Tiba-tiba Nikah? [HIATUS]

Tiba-tiba Nikah? [HIATUS]
Chapter VI : Teman Baru


__ADS_3

Hari kedua MOS di SMA Jayapati.


Julia akhirnya mulai mengetahui beberapa tempat-tempat yang ada di sekolah. Seperti letak kamar mandi, perpustakaan, ruang kelas, ruang aula, lapangan upacara, gedung olahraga, dan kantin. Niatnya hari ini dia ingin melanjutkan penelusurannya untuk mengetahui seluk beluk tempat di sekolah barunya tersebut, supaya dia tidak mudah tersesat jika sedang sendiri.


Tepat pukul 8 pagi, di mana semua peserta MOS sudah berjajar di lapangan basket. Para Osis mulai bekerja dan memberi arahan sesuai dengan aturan yang berlaku.


Kegiatan pertama yang harus dilakukan calon murid ialah simulasi belajar di Jayapati. Karena seperti yang kita ketahui, SMA Jayapati merupakan salah satu sekolah dengan cara pembelajaran dan aturan yang sangat ketat.


Dari cara berseragam saja kita pasti akan langsung tahu bahwa orang itu adalah siswa/lulusan SMA Jayapati.


Namun, sepertinya semesta tidak berpihak pada Julia kali ini. Seragam SMP yang ia gunakan ternyata tidak sesuai dengan norma berpakaian di Jayapati. Roknya yang hanya sepanjang betis mampu membuatnya harus dihukum, padahal sekolah sendiri menyuruh semua peserta MOS memakai seragam sesuai dengan ketentuan dari sekolah terdulu. Dan Julia tidak merasa bahwa dirinya melanggar aturan tersebut.


Tapi, ya, sudahlah. Julia tidak mungkin protes. Dia malas berdebat dan memperpanjang masalah. Lagi pula hukumannya tidak akan terlalu kejam, mungkin.


...


"Julia!" panggil Aisya menghampiri Julia yang sedang membereskan bangku.


Julia menoleh. "Ada apa?" tanyanya. Dia menaik-naikkan kursi ke atas meja tanpa hambatan. Terkesan sedikit bar-bar namun Julia tidak peduli.


Aisya dan Julia memang tidak segrup karena jarak mereka saat mendaftar cukup jauh waktunya. Julia ada di grup A, sementara Aisya ada di grup B.


"Aku bantuin ya!" harap Aisya. Sontak Julia menggeleng.


"Tidak usah. Sebentar lagi juga beres," tolak Julia. Dia benar-benar tidak terganggu dengan hukuman ini. Tapi kalau disuruh membersihkan kamar mandi sih ... Julia tentu tidak mau.


Beberapa peserta lain juga ada yang kena hukuman membersihkan kelas karena seragam mereka. Terdapat tiga orang yang terkena di grup A, termasuk Julia.


"Enggak apa-apa. Biar cepet beres juga." Tanpa menunggu jawaban Julia, Aisya dengan segera mengambil sapu dan menggunakannya di bangku bagian belakang.


Julia hanya pasrah membiarkan Aisya. Dia pun melanjutkan pekerjaannya yang sebenarnya tidak terlalu menguras tenaga bagi remaja mageran sepertinya.


Dalam dua puluh menit ruangan kelas dengan cepat menjadi bersih. Lantai juga sudah dipel oleh Julia. Memang, kalau kita bergotong royong pasti pekerjaan akan cepat selesai. Walaupun hanya empat orang tapi mereka sigap sekali menjalankan perintah. Mungkin faktor ingin cepat pulang, karena jam sudah menunjukkan pukul setengah tiga.


"Eh, kamu. Makasih ya bantuannya. Aku Mishe," ujar seseorang yang turut dihukum oleh kakak Osis.


"Sama-sama. Aku Aisya, dari grup B," sahut Aisya tersenyum tipis.


"Aku Yena. Salam kenal," timpal satu orang lagi.


"Salam kenal juga," balas Aisya.


Julia tersenyum. "Aku mau pulang sekarang. Ada yang mau bareng ke depan?" ungkapnya. Tadi Jaka bilang akan menjemputnya setelah main di rumah Ricki. Berhubung rumah Ricki yang juga teman Julia itu dekat dengan SMA Jayapati, jadi Julia memutuskan untuk jalan sebentar dan ke rumah Ricki.


"Bareng aja semua. Ayo," ajak Mishe setelah menyimpan semua sapu dan antek-anteknya.


Mereka bertiga setuju dan berjalan bersama ke luar gerbang. Aisya dan Yena arahnya ke kiri, sedangkan Julia dan Mishe ke arah kanan. Aisya dan Yena menggunakan angkutan umum untuk pulang, begitupun dengan Mishe. Jadi Julia berjalan sendirian ke rumah teman masa SMPnya.


...


Setelah menempuh jalan selama 6 menit-an, Julia akhirnya sampai di depan rumah Ricki. Bel di samping gerbang pagar ia tekan hingga beberapa saat datanglah seorang pria baya menghampirinya.


"Non, cari siapa?" sapa pria tersebut dengan pertanyaan.

__ADS_1


"Ricki-nya ada, Pak?" tanya Julia langsung.


"Ada. Sebentar, saya beri tahu dulu." Pria itu masuk ke dalam. Tidak lama, kemudian keluarlah Ricki yang memakai piyama bintang-bintang berwarna baby blue. Ini anak nggak mungkin baru bangun, 'kan? -batin Julia yang melihat Ricki.


"Masuk aja, Jul," suruh Ricki. Dia kembali masuk ke dalam rumah.


Julia membuka pintu pagar dan mengikuti Ricki dengan langkah kalem.


Kalau dilihat sih motor Jaka sudah ada di halaman tadi, jadi Julia tidak perlu menunggu lama. Dan saat dia masuk, terlihatlah Jaka dan Jaya yang sedang bersandar di pinggiran sofa rumah Ricki. Anteng banget itu berdua. Tumben kakak dan adik Lino tersebut bisa akur, biasanya selalu terjadi perang shinobi ke lima.


"Bang Jak," panggil Ricki. Jaka pun menoleh saat Ricki menunjuk Julia yang berada di ambang pintu.


"Mau sekarang, Jil?" tanyanya bangkit dari kegiatan rebahan di rumah orang. Dia melirik jam dinding di seberangnya, lalu menyadari bahwa Julia pulang cepat.


"Sekarang aja. Aku mau mandi," jawab Julia.


"Emang beneran udah selesai? Tumben lebih awal dari kemaren," heran Jaka. Dia bertos dulu dengan kawan seperjuangannya sebelum beranjak.


"Iya. Nggak tau. Tanya aja sama sekolah."


"Bro, gue pulang dulu. Nanti lanjut lagi," pamit Jaka. Ricki dan Jaya hanya membalas dengan mengacungkan ibu jari kanannya.


"Semuanya, kami duluan," pamit Julia. Dirinya tidak jadi melangkah dan menoleh sebentar saat Ricki berujar lantang.


"Kapan-kapan main lah, Jul. Kangen nih!" tutur Ricki lalu tertawa geli.


Julia hanya terkekeh. "Call!" balasnya.


"Telat, Bang. Gimana sih," imbuh Ricki yang mendapat lemparan bantal dari sosok yang berbeda tiga tahun dengannya.


"Bodo! Lagi pula, Julia otewe jadi kapar gue, lu jangan nikung dong!" sembur Jaya kesal mengingat penuturan Ricki tadi. Fyi, kapar itu singkatan Kakak Ipar. Terserah Jaya sajalah.


Sontak Ricki tertawa bahak. "Yaelah, Bang. Gue kangen sama temennya, bukan dia," sanggahnya.


"Hilih. Awas kalo demen beneran. Friendzone, mampos," ujar Jaya kelewat santai.


"Paan sih, Bang Jay!" desis Ricki.


...


"AJIL! AMBILIN PAKET ABANG DONG!!" pinta Jaka dari dalam kamar mandi saat mendengar seseorang memanggil-manggil namanya. Permisi, paket atas nama Jaka PN! Kira-kira seperti itu.


Julia yang sedang anteng menonton film di ponselnya mendadak berdecak. Dengan malas ia beranjak. "OREO BUAT GANTINYA!" Tentu Julia berharap imbalan. Di dunia ini yang gratis susah, guys.


Jaka hanya mendengus di sela keramasnya.


"Tsuyuri Kanao girly action figure original ufotable," gumam Julia membaca nama barang yang dipesan sang kakak.


"Buset. Ajek diem-diem animelover ternyata, hehe." Sebongkah ide mendadak muncul di kepala Julia. Dirinya seperti tahu kelemahan seorang Jaka Nugraha sekarang.


...


Di meja makan sudah terdapat hidangan nikmat buatan Airin. Sebagian, tapi, karena sisanya Juho beli dari luar.

__ADS_1


Makan malam berlangsung khidmat. Sesekali diselingi candaan dari Julia dan Jaka yang kalau diteruskan bisa membuat Juho pusing tujuh keliling, padahal pria itu baru pulang dari pekerjaan padatnya.


"Ngalah atuh, Jek, ih!" sungut Julia memperebutkan kentang balado yang dibeli Juho. Dua sendok saling beradu untuk mendapatkan apa yang ada di atas meja. Jaka terus menepis sendok Julia untuk menyingkirkannya dan mengambil beberapa pontong kentang berwarna merah menyala tersebut.


"Enak aja! Ajil udah ngambil banyak tadi, ini bagiannya Ajek," dengus Jaka lalu menyuapkan nasi dan kentang dalam sekali suap.


"Tapi Ajil masih mau!"


"Jangan serakah! Yang lain masih ada!"


"Enggak mau!"


Juho memijat pelan keningnya. Jengkel juga dengan perdebatan kedua anaknya yang padahal sudah beranjak remaja.


"Jaka, Julia!" tegas Airin menghentikan kegiatan perang sendok antara lelaki kelahiran 2002 dengan perempuan kelahiran 2005 tersebut.


"Maaf!" sahut keduanya menunduk laku fokus makan kembali.


Airin menghela nafas lelah. Ternyata hanya umur yang bertambah, kalau sikap, belum tentu.


...


"Sekolahnya lancar?" ucap Juho membuka percakapan.


Julia mengangguk pelan. "Lancar-lancar aja. Tapi tadi aku sempat dihukum, Pa," balasnya.


"Loh, kok bisa? Papa 'kan udah ngingetin kamu buat nggak bikin masalah di sekolah," tukas Juho mengingatkan Julia saat hari pertama sekolah.


"Lia nggak bikin masalah, Pa. Aku dihukum karena Osis nyangka aku pake seragam yang dirombak dari aslinya. Padahal rok SMP Lia dulu emang cuma sebetis. Tapi tetap dihukum," gerutu Julia. Peserta lain memang menyadari bahwa kakak Osis itu sedikit bermasalah dengan adik-adik kelas.


"Tapi hukumannya nggak berat 'kan? Toh cuma seragam aja," timpal Juho.


"Ringan kok, Pa. Cuma bersihin kelas. Apalagi tadi ada yang bantuin. Jadi cepet beres deh," ujar Julia.


"Bagus kalo gitu. Walau kita merasa tidak bersalah, tapi kita tidak tahu apa yang dipikirkan mereka. Bisa jadi mereka cuma iseng. Bila kita tetap menjalankan hukuman, mereka mungkin bisa sedikit bersalah dan tidak berbuat macam-macam lagi."


"Oh iya. Lia udah punya temen belum?" lanjut pria beranak dua tersebut.


"Punya dong. Selain teman segrup, dari luar grup juga ada yang mau temenan sama Lia. Tapi kita nggak bisa chatting-an soalnya nggak punya kontak masing-masing, 'kan nggak dibolehin bawa ponsel," jawab Julia.


"Tulis aja di kertas nomornya. Nanti pas pulang baru bisa chatting," saran Juho. Julia terdiam sebentar.


"Iya, yah. Kok Lia nggak kepikiran?" Gadis itu tertawa geli dan mengangguk menyetujui. Juho hanya menyahut dengan kekehan ringan.


Hening selama beberapa saat.


Suasana yang santai mendadak sedikit tegang ketika Juho kembali bersuara. Mendengar itu, Julia tersadar dan hanya menunduk tidak membalas sang Papa.


"Hubungan kamu sama Lino ada perkembangan?"



Continued

__ADS_1


__ADS_2