Tiba-tiba Nikah? [HIATUS]

Tiba-tiba Nikah? [HIATUS]
Chapter VII : Ekhem


__ADS_3

Hari terakhir MOS.


Diisi kegiatan enggak jelas—menurut Julia—yang menguras otak dan pikiran. Tenaga juga.


Peserta diharuskan mengisi lembar kerja yang terdiri 50 soal umum, 20 soal psikotes, 15 soal teka-teki, dan 15 soal perminatan. Karena Julia masuk ke kelas keterampilan, jadi soal bagian terakhir menampilkan segala tentang keterampilan yang dipilih Julia.


Tebak. Julia memilih keterampilan apa?


Julia masuk ke kelas Ilmu Teknologi dan Elektronik—melupakan bahwa Julia adalah orang tergaptek di keluarganya. Jaka saja sampai tidak percaya. Tapi Julia tidak ingin mengubah keinginannya. Siapa tahu Julia tiba-tiba menjadi hacker 'kan, lumayan.


Kenapa menurut Julia kegiatan terakhir ini enggak jelas? Karena sebelum menjadi peserta alias calon murid di Jayapati, semuanya pasti sudah melewati proses testing agar bisa dinyatakan lulus seleksi untuk masuk SMA Jayapati. Tapi ini harus ngisi soal lagi. Mana banyak banget, aduh.


"'Gini amat mau pinter ..." gumam Julia meratapi nasib. Salah sendiri mau sekolah di sini.


"Kami beri waktu dua jam untuk mengisi 100 soal yang tersedia. Jika waktu habis, namun ada soal yang belum diisi. Tidak apa-apa, kumpulkan saja. Diharapkan semuanya paham. Selamat mengerjakan," pungkas sang pengawas bermata empat. Para calon hanya menghela nafas pasrah.


Duk


Seseorang menyenggol kursi yang diduduki Julia. Julia hanya mengangkat bahu tanda tidak mau, tidak tahu, atau entahlah. Yang pasti Julia tidak ingin berurusan dengan pengawas yang berakhir lembar kerjanya dirobek hingga tidak berbentuk.


Yena mendengus pelan melihat respon Julia. Dia hendak bertanya karena tidak paham dengan soal-soal yang jumlahnya seratus ini.


Beberapa saat gadis berponi tersebut menatap kertas di hadapannya. Kemudian dia menulis jawaban dengan asal, tidak peduli benar-salahnya karena dia ingin cepat-cepat pulang hari ini.


Waktu demi waktu berlalu. Satu orang, dua orang, lima orang, hingga semua peserta pun pulang selepas mengumpulkan dua lembar kertas yang sudah terisi. Hanya tersisa bangku-bangku dengan kursi terangkat sebagai penghuni ruangan.


Julia pulang cepat hari ini. Belum juga jam sebelas tapi keadaan sekolah sudah hampir kosong dan sepi. Karena tidak mau berdiam sendiri, dia pun melangkah keluar gerbang menuju rumah seseorang.


Siapa lagi kalau bukan Ricki. Pemuda yang sempat satu SMP dengan Julia, berakhir menjadi teman hingga saat ini. Bahkan Ricki juga dekat dengan Jaka dan Jaya karena mereka sering main playstation di kamar Jaka dulu.


Ingin tahu sesuatu?


Ricki sempat suka pada salah satu sahabat Julia. Saat tahu hal ini, setiap ada kesempatan Julia akan selalu menggoda teman SMPnya itu habis-habisan. Walaupun berakhir diceramahi Jaya karena berisik.


Nah, sekarang. Julia akan mampir ke rumah Ricki sekalian minta menelepon Jaka untuk menjemputnya. Lagipula, Julia memang tidak keluar rumah selama masa liburan. Jadi apa salahnya memunculkan diri sebagai tanda ia masih hidup kepada keluarga Ricki.


"Assalamu'alaikum. Ricki, mampir dong," ujar Julia begitu membuka pintu. Dia langsung disuruh masuk oleh satpam karena satpam tersebut mengenalinya.


"Hey, Lia. Udah lama nggak kesini," sahut seorang perempuan dari arah belakang. Julia menoleh mencari sumber suara.


"Eh, Kak Konan. Apa kabar?" sapa Julia. Ricki adalah anak tengah yang memiliki satu kakak dan adik perempuan. Dan Konan adalah anak pertama di keluarga Narugara keturunan Jepang ini.


"Baik dan sehat. Duduk dulu, mau minum apa?" ucap Konan.


"Air putih aja. Lagian aku bakalan sebentar, kok," jawab Julia.


"Oke. Tunggu ya." Konan berjalan ke arah dapur untuk membawa air.


Sesaat menunggu Konan, Ricki pun muncul entah dari mana. Langsung berbaring di sofa samping dekat sofa yang Julia duduki.


"Mandi dulu kek, Rik," decit Konan yang membawa dua gelas air. Dia meletakkannya di atas meja lalu duduk di samping Julia.


"Iya, nanti," sahut Ricki sambil memainkan ponsel.


Konan pun mengalihkan pandangan dari sang adik kepada Julia. "Sekolah di mana?" Konan melihat Julia memakai seragam putih biru. Padahal, Julia 'kan seumuran Ricki yang sudah SMA.


"SMA Jayapati, Kak. Baru masa orientasi, kalau sekolah benernya, dimulai besok," jelas Julia.

__ADS_1


"Oh pantes. Masa SMA pake seragam SMP, haha." Konan tertawa kecil.


"Terus nyempetin ke sini ada urusan? Tiba-tiba banget juga," lanjut Konan. Julia meminum air hingga tersisa setengahnya.


"Mampir doang sih, sekalian minta teleponin Bang Jaka buat jemput." Konan mengangguk paham.


"Kenapa nggak minta Ricki aja yang nganterin. Biar sekalian Kakak nitip kopi." Julia menggeleng.


"Emang Ricki bisa naik motor? Naik skuter aja jatoh," ujar Julia, tepatnya mengejek.


"Bisa sih. Tapi itu juga kalo tempatnya deket. Kalo jauh nggak Ayah izinin karena Ricki masih di bawah umur."


"Rik. Anterin Lia dulu, gih. Kakak juga nitip kopi buat Ayah," suruh Konan pada Ricki.


"Nanti aja. Lia juga nggak lagi buru-buru 'kan?" respon Ricki.


"Tapi Kakak yang butuh kopi-nya, segera. Hari ini Ayah pulang cepet, loh." Ricki memutar bola matanya.


"Yaudah, iya," sahut Ricki malas. Dia pun beranjak untuk mengambil kunci motor yang tergeletak di atas laci.


"Duitnya," pinta Ricki mengulurkan telapak tangan ke depan Konan.


"Nih. Inget, kopi hitam satu renceng buat Ayah. Awas kalo salah," ingat Konan sambil menyerahkan selembar uang Rupiah. Ricki berdehem.


"Yuk, Jul," ajak Ricki. Konan berujar kembali yang membuat Ricki berdecak kasar.


"Emang Lia mau pulang sekarang? Santai aja dong, Rik," ujar gadis kelahiran 2003 itu.


"Tadi katanya buru-buru!" sungut Ricki. Dia capek menghadapi satu kakaknya ini.


"Tapi 'kan Lia belum bilang mau pulang sekarang," sosor Konan.


"Tuh, denger," gerutu Ricki. Dia berjalan mendahului Julia untuk ke garasi mengambil motor.


Julia tersenyum kaku dengan suasana canggung ini. "Aku duluan ya, Kak. Makasih sebelumnya," pamitnya kemudian berlalu meninggalkan ruang tamu yang kini diisi satu orang tersebut.


"Hati-hati. Kalo Ricki ugal-ugalan, tonjok aja!" seru Konan dari dalam.


Julia terkekeh pelan. Masih nggak akur saja dua kakak beradik itu. Ya, dia juga sama sih dengan Jaka. Cuman ini lebih parah. Soalnya Konan itu bawel, sementara Ricki cuek dan milih nggak peduli. Julia salut sih dengan si bungsu, punya dua kakak yang setiap hari mengibarkan bendera perang.


"Mau ke minimarket dulu?" tanya Julia di sela-sela perjalanan. Itung-itung nggak terlalu canggung sama teman sendiri ya 'kan.


"Iya. Mau beli sesuatu juga?" tanya balik Ricki. Julia berpikir sebentar sebelum menjawab.


"Iya, kayaknya."


Hening.


Julia malas untuk mencari topik. Kalau Ricki sih dia memang nggak berniat ngobrol waktu berkendara. Pusing, katanya, fokusnya jadi terbagi.


...


"Mau mampir dulu?"


Ricki mengantarkan Julia hingga di depan rumah dengan selamat (bisa dibilang). Kopi untuk Tuan Narugara sudah Ricki beli di minimarket sekalian dengan Julia yang ikut singgah sebentar untuk membeli beberapa camilan.


"Enggah deh. Lain kali. Duluan, Jul," ucap Ricki lalu menjalankan kuda besinya dengan cepat.

__ADS_1


Julia sempat terkejut sih dengan cara berkendara Ricki saat membonceng orang dengan tidak, alias saat sendirian. Sangat berbeda.


Langkah kakinya pun Julia bawa masuk. "Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam," jawab seseorang yang duduk di sofa.


"Kak Lino?!" kaget Julia.


"Apa kabar? Habis kencan dulu ya? Pantes lama," sindir Lino tanpa ragu membuat Julia menggeleng kepala cepat.


"Ih, bukan! Tadi mampir di minimarket dulu, makanya agak lama," sanggah si gadis yang masih memakai seragam putih biru. "Lagian Kak Lino ngapain sore-sore ke sini?" lanjut Julia dengan pertanyaan.


Lino mengangkat alis dan berdecak, "'Gitu ya. Mau berkunjung aja nggak boleh. Padahal sama calon suami sendiri ..." ujarnya pelan.


Julia tersentak. Suhu pada wajahnya mendadak naik beberapa derajat hingga memerah. Mencoba biasa saja, Julia pergi meninggalkan Lino tanpa ucapan apapun.


Lino hanya terkikik geli melihat calon gadisnya.


...


"Apa-apaan sih, Kak Lino. Bikin deg-degan aja," gumam Julia. Tak dapat ia pungkiri kalau wajahnya masih terasa panas.


"Oh, udah pulang? Tumben masih siang," ujar Jaka yang melihat Julia. Dia baru saja keluar kamar untuk mengambil stik PlayStation miliknya yang akan dipinjam Lino.


"Nih, Ajek ambil aja!" Julia menyerahkan sekantong kresek penuh camilan yang baru dibelinya kepada Jaka, karena sudah tidak mood untuk memakan makanan ringan tersebut.


Jaka sih senang-senang saja diberi makanan gratis begini. Tapi dia heran dengan sikap adiknya ini. Apa Julia memang semoodswing itu? Dia nggak mau ikut campur sih sebenarnya.


"Kenapa, Lu?"


Suara pintu yang menutup keras menjadi jawaban dari Julia untuk Jaka.


"Buset ...."


Jaka datang menghampiri Lino. Benda yang dibawanya pun ia serahkan pada lelaki yang lebih tua dua tahun darinya lalu duduk di atas pinggiran sofa.


"Adanya warna merah, Bang."


"Bukan masalah. Thanks, ya."


Jaka memberi tanda "Ok".


"By the way, si Ajil kenapa, Bang? Mukanya merah banget," tanya Jaka sambil membuka satu-persatu makanan dari sang adik.


"Kalau dihitung, ini bisa sampe 50 ribuan lebih ... dia punya duit dari mana ...?" gumam Jaka melihat isi kantong keresek dari adiknya tersebut.


"Nggak tau, sih. Baper, kali," sahut Lino menatap stik ps yang ia pinjam.


"Masa? Kok gue nggak yakin, Bang, modelan Ajil bisa baper," sarkas Jaka lalu tertawa.


"Wah, parah. 'Gitu amat, Lu!" Lino ikut tertawa.


Sementara di sebuah kamar, Julia mendengus pelan mendengar suara tawa dari lantai bawah yang sudah pasti sedang mengejeknya.


"Enggak nyadar, apa? Suara cowok yang gede itu kalau ketawa berasa ada gempa bumi," cetus gadis pemilik kamar.


__ADS_1


Continued


__ADS_2