenyum bangga karena pujianku. Dia mengambil nasi tambahan untuknya. Tidak mengapa, aku kali ini mau menyenangkan dirinya.
“Terima kasih, Sayang,” ujarku.
“Sama-sama. Ingat ya! Syaratnya tadi apa.”
Aku mengangguk, dan melanjutkan makanku.
Malam ini akhirnya bisa kulewati dengan baik. Erik dengan cepat menyetujui keinginanku. Apa dia paham apa yang kurasakan sebulan lalu? Atau, ia didesak ibunya untuk segera memiliki momongan?
Ah! Kenapa pikiranku malah jadi aneh begini? Bukannya aku juga yang menginginkannya?
Tiba-tiba aku tersedak.
“Uhuk! Yang! Air!” seruku.
Erik segera menuangkan air, dan memberikannya kepadaku.
“Hati-hati kalau makan, Yang,” tegurnya.
Aku hanya mengangguk dan meminum air itu dengan cepat. Rasanya jauh lebih baik. Kenapa bisa tersedak begini, ya?
“Yang? Kok malah melamun?” Erik kembali menegurku.
“Eh! Iya, Yang. Maaf, aku hanya bingung kenapa tersedak.”
__ADS_1
Erik tertawa, “Ada-ada saja kamu, Yang.”
***