Tiba-tiba Nikah? [HIATUS]

Tiba-tiba Nikah? [HIATUS]
Chapter I : Awal


__ADS_3

...❁...


~


Lia memandang sebuah kertas berwarna merah muda yang tersimpan rapi di atas meja. Kertas bernamakan 'Julia di Tempat' tersebut merupakan undangan pernikahan dari teman sekolahnya yang akan menikah beberapa hari lagi. Ish, ish, teman sebayanya saja sudah ada yang mau berumah tangga.


Kalian tahu?


Teman Lia yang menikah muda itu memang benar-benar menikah di usia yang masih sangat muda. Bayangkan, baru lulus SMP sudah berkeluarga.


Untungnya, mereka menikah cepat bukan karena terjadi sesuatu, tapi memang didasarkan karena cinta. Iya, cinta.


Sebuta itukah C I N T A ?


Gadis bernama lengkap Julia Putri Nugraha itu menghela nafas kasar. Bukan hanya satu atau dua temannya yang sudah menikah, namun hampir semua temannya; baik yang cowok maupun cewek kebanyakan memang sudah berumah tangga. Singkatnya, hanya ada tiga orang dari angkatannya—termasuk Lia—yang belum memutuskan untuk menikah.


Lia yakin, sebentar lagi dia juga pasti akan disuruh cepat menikah. Dikira menikah itu gampang, apa.


"Undangan dari?"


Lelaki bongsor yang masih memakai jersey futsal ini duduk di samping Julia dan mengambil kertas undangan yang masih terbungkus plastik lalu membacanya.


"Lucya siapa? Temen?" tanyanya.


"Iya, si Yaya itu loh," jawab Julia, sedikit menyingkir menjauhi bau dari tubuh kakaknya yang selesai bermain futsal.


"Lah, si Yaya. Buset si Erga dilangkahin," celetuk Jaka, kakak laki-laki Julia. Dia membolak-balikkan kertas merah muda di tangannya untuk dibaca sekilas informasi di dalamnya.


"Dianya aja nggak laku, makanya dilangkahin Yaya," sarkas Julia, lalu tertawa pelan.


Jaka pun ikut tertawa. "Iya juga."


"Sama kayak Kakak."


Jaka yang mendengarnya sontak menghentikan tawa. "Heh!"


Julia menjulurkan lidahnya mengejek lalu beranjak meninggalkan Jaka di ruang tamu. Dirinya terkikik sambil berlalu ke kamar.


.


Hari Minggu, biasanya Julia isi dengan bermain bersama teman-temannya dari pagi hingga sore. Namun kini, setelah dirinya lulus Sekolah Menengah Pertama—dan minggu depan ia masuk jenjang setelahnya—hanya diisi dengan kegabutan hakiki dan bermalas-malasan di rumah.


Apalagi dengan kondisi ponsel pintarnya yang belum diisi kuota atau paket internet, menambah kegabutan gadis yang akan menginjak lima belas tahun tersebut.

__ADS_1


Di tengah nyamannya rebahan di atas sofa depan televisi yang menampilkan animasi si kuning bercelana kotak, tiba-tiba pintu rumah diketuk dari luar dengan keras.


Julia sedikit menoleh ke arah pintu. Jika orangnya langsung masuk, berarti bukan orang penting karena orang itu hanya ingin merusuh. Itu prinsip Julia bila ada yang bertamu ke rumahnya. Ralat—rumah orang tuanya.


Tok tok tok!


"Lia?" panggil seseorang dari luar setelah lama mengetuk pintu.


Julia merasa kenal dengan suaranya. Dengan terpaksa meninggalkan tempat kesayangannya, Julia bangkit dan melangkah mendekati pintu untuk mencari tahu siapa yang ingin berkunjung ke kediaman keluarga bapak Nugraha ini.


Saat kedua netranya melirik kecil pada jendela, kedua bola mata coklat tua itu lantas terbelalak saat mengetahui siapa orang tersebut. Dengan tergesa-gesa dia membuka pintu dan bersikap seramah mungkin.


Cklek


"Eh, Tante," beber anak kedua bapak Nugraha sambil sedikit senyum memamerkan gigi-giginya.


"Ih Liaa, kok buka pintunya lama, sih? Lagi tidur, ya?" jelas wanita yang sudah hampir berkepala lima di depan Julia.


"Eng-nggak kok Tante. Tadi emang nggak terlalu kedengeran soalnya aku lagi nonton tivi," balas Julia.


Dalam hati sih, Julia berharap wanita di depannya ini tidak menyuruhnya melakukan sesuatu hanya karena ia sedang libur sekolah. Bukannya gimana, tapi dia kapok!


Dia pernah hampir tersesat di pasar tradisional karena tak kunjung menemukan jamur tiram untuk tantenya itu. Tapi untungnya anak dari si tante langsung bergegas mencari Julia dan membawanya pulang, walau jamur tiram tak Julia dapatkan.


"Bukan apa-apa sih, tapi Tante sama Om bakal kesini karena pengen ngobrol sama Mama Papa kamu. Malam ini bisa, nggak?" beber wanita berumur dengan hidung bak perosotan yang indah tersebut.


"Kayaknya bisa sih, Tante. Papa Mama bakal pulang sebelum jam 5."


"Oh, bisa kalo gitu. Tante sama Om kesininya sekitar jam delapan-an. Itu doang sih yang Tante mau sampein. Yaudah, Tante pergi dulu, ya, buru-buru. Lia harus ada di rumah loh nanti, oke?" pamitnya segera.


"Oke, Tante. Dadah," timpal Julia.


Wanita itu pun pergi menjauhi kediaman Nugraha. Setelah memastikan Tantenya tidak menoleh lagi, Julia langsung menutup pintu.


Helaan nafas terdengar. Julia bingung, mengapa tante dan omnya tiba-tiba ingin datang ke rumah, malem lagi. Hmm, patut diselidiki ini.


"Mencurigakan. Baiklah, langkah pertama harus mencari tahu lewat orang dalam." Julia membuka kontak di ponselnya lalu menekan salah satu, panggilan suara pun terhubung.


"Halo, Kak Lino?" Jawaban tak Julia terima setelah berucap demikian.


Namun,


"Assalamu'alaikum," salam seseorang di balik telepon yang membuat Julia tersentak malu setengah dunia.

__ADS_1


"Astaghfirullah, iya, Wa'alaikumussalam," balas Julia mengusap wajahnya pelan karena malu, entah sama Allah, maupun seseorang di telepon.


"Ada apa, Lia?" tanya seorang lelaki yang Julia panggil 'Kak Lino'.


Oke, Julia. Kamu harus ingat tujuan pertama.


"Em, begini, Kak. Tadi Tante datang ke sini, katanya Tante sama Om bakalan datang ke rumah nanti malam buat ngobrol sama Mama Papa. Kak Lino tahu tujuan mereka, nggak?"


"Enggak. Kakak aja baru tahu kalo Ibu Ayah mau ke sana," sahut Lino yang membuat Julia mendengus dalam hati.


"Yaudah deh kalo nggak tahu, nggak pa-pa. Lia tutup, ya. Assalamu'alaikum," pamit Julia tanpa menunggu Lino menjawabnya ia sudah menutup sambungan telepon.


Hm, misi pertama, gagal.


"Kak Lino saja nggak tahu," gumam Julia. Dia menyimpan ponselnya dan menatap jam dinding sebentar.


"Eh, udah jam tiga aja. Mandi dulu deh." Julia bangkit dari tempat ternyamannya menuju kamar mandi.


Setelah ada di kamar mandi, Julia tidak langsung melakukan ritual membersihkan dirinya. Namun ia berdiam dulu seraya menatap lantai anti licin yang mengkilap bila terkena cahaya.


Mungkin hampir sepuluh menitan Julia melamun, baru deh dia mengguyur tubuhnya dengan air yang keluar dari gayung merahnya.


Julia mandi biasa sih, jadi tidak perlu diceritakan secara spesifik kalian pasti sudah tahu.


Setelah selesai, Julia keluar dengan badan yang lebih segar dan wangi. Dia juga sudah berpakaian di kamar mandi. Sore-sore gini setelah mandi enaknya pasti makan yang pedes. Jadi sekarang Julia mau beli bakso. Ngebayanginnya saja sudah bikin liur menetes.


Belum juga melangkah mengambil uang, suara riuh dari ruang tamu menghentikan kegiatan Julia.


Julia menghampiri sumber suara ribut tersebut. Dan ternyata Mama dan Papanya sudah pulang. Kebetulan sekali, semoga mereka membeli jajanan, pikir Julia.



Continued


...✧...


...–AuriStellaKHF...


...Tiba-tiba Nikah?...


...2023...


...✧...

__ADS_1


__ADS_2